Oleh: Prof. Dr. Abdul Pirol, M.Ag (Rektor IAIN Palopo 2015-2023)
اَللهُ أَكْبَرُ x9 اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، لَااِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ اِلَّا اِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ.
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Alhamdulillah, Idul Adha atau Idul Qurban kembali hadir menyapa kita. Sebuah momen untuk merenungkan kisah penuh hikmah tentang Nabi Ibrahim as. bersama Siti Hajar-istrinya, dan putra mereka, Ismail as. Ketiganya adalah teladan dalam ketaatan dan pengorbanan. Di balik gemuruh takbir dan semarak penyembelihan hewan kurban, terdapat kisah abadi tentang bagaimana iman yang kokoh dapat melahirkan pengorbanan tanpa batas dan kepemimpinan sejati. Untuk itu, setiap kali merayakan Idul Adha, selayaknya kita bertanya: “Apa yang relevan dari makna dan nilai-nilainya untuk kehidupan kita saat ini?”.
Jemaah Idul Adha rahimakumullah,
Perjalanan hidup Nabi Ibrahim as. merupakan rangkaian episode ujian keimanan yang luar biasa. Sebelum menjadi pemimpin umat, Ibrahim adalah penegas kebenaran yang gigih. Ia berani mempertanyakan keyakinan kaumnya yang menyembah berhala. Sebaliknya, Ibrahim mengajak kaumnya agar memiliki keyakinan tauhid. Kepemimpinan sejati lahir dari kejernihan iman dan keberanian moral. Pemimpin bukan sekadar mereka yang memegang tongkat kekuasaan, melainkan yang memiliki arah hidup dan integritas untuk menegakkan kebenaran. “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam (pemimpin) yang dapat dijadikan teladan, patuh kepada Allah dan hanif, dan bukan termasuk orang-orang musyrik.”
QS. al-Nahl/16: 120
اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ كَانَ اُمَّةً قَانِتًا لِّلّٰهِ حَنِيْفًاۗ وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَۙ
Episode ini melambangkan pentingnya spiritualitas tauhid sebagai sumber kekuatan kehidupan dan keberanian moral. Kedekatan Ibrahim dengan Allah swt., yang puncaknya dianugerahi gelar “khalilullah” artinya “kekasih Allah”, adalah buah dari totalitas iman dan ketaatannya. Inilah fondasi utama kepemimpinan: keyakinan yang tak tergoyahkan kepada Allah swt.
Allahu akbar 3x wa lillahilhamd,
Ujian dari Allah swt. kepada Nabi Ibrahim as. datang saat ia diperintahkan untuk membawa istri dan anaknya yang masih bayi, Hajar dan Ismail, ke sebuah lembah yang tandus. Jauh dari peradaban. Perintah yang secara nalar manusia: mustahil dan penuh resiko. Hanya kekuatan iman dan ketaatan yang mampu memberi keteguhan hati. Al-Qur’an melukiskan doa Nabi Ibrahim as. saat meninggalkan keluarganya di tempat tersebut:
رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ
“Ya Tuhan Kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS. Ibrahim/14: 37)
Dalam episode ini, keteladanan Hajar bersinar terang. Ditinggalkan di tempat yang tidak ada bekal, air, dan makanan. Ia tidak menyerah pada keputusasaan. Dengan penuh keyakinan dan ikhtiar, ia berlari bolak-balik antara bukit Shafa dan Marwah mencari air. Dari sinilah terpancar air Zamzam. Kisah Hajar mengajarkan tentang etos kerja keras, ketekunan, dan tawakkal yang aktif. Tentang seorang perempuan dan seorang ibu, yang penuh semangat melanjutkan hidup di tengah keterbatasan. Sebuah pelajaran yang relevan dengan kearifan lokal masyarakat Sulawesi Selatan: “Résopa temmangingngi namalomo nalétéi pammasé Puang.” (Hanya dengan kerja keras dan ketekunan, akan mudah mendapatkan rahmat Tuhan).
Ini adalah filosofi bahwa rahmat Allah akan datang kepada mereka yang berikhtiar maksimal dengan niat suci, bukan kepada mereka yang berpangku tangan. Bahwa yang terlihat mustahil, tetapi tetap diupayakan dengan niat suci, akan meraih keberhasilan. Tawakkal adalah ikhtiar maksimal yang dibarengi doa, bukan pasrah tanpa usaha. Dihubungkan dengan episode “Shafa dan Marwah”, kita hendaknya paham bahwa saat hidup di dunia agar kita bekerja sesuai hukum-hukum Tuhan (sunnatullah). Ungkapan populernya, “Bekerja cerdas dan pantang menyerah.”
Jemaah Idul Adha yang dimuliakan Allah swt.,
Puncak ujian ketaatan bagi Nabi Ibrahim as. adalah perintah Allah swt. untuk mengorbankan putra kesayangannya, Ismail as. Dialog antara ayah dan anak menjadi monumen pendidikan karakter dan kepemimpinan. Termaktub dalam Al-Qur’an:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (QS. al-Shaffat/37: 102).
Ujian ini bukan untuk menyakiti Ismail. Tetapi, terapi spiritual untuk Ibrahim. Allah mengingatkan bahwa kecintaan kepada makhluk tidak boleh mengalahkan kecintaan kepada Sang Khalik.
Dari dialog Ibrahim dan Ismail, kita belajar dua hal fundamental:
Pertama, kepemimpinan yang bijaksana dan demokratis. Nabi Ibrahim as., meskipun menerima perintah langsung dari Allah, ia tetap meminta pendapat putranya. Ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin sejati tidak otoriter, melainkan bersedia mendengar masukan, bahkan dari yang dipimpinnya. Saat menjadi pemimpin, seseorang tidak secara otomatis memiliki hak menentukan sendiri segala sesuatunya.
Kedua, pendidikan karakter yang berhasil. Ismail menunjukkan keteguhan karakter dan ketaatan total kepada perintah Tuhan, serta penghormatan kepada orang tua. Dalam konteks pendidikan, sikap yang ditunjukkan Ismail as. mencerminkan keberhasilan pendidikan karakter, yang tidak hanya tahu karakter yang baik, tetapi juga memiliki sikap karakter, dan mampu melaksanakannya.
Allahu akbar 3x wa lillahilhamd,
Dari kisah Nabi Ibrahim as., kita dapat menyimpulkan pilar-pilar kepemimpinan visioner yang tetap relevan. Kepemimpinan Ibrahim as. tidak berorientasi pada diri sendiri, melainkan pada pembangunan peradaban yang berlandaskan tauhid dan kesejahteraan umat. Pilar-pilar tersebut meliputi:
Pertama, Pilar Spiritual. Kepemimpinan Ibrahim as. berakar kuat pada tauhid dan tawakkal kepada Allah swt. Visi kepemimpinannya tidak semata terbatas pada kehidupan dunia, yang di sini, tetapi juga harapan eskatologis berupa kebahagiaan ukhrawi. Tercermin dari penegasan kebenaran tentang Tuhan dan dalam doanya yang memohon dimasukkan ke dalam surga yang penuh dengan kenikmatan. Pemimpin visioner adalah mereka yang memiliki orientasi akhirat, sehingga setiap kebijakannya berlandaskan nilai-nilai keilahian dan kemaslahatan jangka panjang.
Pilar yang kedua, Sosial-Ekonomi. Nabi Ibrahim as. adalah pemimpin yang sangat peduli terhadap keamanan dan kesejahteraan umatnya. Doanya untuk Makkah agar menjadi negeri yang aman dan diberikan rezeki berupa buah-buahan (QS. Ibrahim/14: 37) adalah bukti nyata visi beliau terhadap pentingnya ketahanan pangan dan kemakmuran ekonomi. Seorang pemimpin yang baik akan selalu berupaya menciptakan lingkungan yang kondusif bagi rakyatnya untuk hidup aman, sejahtera, dan tercukupi kebutuhan dasarnya.
Allahu akbar 3x wa lillahilhamd,
Selanjutnya pilar ketiga, Kultural dan Intelektualitas. Kepemimpinan Ibrahim as. juga ditandai dengan kebijaksanaan dan kearifan, tercermin dari doanya agar diberikan “hukman” yang berarti hikmah, kebijaksanaan atau ilmu yang bermanfaat; mengakomodasi orang-orang yang baik (profesional) -sebagaimana doanya agar digolongkan bersama al-shalihin; dan memiliki political will untuk mewariskan legasi yang dikenang oleh generasi berikutnya, dalam ungkapan doanya:
وَاجْعَلْ لِّيْ لِسَانَ صِدْقٍ فِى الْاٰخِرِيْنَۙ
“Agar menjadi buah tutur di belakang hari.” Doa ini mengandung arti agar seseorang melakukan kebaikan yang dapat dikenang oleh generasi berikutnya. Sesungguhnya, pemimpin sejati tidak mewariskan harta, melainkan warisan peradaban, nilai-nilai luhur, dan generasi berkualitas yang mampu melanjutkan estafet kepemimpinan.
Hadirin rahimakumullah,
Kisah Nabi Ibrahim as. dan keluarganya menjadi lentera penerang di tengah kompleksitas kehidupan modern. Termasuk dalam hal penguatan nilai-nilai kepemimpinan. Doa-doanya mencakup penguatan moral, kelimpahan rezeki, hingga warisan yang baik bagi generasi mendatang. Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, spirit ini bersesuaian dengan prinsip “Siri’ na Paccé” atau “Siri’ na Pessé” – (malu berbuat buruk dan senantiasa menjaga kehormatan).
“Siri’” berarti (rasa malu atau harga diri) mengajarkan kita untuk menjaga integritas, tidak berbuat curang, tidak korupsi, dan tidak menyalahgunakan wewenang. “Paccé atau Pessé” yang berarti (empati, kepedulian, atau rasa pedih), mendorong untuk peka terhadap penderitaan rakyat, berjuang untuk keadilan, dan tidak membiarkan ketidakadilan terjadi. Pemimpin yang memiliki “Paccé atau Pessé” dapat merasakan apa yang dirasakan masyarakatnya. Jika ketakwaan bersinergi dengan Siri’ na Paccé, maka akan lahir pemimpin yang jujur dan rakyat yang saling menguatkan.
Leluhur kita juga berpesan: “Dua sanréseng makessing, unganna panasaé takkéna paccié.” (Dua sandaran yang baik, bunga nangka dan tangkai daun pacci). Pesan ini mengajarkan bahwa kepandaian, harta yang banyak, jabatan tinggi, serta status sosial tidak akan memiliki arti apabila tidak dilandasi dengan sikap jujur (lempu) dan kesucian hati (ati mapaccing). Nilai-nilai inilah modal utama kita menghadapi berbagai ketidakpastian situasi dan tantangan global.
Allahu akbar 3x wa lillahilhamd,
Dari kisah pengorbanan Nabi Ibrahim as. dan keluarganya, kita diajak untuk kembali selalu memahami arti diri sebagai manusia dan membuktikan ketaatan. Puncak ketaatan adalah kerelaan “meninggalkan” segala bentuk kenikmatan dan keterikatan duniawiyah, demi karena Allah swt. Berbagai nikmat yang dianugerahkan Tuhan dan sekian banyak mimpi yang masih ingin diraih, jangan menjadi penghalang untuk mencapai rida Allah swt. Makna keberhasilan bukanlah diukur dari semata-mata capaian fisik-material, tetapi juga pemenuhan mental-spiritual. Kesediaan untuk taat merupakan bukti terpenuhinya aspek mental-spiritual.
Kita bangsa dan umat Islam Indonesia, juga memiliki episode-episode sejarah perjuangan dan pengorbanan. Kita mengalami masa-masa penjajahan, tapi sanggup merdeka. Setelah itu, kita membangun. Kita upayakan berbagai hal yang dapat membawa kesejahteraan bagi bangsa kita, dengan filosofi: “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”. Berbagai infrastruktur kita bangun, seiring dengan pembangunan kualitas manusia.
Jemaah Idul Adha yang dirahmati Allah swt.
Makna pengorbanan bagi umat Islam, adalah diterimanya ketakwaan kita oleh Allah swt. Adapun daging dari hewan yang kita kurbankan, kita bagikan kepada saudara-saudara kita yang layak menerimanya. Pemberian daging sembelihan menjadi tanda solidaritas bagi sesama yang dididikkan melalui ajaran berkurban. Menyembelih hewan, menandakan kesediaan kita menyembelih “sifat hewaniyah” dalam arti menghilangkan sifat-sifat buruk yang ada pada diri. Kita sembelih keserakahan; kita sembelih egoisme yang memecah belah persatuan; dan kita sembelih kebencian yang sering ditebar di media sosial.
Kesediaan berbagi daging kurban bentuk dari budi baik yang akan mendapat balasan kebaikan pula. Perbuatan baik akan kembali juga ke diri kita sendiri. “Budi baik takkan jatuh ke tanah”. Demikian pesan leluhur kita: “Dé’ nameddu’ ri tanaé ininnawa madécéngngé.” Allah swt. berfirman:
اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْۗ وَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.” (QS. al-Isra/17: 7)
Allahu akbar 3x wa lillahilhamd,
Kita hidup di era digital, yang membawa kemudahan sekaligus tantangan. Banjir informasi dapat mengikis akhlak dan karakter bangsa. Untuk menanggulanginya, kita perlu waspada dan segera melakukan mitigasi sejak dini. Pada saat yang sama, umat manusia juga menyaksikan meningkatnya ketegangan geopolitik global, seperti konflik di Timur Tengah. Hal ini menyadarkan kita, adanya potensi ancaman eksternal yang sewaktu-waktu dapat mengganggu eksistensi negara. Kita juga masih di bawah bayang-bayang kerusakan ekologis, yang sewaktu-waktu dapat mengancam dan menimbulkan berbagai bencana.
Dalam menghadapi hal tersebut, kita memerlukan kepemimpinan yang adaptif, kuat, dan berlandaskan nilai-nilai spiritual. Kita perlu meningkatkan kecerdasan, menguatkan spiritualitas, dan mengembangkan karakter generasi yang kokoh. Kita harus menguatkan persatuan dan kesatuan. Juga mengokohkan ketahanan nasional dengan menjadikan nilai-nilai pengorbanan dan ketaatan sebagai landasan perjuangan, sebagaimana para pendahulu kita yang berjuang, meraih kemerdekaan atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.
Seorang pemimpin sejati tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga membangun jiwa dan karakter bangsanya. Ia meninggalkan jejak kebaikan, hasil pembangunan yang bermanfaat, dan generasi penerus yang berkualitas. Inilah yang menjadi doa Nabi Ibrahim as. agar menjadi “lisana sidqin fil akhirin”, (buah tutur yang baik bagi generasi berikutnya). Sejalan dengan pesan leluhur masyarakat Sulawesi Selatan: “Narékko laoki baja, taroki passengereng pallawa uddani.” Artinya, “Jika engkau pergi esok hari, tinggalkanlah kenangan yaang akan mengobati rindu.”
Jemaah Idul Adha yang dimuliakan Allah swt.,
Idul Adha adalah momentum untuk membarui komitmen kita sebagai hamba Allah dan sebagai pemimpin dalam skala apapun. Mari kita teladani kesalehan Nabi Ibrahim as., ketaatan Hajar, dan keteguhan Ismail as. Kita jadikan nilai-nilai pengorbanan, keikhlasan, dan kepemimpinan Nabi Ibrahim as. sebagai panduan dalam setiap langkah kita. Mari kita bangun peradaban dengan spirit “Siri’ na Pacce”. Janganlah kita menjadi “bahan cemooh”, melainkan jadilah “buah tutur” yang senatiasa dikenang.
Mari kita fokus pada pengembangan pendidikan yang bermutu untuk menghasilkan generasi yang berkualitas dan berkarakter. Pendidikan bukan sekadar mencerdaskan akal, tapi membentuk ketahanan moral agar generasi kita tidak hanyut oleh arus zaman. Kita manfaatkan setiap koridor perbaikan dan peningkatan hidup, yang bermuara pada terlaksananya pendidikan yang mencerahkan bagi bangsa. Kemajuan dan kesejahteraan hidup yang kita cita-citakan dapat terwujud, dengan memberi kontribusi positif sesuai peran kita masing-masing.
Mari kita jaga persatuan, hindari perpecahan, dan bangun masyarakat yang damai. Kita berdoa agar para pemimpin senantiasa diberikan kekuatan bersikap adil dan generasi muda kita menjadi generasi yang cerdas serta berakhlak mulia. Semoga Allah swt. senantiasa membimbing kita, menerima ibadah kurban kita, menjadikan kita mampu meneladani kesalehan Nabi Ibrahim as., dan kita tergolong hamba Allah yang bertakwa.
اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ١ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ٢ اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ٣
بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلْ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
الخطبة الثانية
اَللهُ أَكْبَرُ x7
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، لَااِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِى جَعَلَنَا مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ الْأُمَمِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسْوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.
فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَه يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
اَللهُ أَكْبَرُ x3 وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.
وَاَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

