Senin, Oktober 12, 2026
Google search engine
BerandaKhutbahKapolda, Pisang Goreng, dan Kopi Susu Keakraban

Kapolda, Pisang Goreng, dan Kopi Susu Keakraban

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR — Pagi di D’Markaz Cafe, Sabtu, 10 Oktober 2026, tak menyisakan banyak kursi kosong. Pengunjung memenuhi area kafe, sebagian bahkan meluber hingga ke halaman. Di antara meja-meja yang ramai itu, sebuah meja panjang menjadi tempat Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Pol. M. Awal Chairuddin duduk bersama pengurus Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar.

Di atas meja panjang itu tersaji beragam penganan tradisional. Ada buroncong, cucur, roti, hingga ubi jalar dan jagung kukus. Di sela-sela obrolan santai bersama pengurus masjid, Awal tampak menikmati pisang goreng khas D’Markaz Cafe.

Sementara itu, kopi hitam, kopi susu, dan teh tersaji menemani percakapan di meja-meja lainnya. Ada pula sarabba, minuman hangat khas Sulawesi Selatan dengan jahe sebagai bahan utamanya.

Obrolan Kapolda bersama pengurus masjid tampak cair tanpa aturan kaku protokoler. Ada yang mengabadikan momen dengan pose kedua tangan saling menggenggam, sebagai simbol ‘salam  polisi bersama masyarakat’. Pertemuan pagi itu berlangsung lebih menyerupai perjumpaan warga yang saling menyapa, berbincang, dan berbagi keakraban.

Beberapa jam sebelumnya, Awal mengikuti salat Subuh berjamaah di Masjid Al-Markaz Al-Islami. Seusai ibadah, sejumlah jamaah menghampirinya untuk bersalaman dan berfoto.

Bagi Sekretaris Jenderal Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar, Arman Arfah, kehadiran Awal memiliki arti tersendiri. “Kehadiran beliau di tempat ini bukan sekadar kunjungan biasa, tetapi merupakan bentuk kembalinya seorang putra daerah ke rumah spiritualnya sendiri,” kata Arman dalam sambutannya.

Arman menyebut Awal turut memberikan pemikiran dan dukungan bagi keberlangsungan kegiatan Masjid Al-Markaz. Ia juga mengatakan Kapolda menjadi donatur tetap yang memberikan bantuan setiap Ramadan untuk mendukung pelaksanaan ibadah di Al-Markaz.

Menurut Arman, kedekatan aparat dengan masyarakat tidak harus dibangun ketika persoalan keamanan muncul. Kegiatan keagamaan, kata dia, dapat menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan keduanya dalam suasana lebih akrab.

Dalam arahannya seusai salat Subuh, Awal mengajak masyarakat ikut menjaga keamanan lingkungan. Ia menyoroti gangguan ketertiban yang dapat memicu perselisihan, keterlibatan remaja dalam tindakan yang meresahkan, serta pentingnya peran keluarga dan masyarakat dalam membimbing generasi muda.

Ia juga mengingatkan warga agar tidak mudah terjebak dalam saling curiga antarwilayah. Menurutnya, kepolisian membutuhkan dukungan keluarga, tokoh agama, pemerintah setempat, dan masyarakat untuk menjaga ketertiban bersama.

Namun, pagi di Al-Markaz tidak hanya diisi pesan tentang keamanan. Ada pula salam, obrolan, foto bersama, dan hidangan yang dinikmati di tengah kesibukan kafe. Kopi dan sarabba menemani percakapan, sementara pisang goreng menjadi bagian dari suasana santai itu.

Di sebuah meja panjang, hubungan yang biasanya terlihat dalam ruang formal hadir dalam bentuk yang lebih sederhana: duduk bersama, berbincang, dan menikmati hidangan. Pagi itu, silaturahmi di Al-Markaz bergerak dari ruang ibadah ke ruang keseharian—dari saf salat menuju meja kopi.(*)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments