Shalawat Badar mengiringi Duta Besar Australia melewati barisan murid TK yang mengibarkan Merah Putih dan bendera Australia. Di ujung langkahnya, sebuah ruang baca menjadi penanda bahwa persahabatan dua negara tidak hanya dibangun di meja diplomasi, tetapi juga di antara rak-rak buku.

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, Makassar — Pintu kendaraan berwarna hitam itu perlahan terbuka di halaman Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar, Jumat, 24 Juli 2026. Dari dalamnya turun seorang pria berperawakan tinggi mengenakan batik bernuansa lembut. Ia adalah Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier. Kali ini, yang menunggunya bukan sekadar barisan pejabat dan seremoni formal.
Di sepanjang jalur yang dilaluinya, murid-murid TK Islam Al-Markaz telah berdiri rapi di sisi kiri dan kanan. Tangan-tangan mungil mereka menggenggam dua jenis bendera mini, Merah Putih dan bendera Australia. Sebelum melangkah masuk, sepasang murid TK Al-Markaz mengalungkan kain sutera kehormatan bernuansa hijau keemasan, masing-masing ke Rod Brazier dan Konsul Jenderal Australia di Makassar, Todd Dias.

Begitu Rod Brazier melangkah, puluhan bendera kecil itu bergerak melambai. Murid-murid TK itu dengan penuh semangat melontarkan ucapan, “Selamat Datang, Welcome Bapak Dubes”. Wajah-wajah polos menyambutnya dengan penuh antusias. Rod menoleh ke kiri dan kanan. Senyum mengembang di wajahnya. Ia tampak memperlambat langkah, membalas sapaan anak-anak yang mungkin belum sepenuhnya memahami makna hubungan bilateral, tetapi Jumat pagi itu telah menjadi bagian dari sebuah peristiwa diplomasi yang hangat dan membumi.
Beriringan dengan kibaran dua bendera menyambut kedatangannya, suara Shalawat Badar terdengar. Lantunannya dibawakan para santri Pondok Tahfidz Al-Markaz Al-Islami. Syair penghormatan kepada Rasulullah itu mengalun di antara tiang-tiang dan lorong masjid, mengiringi langkah Dubes Australia bersama rombongan. Beberapa orang mengangkat telepon genggam untuk merekam momen itu.

Suasananya terasa berbeda dari penyambutan diplomatik yang biasanya kaku. Tidak ada jarak yang dingin antara tamu negara dan warga yang menyambutnya. Yang terdengar justru shalawat, yang terlihat adalah anak-anak dengan bendera di tangan, dan yang terasa adalah keramahan sebuah masjid besar yang membuka pintunya bagi persahabatan antarbangsa.
Di pintu masuk, Ketua Umum YIC Al-Markaz Al-Islami Makassar, Prof. Hamid Awaluddin, didampingi pengurus teras lainnya telah menunggu. Rod Brazier disambut dengan jabat tangan dan senyum hangat. Dalam sekejap, sosok diplomat Australia tersebut tidak lagi terlihat seperti tamu yang baru datang. Ia tampak menjadi bagian dari keluarga besar yang tengah menyambutnya.

Melangkah masuk ke Perpustakaan Al-Markaz, terpampang tulisan besar “Australian Reading Corner” di sudut selatan ruangan. Sudut baca itu tampil cerah dan ramah. Rak-rak berwarna hijau ditingkahi buku. Ilustrasi kanguru, koala, awan, pepohonan, dan berbagai ikon Australia menghiasi dindingnya. Ruang tersebut tidak dibangun sebagai tempat yang terasa asing, melainkan seperti sudut kecil yang mengundang anak-anak untuk duduk, membuka buku, lalu mengenal dunia yang lebih luas.
Hari itu, Australian Reading Corner resmi hadir di Perpustakaan Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar. Fasilitas tersebut menjadi pojok baca Australia kedua yang ditempatkan di lingkungan masjid di Indonesia. Sebelumnya, fasilitas serupa telah dibuka di Masjid Istiqlal, Jakarta. Pemilihan Al-Markaz juga didasarkan pada kedudukannya sebagai salah satu pusat kegiatan masyarakat di Indonesia Timur.

Bagi Rod Brazier, Makassar bukan sekadar satu titik dalam agenda kunjungan kerjanya. Kota ini menyimpan kenangan personal. Pada 1990, ketika masih muda, ia pernah tinggal bersama keluarga angkat di kawasan yang tidak jauh dari Masjid Al-Markaz. Lebih dari tiga dasawarsa kemudian, ia kembali ke lingkungan yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya—kali ini sebagai Duta Besar Australia untuk Indonesia. Ada jarak waktu yang panjang di antara dua kedatangannya. Akan tetapi, Makassar seperti sedang menyambung kembali sebuah cerita yang pernah dimulai.
Rod juga memandang Makassar sebagai kota penting dalam hubungan Indonesia–Australia. Pada 2022, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengunjungi kota ini sebagai bagian dari lawatan bilateral pertamanya ke Indonesia setelah menjabat. Namun, jejak hubungan itu sesungguhnya jauh lebih tua daripada kunjungan para pemimpin modern.
Persahabatan yang Lebih Tua dari Negara
Berabad-abad sebelum istilah diplomasi bilateral dikenal, para pelaut Bugis-Makassar telah mengarungi lautan menuju Australia bagian utara. Mereka datang untuk mencari teripang, berdagang, dan berinteraksi dengan masyarakat setempat. Laut tidak memisahkan kedua wilayah. Laut justru menjadi jalan yang mempertemukan mereka.

Ketua Yayasan Islamic Center Al-Markaz Al-Islami, Hamid Awaluddin, mengingatkan kembali hubungan historis tersebut. Interaksi masyarakat Bugis-Makassar dengan Australia telah berlangsung setidaknya sejak abad ke-17. Jejaknya tidak hanya hidup dalam catatan pelayaran, tetapi juga dalam ingatan budaya kedua bangsa.
Karena itu, Australian Reading Corner tidak berdiri di ruang yang hampa. Ia hadir di atas fondasi hubungan panjang yang telah dibangun oleh para pelaut, keluarga, pelajar, tokoh agama, dan masyarakat dari kedua negara. Jika dahulu hubungan itu terjalin melalui perahu layar yang menyeberangi lautan, hari ini ia dilanjutkan melalui buku-buku yang tersusun di dalam perpustakaan masjid.
Hamid menegaskan bahwa masjid tidak boleh dipahami semata-mata sebagai tempat melaksanakan ibadah ritual. Dalam sejarah Islam, masjid juga menjadi ruang pendidikan, pusat pengetahuan, tempat bermusyawarah, dan titik tumbuhnya peradaban. “Buku adalah jendela dunia. Tidak ada bangsa yang maju tanpa budaya membaca,” ujarnya.

Kalimat itu menemukan bentuk nyatanya di ruangan tersebut. Di belakang para tamu, rak-rak baru menunggu untuk dijelajahi. Buku-buku berbahasa Inggris dan berbagai referensi mengenai Australia kelak dapat dibaca oleh pelajar, mahasiswa, santri, jamaah, dan masyarakat umum yang datang ke Al-Markaz.
Ketika Shalawat dan Buku Menjadi Jembatan
Menjelang berakhirnya acara, Rod Brazier berdiri di tengah para santri dan pelajar. Mereka mengenakan seragam masing-masing—sebagian berkemeja motif abu-abu dan berpeci hitam, sebagian lainnya berjas almamater hijau. Tidak ada lagi jarak formal antara diplomat dan para pelajar. Rod berulang kali merangkul santri dan tetamu yang berfoto dengannya, tersenyum lebar. Pemandangan itu seperti merangkum keseluruhan acara.

Seorang duta besar datang membawa gagasan tentang literasi. Sebuah masjid menerimanya dengan shalawat dan keramahan. Anak-anak menyambut dengan dua bendera di tangan. Para santri berdiri di antara rak-rak buku yang akan menjadi pintu menuju pengetahuan baru.
Setiap buku yang kelak dibuka akan menghidupkan kembali cerita hari itu—tentang seorang diplomat yang kembali ke kota masa mudanya, tentang pelaut Bugis-Makassar yang sejak berabad-abad lalu menyeberangi laut menuju Australia, dan tentang sebuah masjid yang memilih buku sebagai salah satu jalan membangun peradaban. (*)




