MASJIDALAMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR – PAGI itu, suasana di pemakaman umum Panaikang, Makassar, Selasa, 8 September 2026, terasa lebih khidmat dari biasanya.
Sejumlah pengurus dan keluarga besar Yayasan Islamic Center (YIC) Al-Markaz Al-Islami datang untuk berziarah ke makam Jenderal M. Jusuf, pendiri Masjid Al-Markaz Al-Islami.
Ziarah tersebut menjadi bagian dari rangkaian Haul ke-22 Jenderal M. Jusuf, sekaligus momentum untuk mengenang sosok yang gagasan dan jejak pengabdiannya masih terasa hingga hari ini. Di tempat itu, doa dipanjatkan. Kenangan kembali dihidupkan. Dan sebuah warisan pengabdian kembali diingat oleh mereka yang kini melanjutkan amanahnya. Doa dipimpin KH Masykur Yusuf, Pimpinan Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Markaz.

Ziarah tersebut diikuti Ketua Harian YIC Al-Markaz Al-Islami, Prof Dr Mustari Mustafa, Sekretaris Umum Yayasan Arman Arfah, Wakil Sekretaris Umum Satrya Madjid, Pimpinan Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Markaz KH Masykur Yusuf, Pimpinan Taman Pendidikan Qur’an Al-Markaz KH Mursidin Hamid, Kepala TK Islam Al-Markaz Multazam, serta sejumlah karyawan Al-Markaz.
Sekretaris YIC Al-Markaz Al-Islami, Arman Arfah, menyebut ziarah tersebut merupakan bagian dari penghormatan kepada sosok yang menjadi pendiri dan perintis Masjid Al-Markaz Al-Islami. “Bukan hanya sebuah bangunan masjid yang diwariskan. Ada gagasan, kepedulian, dan semangat membangun kehidupan keagamaan yang terus dilanjutkan hingga hari ini,” ujarnya.
Ziarah ke makam Jenderal M. Jusuf merupakan seremoni awal rangkaian Haul ke-22. Selepas Magrib, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan zikir dan doa di Masjid Al-Markaz Al-Islami.

Jenderal M. Jusuf dikenal sebagai tokoh militer dan birokrat nasional. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan sekaligus Panglima ABRI, serta Ketua Badan Pemeriksa Keuangan. Namun, di Makassar, namanya juga melekat kuat dengan Masjid Al-Markaz Al-Islami.
Pada 1994, setahun setelah menyelesaikan pengabdiannya sebagai Ketua BPK periode 1983–1993, Jenderal M. Jusuf menggagas pembangunan masjid tersebut. Dalam proses pembangunannya, ia menunjuk M. Jusuf Kalla sebagai ketua pembangunan masjid. Masjid yang kemudian menjadi salah satu ikon keislaman di Makassar itu rampung pada 1996.
Jenderal M. Jusuf wafat pada usia 76 tahun pada 8 September 2004. Kini, 22 tahun kemudian, tempat yang sama kembali menjadi ruang untuk mengenang. Bukan sekadar mengenang seorang jenderal. Tetapi mengenang seorang tokoh yang pernah menanam sebuah gagasan—dan melihat gagasan itu terus tumbuh, digunakan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (*)




