Jumat, Oktober 9, 2026
Google search engine
Beranda blog Halaman 2

Besok, Penulis Best Seller Ahmad Rifa’i Rif’an Tampil di Al-Markaz Makassar

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, Makassar — Penulis nasional best seller Ahmad Rifa’i Rif’an dijadwalkan mengisi kegiatan Book Talk bertajuk Ngaji Literasi pada Sabtu, 14 Februari 2026 di Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf.

Kegiatan literasi tersebut akan dilaksanakan di lantai 2 masjid setelah pelaksanaan shalat Dhuhur dan terbuka secara gratis untuk masyarakat umum. Panitia menargetkan peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, komunitas literasi, santri pesantren, hingga masyarakat umum pecinta buku.

Acara ini merupakan hasil kolaborasi Perpustakaan Masjid Al-Markaz Makassar bersama Gramedia, Forum Komunikasi Pondok Pesantren Makassar, serta Kementerian Agama Kota Makassar.

“Hal ini sebagai upaya memperkuat budaya literasi di kalangan pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum. Sekaligus mendukung posisi masjid sebagai pusat peradaban ilmu, bukan hanya tempat ibadah ritual,” ujar Hasan Pinang, KKepala Seksi (Kasi) Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kemenag Kota Makassar.

Panitia menyebut kehadiran Ahmad Rifa’i Rif’an diharapkan dapat memberikan motivasi menulis dan membaca, sekaligus menumbuhkan tradisi diskusi buku di kalangan generasi muda. Penulis yang dikenal produktif dengan berbagai buku pengembangan diri tersebut akan berbagi pengalaman kepenulisan, proses kreatif melahirkan karya best seller, hingga praktik membedah buku secara interaktif bersama peserta.

Dalam sesi dialog, peserta juga diberi kesempatan berdiskusi langsung, mengajukan pertanyaan, serta mendapatkan tips membangun kebiasaan membaca yang konsisten dan produktif di tengah era digital.

Selain sesi talkshow, pengunjung dapat mengikuti bazar buku dengan potongan harga 15 persen khusus untuk karya-karya penulis. Promo tersebut berlaku bagi 200 pendaftar pertama. Pihak Gramedia juga memberikan diskon khusus pembelian buku lainnya di lokasi bazar. “Kami akan berikan diskon spesial untuk pembelian buku di lokasi acara,” kata Yuda dari Gramedia.

Panitia berharap masyarakat luas bisa memanfaatkan kesempatan ini, terutama kalangan pelajar, mahasiswa, komunitas literasi, santri pesantren. Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang pertemuan antara dunia literasi, pendidikan pesantren, dan masyarakat kota dalam membangun budaya membaca berbasis masjid. (*)

“Siapa Sekolah Paling Literat di Makassar? Buktikan Nyalimu di Ngaji Literasi Al-Markaz!”

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR – Siapa bilang anak muda Makassar hanya jago kandang? Saatnya membuktikan dalam kompetisi mengukir peradaban dari Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf Makassar.

Kabar gembira bagi para pelajar di Kota Daeng Makassar, untuk mengasah nalar menjemput masa depan. Perpustakaan Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar bekerjasama dengan Gramedia FKPP (Forum Komunikasi Pondok Pesantren) dan Kementerian Agama Kota Makassar, menghadirkan kompetisi dalam ajang “NGAJI LITERASI: Membaca Dunia, Menulis Peradaban”.

Bukan sekadar ajang adu bakat biasa, kompetisi ini menjadi panggung pembuktian bagi generasi milenial dan Gen Z Makassar bahwa literasi adalah senjata utama dalam membangun peradaban, bukan sekadar hobi di atas kertas.

Panitia telah menyiapkan tiga cabang lomba yang menuntut keberanian berpikir kritis dan kecakapan berkomunikasi, yaitu debat Bahasa Inggris, ceramah Bahasa Inggris dan lomba menulis cerpen. Debat Bahasa Inggris untuk menguji ketajaman logika dan kemampuan argumentasi dalam isu-isu global. Ceramah Bahasa Inggris sebagai wadah syiar modern yang memadukan kemampuan bahasa dan penguasaan nilai-nilai adab. Sedang lomba menulis cerpen sebagau ruang kreativitas bagi mereka yang ingin mengubah dunia lewat kekuatan narasi.

“Kita tidak butuh generasi yang hanya pintar di bangku kelas. Kita butuh anak muda yang berani berbicara, tajam dalam berpikir, dan memiliki adab yang kuat. Di sinilah tempatnya kalian membuktikan diri,” kata Muannas, Kepala Sekretariat YIC Al-Markaz Al-Islami.

Kabar terbaiknya, seluruh rangkaian kompetisi ini diselenggarakan secara gratis. Meski tanpa biaya pendaftaran, hadiah yang disiapkan cukup menarik. Para jawara akan membawa pulang antara lain Voucher belanja Gramedia untuk mendukung koleksi buku peserta, Goodie bag eksklusif dan sertifikat sebagai bukti prestasi di tingkat kota.

Pendaftaran lomba dibuka singkat selama sepuluh hari, 1 – 10 Februari 2026. Adapun pelaksanaan lomba dilaksanakan pada tanggal 11 – 13 Februari 2026. Semua lomba digelar di Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf Makassar.

Muannas berharap, generasi milenial dan Gen Z Makassar dapat memanfaatkan kesempatan tersebut dan menjadi bagian dari sejarah baru pelajar Makassar yang literat dan berkarakter.

Untuk mendaftar, bisa langsung klik tautan pendaftaran di

https://bit.ly/NgajiLiterasiAl-Markaz

Puncak acara ini akan digelar 14 Februari 2026 dalam sesi Book Talk menghadirkan penulis nasional, Ahmad Rifa’i Rif’an. Rifa’i adalah penulis buku-buku pengembangan diri Islami yang dikenal dengan gaya tulisannya yang jujur, membumi, dan relevan dengan keresahan anak muda hingga dewasa. Salah satu bukunya yang terbaru, “Jangan Sampai Ada dan Tiadamu di Dunia Ini Sama Saja”.

Ribuan Jamaah Istighosah Nisfu Syaban di Masjid Al-Markaz  Makassar

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR – Ribuan umat Muslim memadati Masjid Al-Markaz Al-Islami Jenderal M. Jusuf, Makassar, untuk melaksanakan istighosah malam Nisfu Sya’ban, Senin (2/2/2026). Mereka melakukan zikir dan doa bersama penuh kekhusyukan

Antusiasme jamaah terlihat sangat tinggi dengan kehadiran tak kurang dari 7.000 orang. Menariknya, jamaah ini didominasi oleh kaum milenial yang memenuhi lantai 2 hingga lantai 3 masjid terbesar di Sulawesi Selatan tersebut.

Kegiatan dimulai dengan pelaksanaan salat Magrib berjamaah. Setelah itu, suasana masjid menjadi syahdu saat jamaah bersama-sama membacakan Surah Yasin sebanyak tiga kali, yang disusul dengan zikir dan doa bersama hingga memasuki waktu salat Isya.

Prosesi zikir dan doa ini dipimpin langsung oleh imam Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf, yakni KH Hasan Basri Ahmad KH Musryidin Hamid dan KH Hasan Basri Arfah. Jamaah tampak larut dalam kekhusyukan, memohon ampunan dan keberkahan di malam yang diyakini penuh rahmat tersebut.

Usai salat Isya berjamaah, acara dilanjutkan dengan tausiah yang dibawakan oleh Prof. Dr. H. Abd. Rauf Muhammad Amin, MA, guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar. Dalam ceramahnya, Prof. Rauf menekankan bahwa Nisfu Sya’ban bukanlah malam biasa, melainkan momentum besar sebagai syiar Islam.

Dia menjelaskan bahwa menghormati malam ini merupakan indikator ketaqwaan seseorang sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur’an. “Nisfu Sya’ban adalah malam yang sangat luar biasa. Ini adalah sebuah syiar Islam di mana berdasarkan Al-Qur’an, Allah mengatakan bahwa siapa yang menghormati syiar Islam, maka itu menjadi indikator kekuatan ketaqwaan yang kita miliki,” ujar Prof. Rauf Amin di hadapan ribuan jamaah.

Ia juga memberikan pandangan mendalam mengenai keagungan malam ini jika dibandingkan dengan Lailatul Qadr dari sisi kepastian waktunya. “Malam ini malam sangat agung. Bahkan ini lebih penting dari Lailatul Qadr dalam konteks kepastiannya, karena Lailatul Qadr tidak tentu waktunya, sedangkan Nisfu Sya’ban sudah ditentukan waktunya. Narasi tentang Nisfu Sya’ban sangat jelas keistimewaannya,” tambahnya.

Mengakhiri tausiahnya, Prof. Rauf mengingatkan agar umat Muslim tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Menurutnya, malam Nisfu Sya’ban adalah malam curahan kasih sayang Allah SWT. Ia mengatakan bahwa sangat disayangkan jika seorang Muslim yang diberi kesempatan untuk dipertemukan dengan Nisfu Sya’ban namun tidak mengapresiasinya.

“Malam nisfu syaban adalah malam rahmat. Inilah yang kita mau raih pada malam ini,” pungkasnya.

Hingga acara berakhir, situasi di sekitar Masjid Al-Markaz terpantau tertib meskipun dipadati oleh ribuan kendaraan jamaah. Bahkan, ratusan jamaan lainnya bertahan di masjid hingga tengah malam untuk melaksanakan salat qiyamullail. (*)

Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar Rayakan Milad ke-30 Secara Sederhana

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, Makassar — Masjid Al-Markaz Al-Islami Jenderal M. Jusuf Makassar memperingati milad ke-30 secara sederhana pada Senin malam, 12 Januari 2026.. Meski digelar sederhana, peringatan ini berlangsung penuh khidmat

Momentum milad diisi dengan  doa dan zikir bersama pengurus dan jamaah. Masjid Al-Markaz Al-Islami merupakan masjid kebanggaan Sulawesi Selatan yang pendiriannya diprakarsai oleh mantan Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima ABRI, Jenderal (Purn) M. Jusuf, pada akhir tahun 1994. Masjid ini diresmikan pada 12 Januari 1996 dan sejak itu menjadi pusat ibadah, dakwah, Pendidikan, muamalah dan aktivitas keumatan di Kota Makassar.

Rangkaian kegiatan milad diawali dengan munajat dan zikir bersama usai Salat Magrib yang dipimpin oleh tim imam lengkap Masjid Al-Markaz Al-Islami, Imam Besar Prof. Dr. KH. Muammar Bakry, Lc, M.Ag., yakni KH Hasan Basri Ahmad, Dr. KH Masykur Yusuf, KH Hasan Basri Arfah, KH Mursidin Abd. Hamid. Zikir berlangsung khusyuk hingga menjelang Salat Isya.

Para pengurus masjid turut hadir, di antaranya Ketua Harian Prof Dr Mustari Mustafa, M.Pd., Sekretaris Jenderal Arman Arfah, Dewan Pengawas Najamuddin Madjid, serta para pengurus Badan Pengelola Harian (BPH) dan unit-unit di lingkungan Masjid Al-Markaz Al-Islami.

Usai pelaksanaan Salat Isya, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Peringatan ini menjadi penutup perayaan milad ke-30 Masjid Al-Markaz Al-Islami, sekaligus menjadi momentum refleksi spiritual untuk memperkuat peran masjid dalam membina umat dan menjaga persatuan di tengah berbagai tantangan bangsa. (*)

Peduli Sumatera, Jamaah Jumat Al-Markaz Makassar Kirim Donasi Rp 10 Juta

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, Makassar – Gelombang solidaritas untuk korban bencana alam di Pulau Sumatera terus mengalir dari berbagai penjuru tanah air, tak terkecuali dari Kota Makassar. Masjid Al-Markaz Al-Islami Jenderal M. Jusuf kembali menunjukkan peran sentralnya sebagai pusat kemanusiaan dengan menggalang donasi spontan dari jamaah usai pelaksanaan ibadah Shalat Jumat, (5/12).

Usai pelaksanaan Shalat Jumat, pengurus mengajak jamaah untuk berdonasi demi membantu korban bencana banjir dan tanah longsor  di Sumatera. Penggalangan dana itu dipimpin langsung Imam Besar Masjid Al-Markaz Al-Islami,  Prof. Dr. KH. Muammar Bakry. Di hadapan jamaah Jumat, Prof. Muammar mengajak jamaah untuk memperkuat solidaritas terhadap para korban. Ia menyebut bahwa musibah di wilayah Sumatera, termasuk Aceh, telah menelan 800 lebih korban jiwa dan ratusan lainnya masih dinyatakan hilang.

“Tentu kita sudah mengetahui musibah yang amat dahsyat, khususnya di Sumatera dan sekitar Aceh. Karena itu, mari kita memperkuat solidaritas untuk membantu saudara-saudara kita,” ujarnya.

Dalam aksi cepat tanggap tersebut, terkumpul dana tunai sebesar Rp 10.000.000. Pihak Yayasan Masjid Al-Markaz Al-Islami memutuskan untuk langsung menyalurkan dana tersebut melalui Palang Merah Indonesia (PMI) pada hari yang sama, tanpa penundaan, agar secepatnya bisa dimanfaatkan untuk membantu korban.

Penggalangan dana ini merupakan respons langsung atas kondisi memprihatinkan yang menimpa wilayah Sumatera dalam beberapa hari terakhir. Seperti diketahui, bencana banjir dan tanah longsor yang melanda kawasan Sumatera telah melumpuhkan aktivitas warga dan memaksa ribuan orang mengungsi.

Kerusakan infrastruktur dan sulitnya akses logistik di lokasi bencana menjadi perhatian utama. Oleh karena itu, bantuan dana tunai yang cepat sangat dibutuhkan untuk pengadaan kebutuhan mendesak para pengungsi, seperti makanan siap saji, selimut, dan obat-obatan.

Muammar berharap, bantuan yang dikumpulkan di Masjid Al-Mrkaz Al-Islami Makassar dapat turut menjadi penguat bagi masyarakat terdampak bencana alam di pulau Sumatera. “Mudah-mudahan apa yang kita donasikan meringankan beban saudara-saudara kita di sana dan Insyaallah Allah menggantikan yang terbaik dari apa yang hilang,” tambahnya.

Sebelum melakukan penggalangan dana, Prof Muammar juga memimpin salat gaib untuk para korban meninggal akibat bencana banjir dan tanah longsor Sumatera. Tampak ribuan jamaah Shalat Jumat turut serta melaksanakan salat gaib. (*)

Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar Terima Penghargaan di Islamic Digital Fest 2025

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, Makassar — Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf Makassar menerima penghargaan dari Jakarta Islamic Center. Penghargaan tersebut diberikan pada ajang Islamic Digital Fest 2025 yang di Jakarta, Selasa, 29 September 2025.

Sekjen YIC Al-Markaz Al-Islami, Arman Arfah, hadir langsung dalam acara Islamic Digital Fest 2025 itu, yang berlangsung selama 2 hari, 29 dan 30 September 2025. Ia menegaskan bahwa penghargaan yang diberikan kepada Al-Markaz Makassar menjadi bukti bahwa masjid bukan hanya megah secara fisik, tetapi juga visioner dalam dakwah digital.

“Apresiasi ini menunjukkan pengakuan atas komitmen kuat Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar dalam transformasi digital, yaitu dakwah tidak hanya dari atas mimbar konvensional, melainkan juga melalui berbagai platform digital,” kata Arman.

Menurut dia, Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf  Makassar memang telah aktif menerapkan strategi digitalisasi layanan melalui live streaming kajian, ceramah dan khutbah di berbagai kanal seperti YouTube, Tiktok, Instagram, Facebook, radio streaming, serta media daring lainnya. Selain itu, informasi jadwal salat, kegiatan, dan layanan infaq juga telah tersedia secara digital dengan mengakses website Masjid Al-Markaz.

Acara bertema “Dari Mimbar Konvensional ke Panggung Digital” itu dibuka oleh Kepala Kanwil Kemenag DKI Jakarta, H. Afifuddien MM, dan dihadiri perwakilan masjid raya serta Islamic Center dari berbagai daerah di Indonesia.

Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (PPPIJ), KH Muhyiddin Ishaq, menilai kehadiran peserta dalam ajang Islamic Digital Fest 2025 menunjukkan adanya semangat baru dalam mengembangkan dakwah digital di Indonesia. Menurutnya, keterlibatan berbagai masjid raya dan Islamic Center dari seluruh daerah menjadi bukti bahwa dakwah tidak lagi terbatas pada mimbar konvensional, tetapi juga merambah ruang-ruang virtual.

Ia mengingatkan bahwa media sosial memiliki dua sisi yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, platform digital membuka peluang luas bagi umat Islam untuk menyebarkan nilai-nilai keislaman dengan jangkauan yang lebih cepat dan masif. Digitalisasi dakwah, kata KH. Muhyiddin, harus diarahkan untuk memperkuat literasi, membangun peradaban, dan menjaga nilai-nilai Islami agar media sosial tidak menjadi sumber fitnah, tetapi justru menjadi sarana pencerahan.

“Kalau dimanfaatkan sebagai media dakwah, masjid akan menjadi pusat peradaban, bukan hanya tempat ibadah,” kata KH Muhyiddin.

Namun di sisi lain, media sosial juga membawa tantangan serius berupa maraknya konten yang tidak islami, misinformasi, hingga ujaran kebencian yang berpotensi menimbulkan perpecahan. (*)

Dari Al-Markaz untuk Negeri: Zikir dan Doa Keselamatan Bangsa

0

LANTUNAN zikir dan doa mengalun dari lantai 2 Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf Makassar, Ahad petang 31 Agustus 2025. Sejumlah tokoh agama, aparat dan akademisi tampak hadir. Mereka semua duduk berdampingan, menyatukan hati dalam doa dan zikir bersama.

Suasana malam itu terasa berbeda. Di tengah keresahan masyarakat akibat aksi-aksi demonstrasi yang berujung kerusakan, Al-Markaz hadir sebagai rumah teduh, sekaligus merajut harapan untuk  keselamatan Indonesia. Zikir dan doa dipimpin oleh tim Imam Masjid Al-Markaz Al-Islami

“Masjid Al-Markaz, kita harapkan menjadi tempat kesejukan, tempat pencerahan hati kita, untuk bisa kita tularkan semassif mungkin kepada masyarakat sekitar dan seluruh bangsa Indonesia,” begitu Prof. Dr. KH. Muammar Bakry, Lc, M.Ag., Imam Besar Masjid Al-Markaz Makassar mengawali kegiatan zikir dan doa Bersama keselamatan bangsa. Suaranya tenang, namun sarat makna, seolah sedang mengingatkan semua yang hadir bahwa bangsa ini hanya bisa kokoh bila dijaga dengan hati yang jernih.

Muammar melanjutkan, di tengah kondisi bangsa yang sedang diuji akhir-akhir ini, maka sebagai warga dan umat beriman haruslah menyandarkan penharapan dan pertolongan dari Allah SWT. Dan tempat yang suci untuk mengharapkan pertolongan Allah SWT, tegasnya, tidak lain adalah masjid sebagai rumah Allah.

Sementara itu, Pangdam XIV Hasanuddin, yang diwakili Kolonel H.Rahman Taleho, M. Si., Pamen  Ahli Pangdam Bidang Sosial Budaya, menegaskan pentingnya menjaga persatuan dan jangan mudah terprovokasi dan terpecah belah. Ia mengingatkan bahwa, jangan sampai masuk perangkap politik pecah belah, sebagaimana dijalankan penjajah Belanda dulu sehingga sesama anak bangsa sendiri yang berhadap-hadapan.

Sementara itu, Sekretaris Umum YIC Al-Markaz Al-Islami, Arman Arfah, menegaskan, acara tersebut bukanlah seremoni yang lahir sekadar dari keprihatinan atas insiden kerusuhan. Lebih dari itu, ia adalah momentum muhasabah bersama. “Kami ingin mengajak seluruh elemen bangsa untuk duduk bersama, berpikir jernih, dan memikirkan keselamatan bangsa ke depan,” ujarnya.

Kegelisahan sosial, politik, dan ekonomi yang menyelimuti masyarakat akhir-akhir ini menjadi benang merah dalam doa malam itu. Semua larut, sekaligus memohon kekuatan kepada Sang Pemilik Kehidupan.

“Momentum malam ini adalah saat untuk memenangkan pikiran, mengedepankan akal sehat, dan membuka hati. Baik pemerintah maupun masyarakat, semua perlu melakukan evaluasi diri,” kata Arman lagi.

Malam itu, ketika doa dan zikir berakhir, jamaah tak langsung beranjak. Banyak yang memilih tetap duduk, saling menyapa, berbincang pelan tentang bangsa yang mereka cintai. Seolah, di balik doa-doa yang baru saja dilangitkan, tersimpan keyakinan bahwa Indonesia bisa tetap berdiri kokoh selama warganya mau merawat persaudaraan.

Di bawah kubah megah Al-Markaz, di antara lantunan doa yang tak henti dipanjatkan, lahirlah sebuah pengingat sederhana: bahwa dalam setiap kegelisahan, ada jalan menuju ketenangan—dan jalan itu adalah kebersamaan. (*)

Menahan Efek Anarki: Tanggung Jawab Bersama Negara, Media, dan Masyarakat

0

Oleh : H. Mustari Mustafa*

Dalam beberapa hari terakhir, tensi sosial di Indonesia kembali meninggi. Aksi-aksi protes yang bermula dari keresahan terhadap kebijakan pemerintah meluas menjadi demonstrasi di banyak daerah. Pada titik ini, kita menyaksikan bagaimana suara publik berhadapan dengan negara dalam situasi yang tidak selalu mudah.

Fenomena ini dapat dibaca dengan kacamata Framing Theory dan Political Opportunity Structure. Dua teori ini bisa membantu menjelaskan mengapa demonstrasi kerap berubah menjadi anarkis dan bagaimana negara seharusnya merespons.

Framing Theory mengajarkan bahwa peristiwa sosial dipersepsi publik sesuai bingkai (frame) yang dibentuk media. Aksi damai seringkali tenggelam di ruang pemberitaan, sedangkan aksi anarki segera mendapat atensi besar karena lebih dramatis, lebih mudah memancing emosi, dan lebih “layak siar”. Dengan kata lain, anarki menciptakan frame krisis yang memaksa isu dipandang serius. Dalam situasi krisis, publik merasa ada keadaan darurat yang menuntut respons segera, baik dari masyarakat maupun dari pemerintah.

Sementara itu, Political Opportunity Structure (Charles Tilly, Sidney Tarrow) menegaskan bahwa protes radikal lahir ketika saluran resmi partisipasi politik tidak bekerja dengan baik. Jika aspirasi warga disumbat atau diabaikan, maka bentuk protes cenderung meningkat eskalasinya. Dari sudut pandang ini, anarki bukanlah tujuan utama demonstrasi, melainkan “jalan pintas” ketika ruang partisipasi demokratis dianggap tertutup.

Karena itu, jika pemerintah hanya menanggapi aksi dengan pendekatan keamanan tanpa membuka ruang dialog, maka risiko anarki justru makin besar. Anarki menjadi rasional bagi sebagian kalangan karena diyakini sebagai satu-satunya cara agar suara mereka didengar.

Dalam konteks Sulawesi Selatan, langkah deklarasi damai yang dilakukan Forkopimda Sulsel, pimpinan universitas, dan Ormas seperti KAHMI Sulsel pada Minggu 31 Agustus 2025 patut diapresiasi. Inisiatif ini, yang diprakarsai Pangdam XIV Hasanuddin, menunjukkan kesadaran akan bahaya eskalasi anarki. Namun, kita juga perlu realistis. Deklarasi damai saja tidak cukup menahan derasnya arus kekecewaan yang bisa memicu aksi keras.

Karakteristik aksi sosial saat ini, terutama di era digital, memiliki kecenderungan mencari perhatian melalui cara-cara dramatis. Aksi yang tenang dan damai mudah sekali diabaikan, sementara aksi dengan sedikit sentuhan chaos cepat menjadi sorotan publik. Karena itu, deklarasi damai harus disertai dengan kesadaran bersama: pemerintah wajib menghadirkan solusi konkret atas krisis, media harus berhati-hati dalam membingkai pemberitaan, dan masyarakat pengguna media sosial sebaiknya menahan diri agar tidak menambah api dengan konten provokatif semata demi jumlah penonton.

Media dan medsos kini berperan ganda: bisa menjadi jembatan penenang, tapi juga bisa memperbesar gelombang anarkhi. Framing yang berlebihan pada kekerasan dapat menciptakan efek domino, menormalisasi chaos, bahkan mendorong kelompok lain untuk meniru. Karena itu, tanggung jawab moral media dan warganet adalah menjaga agar publikasi tidak mengundang keresahan yang lebih luas.

Kegiatan doa dan zikir bersama di Masjid Al Markaz Al Islami Makassar pada Ahad malam 31 Agustus 2025 juga merupakan langkah yang bermakna. Kehadiran Pangdam, tokoh masyarakat, dan jamaah menunjukkan upaya untuk menguatkan sisi spiritual masyarakat. Namun perlu kita tegaskan: pesan moral dan spiritual tidak boleh berhenti sebagai seremoni belaka. Spiritualitas harus diturunkan ke dalam tindakan nyata, baik oleh pemerintah maupun masyarakat.

Bagi umat Islam, merusak fasilitas umum atau menebar kekerasan jelas terlarang. Tetapi larangan ini baru efektif bila dibarengi dengan keadilan dari pemerintah. Sebaliknya, pemerintah tidak cukup hanya mengandalkan doa bersama tanpa kebijakan nyata yang menurunkan ketegangan. Spiritualitas harus mengantar pada kesadaran kolektif bahwa merusak adalah kesalahan, dan menutup ruang dialog adalah kekeliruan.

Oleh sebab itu, pesan penting yang harus sampai ke pemerintah sebagai penanggung jawab krisis adalah: bukalah ruang partisipasi yang lebih luas dan serius. Jangan biarkan warga merasa suaranya terabaikan. Dengan begitu, dorongan menuju anarkhi bisa ditekan. Anarki pada dasarnya hanyalah gejala dari dua hal: frame media yang lebih suka menyorot chaos, dan struktur politik yang menutup kanal aspirasi. Jika kedua hal ini dikelola dengan bijak, maka aksi damai bisa kembali mendapat tempat yang terhormat.

Pada akhirnya, stabilitas bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan aparat, tetapi juga oleh keberanian pemerintah untuk mendengar. Deklarasi damai dan doa bersama hanya akan bermakna jika disertai tindakan nyata: merespons aspirasi rakyat, menjaga pemberitaan media agar proporsional, dan mengarahkan medsos agar tidak menjadi panggung provokasi. Dengan itu, bangsa ini dapat keluar dari lingkaran anarkhi menuju ruang dialog yang lebih bermartabat.

*) Penulis adalah Ketua Harian YIC Masjid Al Markaz Al Islami Makassar, Presidium Kahmi Sulawesi Selatan, dan Guru Besar UIN Alauddin

Agustus Jumat Kelabu: Rakyat Bergerak Menuntut Keadilan

0

Oleh: Prof. Dr. KH. Munawir Kamaluddin, M.Ag, MH.

AGUSTUS seharusnya menjadi bulan penuh syukur. Bulan ketika rakyat Indonesia merayakan kemerdekaan, mengenang perjuangan para pendiri bangsa, mengibarkan bendera dengan bangga, dan menikmati buah kebebasan yang diperjuangkan dengan darah dan air mata.

Namun, ironi menyayat, Agustus 2025 bukan bulan perayaan, melainkan bulan kegelisahan.

Bukan bulan persatuan, melainkan bulan pertentangan. Bukan bulan kemenangan, melainkan bulan luka.

Di saat rakyat mestinya menghayati makna kemerdekaan, justru ketegangan sosial dan politik memuncak. Bukan hanya di jalan-jalan ibu kota, tetapi merembet ke banyak daerah.

Yang mestinya menjadi pesta rakyat, berubah menjadi amarah rakyat. Yang mestinya menjadi momentum refleksi kemerdekaan, justru menjadi titik konflik antara rakyat dengan pemerintah, DPR, aparat keamanan, bahkan dengan lembaga negara lainnya seperti legislatif, yudikatif, dan eksekutif.

Dan lebih memilukan lagi, sebuah hari Jumat, yang seharusnya penuh berkah dan ketenangan, justru di bulan Agustus ini berubah menjadi Jumat Kelabu.

Jumat kelabu karena hari tumpahnya darah seorang rakyat kecil di depan gedung parlemen.

Ajula: Tegesa-gesa yang Membawa Luka

Dalam bahasa Arab, Ajula (عَجَلَة) berarti tergesa-gesa. Ia bukan sekadar kata, melainkan sebuah sikap:

Tergesa-gesa DPR dalam mengambil kebijakan yang jauh dari nalar publik, menaikkan tunjangan miliaran di tengah krisis.

Tergesa-gesa aparat dalam bertindak represif, memilih kekerasan ketimbang dialog, memilih peluru gas ketimbang kata-kata.

Tergesa-gesa pemerintah dalam merespons kritik, lebih sibuk meredam gejolak dengan kekuatan ketimbang mendengar keluhan rakyat.

Tergesa-gesa rakyat pula, dalam meluapkan amarahnya lewat anarki, pembakaran, perusakan, dan tindak kekerasan.

Semua pihak terseret dalam pusaran ajula, terburu-buru, tidak jernih, tidak bijak, kehilangan kendali atas kebijaksanaan. Padahal bangsa ini justru butuh ketenangan, kesabaran, dan keadilan sebagai fondasi jalan keluar.

Maka “Ajula” di bulan Agustus ini menjadi simbol sekaligus ironi. Agustus mestinya lambang kemerdekaan, tetapi justru ditandai ajula (ketergesaan kolektif) yang melahirkan luka bangsa.

Pertanyaan yang Mengguncang Nurani

Pernahkah kita jujur bertanya,
Untuk siapa negara ini sesungguhnya berdiri?

Apakah untuk rakyat kecil yang setiap hari berpeluh di jalanan, atau untuk kursi-kursi empuk para penguasa yang sibuk menambah fasilitasnya sendiri?

Masihkah kita percaya pada istilah “aparat pengayom”, ketika yang mereka tindas dan yang mereka lindas bukan ancaman bersenjata, melainkan seorang ojek online bernama Affan Kurniawan, yang hanya ingin pulang membawa rezeki untuk keluarganya?

Apakah pantas rumah para legislator direnovasi dengan tunjangan miliaran, sementara rumah rakyat retak diterpa badai krisis ekonomi yang tak kunjung reda?

Dan di manakah letak keadilan, bila darah seorang rakyat kecil tumpah di depan gedung DPR, sementara suaranya terkubur di balik tembok kekuasaan yang kokoh, dingin, dan beku?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukanlah retorika kosong. Ia adalah palu yang mengetuk kesadaran kita bahwa ada yang serius salah dalam arah perjalanan bangsa ini.

Kronologi Luka: Jumat Kelabu di Senayan

28 Agustus 2025 menjadi catatan hitam. Ribuan massa bergerak menuntut keadilan di depan Gedung DPR RI, menolak kebijakan absurd (kenaikan tunjangan perumahan) DPR RI hingga Rp50 juta per bulan.

Di tengah gelombang demonstrasi itu, Affan Kurniawan, seorang tukang ojek online, tewas terlindas kendaraan taktis Brimob Barakuda.

Peristiwa itu seketika menjadi simbol luka kolektif. Luka yang membelah rasa percaya rakyat terhadap negara.

Dari Jakarta, bara kemarahan menyebar ke Bandung, Makassar, Karawang, Jambi, Bengkulu, hingga Surabaya. Kantor DPRD dibakar, kendaraan dinas dilahap api, gedung-gedung pemerintahan dirusak.

Bahakan penulis menyaksikan langsung samapi pukul: 3 dini hari di kantor DPRD kota Makassar, massa demonstran tidak berkuarang eskalasinya malah terus bertambah.

Aksi penjarahan dan bakar-bakaran tidak berhenti hingga akhirnya gedung megah DPRD kota makasar tinggal puing-puing reruntuhan dan sisa bara api, bahkan puluhan kendaraan roda 4 ( yang telah menjadi rongsokan besi yang telah hangus terbakar) tidak lepas dari aksi penjarahan massa.

Fenomena yang paling menarik bahwa massa merazia aparat kepolisian yang ada dilokasi bahakan menahan pengendara yang diduga aparat kepolisian.

Yang tampak berlalu lalang dan mengamankan lokasi adalah aparat keamanan dari TNI ( yang tetap mengenakan seragamnya).

Dalam wawancara beberapa massa demontran dari masaa yang masih berkumpul , semuanya menjawab dengan lantang ; Ini bukan sekadar kemarahan sesaat. Ini adalah akumulasi rasa muak yang menahun, PHK massal, pajak yang mencekik, harga-harga melambung, aparat represif, korupsi yang terus berulang tanpa jera.

Mengapa Rakyat Begitu Marah?

Jawabannya jelas dan telanjang:

  1. Rakyat merasa dikhianati. Mereka patuh membayar pajak, tetapi uangnya untuk memperkaya penguasa.
  2. Rakyat diperlakukan tidak adil. Suara mereka dibungkam dengan gas air mata, bahkan tubuh mereka dilindas roda aparat.
  3. Rakyat kehilangan kepercayaan. Hukum hanya tajam ke bawah, tumpul ke atas.
  4. Rakyat tertekan ekonomi. Saat dapur tidak mengepul, sementara elite menambah fasilitas, maka kesenjangan jadi bara api.

Maka ketika rakyat turun ke jalan dengan ekspresi keras, vulgar, bahkan anarkis, itu bukan sekadar emosi. Itu adalah mosi tidak percaya. Itu adalah tanda nyata bahwa negara telah gagal memberi rasa adil.

Epilog: Ajula, Alarm Nurani Bangsa

Agustus 2025 kini tercatat sebagai Jumat Kelabu. Darah Affan Kurniawan bukan sekadar tragedi personal, melainkan simbol luka kolektif bangsa.

Namun pertanyaannya adalah:
Apakah darah itu akan mengering sia-sia di aspal Senayan, ataukah menjadi tinta merah yang menuliskan babak baru sejarah bangsa?

Negara kini berada di persimpangan. Jalan arogan akan semakin menjauhkan penguasa dari rakyat. Jalan rendah hati, sebaliknya, akan merangkul rakyat kembali.

Sejarah universal mengajarkan bahwa bangsa hanya tegak jika keadilan menjadi nafasnya.

Jika negara gagal melindungi rakyatnya, maka rakyat akan menciptakan hukumnya sendiri. Dan saat itu terjadi, negara bukan lagi rumah, melainkan penjara.

Ajula adalah alarm. Alarm nurani, alarm sejarah, alarm kemanusiaan. Bahwa tanpa keadilan, bangsa ini hanya menunda kehancuran.

Analisis Krisis tentang Penyebab Ajula:

*Kebijakan elitis yang tidak peka.

*Pola aparat yang represif.

*Krisis ekonomi yang menekan rakyat kecil.

*Korupsi sistemik tanpa penindakan tegas.

Analitis Kritis tentang Ciri-ciri Ajula’:

*Turunnya kepercayaan publik.

*Aksi massa destruktif.

*Menguatnya hukum jalanan.

Dampak:

^Negara menghadapi delegitimasi politik.

*Rakyat merasa tercerabut dari negaranya sendiri.

*Potensi disintegrasi sosial semakin nyata.

Jalan Keluar sebagai Rekomendasi Solutif

  1. DPR RI harus segera membatalkan kenaikan tunjangan perumahan, sebagai simbol keberpihakan pada rakyat.
  2. Kapolri wajib bertanggung jawab, secara moral maupun politik. Bila perlu, mundur adalah bentuk penghormatan kepada rakyat.
  3. Pemerintah Pusat dan Daerah harus mengevaluasi kebijakan yang memberatkan rakyat, memperkuat program kesejahteraan nyata, bukan seremonial.
  4. Presiden dan lembaga negara tidak boleh hanya menyampaikan belasungkawa. Mereka harus bertindak dengan memberi kompensasi, menghukum pelanggar, melakukan reformasi nyata.
  5. Polri harus mengubah pendekatan. Dari represif ke persuasif, dari arogansi ke humanisasi.
  6. Pemerintah harus menghukum koruptor secara adil, bahkan merampas aset untuk kebutuhan mendesak rakyat.
  7. Masyarakat perlu menumbuhkan kembali nasionalisme dan kenegarawanan, agar protes menjadi energi koreksi, bukan sekadar amarah yang melahirkan anarki.

Peristiwa Jumat Kelabu ( Ajula) Bukan Tragedi Insidental, Melainkan Refleksi untuk Pembenahan

Agustus yang mestinya menjadi bulan kemerdekaan telah tercoreng oleh luka dan darah rakyat.

Peristiwa Jumat Kelabu bukan sekadar tragedi insidental, melainkan cermin retaknya keadilan dan renggangnya hubungan negara dengan rakyatnya.

Kemarahan yang meledak adalah suara nurani kolektif bangsa, sebuah peringatan keras bahwa tanpa keberpihakan nyata kepada rakyat, negara hanya akan kehilangan legitimasi.

“Ajula” mengingatkan kita bahwa sikap tergesa-gesa, baik oleh pemerintah, aparat, maupun rakyat, hanya akan melahirkan luka baru. Yang dibutuhkan bangsa ini bukan arogansi, melainkan kesabaran, kebijaksanaan, dan keberanian menegakkan keadilan.

Jika keadilan ditegakkan, maka negara kembali menjadi rumah. Jika tidak, maka sejarah akan mencatat, bangsa ini runtuh oleh ulahnya sendiri.

Karenanya insiden ‘Ajula , hatus menjadi introspeksi dan evaluasi kolektif bangsa ini , sebagai bentuk refleksi kesadaran untuk melakukan pembenahan dari waktu ke waktu setiap saat.

Doa Memohon Perlindungan dan Inayah Kepada Sang Khaliq

اللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلَدَنَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، مَحْفُوظًا بِالْعَدْلِ وَالرَّحْمَةِ، وَأَلْهِمْ وُلَاةَ أُمُورِنَا الْحِلْمَ وَالْحِكْمَةَ، وَابْعِدْ عَنَّا الْعَجَلَةَ الَّتِي تَجْلِبُ الْفِتَنَ وَالْفَسَادَ.
اللَّهُمَّ ارْحَمْ شُهَدَاءَنَا، وَاجْبُرْ قُلُوبَ أَهْلِهِمْ، وَاجْمَعْ كَلِمَةَ شَعْبِنَا عَلَى الْحَقِّ وَالْعَدْلِ وَالسَّلَامِ.

“Ya Allah, jadikanlah negeri kami negeri yang aman dan tenteram, terjaga dengan keadilan dan kasih sayang. Ilhamkan kepada para pemimpin kami sikap sabar dan bijaksana, serta jauhkan kami dari sikap tergesa-gesa yang hanya menimbulkan fitnah dan kerusakan.

Ya Allah, rahmatilah para syuhada kami, kuatkan hati keluarga mereka, dan satukanlah rakyat kami dalam kebenaran, keadilan, dan perdamai

#Penulis adalah Guru Besar UIN Alauddin Makassar

Peringati HUT RI ke-80, Masjid Al-Markaz Sajikan Nasi Liwet Sepanjang 80 Meter

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR –Suasana Ahad pagi, 17 Agustus 2025 di Masjid Al-Markaz Al-Islami Jenderal M. Jusuf Makassar terasa berbeda. Kemeriahan dan penuh kehangatan ditunjukkan ratusan peserta upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia yang berlangsung di halaman masjid.

Pelaksanaan upacara bendera yang dihadiri para pengurus teras YIC Al-Markaz Al-Islami berlangsung khidmat. Usai upacara, keceriaan segera mewarnai halaman masjid begitu aneka lomba tradisional dimulai. Ada tarik tambang yang menguji kekuatan, balap karung yang penuh tawa, estafet tepung yang membuat wajah-wajah peserta berubah putih, hingga lomba masak yang mempertemukan kreativitas para ibu. Semua larut dalam semangat kemerdekaan yang sederhana, namun begitu membahagiakan.

Jelang siang, kejutan datang dari sisi selatan teras masjid. Tampak terbentang hidangan nasi liwet sepanjang 80 meter, yang turut melambangkan usia kemerdekaan bangsa. Sajian istimewa ini dipersembahkan oleh para guru TK Islam Al-Markaz bersama orang tua murid, sebagai wujud cinta dan kebersamaan.

Usai lomba, para pengurus, peserta dan jamaah duduk berjejer, menyantap nasi liwet dalam satu barisan panjang. Tidak ada yang tersisa, kecuali senyum, canda, dan rasa syukur. Tawa anak-anak, obrolan hangat orang tua, dan sapaan ramah antarwarga menjadikan perayaan HUT RI kali ini lebih dari sekadar seremoni—ia menjelma menjadi perayaan persaudaraan.

Di tengah kebersahajaan itu, terasa jelas pesan kemerdekaan. Merdeka bukan hanya soal mengibarkan bendera, tetapi juga tentang merawat persatuan dan kebersamaan, dari masjid hingga ke sajian makan panjang yang penuh tawa. (*)

Follow us

0FansSuka
3,910PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest news