Rabu, Mei 20, 2026
Google search engine
Beranda blog Halaman 2

Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar Terima Penghargaan di Islamic Digital Fest 2025

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, Makassar — Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf Makassar menerima penghargaan dari Jakarta Islamic Center. Penghargaan tersebut diberikan pada ajang Islamic Digital Fest 2025 yang di Jakarta, Selasa, 29 September 2025.

Sekjen YIC Al-Markaz Al-Islami, Arman Arfah, hadir langsung dalam acara Islamic Digital Fest 2025 itu, yang berlangsung selama 2 hari, 29 dan 30 September 2025. Ia menegaskan bahwa penghargaan yang diberikan kepada Al-Markaz Makassar menjadi bukti bahwa masjid bukan hanya megah secara fisik, tetapi juga visioner dalam dakwah digital.

“Apresiasi ini menunjukkan pengakuan atas komitmen kuat Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar dalam transformasi digital, yaitu dakwah tidak hanya dari atas mimbar konvensional, melainkan juga melalui berbagai platform digital,” kata Arman.

Menurut dia, Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf  Makassar memang telah aktif menerapkan strategi digitalisasi layanan melalui live streaming kajian, ceramah dan khutbah di berbagai kanal seperti YouTube, Tiktok, Instagram, Facebook, radio streaming, serta media daring lainnya. Selain itu, informasi jadwal salat, kegiatan, dan layanan infaq juga telah tersedia secara digital dengan mengakses website Masjid Al-Markaz.

Acara bertema “Dari Mimbar Konvensional ke Panggung Digital” itu dibuka oleh Kepala Kanwil Kemenag DKI Jakarta, H. Afifuddien MM, dan dihadiri perwakilan masjid raya serta Islamic Center dari berbagai daerah di Indonesia.

Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (PPPIJ), KH Muhyiddin Ishaq, menilai kehadiran peserta dalam ajang Islamic Digital Fest 2025 menunjukkan adanya semangat baru dalam mengembangkan dakwah digital di Indonesia. Menurutnya, keterlibatan berbagai masjid raya dan Islamic Center dari seluruh daerah menjadi bukti bahwa dakwah tidak lagi terbatas pada mimbar konvensional, tetapi juga merambah ruang-ruang virtual.

Ia mengingatkan bahwa media sosial memiliki dua sisi yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, platform digital membuka peluang luas bagi umat Islam untuk menyebarkan nilai-nilai keislaman dengan jangkauan yang lebih cepat dan masif. Digitalisasi dakwah, kata KH. Muhyiddin, harus diarahkan untuk memperkuat literasi, membangun peradaban, dan menjaga nilai-nilai Islami agar media sosial tidak menjadi sumber fitnah, tetapi justru menjadi sarana pencerahan.

“Kalau dimanfaatkan sebagai media dakwah, masjid akan menjadi pusat peradaban, bukan hanya tempat ibadah,” kata KH Muhyiddin.

Namun di sisi lain, media sosial juga membawa tantangan serius berupa maraknya konten yang tidak islami, misinformasi, hingga ujaran kebencian yang berpotensi menimbulkan perpecahan. (*)

Dari Al-Markaz untuk Negeri: Zikir dan Doa Keselamatan Bangsa

0

LANTUNAN zikir dan doa mengalun dari lantai 2 Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf Makassar, Ahad petang 31 Agustus 2025. Sejumlah tokoh agama, aparat dan akademisi tampak hadir. Mereka semua duduk berdampingan, menyatukan hati dalam doa dan zikir bersama.

Suasana malam itu terasa berbeda. Di tengah keresahan masyarakat akibat aksi-aksi demonstrasi yang berujung kerusakan, Al-Markaz hadir sebagai rumah teduh, sekaligus merajut harapan untuk  keselamatan Indonesia. Zikir dan doa dipimpin oleh tim Imam Masjid Al-Markaz Al-Islami

“Masjid Al-Markaz, kita harapkan menjadi tempat kesejukan, tempat pencerahan hati kita, untuk bisa kita tularkan semassif mungkin kepada masyarakat sekitar dan seluruh bangsa Indonesia,” begitu Prof. Dr. KH. Muammar Bakry, Lc, M.Ag., Imam Besar Masjid Al-Markaz Makassar mengawali kegiatan zikir dan doa Bersama keselamatan bangsa. Suaranya tenang, namun sarat makna, seolah sedang mengingatkan semua yang hadir bahwa bangsa ini hanya bisa kokoh bila dijaga dengan hati yang jernih.

Muammar melanjutkan, di tengah kondisi bangsa yang sedang diuji akhir-akhir ini, maka sebagai warga dan umat beriman haruslah menyandarkan penharapan dan pertolongan dari Allah SWT. Dan tempat yang suci untuk mengharapkan pertolongan Allah SWT, tegasnya, tidak lain adalah masjid sebagai rumah Allah.

Sementara itu, Pangdam XIV Hasanuddin, yang diwakili Kolonel H.Rahman Taleho, M. Si., Pamen  Ahli Pangdam Bidang Sosial Budaya, menegaskan pentingnya menjaga persatuan dan jangan mudah terprovokasi dan terpecah belah. Ia mengingatkan bahwa, jangan sampai masuk perangkap politik pecah belah, sebagaimana dijalankan penjajah Belanda dulu sehingga sesama anak bangsa sendiri yang berhadap-hadapan.

Sementara itu, Sekretaris Umum YIC Al-Markaz Al-Islami, Arman Arfah, menegaskan, acara tersebut bukanlah seremoni yang lahir sekadar dari keprihatinan atas insiden kerusuhan. Lebih dari itu, ia adalah momentum muhasabah bersama. “Kami ingin mengajak seluruh elemen bangsa untuk duduk bersama, berpikir jernih, dan memikirkan keselamatan bangsa ke depan,” ujarnya.

Kegelisahan sosial, politik, dan ekonomi yang menyelimuti masyarakat akhir-akhir ini menjadi benang merah dalam doa malam itu. Semua larut, sekaligus memohon kekuatan kepada Sang Pemilik Kehidupan.

“Momentum malam ini adalah saat untuk memenangkan pikiran, mengedepankan akal sehat, dan membuka hati. Baik pemerintah maupun masyarakat, semua perlu melakukan evaluasi diri,” kata Arman lagi.

Malam itu, ketika doa dan zikir berakhir, jamaah tak langsung beranjak. Banyak yang memilih tetap duduk, saling menyapa, berbincang pelan tentang bangsa yang mereka cintai. Seolah, di balik doa-doa yang baru saja dilangitkan, tersimpan keyakinan bahwa Indonesia bisa tetap berdiri kokoh selama warganya mau merawat persaudaraan.

Di bawah kubah megah Al-Markaz, di antara lantunan doa yang tak henti dipanjatkan, lahirlah sebuah pengingat sederhana: bahwa dalam setiap kegelisahan, ada jalan menuju ketenangan—dan jalan itu adalah kebersamaan. (*)

Menahan Efek Anarki: Tanggung Jawab Bersama Negara, Media, dan Masyarakat

0

Oleh : H. Mustari Mustafa*

Dalam beberapa hari terakhir, tensi sosial di Indonesia kembali meninggi. Aksi-aksi protes yang bermula dari keresahan terhadap kebijakan pemerintah meluas menjadi demonstrasi di banyak daerah. Pada titik ini, kita menyaksikan bagaimana suara publik berhadapan dengan negara dalam situasi yang tidak selalu mudah.

Fenomena ini dapat dibaca dengan kacamata Framing Theory dan Political Opportunity Structure. Dua teori ini bisa membantu menjelaskan mengapa demonstrasi kerap berubah menjadi anarkis dan bagaimana negara seharusnya merespons.

Framing Theory mengajarkan bahwa peristiwa sosial dipersepsi publik sesuai bingkai (frame) yang dibentuk media. Aksi damai seringkali tenggelam di ruang pemberitaan, sedangkan aksi anarki segera mendapat atensi besar karena lebih dramatis, lebih mudah memancing emosi, dan lebih “layak siar”. Dengan kata lain, anarki menciptakan frame krisis yang memaksa isu dipandang serius. Dalam situasi krisis, publik merasa ada keadaan darurat yang menuntut respons segera, baik dari masyarakat maupun dari pemerintah.

Sementara itu, Political Opportunity Structure (Charles Tilly, Sidney Tarrow) menegaskan bahwa protes radikal lahir ketika saluran resmi partisipasi politik tidak bekerja dengan baik. Jika aspirasi warga disumbat atau diabaikan, maka bentuk protes cenderung meningkat eskalasinya. Dari sudut pandang ini, anarki bukanlah tujuan utama demonstrasi, melainkan “jalan pintas” ketika ruang partisipasi demokratis dianggap tertutup.

Karena itu, jika pemerintah hanya menanggapi aksi dengan pendekatan keamanan tanpa membuka ruang dialog, maka risiko anarki justru makin besar. Anarki menjadi rasional bagi sebagian kalangan karena diyakini sebagai satu-satunya cara agar suara mereka didengar.

Dalam konteks Sulawesi Selatan, langkah deklarasi damai yang dilakukan Forkopimda Sulsel, pimpinan universitas, dan Ormas seperti KAHMI Sulsel pada Minggu 31 Agustus 2025 patut diapresiasi. Inisiatif ini, yang diprakarsai Pangdam XIV Hasanuddin, menunjukkan kesadaran akan bahaya eskalasi anarki. Namun, kita juga perlu realistis. Deklarasi damai saja tidak cukup menahan derasnya arus kekecewaan yang bisa memicu aksi keras.

Karakteristik aksi sosial saat ini, terutama di era digital, memiliki kecenderungan mencari perhatian melalui cara-cara dramatis. Aksi yang tenang dan damai mudah sekali diabaikan, sementara aksi dengan sedikit sentuhan chaos cepat menjadi sorotan publik. Karena itu, deklarasi damai harus disertai dengan kesadaran bersama: pemerintah wajib menghadirkan solusi konkret atas krisis, media harus berhati-hati dalam membingkai pemberitaan, dan masyarakat pengguna media sosial sebaiknya menahan diri agar tidak menambah api dengan konten provokatif semata demi jumlah penonton.

Media dan medsos kini berperan ganda: bisa menjadi jembatan penenang, tapi juga bisa memperbesar gelombang anarkhi. Framing yang berlebihan pada kekerasan dapat menciptakan efek domino, menormalisasi chaos, bahkan mendorong kelompok lain untuk meniru. Karena itu, tanggung jawab moral media dan warganet adalah menjaga agar publikasi tidak mengundang keresahan yang lebih luas.

Kegiatan doa dan zikir bersama di Masjid Al Markaz Al Islami Makassar pada Ahad malam 31 Agustus 2025 juga merupakan langkah yang bermakna. Kehadiran Pangdam, tokoh masyarakat, dan jamaah menunjukkan upaya untuk menguatkan sisi spiritual masyarakat. Namun perlu kita tegaskan: pesan moral dan spiritual tidak boleh berhenti sebagai seremoni belaka. Spiritualitas harus diturunkan ke dalam tindakan nyata, baik oleh pemerintah maupun masyarakat.

Bagi umat Islam, merusak fasilitas umum atau menebar kekerasan jelas terlarang. Tetapi larangan ini baru efektif bila dibarengi dengan keadilan dari pemerintah. Sebaliknya, pemerintah tidak cukup hanya mengandalkan doa bersama tanpa kebijakan nyata yang menurunkan ketegangan. Spiritualitas harus mengantar pada kesadaran kolektif bahwa merusak adalah kesalahan, dan menutup ruang dialog adalah kekeliruan.

Oleh sebab itu, pesan penting yang harus sampai ke pemerintah sebagai penanggung jawab krisis adalah: bukalah ruang partisipasi yang lebih luas dan serius. Jangan biarkan warga merasa suaranya terabaikan. Dengan begitu, dorongan menuju anarkhi bisa ditekan. Anarki pada dasarnya hanyalah gejala dari dua hal: frame media yang lebih suka menyorot chaos, dan struktur politik yang menutup kanal aspirasi. Jika kedua hal ini dikelola dengan bijak, maka aksi damai bisa kembali mendapat tempat yang terhormat.

Pada akhirnya, stabilitas bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan aparat, tetapi juga oleh keberanian pemerintah untuk mendengar. Deklarasi damai dan doa bersama hanya akan bermakna jika disertai tindakan nyata: merespons aspirasi rakyat, menjaga pemberitaan media agar proporsional, dan mengarahkan medsos agar tidak menjadi panggung provokasi. Dengan itu, bangsa ini dapat keluar dari lingkaran anarkhi menuju ruang dialog yang lebih bermartabat.

*) Penulis adalah Ketua Harian YIC Masjid Al Markaz Al Islami Makassar, Presidium Kahmi Sulawesi Selatan, dan Guru Besar UIN Alauddin

Agustus Jumat Kelabu: Rakyat Bergerak Menuntut Keadilan

0

Oleh: Prof. Dr. KH. Munawir Kamaluddin, M.Ag, MH.

AGUSTUS seharusnya menjadi bulan penuh syukur. Bulan ketika rakyat Indonesia merayakan kemerdekaan, mengenang perjuangan para pendiri bangsa, mengibarkan bendera dengan bangga, dan menikmati buah kebebasan yang diperjuangkan dengan darah dan air mata.

Namun, ironi menyayat, Agustus 2025 bukan bulan perayaan, melainkan bulan kegelisahan.

Bukan bulan persatuan, melainkan bulan pertentangan. Bukan bulan kemenangan, melainkan bulan luka.

Di saat rakyat mestinya menghayati makna kemerdekaan, justru ketegangan sosial dan politik memuncak. Bukan hanya di jalan-jalan ibu kota, tetapi merembet ke banyak daerah.

Yang mestinya menjadi pesta rakyat, berubah menjadi amarah rakyat. Yang mestinya menjadi momentum refleksi kemerdekaan, justru menjadi titik konflik antara rakyat dengan pemerintah, DPR, aparat keamanan, bahkan dengan lembaga negara lainnya seperti legislatif, yudikatif, dan eksekutif.

Dan lebih memilukan lagi, sebuah hari Jumat, yang seharusnya penuh berkah dan ketenangan, justru di bulan Agustus ini berubah menjadi Jumat Kelabu.

Jumat kelabu karena hari tumpahnya darah seorang rakyat kecil di depan gedung parlemen.

Ajula: Tegesa-gesa yang Membawa Luka

Dalam bahasa Arab, Ajula (عَجَلَة) berarti tergesa-gesa. Ia bukan sekadar kata, melainkan sebuah sikap:

Tergesa-gesa DPR dalam mengambil kebijakan yang jauh dari nalar publik, menaikkan tunjangan miliaran di tengah krisis.

Tergesa-gesa aparat dalam bertindak represif, memilih kekerasan ketimbang dialog, memilih peluru gas ketimbang kata-kata.

Tergesa-gesa pemerintah dalam merespons kritik, lebih sibuk meredam gejolak dengan kekuatan ketimbang mendengar keluhan rakyat.

Tergesa-gesa rakyat pula, dalam meluapkan amarahnya lewat anarki, pembakaran, perusakan, dan tindak kekerasan.

Semua pihak terseret dalam pusaran ajula, terburu-buru, tidak jernih, tidak bijak, kehilangan kendali atas kebijaksanaan. Padahal bangsa ini justru butuh ketenangan, kesabaran, dan keadilan sebagai fondasi jalan keluar.

Maka “Ajula” di bulan Agustus ini menjadi simbol sekaligus ironi. Agustus mestinya lambang kemerdekaan, tetapi justru ditandai ajula (ketergesaan kolektif) yang melahirkan luka bangsa.

Pertanyaan yang Mengguncang Nurani

Pernahkah kita jujur bertanya,
Untuk siapa negara ini sesungguhnya berdiri?

Apakah untuk rakyat kecil yang setiap hari berpeluh di jalanan, atau untuk kursi-kursi empuk para penguasa yang sibuk menambah fasilitasnya sendiri?

Masihkah kita percaya pada istilah “aparat pengayom”, ketika yang mereka tindas dan yang mereka lindas bukan ancaman bersenjata, melainkan seorang ojek online bernama Affan Kurniawan, yang hanya ingin pulang membawa rezeki untuk keluarganya?

Apakah pantas rumah para legislator direnovasi dengan tunjangan miliaran, sementara rumah rakyat retak diterpa badai krisis ekonomi yang tak kunjung reda?

Dan di manakah letak keadilan, bila darah seorang rakyat kecil tumpah di depan gedung DPR, sementara suaranya terkubur di balik tembok kekuasaan yang kokoh, dingin, dan beku?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukanlah retorika kosong. Ia adalah palu yang mengetuk kesadaran kita bahwa ada yang serius salah dalam arah perjalanan bangsa ini.

Kronologi Luka: Jumat Kelabu di Senayan

28 Agustus 2025 menjadi catatan hitam. Ribuan massa bergerak menuntut keadilan di depan Gedung DPR RI, menolak kebijakan absurd (kenaikan tunjangan perumahan) DPR RI hingga Rp50 juta per bulan.

Di tengah gelombang demonstrasi itu, Affan Kurniawan, seorang tukang ojek online, tewas terlindas kendaraan taktis Brimob Barakuda.

Peristiwa itu seketika menjadi simbol luka kolektif. Luka yang membelah rasa percaya rakyat terhadap negara.

Dari Jakarta, bara kemarahan menyebar ke Bandung, Makassar, Karawang, Jambi, Bengkulu, hingga Surabaya. Kantor DPRD dibakar, kendaraan dinas dilahap api, gedung-gedung pemerintahan dirusak.

Bahakan penulis menyaksikan langsung samapi pukul: 3 dini hari di kantor DPRD kota Makassar, massa demonstran tidak berkuarang eskalasinya malah terus bertambah.

Aksi penjarahan dan bakar-bakaran tidak berhenti hingga akhirnya gedung megah DPRD kota makasar tinggal puing-puing reruntuhan dan sisa bara api, bahkan puluhan kendaraan roda 4 ( yang telah menjadi rongsokan besi yang telah hangus terbakar) tidak lepas dari aksi penjarahan massa.

Fenomena yang paling menarik bahwa massa merazia aparat kepolisian yang ada dilokasi bahakan menahan pengendara yang diduga aparat kepolisian.

Yang tampak berlalu lalang dan mengamankan lokasi adalah aparat keamanan dari TNI ( yang tetap mengenakan seragamnya).

Dalam wawancara beberapa massa demontran dari masaa yang masih berkumpul , semuanya menjawab dengan lantang ; Ini bukan sekadar kemarahan sesaat. Ini adalah akumulasi rasa muak yang menahun, PHK massal, pajak yang mencekik, harga-harga melambung, aparat represif, korupsi yang terus berulang tanpa jera.

Mengapa Rakyat Begitu Marah?

Jawabannya jelas dan telanjang:

  1. Rakyat merasa dikhianati. Mereka patuh membayar pajak, tetapi uangnya untuk memperkaya penguasa.
  2. Rakyat diperlakukan tidak adil. Suara mereka dibungkam dengan gas air mata, bahkan tubuh mereka dilindas roda aparat.
  3. Rakyat kehilangan kepercayaan. Hukum hanya tajam ke bawah, tumpul ke atas.
  4. Rakyat tertekan ekonomi. Saat dapur tidak mengepul, sementara elite menambah fasilitas, maka kesenjangan jadi bara api.

Maka ketika rakyat turun ke jalan dengan ekspresi keras, vulgar, bahkan anarkis, itu bukan sekadar emosi. Itu adalah mosi tidak percaya. Itu adalah tanda nyata bahwa negara telah gagal memberi rasa adil.

Epilog: Ajula, Alarm Nurani Bangsa

Agustus 2025 kini tercatat sebagai Jumat Kelabu. Darah Affan Kurniawan bukan sekadar tragedi personal, melainkan simbol luka kolektif bangsa.

Namun pertanyaannya adalah:
Apakah darah itu akan mengering sia-sia di aspal Senayan, ataukah menjadi tinta merah yang menuliskan babak baru sejarah bangsa?

Negara kini berada di persimpangan. Jalan arogan akan semakin menjauhkan penguasa dari rakyat. Jalan rendah hati, sebaliknya, akan merangkul rakyat kembali.

Sejarah universal mengajarkan bahwa bangsa hanya tegak jika keadilan menjadi nafasnya.

Jika negara gagal melindungi rakyatnya, maka rakyat akan menciptakan hukumnya sendiri. Dan saat itu terjadi, negara bukan lagi rumah, melainkan penjara.

Ajula adalah alarm. Alarm nurani, alarm sejarah, alarm kemanusiaan. Bahwa tanpa keadilan, bangsa ini hanya menunda kehancuran.

Analisis Krisis tentang Penyebab Ajula:

*Kebijakan elitis yang tidak peka.

*Pola aparat yang represif.

*Krisis ekonomi yang menekan rakyat kecil.

*Korupsi sistemik tanpa penindakan tegas.

Analitis Kritis tentang Ciri-ciri Ajula’:

*Turunnya kepercayaan publik.

*Aksi massa destruktif.

*Menguatnya hukum jalanan.

Dampak:

^Negara menghadapi delegitimasi politik.

*Rakyat merasa tercerabut dari negaranya sendiri.

*Potensi disintegrasi sosial semakin nyata.

Jalan Keluar sebagai Rekomendasi Solutif

  1. DPR RI harus segera membatalkan kenaikan tunjangan perumahan, sebagai simbol keberpihakan pada rakyat.
  2. Kapolri wajib bertanggung jawab, secara moral maupun politik. Bila perlu, mundur adalah bentuk penghormatan kepada rakyat.
  3. Pemerintah Pusat dan Daerah harus mengevaluasi kebijakan yang memberatkan rakyat, memperkuat program kesejahteraan nyata, bukan seremonial.
  4. Presiden dan lembaga negara tidak boleh hanya menyampaikan belasungkawa. Mereka harus bertindak dengan memberi kompensasi, menghukum pelanggar, melakukan reformasi nyata.
  5. Polri harus mengubah pendekatan. Dari represif ke persuasif, dari arogansi ke humanisasi.
  6. Pemerintah harus menghukum koruptor secara adil, bahkan merampas aset untuk kebutuhan mendesak rakyat.
  7. Masyarakat perlu menumbuhkan kembali nasionalisme dan kenegarawanan, agar protes menjadi energi koreksi, bukan sekadar amarah yang melahirkan anarki.

Peristiwa Jumat Kelabu ( Ajula) Bukan Tragedi Insidental, Melainkan Refleksi untuk Pembenahan

Agustus yang mestinya menjadi bulan kemerdekaan telah tercoreng oleh luka dan darah rakyat.

Peristiwa Jumat Kelabu bukan sekadar tragedi insidental, melainkan cermin retaknya keadilan dan renggangnya hubungan negara dengan rakyatnya.

Kemarahan yang meledak adalah suara nurani kolektif bangsa, sebuah peringatan keras bahwa tanpa keberpihakan nyata kepada rakyat, negara hanya akan kehilangan legitimasi.

“Ajula” mengingatkan kita bahwa sikap tergesa-gesa, baik oleh pemerintah, aparat, maupun rakyat, hanya akan melahirkan luka baru. Yang dibutuhkan bangsa ini bukan arogansi, melainkan kesabaran, kebijaksanaan, dan keberanian menegakkan keadilan.

Jika keadilan ditegakkan, maka negara kembali menjadi rumah. Jika tidak, maka sejarah akan mencatat, bangsa ini runtuh oleh ulahnya sendiri.

Karenanya insiden ‘Ajula , hatus menjadi introspeksi dan evaluasi kolektif bangsa ini , sebagai bentuk refleksi kesadaran untuk melakukan pembenahan dari waktu ke waktu setiap saat.

Doa Memohon Perlindungan dan Inayah Kepada Sang Khaliq

اللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلَدَنَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، مَحْفُوظًا بِالْعَدْلِ وَالرَّحْمَةِ، وَأَلْهِمْ وُلَاةَ أُمُورِنَا الْحِلْمَ وَالْحِكْمَةَ، وَابْعِدْ عَنَّا الْعَجَلَةَ الَّتِي تَجْلِبُ الْفِتَنَ وَالْفَسَادَ.
اللَّهُمَّ ارْحَمْ شُهَدَاءَنَا، وَاجْبُرْ قُلُوبَ أَهْلِهِمْ، وَاجْمَعْ كَلِمَةَ شَعْبِنَا عَلَى الْحَقِّ وَالْعَدْلِ وَالسَّلَامِ.

“Ya Allah, jadikanlah negeri kami negeri yang aman dan tenteram, terjaga dengan keadilan dan kasih sayang. Ilhamkan kepada para pemimpin kami sikap sabar dan bijaksana, serta jauhkan kami dari sikap tergesa-gesa yang hanya menimbulkan fitnah dan kerusakan.

Ya Allah, rahmatilah para syuhada kami, kuatkan hati keluarga mereka, dan satukanlah rakyat kami dalam kebenaran, keadilan, dan perdamai

#Penulis adalah Guru Besar UIN Alauddin Makassar

Peringati HUT RI ke-80, Masjid Al-Markaz Sajikan Nasi Liwet Sepanjang 80 Meter

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR –Suasana Ahad pagi, 17 Agustus 2025 di Masjid Al-Markaz Al-Islami Jenderal M. Jusuf Makassar terasa berbeda. Kemeriahan dan penuh kehangatan ditunjukkan ratusan peserta upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia yang berlangsung di halaman masjid.

Pelaksanaan upacara bendera yang dihadiri para pengurus teras YIC Al-Markaz Al-Islami berlangsung khidmat. Usai upacara, keceriaan segera mewarnai halaman masjid begitu aneka lomba tradisional dimulai. Ada tarik tambang yang menguji kekuatan, balap karung yang penuh tawa, estafet tepung yang membuat wajah-wajah peserta berubah putih, hingga lomba masak yang mempertemukan kreativitas para ibu. Semua larut dalam semangat kemerdekaan yang sederhana, namun begitu membahagiakan.

Jelang siang, kejutan datang dari sisi selatan teras masjid. Tampak terbentang hidangan nasi liwet sepanjang 80 meter, yang turut melambangkan usia kemerdekaan bangsa. Sajian istimewa ini dipersembahkan oleh para guru TK Islam Al-Markaz bersama orang tua murid, sebagai wujud cinta dan kebersamaan.

Usai lomba, para pengurus, peserta dan jamaah duduk berjejer, menyantap nasi liwet dalam satu barisan panjang. Tidak ada yang tersisa, kecuali senyum, canda, dan rasa syukur. Tawa anak-anak, obrolan hangat orang tua, dan sapaan ramah antarwarga menjadikan perayaan HUT RI kali ini lebih dari sekadar seremoni—ia menjelma menjadi perayaan persaudaraan.

Di tengah kebersahajaan itu, terasa jelas pesan kemerdekaan. Merdeka bukan hanya soal mengibarkan bendera, tetapi juga tentang merawat persatuan dan kebersamaan, dari masjid hingga ke sajian makan panjang yang penuh tawa. (*)

Khidmat Upacara HUT RI di Masjid Al-Markaz

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR – Masjid Al-Markaz Al-Islami Jenderal M. Jusuf Makassar kembali mencatatkan sejarah dengan menggelar upacara HUT RI ke-80. Satu-satunya masjid di Makassar yang tak pernah alpa  merayakan kemerdekaan RI dengan upacara bendera sejak masjid kebanggaan warga Sulawesi Selatan ini resmi beroperasi tahun 1996.

Inspektur Upacara, H.M. Roem

Upacara digelar di Lapangan Upacara Masjid Al-Markaz Al-Islami, Ahad 17 Agustus 2025. Upacara dipimpin oleh Inspektur Upacara H.M. Roem, yang merupakan ketua dewan pengawas YIC Al-markaz Al-Islami. HM Roem juga merupakan mantan Bupati Sinjai dan Ketua DPRD Sulsel.

Dalam amanatnya, Roem mengajak seluruh peserta upacara  untuk mensyukuri nikmat kemerdekaan sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasa pahlawan yang telah bersusah payah memperjuangkannya.

“Sudah banyak hasil yang bisa kita nikmati. Tapi tentu saja masih banyak pula yang perlu kita perbaiki dan perjuangkan,” ujarnya.

Roem juga mengajak jamaah untuk selalu menjaga kebersihan, ketertiban, serta keamanan lingkungan Masjid Al-Markaz Al-Islami.

Santri menghormat saat penaikan bendera merah putih

“Peringatan hari kemerdekaan adalah momentum yang harus disyukuri sekaligus dirayakan dengan penuh rasa syukur,” tambah Roem.

Petugas pelaksana upacara di masjid yang berdiri megah di pusat kota Makassar itu didominasi anak-anak muda yang tergabung dalam Pemuda Remaja Masjid (Prima) Al-Markaz. Adapun komandan upacara dipercayakan kepada Komandan Al-Haris Al-Markaz, Darwis YL.

Para pengurus YIC Al-Markaz di tribun VIP

Sejumlah tokoh dan pengurus Masjid Al-Markaz turut hadir, di antaranya Ketua Harian Prof. Dr. Mustari Mustafa, Sekjen Arman Arfah, Bendahara Umum Tauphan Ansar Nur, Wakil Sekjen Satrya Masjid, Dewan Pengawas Prof. Rahman Getteng, Pimpinan Pesantren Tahfidz Qur’an Al-Markaz KH. Maskur Yusuf, Ketua Badan Ziswaf Farouk M. Betta, Pimpinan TPA KH. Mursidin Abd Hamid, Kepala TK Islam Al-Markaz Multazam dan sejumlah pengurus lainnya.

Kehadiran para tokoh tersebut semakin menambah kekhidmatan sekaligus semarak upacara yang menjadi wujud nyata perpaduan nilai keagamaan dan nasionalisme di Masjid Al-Markaz.

Sementara di barisan peserta upacara, tampak siswa-siswa TK Islam mengenalkan pakaian adat Bugis Makassar, santri Tahfidz, tim ISS, tim Alharis, karyawan Al Markaz, komunitas Jantung Sehat dan  juga masyarakat umum. (*)

In Memoriam H. Aswar Hasan: Dosen, Sahabat dan Penggerak Pencerahan Umat

0

Oleh : Haidir Fitrah Siagian, M.Si., Ph.D. (Anggota Badan Ibadah & Dakwah Al-Markaz Al-Islami Makassar)

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Kabar duka datang Rabu , 13 Agustus 2025. Dr. H. Aswar Hasan, M.Si.,  satu di antara dosen terbaik Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (Unhas), telah berpulang ke rahmatullah. Tentu kami, yang merupakan mahasiswa Komunikasi angkatan 1994, menyatakan bela sungkawa yang mendalam.

Aswar Hasan  lahir di Palopo pada tahun 1963. Sejak masa muda, kiprahnya sudah terukir dalam berbagai organisasi, di antaranya Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di awal tahun 2000-an, beliau pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Komite Persiapan Penegakan Syariat Islam (KPPSI) mendampingi Ir. H. Abd. Kahar Muzakkar. Pimpinan saya, alm. K.H. Djamaluddin Amien, serta Ketua PW NU Sulsel, alm. KH. Sanusi Baco, Lc., turut sebagai Pembina KPPSI. Kiprahnya menunjukkan bahwa beliau adalah akademisi yang tidak hanya mengajar di ruang kuliah, tetapi juga aktif terlibat dalam dinamika sosial dan politik umat.

Saya mengenal beliau sejak tahun 1994 ketika mulai kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Unhas. Saat itu saya mengikuti setidaknya dua mata kuliah yang beliau ampu, di antaranya adalah  Bahasa Jurnalistik. Saya lupa mata kuliah lain yang saya ikuti dari beliau, tetepi setiap pertemuan kuliahnya selalu penuh dengan ilmu, cerita, dan pengalaman yang membekas.

Yang membuat saya semakin hormat adalah kepeduliannya yang nyata kepada mahasiswa. Ketika saya menjadi Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat FISIP Unhas, beliau beberapa kali membantu dari sisi finansial. Dana tersebut kami gunakan untuk kegiatan organisasi, termasuk pelatihan dasar kepemimpinan atau Darul Arqam Dasar (DAD) yang diikuti oleh nama-nama yang kini dikenal luas, seperti Chaidir Syam yang sekarang menjadi Bupati Maros, Rahman Pina yang menjadi Anggota DPRD Sulawesi Selatan, dan Adnan Nasution yang menjadi dosen di Unhas.

Saya bersyukur beberapa waktu lalu, kami mengundang Bupati Maros meletakkan batu pertama pembangunan Masjid Batak Dalihan Na Tolu Sulsel di Dusun Mengempang Kec. Moncongloe Maros. Sebagai Ketua Panitia, saya hubungi beliau secara pribadi. Meminta kesediannya datang ke acara dimaksud. Alhamdulillah beliau berkenan. Bahkan Anggota DPRD Sulsel Andi Muhammad Irfan AB, juga turut hadir.

Saya juga punya kenangan khusus bersama almarhum Aswar Hasan di luar kampus. Pada tahun 2005, kami satu kapal dalam perjalanan dari Surabaya ke Makassar setelah menghadiri Muktamar Muhammadiyah di Malang. Kami sama-sama kelas ekonomi, tanpa tempat tidur yang nyaman, berbaur dengan ribuan penggembira Muktamar.

Bahkan sebelumnya, di Masjid AR Fakhruddin Universitas Muhammadiyah Malang, saya pernah berada satu ruangan dengannya saat mendampingi Ketua PW Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Drs. KH. Nasruddin Razak. Di sela waktu istirahat siang, beliau memperkenalkan saya kepada seorang pria gagah berkumis tipis dengan mengatakan, “Pak, ini Ketua Muhammadiyah Sulsel dan ini sekretarisnya.” Padahal, saya bukan sekretaris, melainkan staf sekretariat. Belakangan baru sayya tahu bahwa pria itu adalah Bapak Rusdi Kirana, Direktur Utama Lion Air yang kini menjadi Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PKB.

Bagi saya, Pak Aswar adalah sosok yang memposisikan dirinya bukan hanya sebagai pengajar di kampus, tetapi juga sebagai pembimbing kehidupan. Ia terjun langsung ke masyarakat, memberi pencerahan lewat tulisan-tulisannya di media dan lewat ceramah agama. Beberapa tahun lalu, kami pernah megundangnya untuk mengisi acara Tarwi Keliling Ramadhan Keluarga Dalihan Na Tolu, perkumpulan warga Batak di Kompleks Banta-Bantaeng. Walau bukan pengurus resmi, beliau juga beberapa kali aktif di kegiatan Muhammadiyah, karena di dalam dirinya memang mengalir darah Muhammadiyah.

Suatu ketika beliau terpilih menjadi anggota komisioner tingkat pusat. Ada yang menuduhnya sebagai bagian dari kelompok radikal, tetapi ketika itu Wakil Presiden Jusuf Kalla membela beliau, sehingga pelantikan tetap berjalan.

Dalam ajaran Islam, wafatnya seseorang bukanlah akhir, tetapi awal dari perjalanan menuju kehidupan yang abadi. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh.” Saya yakin Pak Aswar termasuk orang yang meninggalkan ilmu yang bermanfaat. Setiap mahasiswa yang pernah dia ajar membawa pengetahuan, nilai, dan inspirasi yang akan menjadi amal jariyah baginya.

Seorang dosen, dalam makna yang luas, bukan sekadar orang yang mengajar mata kuliah, tetapi juga membentuk pola pikir, membangun karakter, dan menginspirasi mahasiswa untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat. Pak Aswar memenuhi peran ini dengan baik. Ia mengerti bahwa pendidikan bukan hanya soal nilai akademik, tetapi juga soal memberi teladan, membuka jalan, dan membantu mahasiswa mengatasi kesulitan hidup.

Filsafat memandang kematian sebagai sesuatu yang pasti dan tak bisa dihindari. Plato menyebutnya pembebasan jiwa dari tubuh, sedangkan para filsuf Muslim seperti Al-Farabi dan Ibn Sina melihatnya sebagai kembalinya ruh kepada Pencipta. Kematian adalah pengingat bahwa hidup ini sementara, sehingga kita harus menjalaninya dengan penuh kesadaran dan makna. Kematian seorang pendidik seperti Pak Aswar bukanlah hilangnya sosok, tetapi berpindahnya beliau ke alam lain setelah menuntaskan peran pentingnya di dunia.

Kematian membawa banyak pelajaran. Kita diingatkan bahwa hidup ini singkat dan harus diisi dengan amal kebaikan. Kita belajar bahwa ilmu dan amal adalah bekal terbaik yang akan kita bawa kelak. Kita juga mengerti bahwa hubungan baik dengan sesama adalah warisan berharga, karena doa dari mereka yang pernah kita bantu akan menjadi cahaya di alam kubur.

Kepergian Pak Aswar mengingatkan bahwa ukuran hidup bukanlah panjangnya umur, tetapi besarnya manfaat yang ditinggalkan. Ia telah membuktikan bahwa seorang dosen dan aktivis bisa menjadi cahaya penerang di kampus, di organisasi, di masyarakat, dan di keluarganya.

Selamat jalan, Pak Aswar. Semoga Allah menerima semua amal baikmu, mengampuni segala khilafmu, melapangkan kuburmu, dan menempatkanmu di surga-Nya yang tertinggi. Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga diberi kekuatan dan kesabaran. (*)

Yuk Hadir! Tabligh Akbar Bersama Ustadz Das’ad Latif di Masjid Al-Markaz

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR – Setelah menggebrak dengan kegiatan Parade Obor Tahun Baru Islam 1447, Capacity Building Muballigh dan Fun Run, Pengurus Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf kembali akan menghadirkan agenda Istimewa akhir pekan ini. Pengurus siap menghadirkan kegiatan Tabligh Akbar yang akan dibawakan oleh ulama dan dai kondang nasional, Ust. Das’ad Latief.

Tabligh Akbar Ust Das’ad Latif akan diadakan pada 10 Muharram 1447, bertepatan Ahad, 6 Juli 2025, pukul 19.00 malam. Kegiatan tersebut masih menjadi rangkaian Festival dan Renungan Muharram yang digelar Pengurus Masjid Al-Markaz untuk menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1447 H.

Sekretaris Umum YIC Al-Markaz Al-Islami, Arman Arfah, menjelaskan bahwa berbagai agenda istimewa itu digelar  pengurus sebagai wujud komitmen Masjid Al-Markaz Al-Islami sebagai pusat pembinaan umat, bukan hanya lewat ibadah ritual, tapi juga melalui siraman ruhani dan dakwah yang menggugah.

“Oleh karena itu, kami mengajak kaum muslimin dan muslimat, warga Sulsel untuk bersama hadir meramaikan kegiatan Tabligh Akbar bersama Ustadz Das’ad Latif,” katanya.

Nama Ustadz Das’ad Latif tentu sudah tak asing lagi. Dai asal Sulawesi Selatan ini dikenal dengan gaya ceramahnya yang lugas, lucu, dan menyentuh hati. Di setiap kalimatnya, selalu ada pesan moral yang membumi dan mudah dicerna, namun tak kehilangan kedalaman makna.

Kegiatan ini didukung oleh berbagai pihak, termasuk Bank Mandiri, Mandiri Utama Finance, Mandiri Amal Insani Foundation, serta Bank Syariah Indonesia (BSI), sebagai bentuk kepedulian terhadap penguatan nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat.

Tabligh Akbar ini terbuka untuk umum, tanpa tiket masuk, dan pastinya akan menjadi momen yang tak hanya memberi ilmu, tapi juga menyambung silaturahim. Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf sendiri terdiri 3 lantai berdaya tampung 10 ribu jamaah dengan halaman yang cukup luas.

Momentum Tahun Baru 1447 H diharapkan dapat dijadikan sebagai titik awal perubahan (hijrah). Mari berkumpul bersama keluarga, sahabat, dan kerabat di Masjid Al-Markaz Al-Islami. Karena setiap hijrah butuh langkah pertama, dan bisa jadi langkah itu dimulai dari majelis ini. (*)

REKOR! 5 Ribu Obor Terangi Malam Tahun  Baru Islam 1447 H di Makassar

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MakassarHalaman Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf Makassar, Kamis malam 26 Juni 2025, bak lautan cahaya. Ada ribuan obor yang menyala penuh semangat.

Suasana itu menandai datangnya Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 yang dikemas dalam Parade Obor Peradaban, dengan tema “Nyalakan Obor Peradaban untuk Indonesia Terang”. Sejarah tersebut dicatatkan oleh Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf Makassar sebagai penyelenggara, dengan dukungan penuh Bank Mandiri dan Pemerintah Kota Makassar.

Lebih 5.000 warga tumpah ruah, menciptakan suasana penuh semangat dan kebanggaan. Kegiatan menjadi momentum kebangkitan spiritual dan kebersamaan umat. Tak hanya meriah, tetapi juga sarat makna.

Sekretaris Umum Masjid Al-Markaz, Arman Arfah, menyatakan bahwa parade tersebut bukan sekadar pawai, namun merupakan simbol nyala harapan, cahaya nilai-nilai Islam, dan api semangat untuk membangun peradaban yang lebih baik.

Sebelum rombongan parade berjalan, obor pertama dinyalakan langsung oleh Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, Transaction Banking Retail Head Sulawesi dan Maluku Bank Mandiri Ardy Mandala, dan Ketua Dewan Pengawas Al-Markaz HM. Roem, Kapolrestabes Makassar, Dandim 1408/Makassar Kolonel Inf Franki Susanto dan Sekum Masjid Al-Markaz Arman Arfah.

Dengan khidmat, mereka menyerahkan nyala api kepada perwakilan peserta, menandai dimulainya parade akbar ini. Tepuk tangan dan sorakan bahagia membahana. Parade mengambil rute dari Jl. Gunung Bawakaraeng, menyusuri Jl. Veteran Utara, melintasi Jl. Masjid Raya, dan kembali finish di pelataran Masjid Al-Markaz.

Rombongan pawai yang berasal dari seluruh kelurahan dan kecamatan di Kota Makassar diantar dengan Marchine Band persembahan Drum Corps Dispora Makassar, dan juga tari-tarian di sepanjang jalan oleh Colour Guard. Juga ada Paskiraka Kota Makassar yang membentuk formasi 1447 H.

Setibanya di garis akhir, peserta disambut dentuman tabuh beduk yang megah, serta alunan marawis yang menggema dari tim Pesantren Masjid Al-Markaz. Denting suara dan cahaya berpadu menciptakan malam yang tak akan mudah dilupakan siapa pun yang hadir.

Dalam sambutannya, Wali Kota Makassar menyampaikan apresiasi dan harapan, “Kami menyambut gembira dan sangat mendukung penuh kegiatan ini. Inilah wajah Islam yang damai, penuh cahaya, dan membangun kebersamaan. Insya Allah, ini menjadi agenda tahunan Kota Makassar.”

Tak hanya parade, kawasan parkir timur Masjid Al-Markaz yang menjadi titik start dan finish juga disulap menjadi pusat keramaian rakyat dengan hadirnya Bazar UMKM. Hampir 100 merchant ikut meramaikan bazar yang disponsori Bank Mandiri dan grup, menawarkan aneka kuliner, kerajinan, dan produk lokal. Suasana kian hidup dengan panggung hiburan rakyat yang menampilkan seni Islami, nasyid, hingga tausiyah kebangsaan.

Parade Obor Peradaban ini membuktikan bahwa Makassar tak hanya kuat dalam infrastruktur, tapi juga kaya dalam spiritualitas. Semangat masyarakat yang luar biasa, dukungan pemerintah dan dunia usaha, serta sinergi lembaga keagamaan seperti Al-Markaz, menciptakan perayaan Tahun Baru Islam yang monumental, bersejarah, dan membanggakan. (*)

Ust. Das’ad Latif Ajak Warga Ikuti Al-Markaz Hijab Fun Run

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR – Menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 H, dai kondang Ustaz Dr. Das’ad Latif mengajak masyarakat Makassar dan sekitarnya untuk turut serta dalam kegiatan Al-Markaz Hijab Fun Run. Kegiatan tersebut akan dihelat pada Ahad, 29 Juni 2025 mendatang.

Dalam sebuah ajakan yang disampaikannya dengan gaya khas melalui sebuah video yang beredar luas, Ust. Das’ad mengingatkan bahwa menyongsong Tahun Baru Islam sepatutnya disambut dengan semangat positif, syiar yang menggembirakan, dan tetap menjaga nilai-nilai keislaman.

“Insya Allah, kalau niat Anda ikut bergembira atas datangnya Tahun Baru Islam, sebagai syiar, maka larinya itu selain dapat sehat, juga bisa dapat pahala,” ujar Ust. Das’ad, yang sehari-hari juga merupakan Dosen Ilmu Komunikasi Unhas.

Dia  mengingatkan pentingnya tetap menjaga adab dan busana selama mengikuti kegiatan, sesuai prinsip sesuatu syariat Islami, yaitu menutup aurat.

“Perempuan tentu pakai jilbab, tapi jangan yang sempit-sempit. Laki-laki pun pakai celana yang menutup lutut, jangan celana pendek yang tinggi-tinggi,” pesannya.

Acara Hijab Fun Run ini diselenggarakan oleh Islamic Center Al-Markaz Al-Islami Makassar. Start dan finish akan dilakukan di Pelataran Parkir Timur Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf. Kegiatan ini terbuka untuk umum, dengan berbagai hadiah menarik, seperti sepeda, televisi, hingga motor, serta hadiah podium untuk pelari tercepat.

Lebih dari sekadar olahraga, acara ini mengajak masyarakat untuk memaknai Tahun Baru Islam dengan semangat hijrah, yaitudari malas menuju semangat, dari pasif menuju aktif, dari gaya hidup tak sehat menuju sehat dan penuh keberkahan.

Bagi masyarakat yang ingin ikut serta, pendaftaran dapat dilakukan secara offline dengan mendaftarkan diri di Sekretariat Masjid Al-Markaz. Pendaftaran juga dapat dilakukan secara daring melalui:  https://bit.ly/AlmarkazHijabFunRun2025
Atau menghubungi panitia di 0811-422-292.

Yuk, berlari bersama untuk sehat, bahagia, dan berpahala. Tahun baru, semangat baru!
Jadikan langkah kecilmu sebagai bagian dari syiar besar.(*)

Follow us

0FansSuka
3,910PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest news