Jumat, Oktober 23, 2026
Google search engine
Beranda blog

Masjid Al-Markaz Dorong Ekosistem Ekonomi Syariah Berbasis Masjid

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR โ€“ Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf Makassar mendorong pengembangan ekosistem ekonomi syariah berbasis masjid melalui pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), peningkatan literasi keuangan syariah, serta pemanfaatan dana sosial Islam untuk memperkuat ekonomi umat.

Untuk mendorong  gagasan tersebut, Program Diskusi Subuh Ngobras (Ngobrol Keumataan dan Kebangsaaan Al-Markaz), Ahad (11/10/2026) mengetengahkan tema โ€œDari Masjid untuk Ekonomi Umat: Membangun Ekosistem Ekonomi Syariahโ€ yang digelar di Masjid Al-Markaz Al-Islami,

Diskusi menghadirkan tiga narasumber, yakni R. Dwi Tjahja Kusuma W., Asisten Direktur Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. Andi Nur Bau Massepe dari Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Sulawesi Selatan dan praktisi Ekonomi Syariah Dr. Hendriansyah.

Dalam pemaparannya, Hendriansyah menjelaskan bahwa pengembangan ekosistem ekonomi syariah bertumpu pada tiga sektor yang saling berkaitan, yakni sektor riil, sektor keuangan, dan keuangan sosial Islam. Ketiganya perlu berjalan beriringan agar kegiatan ekonomi tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat.

Menurutnya, masjid memiliki potensi untuk menghubungkan ketiga sektor tersebut. Selain menjadi pusat ibadah, masjid dapat mengambil peran dalam edukasi ekonomi, pemberdayaan pelaku usaha, serta pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf.

Salah satu peluang yang dibahas ialah pengembangan wakaf produktif. Melalui pengelolaan yang profesional, aset wakaf berpotensi dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan usaha dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat, termasuk pelaku UMKM.

Sementara itu, Andi Nur Bau Massepe memaparkan bahwa penguatan ekonomi syariah tidak dapat dipisahkan dari pengembangan industri halal, jasa keuangan syariah, keuangan sosial Islam, dan gaya hidup halal.

Ia menyoroti pentingnya sertifikasi halal bagi pelaku UMKM. Selain memberikan kepastian kepada konsumen, sertifikasi halal dapat meningkatkan kepercayaan terhadap produk sekaligus membuka peluang bagi pelaku usaha untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Pengembangan industri halal, menurut pemaparannya, perlu diikuti peningkatan pemahaman masyarakat mengenai prinsip-prinsip ekonomi syariah agar penerapannya tidak terbatas pada sektor keuangan, tetapi juga menjadi bagian dari kegiatan usaha sehari-hari.

Dari sisi keuangan, R. Dwi Tjahja Kusuma W. menekankan pentingnya literasi ekonomi dan keuangan syariah. Pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan syariah dinilai menjadi salah satu faktor pendukung pengembangan ekosistem ekonomi syariah.

Ia juga menguraikan potensi industri halal Indonesia, mulai dari makanan dan minuman, fesyen muslim, kosmetik dan farmasi, hingga pariwisata ramah muslim. Potensi tersebut membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk lembaga keuangan, pemerintah, dan pelaku usaha.

Melalui forum Ngobras, Masjid Al-Markaz Al-Islami membuka ruang pembahasan mengenai peluang menjadikan masjid sebagai salah satu pusat penguatan ekonomi umat. Keberadaan pelaku UMKM di lingkungan masjid menjadi potensi yang dapat dikembangkan melalui pendampingan usaha, edukasi keuangan syariah, dan peningkatan akses terhadap sertifikasi halal.

Diskusi ini sekaligus memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara pengelola masjid, lembaga pemerintah, lembaga keuangan, dan masyarakat untuk membangun ekosistem ekonomi syariah yang tidak hanya berkembang di tingkat kelembagaan, tetapi juga memberi manfaat bagi kehidupan ekonomi umat. (*)

Dari Masjid Al-Markaz, Kapolda Sulsel Perkuat Kedekatan dengan Masyarakat

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR โ€” Masjid tidak hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga ruang untuk mempererat silaturahmi dan membangun kepedulian sosial. Semangat tersebut tercermin dalam kegiatan salat Subuh berjamaah bersama Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Pol. M. Awal Chairuddin di Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar, Sabtu (10/10/2026).

Sekretaris Jenderal Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar, Arman Arfah, menyambut kehadiran Kapolda Sulsel bersama jajaran kepolisian sebagai momentum memperkuat hubungan antara aparat keamanan dan masyarakat melalui kegiatan keagamaan.

Arman mengatakan, kehadiran Awal Chairuddin memiliki makna tersendiri bagi keluarga besar Masjid Al-Markaz Al-Islami. Menurutnya, Kapolda memiliki kedekatan dengan masjid tersebut dan telah memberikan kontribusi bagi keberlangsungan kegiatan keagamaan.

โ€œKehadiran beliau di tempat ini bukan sekadar kunjungan biasa, tetapi merupakan bentuk kembalinya seorang putra daerah ke rumah spiritualnya sendiri,โ€ ujar Arman dalam sambutannya.

Ia menjelaskan, Awal Chairuddin selama ini memberikan kontribusi berupa pemikiran dan dukungan untuk menjaga keamanan serta mendukung kegiatan Masjid Al-Markaz Al-Islami.

Bagi Arman, kehadiran aparat keamanan di tengah masyarakat melalui kegiatan ibadah menjadi salah satu cara membangun kedekatan yang lebih erat. Hubungan tersebut diharapkan tidak hanya terjalin ketika terjadi persoalan keamanan, tetapi juga tumbuh melalui kebersamaan dalam kehidupan sosial dan keagamaan.

โ€œKehadiran aparat keamanan bukan hanya untuk berada di tengah-tengah masyarakat ketika terjadi permasalahan, tetapi juga untuk mengajak masyarakat bersama-sama bersujud dan beribadah di rumah Allah,โ€ katanya.

Menguatkan Kepedulian terhadap Keamanan Lingkungan

Dalam kesempatan tersebut, Kapolda Sulsel Irjen Pol. M. Awal Chairuddin menyampaikan arahan mengenai situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di Sulawesi Selatan, khususnya di Kota Makassar.

Awal mengajak masyarakat memperkuat kepedulian terhadap lingkungan, membangun komunikasi, serta mencegah persoalan sosial berkembang menjadi konflik antarwarga.

Ia menyoroti sejumlah persoalan, mulai dari perilaku yang mengganggu ketertiban, keterlibatan remaja dalam tindakan yang meresahkan, penyalahgunaan narkoba, hingga pelanggaran lalu lintas. Ia juga mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan.

Menurut Kapolda, menjaga keamanan tidak dapat hanya dibebankan kepada kepolisian. Diperlukan kerja sama antara aparat keamanan, pemerintah, tokoh agama, keluarga, dan masyarakat. Ia mendorong warga untuk saling mengingatkan serta menyampaikan informasi kepada pihak berwenang apabila menemukan aktivitas yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban.

Pesan tersebut sejalan dengan pentingnya membangun kepedulian sosial melalui lingkungan keagamaan. Masjid dapat menjadi ruang pertemuan yang mempertemukan berbagai unsur masyarakat dalam semangat kebersamaan, saling menghormati, dan menjaga keharmonisan.(*)

Kapolda, Pisang Goreng, dan Kopi Susu Keakraban

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR โ€” Pagi di Dโ€™Markaz Cafe, Sabtu, 10 Oktober 2026, tak menyisakan banyak kursi kosong. Pengunjung memenuhi area kafe, sebagian bahkan meluber hingga ke halaman. Di antara meja-meja yang ramai itu, sebuah meja panjang menjadi tempat Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Pol. M. Awal Chairuddin duduk bersama pengurus Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar.

Di atas meja panjang itu tersaji beragam penganan tradisional. Ada buroncong, cucur, roti, hingga ubi jalar dan jagung kukus. Di sela-sela obrolan santai bersama pengurus masjid, Awal tampak menikmati pisang goreng khas Dโ€™Markaz Cafe.

Sementara itu, kopi hitam, kopi susu, dan teh tersaji menemani percakapan di meja-meja lainnya. Ada pula sarabba, minuman hangat khas Sulawesi Selatan dengan jahe sebagai bahan utamanya.

Obrolan Kapolda bersama pengurus masjid tampak cair tanpa aturan kaku protokoler. Ada yang mengabadikan momen dengan pose kedua tangan saling menggenggam, sebagai simbol โ€˜salam  polisi bersama masyarakatโ€™. Pertemuan pagi itu berlangsung lebih menyerupai perjumpaan warga yang saling menyapa, berbincang, dan berbagi keakraban.

Beberapa jam sebelumnya, Awal mengikuti salat Subuh berjamaah di Masjid Al-Markaz Al-Islami. Seusai ibadah, sejumlah jamaah menghampirinya untuk bersalaman dan berfoto.

Bagi Sekretaris Jenderal Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar, Arman Arfah, kehadiran Awal memiliki arti tersendiri. โ€œKehadiran beliau di tempat ini bukan sekadar kunjungan biasa, tetapi merupakan bentuk kembalinya seorang putra daerah ke rumah spiritualnya sendiri,โ€ kata Arman dalam sambutannya.

Arman menyebut Awal turut memberikan pemikiran dan dukungan bagi keberlangsungan kegiatan Masjid Al-Markaz. Ia juga mengatakan Kapolda menjadi donatur tetap yang memberikan bantuan setiap Ramadan untuk mendukung pelaksanaan ibadah di Al-Markaz.

Menurut Arman, kedekatan aparat dengan masyarakat tidak harus dibangun ketika persoalan keamanan muncul. Kegiatan keagamaan, kata dia, dapat menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan keduanya dalam suasana lebih akrab.

Dalam arahannya seusai salat Subuh, Awal mengajak masyarakat ikut menjaga keamanan lingkungan. Ia menyoroti gangguan ketertiban yang dapat memicu perselisihan, keterlibatan remaja dalam tindakan yang meresahkan, serta pentingnya peran keluarga dan masyarakat dalam membimbing generasi muda.

Ia juga mengingatkan warga agar tidak mudah terjebak dalam saling curiga antarwilayah. Menurutnya, kepolisian membutuhkan dukungan keluarga, tokoh agama, pemerintah setempat, dan masyarakat untuk menjaga ketertiban bersama.

Namun, pagi di Al-Markaz tidak hanya diisi pesan tentang keamanan. Ada pula salam, obrolan, foto bersama, dan hidangan yang dinikmati di tengah kesibukan kafe. Kopi dan sarabba menemani percakapan, sementara pisang goreng menjadi bagian dari suasana santai itu.

Di sebuah meja panjang, hubungan yang biasanya terlihat dalam ruang formal hadir dalam bentuk yang lebih sederhana: duduk bersama, berbincang, dan menikmati hidangan. Pagi itu, silaturahmi di Al-Markaz bergerak dari ruang ibadah ke ruang keseharianโ€”dari saf salat menuju meja kopi.(*)

Haul ke-22: Mengenang Keteladanan Jenderal M. Jusuf dari Makam Panaikang

0

MASJIDALAMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR – PAGI itu, suasana di pemakaman umum Panaikang, Makassar, Selasa, 8 September 2026, terasa lebih khidmat dari biasanya.

Sejumlah pengurus dan keluarga besar Yayasan Islamic Center (YIC) Al-Markaz Al-Islami datang untuk berziarah ke makam Jenderal M. Jusuf, pendiri Masjid Al-Markaz Al-Islami.

Ziarah tersebut menjadi bagian dari rangkaian Haul ke-22 Jenderal M. Jusuf, sekaligus momentum untuk mengenang sosok yang gagasan dan jejak pengabdiannya masih terasa hingga hari ini. Di tempat itu, doa dipanjatkan. Kenangan kembali dihidupkan. Dan sebuah warisan pengabdian kembali diingat oleh mereka yang kini melanjutkan amanahnya. Doa dipimpin KH Masykur Yusuf, Pimpinan Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Markaz.

Para pengurus YIC Al-Markaz Al-Islami memanjatkan doa saat melakukan ziarah ke Makam Jend. M. Jusuf di Pemakaman Umum Panaikang Makassar, Selasa (8/9/2026)

Ziarah tersebut diikuti Ketua Harian YIC  Al-Markaz Al-Islami, Prof Dr Mustari Mustafa, Sekretaris Umum Yayasan Arman Arfah, Wakil Sekretaris Umum Satrya Madjid, Pimpinan Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Markaz KH Masykur Yusuf, Pimpinan Taman Pendidikan Qur’an Al-Markaz KH Mursidin Hamid, Kepala TK Islam Al-Markaz Multazam, serta sejumlah karyawan Al-Markaz.

Sekretaris YIC Al-Markaz Al-Islami, Arman Arfah, menyebut ziarah tersebut merupakan bagian dari penghormatan kepada sosok yang menjadi pendiri dan perintis Masjid Al-Markaz Al-Islami. โ€œBukan hanya sebuah bangunan masjid yang diwariskan. Ada gagasan, kepedulian, dan semangat membangun kehidupan keagamaan yang terus dilanjutkan hingga hari ini,โ€ ujarnya.

Ziarah ke makam Jenderal M. Jusuf merupakan seremoni awal rangkaian Haul ke-22. Selepas Magrib, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan zikir dan doa di Masjid Al-Markaz Al-Islami.

Para pengurus YIC Al-Markaz Al-Islami tabur bunga saat melakukan ziarah ke Makam Jend. M. Jusuf di Pemakaman Umum Panaikang Makassar, Selasa (8/9/2026)

Jenderal M. Jusuf dikenal sebagai tokoh militer dan birokrat nasional. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan sekaligus Panglima ABRI, serta Ketua Badan Pemeriksa Keuangan. Namun, di Makassar, namanya juga melekat kuat dengan Masjid Al-Markaz Al-Islami.

Pada 1994, setahun setelah menyelesaikan pengabdiannya sebagai Ketua BPK periode 1983โ€“1993, Jenderal M. Jusuf menggagas pembangunan masjid tersebut. Dalam proses pembangunannya, ia menunjuk M. Jusuf Kalla sebagai ketua pembangunan masjid. Masjid yang kemudian menjadi salah satu ikon keislaman di Makassar itu rampung pada 1996.

Jenderal M. Jusuf wafat pada usia 76 tahun pada 8 September 2004. Kini, 22 tahun kemudian, tempat yang sama kembali menjadi ruang untuk mengenang. Bukan sekadar mengenang seorang jenderal. Tetapi mengenang seorang tokoh yang pernah menanam sebuah gagasanโ€”dan melihat gagasan itu terus tumbuh, digunakan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (*)

Masjid Al-Markaz Makassar Inisiasi Shalat Istisqa, Ikhtiar Bersama Menjemput Hujan

0

MASJIDALAMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR – SABTU pagi, 5 September 2026, halaman Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar mendadak dipenuhi jamaah. Mereka datang dengan satu harapan yang sama, memohon kepada Allah SWT agar hujan segera turun dan menjadi berkah.

Di tengah kemarau panjang yang membuat ketersediaan air semakin terbatas, pengurus Masjid Al-Markaz Al-Islami menginisiasi pelaksanaan Shalat Istisqa sebagai ikhtiar spiritual bersama untuk memohon turunnya hujan.

Ajakan tersebut kemudian disambut pemerintah dan masyarakat. Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin bersama jajaran pemerintah, tokoh agama, serta masyarakat hadir dan melaksanakan Shalat Istisqa di halaman masjid.

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, memberi sambutan sebelum pelaksanaan Salat Istisqa di halaman Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar, Sabtu 5 September 2026

Bagi keluarga besar Al-Markaz, pelaksanaan Shalat Istisqa menjadi bagian dari peran masjid sebagai ruang ibadah sekaligus tempat masyarakat bersama-sama menghadapi persoalan yang mereka rasakan.

Bukan hanya dengan langkah-langkah penanganan secara lahiriah, tetapi juga dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui doa. Shalat Istisqa dipimpin KH Hasan Basri Ahmad, sementara Imam Besar Masjid Al-Markaz Al-Islami, Prof. Dr. KH. Muammar Bakry, bertindak sebagai khatib.

Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menyampaikan bahwa kehadiran pemerintah dan masyarakat di halaman Masjid Al-Markaz merupakan bentuk penghambaan sekaligus ikhtiar untuk memohon turunnya hujan.

“Ini adalah bentuk manifestasi penghambaan kita kepada Allah SWT. Kita hadir bersama-sama untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan,” ujar Munafri.

Suasana jamaah Salat Istisqa di halaman Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar, Sabtu 5 September 2026

Sejumlah pejabat dan tokoh turut hadir, di antaranya Ketua Tim Penggerak PKK Kota Makassar Melinda Aksa, Wakil Bupati Soppeng Selle KS Dalle, Kabintal Koddam XIV/Hasanuddin Kolonel Inf Nofid Arifin, serta para kepala lembaga dan instansi vertikal.

Pagi itu, ikhtiar tidak hanya dilakukan melalui kebijakan dan bantuan pemerintah. Di halaman Masjid Al-Markaz, masyarakat memilih menengadahkan tangan dan memohon bersama.

Sebab, bagi mereka, hujan bukan sekadar fenomena alam. Ia juga dipandang sebagai rahmat yang dinantikan setelah panjangnya musim kering. Prakiraan cuaca dapat memperkirakan kapan hujan akan turun. Namun manusia tetap memiliki ruang untuk berikhtiar dan berdoa.

“Ini prakiraan. Tapi semua ada yang mengatur,” kata Munafri.

Sebuah ikhtiar yang dimulai dari masjid, kemudian mempertemukan pemerintah dan masyarakat dalam satu permohonan, semoga langit kembali menurunkan hujan dan membawa rahmat bagi Makassar. (*)

Upacara HUT RI ke-81 di Al-Markaz Makassar, Peserta Kompak Pakai Sarung

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR โ€” Ada pemandangan unik dalam upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar, Senin (17/8/2026).

Para peserta upacara tampak kompak mengenakan sarung, kemeja putih, dan peci saat mengikuti upacara pengibaran Bendera Merah Putih di pelataran Masjid Al-Markaz Al-Islami.

Nuansa religius berpadu dengan semangat nasionalisme terlihat sepanjang pelaksanaan upacara. Para peserta mengikuti setiap rangkaian kegiatan dengan khidmat.

Upacara tersebut dipimpin oleh HM Room, selaku Ketua Dewan Pengawas Masjid Al-Markaz Al-Islami. Sejumlah tokoh Yayasan Islamic Center (YIC) Al-Markaz Al-Islami turut hadir, di antaranya Ketua Umum YIC Al-Markaz Al-Islami Prof Hamid Awaluddin, Sekretaris Jenderal Arman Arfah, Ketua Harian Prof Mustari Mustafa, serta sejumlah pengurus lainnya.

Yang juga menarik perhatian, tugas pengerek Bendera Merah Putih dalam upacara kali ini dipercayakan kepada santri Pondok Tahfidz Al-Markaz. Para santri menjalankan tugas tersebut dengan tertib dan penuh tanggung jawab di hadapan peserta upacara.

Upacara diawali dengan pengibaran Bendera Merah Putih, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, pembacaan teks Proklamasi, dan Pembukaan UUD 1945. Rangkaian upacara kemudian ditutup dengan pembacaan doa, serta lagu-lagu nasional. Setelah itu, peserta duduk dan berkumpul bersama di kawasan masjid, sembari menyantap hidangan yang disiapkan.

Upacara HUT Kemerdekaan RI di kawasan Masjid Al-Markaz Al-Islami merupakan kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap tahun. HM Room mengatakan, pelaksanaan upacara tersebut menjadi bagian dari cara pengurus dan jamaah Masjid Al-Markaz Al-Islami memperingati kemerdekaan sekaligus menghormati jasa para pahlawan.

“Kegiatan upacara ini dilakukan setiap tahun di area masjid sebagai bagian dari perayaan kemerdekaan kita,” ujar HM Room.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat sekitar dan para pengunjung masjid yang turut mengikuti upacara.

“Terima kasih kepada masyarakat sekitar Masjid Al-Markaz dan juga para pengunjung yang sedang berolahraga, yang mau sejenak menghentikan segala aktivitasnya untuk sama-sama menikmati hari kemerdekaan ini,” katanya.

Menurutnya, momentum kemerdekaan juga perlu dimaknai dengan menjaga lingkungan dan fasilitas masjid. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga keasrian kawasan Masjid Al-Markaz Al-Islami.

“Saya pikir Masjid Al-Markaz ini merupakan masjid terluas dan termegah di Kota Makassar. Maka saya mengajak kita semua untuk bersama-sama menjaga keasriannya,” pungkasnya.

Upacara dengan peserta yang mengenakan sarung dan peci tersebut menjadi salah satu potret unik peringatan kemerdekaan di Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar. Semangat kebangsaan dan suasana religius berpadu dalam satu perayaan kemerdekaan. (*)

Jaga Kesehatan Mental, Remaja Masjid Al-Markaz Gelar “Ngaji Psikologi Muda”

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR โ€“ Remaja Masjid Al-Markaz Al-Islami Jenderal M. Jusuf bekerja sama dengan Perpustakaan Al-Markaz Al-Islami Jenderal M. Jusuf kembali menghadirkan ruang belajar bagi generasi muda melalui kegiatan “Ngaji Psikologi Muda”. Kegiatan ini menghadirkan psikolog Nurfaidah Ardis, S.Psi., M.Psi., sebagai narasumber.

Bertempat di Perpustakaan Al-Markaz Al-Islami Jenderal M. Jusuf, kegiatan tersebut diikuti puluhan peserta yang berasal dari kalangan remaja masjid, mahasiswa, dan pemuda dari berbagai wilayah di Kota Makassar. Program ini bertujuan memperkuat pemahaman keislaman sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental di kalangan generasi muda.

Mengusung tema “Bukan Sekadar Circle: Memilih Lingkungan Sosial yang Menjaga Kesehatan Mental dan Iman”, diskusi mengangkat berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan anak muda. Materi yang disampaikan meliputi pengelolaan stres dan kecemasan, konsep self-healing dalam perspektif Al-Qur’an, hingga pentingnya membangun lingkungan pergaulan yang sehat, suportif, dan mendorong pertumbuhan spiritual.

Suasana diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Para peserta tidak hanya menyimak materi, tetapi juga aktif berbagi pengalaman serta mengajukan berbagai pertanyaan mengenai tantangan menjaga kesehatan mental di tengah dinamika kehidupan modern.

Ketua Remaja Masjid Al-Markaz Al-Islami Jenderal M. Jusuf, Farhan, mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menghadirkan dakwah yang dekat dengan realitas kehidupan generasi muda.

“Kami ingin anak muda tidak hanya kuat dalam ibadah, tetapi juga tangguh secara mental. Ngaji bukan sekadar mempelajari ilmu agama, tetapi juga menjadi ruang untuk memahami diri sendiri agar tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama,” ujarnya.

Sementara itu, pengelola Perpustakaan Al-Markaz Al-Islami Jenderal M. Jusuf menyampaikan apresiasinya atas penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai ruang literasi, dialog, dan pembinaan karakter bagi generasi muda.

Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab, berbagi pengalaman, serta doa bersama. Antusiasme peserta terlihat sepanjang acara, bahkan banyak yang berharap “Ngaji Psikologi Muda” dapat diselenggarakan secara rutin sebagai wadah belajar dan bertumbuh bersama.

Melalui program ini, Remaja Masjid Al-Markaz Al-Islami Jenderal M. Jusuf berharap dapat berkontribusi dalam melahirkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual, sehat secara psikologis, serta mampu menghadapi tantangan zaman dengan nilai-nilai Islam yang menyejukkan.(*)

Membaca Australia dari Jantung Masjid Al-Markaz Makassar

0

Shalawat Badar mengiringi Duta Besar Australia melewati barisan murid TK yang mengibarkan Merah Putih dan bendera Australia. Di ujung langkahnya, sebuah ruang baca menjadi penanda bahwa persahabatan dua negara tidak hanya dibangun di meja diplomasi, tetapi juga di antara rak-rak buku.

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, Makassar —  Pintu kendaraan berwarna hitam itu perlahan terbuka di halaman Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar, Jumat, 24 Juli 2026. Dari dalamnya turun seorang pria berperawakan tinggi mengenakan batik bernuansa lembut. Ia adalah Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier. Kali ini, yang menunggunya bukan sekadar barisan pejabat dan seremoni formal.

Di sepanjang jalur yang dilaluinya, murid-murid TK Islam Al-Markaz telah berdiri rapi di sisi kiri dan kanan. Tangan-tangan mungil mereka menggenggam dua jenis bendera mini, Merah Putih dan bendera Australia. Sebelum melangkah masuk, sepasang murid TK Al-Markaz mengalungkan kain sutera kehormatan bernuansa hijau keemasan, masing-masing ke Rod Brazier dan Konsul Jenderal Australia di Makassar, Todd Dias.

Begitu Rod Brazier melangkah, puluhan bendera kecil itu bergerak melambai. Murid-murid TK itu dengan penuh semangat melontarkan ucapan, โ€œSelamat Datang, Welcome Bapak Dubesโ€.  Wajah-wajah polos menyambutnya dengan penuh antusias. Rod menoleh ke kiri dan kanan. Senyum mengembang di wajahnya. Ia tampak memperlambat langkah, membalas sapaan anak-anak yang mungkin belum sepenuhnya memahami makna hubungan bilateral, tetapi Jumat pagi itu telah menjadi bagian dari sebuah peristiwa diplomasi yang hangat dan membumi.

Beriringan dengan kibaran dua bendera menyambut kedatangannya, suara Shalawat Badar terdengar. Lantunannya dibawakan para santri Pondok Tahfidz Al-Markaz Al-Islami. Syair penghormatan kepada Rasulullah itu mengalun di antara tiang-tiang dan lorong masjid, mengiringi langkah Dubes Australia bersama rombongan. Beberapa orang mengangkat telepon genggam untuk merekam momen itu.

Suasananya terasa berbeda dari penyambutan diplomatik yang biasanya kaku. Tidak ada jarak yang dingin antara tamu negara dan warga yang menyambutnya. Yang terdengar justru shalawat, yang terlihat adalah anak-anak dengan bendera di tangan, dan yang terasa adalah keramahan sebuah masjid besar yang membuka pintunya bagi persahabatan antarbangsa.

Di pintu masuk, Ketua Umum YIC Al-Markaz Al-Islami Makassar, Prof. Hamid Awaluddin, didampingi pengurus teras lainnya telah menunggu. Rod Brazier disambut dengan jabat tangan dan senyum hangat. Dalam sekejap, sosok diplomat Australia tersebut tidak lagi terlihat seperti tamu yang baru datang. Ia tampak menjadi bagian dari keluarga besar yang tengah menyambutnya.

Melangkah masuk ke Perpustakaan Al-Markaz, terpampang tulisan besar โ€œAustralian Reading Cornerโ€ di sudut selatan ruangan. Sudut baca itu tampil cerah dan ramah. Rak-rak berwarna hijau ditingkahi buku. Ilustrasi kanguru, koala, awan, pepohonan, dan berbagai ikon Australia menghiasi dindingnya. Ruang tersebut tidak dibangun sebagai tempat yang terasa asing, melainkan seperti sudut kecil yang mengundang anak-anak untuk duduk, membuka buku, lalu mengenal dunia yang lebih luas.

Hari itu, Australian Reading Corner resmi hadir di Perpustakaan Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar. Fasilitas tersebut menjadi pojok baca Australia kedua yang ditempatkan di lingkungan masjid di Indonesia. Sebelumnya, fasilitas serupa telah dibuka di Masjid Istiqlal, Jakarta. Pemilihan Al-Markaz juga didasarkan pada kedudukannya sebagai salah satu pusat kegiatan masyarakat di Indonesia Timur.

Bagi Rod Brazier, Makassar bukan sekadar satu titik dalam agenda kunjungan kerjanya. Kota ini menyimpan kenangan personal. Pada 1990, ketika masih muda, ia pernah tinggal bersama keluarga angkat di kawasan yang tidak jauh dari Masjid Al-Markaz. Lebih dari tiga dasawarsa kemudian, ia kembali ke lingkungan yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnyaโ€”kali ini sebagai Duta Besar Australia untuk Indonesia. Ada jarak waktu yang panjang di antara dua kedatangannya. Akan tetapi, Makassar seperti sedang menyambung kembali sebuah cerita yang pernah dimulai.

Rod juga memandang Makassar sebagai kota penting dalam hubungan Indonesiaโ€“Australia. Pada 2022, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengunjungi kota ini sebagai bagian dari lawatan bilateral pertamanya ke Indonesia setelah menjabat. Namun, jejak hubungan itu sesungguhnya jauh lebih tua daripada kunjungan para pemimpin modern.

Persahabatan yang Lebih Tua dari Negara

Berabad-abad sebelum istilah diplomasi bilateral dikenal, para pelaut Bugis-Makassar telah mengarungi lautan menuju Australia bagian utara. Mereka datang untuk mencari teripang, berdagang, dan berinteraksi dengan masyarakat setempat. Laut tidak memisahkan kedua wilayah. Laut justru menjadi jalan yang mempertemukan mereka.

Ketua Yayasan Islamic Center Al-Markaz Al-Islami, Hamid Awaluddin, mengingatkan kembali hubungan historis tersebut. Interaksi masyarakat Bugis-Makassar dengan Australia telah berlangsung setidaknya sejak abad ke-17. Jejaknya tidak hanya hidup dalam catatan pelayaran, tetapi juga dalam ingatan budaya kedua bangsa.

Karena itu, Australian Reading Corner tidak berdiri di ruang yang hampa. Ia hadir di atas fondasi hubungan panjang yang telah dibangun oleh para pelaut, keluarga, pelajar, tokoh agama, dan masyarakat dari kedua negara. Jika dahulu hubungan itu terjalin melalui perahu layar yang menyeberangi lautan, hari ini ia dilanjutkan melalui buku-buku yang tersusun di dalam perpustakaan masjid.

Hamid menegaskan bahwa masjid tidak boleh dipahami semata-mata sebagai tempat melaksanakan ibadah ritual. Dalam sejarah Islam, masjid juga menjadi ruang pendidikan, pusat pengetahuan, tempat bermusyawarah, dan titik tumbuhnya peradaban. โ€œBuku adalah jendela dunia. Tidak ada bangsa yang maju tanpa budaya membaca,โ€ ujarnya.

Kalimat itu menemukan bentuk nyatanya di ruangan tersebut. Di belakang para tamu, rak-rak baru menunggu untuk dijelajahi. Buku-buku berbahasa Inggris dan berbagai referensi mengenai Australia kelak dapat dibaca oleh pelajar, mahasiswa, santri, jamaah, dan masyarakat umum yang datang ke Al-Markaz.

Ketika Shalawat dan Buku Menjadi Jembatan

Menjelang berakhirnya acara, Rod Brazier berdiri di tengah para santri dan pelajar. Mereka mengenakan seragam masing-masingโ€”sebagian berkemeja motif abu-abu dan berpeci hitam, sebagian lainnya berjas almamater hijau. Tidak ada lagi jarak formal antara diplomat dan para pelajar. Rod berulang kali merangkul santri dan tetamu yang berfoto dengannya, tersenyum lebar. Pemandangan itu seperti merangkum keseluruhan acara.

Seorang duta besar datang membawa gagasan tentang literasi. Sebuah masjid menerimanya dengan shalawat dan keramahan. Anak-anak menyambut dengan dua bendera di tangan. Para santri berdiri di antara rak-rak buku yang akan menjadi pintu menuju pengetahuan baru.

Setiap buku yang kelak dibuka akan menghidupkan kembali cerita hari ituโ€”tentang seorang diplomat yang kembali ke kota masa mudanya, tentang pelaut Bugis-Makassar yang sejak berabad-abad lalu menyeberangi laut menuju Australia, dan tentang sebuah masjid yang memilih buku sebagai salah satu jalan membangun peradaban. (*)

Idul Fitri: Menguatkan Tekad Menjadi Manusia yang Lebih Baik

0

Oleh: Gurutta Dr. KH. Muhammad Agus, M.Th.I (Ketua STA DDI Mangkoso – Barru)

( KHUTBAH PERTAMA) ุงู„ุฎุทุจุฉ ุงู„ุฃูˆู„ู‰

ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡

ู„ู„ู‡ ุงูƒุจุฑ ุงู„ู„ู‡ ุงูƒุจุฑ ุงู„ู„ู‡ ุงูƒุจุฑ , ุงู„ู„ู‡ ุงูƒุจุฑ ุงู„ู„ู‡ ุงูƒุจุฑ ุงู„ู„ู‡ ุงูƒุจุฑ

ุงู„ู„ู‡ ุงูƒุจุฑ ุงู„ู„ู‡ ุงูƒุจุฑ ุงู„ู„ู‡ ุงูƒุจุฑ, ูˆุงู„ู„ู‡ ุงู„ุญู…ุฏ. 

ุงู„ู„ู‡ ุงูƒุจุฑ ู…ุง ุชุนุงู„ุช ุฃุตูˆุงุช ุงู„ู†ุงุณ ุจุงู„ุชูƒุจูŠุฑ 

ุงู„ู„ู‡ ุงูƒุจุฑ ู…ุง ุชูุชุญุช ุฃุจูˆุงุจ ุงู„ุณู…ุงุก ูู‰ ู‡ุฐุง ุงู„ุตุจุงุญ ุงู„ูƒุจูŠุฑ.

ุงู„ู„ู‡ ุงูƒุจุฑ ู…ุง ุชู†ุฒู„ุช ุนู„ูŠู†ุง ุฑุญู…ุฉ ุงู„ุฅู„ู‡ ุงู„ุนู„ู‰ ุงู„ู‚ุฏูŠุฑ.

ุงู„ู„ู‡ ุงูƒุจุฑ ู…ุง ุชู‚ุงุฑุจุช ู‚ู„ูˆุจ ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ูู‰ ู‡ุฐุง ุงู„ูŠูˆู… ุงู„ุนุธูŠู…

ุงู„ู„ู‡ ุงูƒุจุฑ ู…ุง ุชุนุงูˆู†ุช ุงู„ุฌู‡ูˆุฏ ูˆุตุฏู‚ุช ุงู„ุนู‡ูˆุฏ ูˆุชุนุงุทูุช ุงู„ู‚ู„ูˆุจ

ุงู„ู„ู‡ ุฃูƒุจุฑ ูˆู„ู„ู‡ ุงู„ุญู…ุฏ . ุงู„ู„ู‡ ุฃูƒุจุฑ ูƒุจูŠุฑุง ูˆุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ูƒุซูŠุฑุง ูˆุณุจุญุงู† ุงู„ู„ู‡ ุจูƒุฑุฉ ูˆุฃุตูŠู„ุง .

ุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ุงู„ุฐู‰ ุฌุนู„ ู‡ุฐุง ุงู„ูŠูˆู… ุนูŠุฏุง ู„ู„ู…ุคู…ู†ูŠู† ูˆูุฑุญุฉ ู„ู„ุตุงุฆู…ูŠู†. ูˆุฃุดู‡ุฏ ุฃู† ู„ุง ุฅู„ู€ู‡ ุฅู„ุง ุงู„ู„ู‡ ูˆุญุฏู‡ ู„ุง ุดุฑูŠูƒ ู„ู‡ ุงู„ู…ู„ูƒ ุงู„ุญู‚ ุงู„ู…ุจูŠู†.  ูˆุฃุดู‡ุฏ ุฃู† ุณูŠุฏู†ุง ู…ุญู…ุฏุง ุนุจุฏู‡ ูˆุฑุณูˆู„ู‡ ุตุงุฏู‚ ุงู„ูˆุนุฏ ุงู„ุฃู…ูŠู†. ุงู„ู„ู‡ู… ุตู„ ูˆุณู„ู… ุนู„ู‰ ุณูŠุฏู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุนู„ู‰ ุขู„ู‡ ูˆุฃุตุญุงุจู‡ ุฃุฌู…ุนูŠู† ูˆู…ู† ุฏุนุง ุจุฏุนูˆุชู‡  ุงู„ู‰ ูŠูˆู…  ุงู„ุฏูŠู†.

ุฃู…ุง ุจุนุฏ. ููŠุง ุฃูŠู‡ุง ุงู„ุนุงุฆุนุฏูˆู†. ุฅุชู‚ูˆุง ุงู„ู„ู‡ ูˆุงุนู…ู„ูˆุง ุนู…ู„ุง ุตุงู„ุญุง ู„ุนู„ูƒู… ุชูู„ุญูˆู†. ุชุฐูƒุฑูˆุง ู‚ูˆู„ู‡ ุณุจุญุงู†ู‡  ูˆุชุนุงู„ู‰ ูˆู‡ูˆ ุฃุตุฏู‚ ุงู„ู‚ุงุฆู„ูŠู†   : ูŠูฐู“ุงูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู’ู†ูŽ ุงูฐู…ูŽู†ููˆุง ุงุชูŽู‘ู‚ููˆุง ุงู„ู„ู‘ูฐู‡ูŽ ุญูŽู‚ูŽู‘ ุชูู‚ูฐู‰ุชูู‡ู– ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽู…ููˆู’ุชูู†ูŽู‘ ุงูู„ูŽู‘ุง ูˆูŽุงูŽู†ู’ุชูู…ู’ ู…ูู‘ุณู’ู„ูู…ููˆู’ู†ูŽ ุตุฏู‚  ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุนุธูŠู….

Maโ€™asyiral muslimin rahimakumullah

Segala puji hanya milik Allah, Penguasa langit dan bumi, Pencipta segala apa yang ada. Karena Dia kita ada, tanpa Dia kita bukan siapa-siapa, dan bila bukan karena Dia maka kita tidak akan mampu melakukan apa-apa. Dengan rahmat-Nya kita sambut hari ini dengan kebahagiaan, dengan rahmat-Nya kita sambut hari ini dengan penuh keceriaan. Sambil bersama-sama kita menggemakan takbir :

ุงู„ู„ู‡ ุฃูƒุจุฑ ุงู„ู„ู‡ ุฃูƒุจุฑ ุงู„ู„ู‡ ุฃูƒุจุฑ ูˆู„ู„ู‡ ุงู„ุญู…ุฏ

Hari ini adalah hari kebahagiaan, hari ini adalah hari kegembiraan, hari ini adalah hari keceriaan bagi seluruh umat beriman, khususnya bagi orang yang telah memaksimalkan ibadahnya selama bulan suci Ramadhan.

Rasulullah SAW bersabda :

ู„ู„ุตุงุฆู… ูุฑุญุชุงู† ุนู†ุฏ ุฅูุทุงุฑู‡ ูˆุนู†ุฏ ู„ู‚ุงุก ุฑุจู‡

Artinya: Orang yang berpuasa itu memiliki dua kegembiraan dan kebahagiaan, yaitu, kebahagiaan ketika ia berbuka dan berlebaran, dan kebahagaiaan di saat dia berjumpa dengan Tuhannya.

Sungguh bahagia kita hari ini, karena telah tiba pada hari kemenangan, hari lebaran kita bersama setelah sebulan penuh kita lalui dengan perjuangan. Puasa di siang harinya, dan shalat tarawih di malam harinya. Namun kita berharap semoga kebahagiaan hari ini mengantarkan kita menemukan kebahagiaan kedua kalinya, yaitu bahagia di saat kita berjumpa dengan Allah SWT. Karena itulah, Sewajarnya pada hari ini kita saling mendoakan antara satu dengan yang lain :

ุชู‚ุจู„ ุงู„ู„ู‡ ู…ู†ุง ูˆู…ู†ูƒู… ุชู‚ุจู„ ุตุงู„ุญ ุฃุนู…ุงู„ู†ุง

ู…ู† ุงู„ุนุงุฆุฏูŠู† ูˆุงู„ูุงุฆุฒูŠู†

ูƒู„ ุนุงู… ูˆุฃู†ุชู… ุจุฎูŠุฑ

Maโ€™asyiral muslimin rahimakulullah.

Hari ini adalah hari keberkahan, hari ini adalah hari penuh karunia dan rahmat yang berlimpah dari Allah SWT. Mengapa demikian? Disebutkan dalam salah satu riwayat bahwa Rasulullah SAW bersabda :

ุงุฐุง ูƒุงู† ูŠูˆู… ุนูŠุฏ ุงู„ูุทุฑ ูˆู‚ูุช ุงู„ู…ู„ุงุฆูƒุฉ ุนู„ู‰ ุฃุจูˆุงุจ ุงู„ุทุฑู‚ ูู†ุงุฏูˆุง : ุงุบุฏูˆุง ูŠุงู…ุนุดุฑ ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ุงู„ู‰ ุฑุจ ูƒุฑูŠู… ูŠู…ู† ุจุงู„ุฎูŠุฑ, ุซู… ูŠุซูŠุจ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุฌุฒูŠู„ ู„ู‚ุฏ ุฃู…ุฑุชู… ุจู‚ูŠุงู… ุงู„ู„ูŠู„ ูู‚ู…ุชู…, ูˆุงู…ุฑุชู… ุจุตูŠุงู… ุงู„ู†ู‡ุงุฑ ูุตู…ุชู…, ูˆุฃุทุนุชู… ุฑุจูƒู…, ูุงู‚ุจุถูˆุง ุฌูˆุงุฆุฒูƒู…. ูุฅุฐุง ุตู„ูˆุง ู†ุงุฏู‰ ู…ู†ุงุฏ : ุฃู„ุง ุงู† ุฑุจูƒู… ู‚ุฏ ุบูุฑ ู„ูƒู…, ูุงุฑุฌุนูˆุง ุฑุงุดุฏูŠู† ุงู„ู‰ ุฑุญุงู„ูƒู…. ูู‡ูˆ ูŠูˆู… ุงู„ุฌุงุฆุฒุฉ (ุงู„ุทุจุฑุงู†ู‰)

โ€œBila hari raya Idul Fitri telah tiba, maka para malaikat berdiri di pinggir jalan sambil menyapa orang beriman, โ€œBersegeralah wahai kaum muslimin menuju Tuhanmu yang Maha Mulia yang menganugerahkan sekian banyak kebaikan. (Pada apperi-perino mennang eโ€ฆ sininna umma sellengnge mangngolo ri Puang kaminang malaboe iya makkamasewe nasaba siyagae egana deceng). Kemudian Allah memberi pahala yang tak terhingga. Wahai orang beriman, kalian diperintahkan untuk shalat sunnah di malam harinya, kalian telah lakukan. Kalian diperintahkan untuk berpuasa di siang harinya, kalian telah tunaikan. Kalian telah tunduk dan patuh kepada Tuhanmu, karena itu, terimalah hadiahmu.

Dan bila mereka telah selesai melaksanakan shalat idul Fitri, maka ada suara yang memanggil dan menyapa mereka seraya mengatakan, โ€œKetahuilah, sesungguhnya Allah telah mengampuni kalian, kembalilah ke rumahmu dengan penuh keberuntungan. Sebab hari ini merupakan hari penerimaan hadiah.โ€

ุงู„ู„ู‡ ุฃูƒุจุฑ ุงู„ู„ู‡ ุฃูƒุจุฑ ุงู„ู„ู‡ ุฃูƒุจุฑ ูˆู„ู„ู‡ ุงู„ุญู…ุฏ

Maโ€™asyiral muslimin rahimakumullah

Hari ini memang hari kebahagiaan, hari ini memang hari kegembiraan dan keceriaan, namun ternyata di balik kegembiraan dan keceriaan hari ini tersimpan sebuah kesedihan yang mendalam. Mengapa? Idul fitri memang telah tiba tapi itu pertanda bahwa bulan suci Ramadhan telah pergi. Ia pergi meninggalkan kita semua dengan membawa berbagai macam kenangan yang telah kita lakukan di dalamnya. Ia pergi menghadap Allah melaporkan dirinya terkait amal ibadah yang telah kita perbuat.

Sebulan penuh telah kita lewati, suka dan duka dalam mengisi Ramadhan yang penuh berkah. Tapi yakinilah, keberkahan Ramadhan tidak diukur dan tidak terbatas pada bulan Ramadhan saja. Namun keberkahan dan kemuliaannya dilihat dari sejauh mana kita memelihara nilai-nilai Ramadhan setelah kepergiannya, yang berarti bahwa berakhirnya Ramadhan sebenarnya menjadi tanda peningkatan ketakwaan. Rasulullah SAW mengungkapkan :

ู…ู† ูƒุงู† ูŠูˆู…ู‡ ุฎูŠุฑุง ู…ู† ุฃู…ุณู‡ ูู‡ูˆ ุฑุงุจุญ

โ€œBarang siapa yang keadaannya hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntungโ€

ูˆู…ู† ูƒุงู† ูŠูˆู…ู‡ ู…ุซู„ ุฃู…ุณู‡ ูู‡ูˆ ู…ุบุจูˆู†

โ€œBarang siapa yang keadaannya hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang tertipuโ€

ูˆู…ู† ูƒุงู† ูŠูˆู…ู‡   ุดุฑุง ู…ู† ุฃู…ุณู‡ ูู‡ูˆ ู…ู„ุนูˆู†

โ€œBarang siapa yang keadaannya hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang terkutukโ€.

Oleh karena itu hadirin, mari kita merenungi kembali sikap dan perbuatan kita terhadap bulan suci Ramadhan. Apakah kesempatan yang diberikan Allah telah kita pergunakan sebaik-baiknya dengan memperbanyak amal ibadah, ataukah sebaliknya kesempatan tersebut kita sia-siakan tanpa ada makna di dalamnya. Sungguh bahagia orang yang mengisinya dengan kebaikan, dan sungguh merugi orang yang menyia-nyiakannya. Akan tetapi kitapun tidak boleh berputus asa dan berpangku tangan tanpa melakukan perbaikan sebab rahmat dan kasih sayang Allah tetap terbuka selama-lamanya.

ู„ุง ุชู‚ู†ุทูˆุง ู…ู† ุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡

โ€œJanganlah kalian berputus asa dari rahmat Allahโ€

Hari kemarin mungkin kita sia-siakan, namun pastikan hari-hari mendatang jauh lebih baik dengan memaksimalkan diri untuk lebih dekat kepada-Nya. Ketahuilah, seburuk apapun kita di hari yang telah berlalu, Allah senantiasa membuka pintu rahmat dan ampunan-Nya bagi orang-orang yang ingin memperbaiki diri.

ุงู„ู„ู‡ ุฃูƒุจุฑ ุงู„ู„ู‡ ุฃูƒุจุฑ ุงู„ู„ู‡ ุฃูƒุจุฑ ูˆู„ู„ู‡ ุงู„ุญู…ุฏ

Karena itulah hadirin, di sinilah kita membutuhkan keistiqamahan untuk senantiasa beribadah dan menyembah kepada Allah SWT. Itulah sebabnya ada ungkapan ulama yang mengatakan :

ูƒู† ุฑุจุงู†ูŠุง ูˆู„ุง ุชูƒู† ุฑู…ุถุงู†ูŠุง

โ€œJadilah manusia Rabbani bukan sekedar manusia Ramadhaniโ€

Manusia Rabbani adalah orang yang beribadah dan menyembah Allah semata-mata karena Allah. sedangkan manusia Ramadhani adalah orang yang menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya hanya gara-gara bulan suci Ramadhan. Pastinya bahwa Tuhan yang disembah selama bulan suci Ramadhan, itu juga yang kita sembah di luar bulan suci Ramadhan.

Karenanya, Ramadhan memang telah pergi namun Tuhannya Ramadhan selalu ada dan tidak pernah meninggalkan kita. Oleh karena itu, semoga setelah berlalunya bulan suci Ramadhan kita benar-benar menjadi manusia yang istiqamah untuk senantiasa dekat kepada Allah SWT.

ุงู„ู„ู‡ ุฃูƒุจุฑ ุงู„ู„ู‡ ุฃูƒุจุฑ ุงู„ู„ู‡ ุฃูƒุจุฑ ูˆู„ู„ู‡ ุงู„ุญู…ุฏ

Ketahuilah hadirin yang dimuliakan Allah, kemuliaan ibadah, keberkahan ibadah tidak dilihat pada saat dilaksanakannya tapi keberkahan ibadah dilihat setelah kita selesai melaksanakannya. Sebagai contoh, Rasulullah SAW bersabda ketika beliau berbicara mengenai ibadah haji, Nabi mengatakan :

ุงู„ุญุฌ ุงู„ู…ุจุฑูˆุฑ ู„ูŠุณ ู„ู‡ ุฌุฒุงุก ุฅู„ุง ุงู„ุฌู†ุฉ

โ€œHaji Mabrur tidak ada balasannya selain sorgaโ€. Begitu mulianya haji mabrur.

Namun ada sahabat yang bertanya kepada nabi, :

ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ุŒ ู…ุง ุจุฑ ุงู„ุญุฌ ุŸ

โ€œWahai Rasulullah, apa tanda-tandanya haji mabrur?โ€

Ternyata jawaban Rasulullah SAW mengisyaratkan bahwa tanda-tanda haji mabrur tidak dilihat pada saat pelaksanaannya namun tanda-tanda haji mabrur dilihat setelah kita melaksanakan ibadah haji. Bagaimana tandanya? Kata Nabi :

ุฅูุดุงุก ุงู„ุณู„ุงู… ูˆุทูŠุจ ุงู„ูƒู„ุงู… ูˆุฅุทุนุงู… ุงู„ุทุนุงู…

โ€œMenebarkan kedamaian kepada sesame, baik tutur katanya lembut bahasanya membawa kebaikan kepada sesamanya, suka memberi makan dan selalu berbagi kebahagiaan dengan sesamaโ€.

Maka itu berarti keberkahan dan kemuliaan ibadah tidak dilihat pada saat pelaksanaannya, namun keberkahan dan kemuliaan ibadah dilihat setelah kita melaksanakannya. Ibadah Ramadhan telah selesai kita lakukan, saatnya kita ingin memperlihatkan kepada Allah bahwa Ramadhan memang membawa keberkahan kepada kita semua. Jadilah manusia yang diberkahi dengan kehadiran Ramadhan dengan menjadi manusia yang insya Allah berusaha membawa kebaikan kepada sesamanya.

ู„ูŠุณ ุงู„ุนูŠุฏ ู„ู…ู† ู„ุจุณ ุงู„ุฌุฏูŠุฏ    ***      ูˆู„ูƒู† ุงู„ุนูŠุฏ ู„ู…ู† ูƒุงู†ุช ุทุงุนุชู‡ ุชุฒูŠุฏ

โ€œHari raya Idul Fitri tidak diukur dengan adanya pakaian baru, namun Idul Fitri diukur dengan adanya ketaโ€™atan yang semakin bertambah dan semakin baruโ€.

Semoga dengan berakhirnya bulan suci Ramadhan, iman dan ketakwaan kita semakin meningkat di sisi Allah SWT.

ุงู„ู„ู‡ ุฃูƒุจุฑ ุงู„ู„ู‡ ุฃูƒุจุฑ ุงู„ู„ู‡ ุฃูƒุจุฑ ูˆู„ู„ู‡ ุงู„ุญู…ุฏ

Kita beribadah selama bulan suci Ramadhan tidak ada yang kita cari kecuali ingin mendapatkan rahmat dan ridha-Nya Allah. sementara Rasulullah SAW bersabda :

ุฑุถุง ุงู„ู„ู‡ ููŠ ุฑุถุง ุงู„ูˆุงู„ุฏูŠู† ูˆุณุฎุท ุงู„ู„ู‡ ููŠ ุณุฎุท ุงู„ูˆุงู„ุฏูŠู†

โ€œRidha-Nya Allah tergantung pada ridha kedua orang tua, dan murka-Nya Allah tergantung pada murka kedua orang tuaโ€

Tidak ada yang kita cari selama bulan suci Ramadhan kecuali ingin mendapatkan ridha-Nya Allah. dan untuk mendapatkan ridha-Nya Allah kita mesti mendapatkan ridha kedua orang tua. Sungguh bahagia orang yang masih memiliki orang tua hari ini, sebab masih ada kesempatan untuk menatap wajah indah kedua orang tua kita, masih ada kesempatan untuk menyaksikan senyum manis kedua orang tua. Setelah kita melaksanakan shalat idul fitri hari ini datanglah menghadap kepada kedua orang tua kita, minta ridhanya, minta restunya agar ridha orang tua kita memudahkan kita mendapatkan ridha-Nya Allah SWT.

Sementara yang sudah tidak memiliki orang tua, kembalilah kepada Allah SWT, doakan orang tua kita kiranya mereka semua diberikan keselamatan oleh Allah SWT. Ingat sebuah ungkapan mengatakan, โ€œseorang ibu mampu memelihara sepuluh orang anaknya, namun sepuluh orang anak terkadang tidak mampu memelihara seorang ibunyaโ€. Ingat ibu kita, biar bagaimana sibuknya, biar bagaimana banyak pekerjaannya namun bila sakit anaknya, ia tinggalkan pekerjaannya hanya untuk merawat anaknya, namun terkadang ada seorang anak, sakit ibunya, sakit ayahnya, tidak pernah dia menjenguk orang tuanya hanya dengan alasan banyak pekerjaannya.

Hari ini adalah hari raya idul fitri, saatnya kita kembali dan mengingat kedua orang tua kita bahwasanya kehadiran kita hari ini, di saat kita tiba pada titik kesuksesan hari ini, semua itu tidak terlepas dari dukungan dan doa kedua orang tua kita. Semoga kita semua menjadi anak yang senantiasa berbakti kepada kedua orang tuanya.

ุจุฑูˆุง ุขุจุงุกูƒู… ุชุจุฑูƒู… ุฃุจู†ุงุคูƒู…

โ€œBerbaktilah kepada kedua orang tuamu, niscaya anak-anakmu akan berbakti kepadamuโ€.

Hadirin yang dimuliakan Allah. Hari raya Idul Fitri juga merupakan hari raya untuk saling bermaaf-maafan antara satu dengan yang lain. pastinya dalam kehidupan bermasyarakat ada-ada saja sikap dan perkataan kita yang pernah menyakiti dan melukai hati sesama. Karena itu, hari ini adalah saatnya kita membuka diri untuk meminta maaf, saatnya kita membuka hati untuk memberi maaf. Saling memaafkan antara satu dengan yang lain. Hilangkan segala perasaan benci dan dendam di antara sesama. Tiada gunanya pertengkaran dipelihara, tiada gunanya benci dan dendam dipertahankan.

ู„ุง ูŠุคู…ู† ุฃุญุฏูƒู… ุญุชู‰ ูŠุญุจ ู„ุฃุฎูŠู‡ ู…ุง ูŠุญุจ ู„ู†ูุณู‡

โ€œTidak sempurna keimanan seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiriโ€.

Tidak ada kehinaan bagi orang yang pertama kali mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan saudaranya seraya meminta maaf  kepadanya.  Hilangkan segala keegoisan kita, jangan menunggu orang lain datang meminta maaf. Namun buktikanlah pemberian maaf kita dengan memulai meminta maaf

ุฅุจุฏุฃ ุจู†ูุณูƒ

โ€œMulailah dari diri kita sendiriโ€

Memang mulia meminta maaf namun jauh lebih mulia memberi maaf. Memang mulia meminta maaf di kala kita bersalah. Akan tetapi jauh lebih mulia memberi maaf sekalipun yang bersalah belum datang minta maaf.. Rasulullah SAW bersabda :

ุซู„ุงุซุฉ ู…ู† ู…ูƒุงุฑู… ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ ุนู†ุฏ ุงู„ู„ู‡ : ุฃู† ุชุนููˆ ุนู…ู† ุธู„ู…ูƒ ูˆุชุนุทูŠ ู…ู† ุญุฑู…ูƒ ูˆุชุตู„ ู…ู† ู‚ุทุนูƒ

โ€œTiga macam budi pekerti yang mendapat nilai paling tinggi di sisi Allah, yaitu : memberi maaf kepada orang yang telah menganiaya dirimu, memberi kepada orang yang telah memutuskan pemberian kepadamu, dan bersilaturrahim kepada orang telah memutuskan hubungan denganmuโ€.

Karena itu hadirin yang dimuliakan Allah, jadilah manusia yang selalu membuka diri untuk menebar kedamaian di antara sesama, dengan menjadi manusia yang saling memaafkan antara satu dengan yang lain. semoga keberkahan Ramadhan yang baru saja selesai kita laksanakan mengantarkan kita menjadi manusia yang benar-benar bersih dari segala macam dosa dan pelanggaran disertai dengan maaf dari sesama dan pada akhirnya kita terlahir sebagai manusia yang suci bagaikan seorang bayi yang baru dilahirkan dari rahim ibunya.

ุงู„ู„ู‡ ุฃูƒุจุฑ ุงู„ู„ู‡ ุฃูƒุจุฑ ุงู„ู„ู‡ ุฃูƒุจุฑ ูˆู„ู„ู‡ ุงู„ุญู…ุฏ

Hari ini adalah hari raya idul fitri juga merupakan hari raya kebersamaan, jagalah kebersamaan, jagalah keharmonisan di antara kita. Pastinya bahwa setiap masyarakat tentu ada perbedaannya, namun di setiap perbedaan tetap ada persamaannya. Tidak perlu memperuncing perbedaan namun kita perlu mengedepankan persamaan. Memperuncing perbedaan hanya akan berujung perpecahan. Akan tetapi mengedepankan persamaan akan menciptakan keharmonisan dan persatuan. Sementara ada ungkapan mengatakan :

ุงู„ุจุฑูƒุฉ ู…ุน ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ

โ€œKeberkahan berada dalam kebersamaanโ€

Semoga hari ini, menjadi kesempatan bagi kita semua untuk saling mengingatkan dan saling menguatkan antara satu dengan yang lain. Pastinya bahwa tidak salah hidup sendiri namun jauh lebih indah dan jauh lebih baik hidup bersama. Mudah-mudahan Allah senantiasa memberi semangat kepada semua untuk selalu menjaga kebersamaan.

Terakhir, hadirin yang dimuliakan Allah.

Hari raya idul fitri juga merupakan hari raya untuk saling mendoakan antara satu dengan yang lain, doakan keselamatan diri kita, doakan keselamatan orang tua kita, doakan keselamatan anak-anak kita, doakan keselamatan masyarakat kita, dan yang tak kalah penting doakan kebaikan pemerintah dan pemimpin kita.

Seorang ulama besar yang bernama al-Imam al-Fudhail ibnu โ€˜Iyadh pernah berkata :

ู„ูˆ ุฃู†ูŠ ุฃุนู„ู… ุฃู† ู„ูŠ ุฏุนูˆุฉ ู…ุณุชุฌุงุจุฉ ู„ุตุฑูุชู‡ุง ู„ู„ุณู„ุทุงู†

โ€œSekiranya saya mengetahui bahwa saya memiliki satu doa yang dijamin oleh Allah akan dikabulkan maka saya akan gunakan kesempatan itu mendoakan kebaikan pemimpinโ€

Beliau pun ditanya oleh salah seorang muridnya, โ€œYa Imam.. mengapa pemimpin yang ingin kamu doakan? Mengapa pemerintah yang ingin kamu doakan? Mengapa engkau tidak menggunakan kesempatan itu mendoakan dirimu sendiri? Beliau pun menjawab, โ€œbila saya mendoakan  diriku maka yang akan merasakan kebaikannya hanya diriku, namun bila saya mendoakan kebaikan pemimpin dan pemerintah maka yang akan merasakan kebaikannya adalah seluruh masyarakat.

Maโ€™asyiral muslimin rahimakumullah

Akhirnya, marilah kita sama-sama menundukkan kepala dengan menghadapkan wajah dan hati kita kepada Allah seraya kita berdoa kepada-Nya, semoga Ramadhan yang baru saja kita selesai beribadah di dalamnya bukan Ramadhan terakhir bagi kita semua. Semoga Ramadhan kali ini mengantarkan kita untuk kembali berjumpa dengan bulan suci Ramadhan tahun berikutnya. Semoga hari ini menjadi saksi nyata akan harapan dan komitmen kita untuk terus memperbaiki diri sehingga kita senantiasa dirahmati dan diberkahi oleh Allah, sehingga selama sebelas bulan mendatang, kita menjadi umat Nabi Muhammad yang benar-benar siap menyambut kedatangan Ramadhan tahun berikutnya.

Ya Allahโ€ฆ kayakanlah kami dengan ilmu pengetahuan, hiasilah kami dengan kelembutan hati, muliakanlah kami dengan ketakwaan serta perindahlah kami dengan kesehatan yang baik, berkat rahmat-Mu wahai Allah Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

ุงู„ู„ู‡ ุงูƒุจุฑ x 3  ู„ุง ุงู„ู‡ ุงู„ุง ุงู„ู„ู‡ ูˆุงู„ู„ู‡ ุงูƒุจุฑ. ุงู„ู„ู‡ ุงูƒุจุฑ ูˆู„ู„ู‡ ุงู„ุญู…ุฏ

ุจุงุฑูƒ ุงู„ู„ู‡ ู„ูŠ ูˆู„ูƒู… ููŠ ุงู„ู‚ุฑุขู† ุงู„ูƒุฑูŠู… ูˆู†ูุนู†ูŠ ูˆุฅูŠุงูƒู… ุจู…ุง ููŠู‡ ู…ู† ุงู„ุฃูŠุงุช ูˆุงู„ุฐูƒุฑ ุงู„ุญูƒูŠู… ูˆุชู‚ุจู„ ุงู„ู„ู‡ ู…ู†ูŠ ูˆู…ู†ูƒู… ุชู„ุงูˆุชู‡ ุงู†ู‡ ู‡ูˆ ุงู„ุณู…ูŠุน ุงู„ุนู„ูŠู…. ุฃู‚ูˆู„ ู‚ูˆู„ูŠ ู‡ุฐุง ูˆุงุณุชุบูุฑ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุนุธูŠู… ู„ูŠ ูˆู„ูƒู… ูˆู„ู„ู…ุคู…ู†ูŠู† ูˆุงู„ู…ุคู…ู†ุงุช ูˆุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ูˆุงู„ู…ุณู„ู…ุงุช ุงู„ุฃุญูŠุงุก ู…ู†ู‡ู… ูˆุงู„ุฃู…ูˆุงุช. ูุงุณุชุบูุฑูˆู‡ ุงู†ู‡ ู‡ูˆ ุงู„ุบููˆุฑ ุงู„ุฑุญูŠู…

***

(KHUTBAH KEDUA) ุงู„ุฎุทุจุฉ ุงู„ุซุงู†ูŠุฉ

ุงู„ู„ู‡ ุงูƒุจุฑ 7  x  ู„ุง ุงู„ู‡ ุงู„ุง ุงู„ู„ู‡ ูˆุงู„ู„ู‡ ุงูƒุจุฑ . ุงู„ู„ู‡ ุงูƒุจุฑ ูˆู„ู„ู‡ ุงู„ุญู…ุฏ , ุงู„ู„ู‡ ุงูƒุจุฑ ูƒุจูŠุฑุง ูˆุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ูƒุซูŠุฑุง ูˆุณุจุญุงู† ุงู„ู„ู‡ ุจูƒุฑุฉ ูˆุฃุตูŠู„ุง , ู„ุง ุงู„ู‡ ุงู„ุง ุงู„ู„ู‡ ูˆุงู„ู„ู‡ ุงูƒุจุฑ , ุงู„ู„ู‡ ุงูƒุจุฑ ูˆู„ู„ู‡ ุงู„ุญู…ุฏ

ูุณุจุญุงู† ุงู„ู„ู‡ ุญูŠู† ุชู…ุณูˆู† ูˆุญูŠู† ุชุตุจุญูˆู† , ูˆู„ู‡ ุงู„ุญู…ุฏ ููŠ ุงู„ุณู…ูˆุงุช ูˆุงู„ุฃุฑุถ ูˆุนุดูŠุง ูˆุญูŠู† ุชุธู‡ุฑูˆู† , ูŠุฎุฑุฌ ุงู„ุญูŠ ู…ู† ุงู„ู…ูŠุช ูˆูŠุฎุฑุฌ ุงู„ู…ูŠุช ู…ู† ุงู„ุญูŠ , ูˆูŠุญูŠู‰ ุงู„ุฃุฑุถ ุจุนุฏ ู…ูˆุชู‡ุง ูˆูƒุฐู„ูƒ ุชุฎุฑุฌูˆู† . ุงู„ู„ู‡ ุงูƒุจุฑ 3  xุŒ ุณุจุญุงู† ู…ู† ุญุถุนุช ู„ู‡ ุฑู‚ุงุจ ุงู„ุฌุจุงุจุฑุฉ ูˆุงู„ูƒุจุฑุงุก , ูˆุงู†ุชู‚ู… ู…ู† ุงู„ุธุงู„ู…ูŠู† ุจุนุฏู„ู‡ ู„ู„ู…ุธู„ูˆู…ูŠู† ู…ู† ุนุจุงุฏู‡ ุงู„ุถุนูุงุก . ุณุจุญุงู† ู…ู† ุชู†ุฒู‡ ุนู† ุงู„ูุญุดุงุก , ุณุจุญุงู† ู…ู† ุฃุญุงุท ุนู„ู…ู‡ ุจุฌู…ูŠุน ุงู„ุฃุดูŠุงุก , ุณุจุญุงู† ู…ู† ูŠุบูŠุฑ ูˆู„ุง ูŠุชุบูŠุฑ , ุณุจุญุงู† ุฑุจูƒ ุฑุจ ุงู„ุนุฒุฉ ุนู…ุง ูŠุตููˆู† ูˆุณู„ุงู… ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุฑุณู„ูŠู† ูˆุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู† .

ุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ุงู„ุฐูŠ ูŠุญู‚ู‚ ุฑุฌุงุก ู…ู† ุฃู…ู„ู‡ ูˆูŠุฌูŠุจ ุฏุนุงุก ู…ู† ุงุจุชู‡ู„ ุงู„ูŠู‡ ูˆุฃู…ู„ู‡ . ุงุดู‡ุฏ ุงู† ู„ุง ุงู„ู‡ ุงู„ุง ุงู„ู„ู‡ ูˆุญุฏู‡ ู„ุง ุดุฑูŠูƒ ู„ู‡ ูˆุงุดู‡ุฏ ุงู† ู…ุญู…ุฏุง ุนุจุฏู‡ ูˆุฑุณูˆู„ู‡ ุฃุฑุณู„ู‡ ุจุงู„ู‡ุฏู‰ ูˆุฏูŠู† ุงู„ุญู‚ ู„ูŠุธู‡ุฑู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ุฏูŠู† ูƒู„ู‡ ูˆู„ูˆ ูƒุฑู‡ ุงู„ูƒุงูุฑูˆู† . ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุนู„ู‰ ุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆุณู„ู… ุชุณู„ูŠู…ุง ูƒุซูŠุฑุง “ุฃู…ุง ุจุนุฏ”

ููŠุง ุนุจุงุฏ ุงู„ู„ู‡ , ุงุชู‚ูˆุง ุงู„ู„ู‡ ูˆุตู„ูˆุง ุนู„ู‰ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡. ุงู† ุงู„ู„ู‡ ูˆู…ู„ุงุฆูƒุชู‡ ูŠุตู„ูˆู† ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุจูŠ ูŠุขุงูŠู‡ุง ุงู„ุฐูŠู† ุงู…ู†ูˆุง ุตู„ูˆุง ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…ูˆุง ุชุณู„ูŠู…ุง . ุงู„ู„ู‡ู… ุตู„ ูˆุณู„ู… ูˆุจุงุฑูƒ ุนู„ู‰ ุณูŠุฏู†ุง ู…ุญู…ุฏ ููŠ ุงู„ุฃูˆู„ูŠู† ูˆุงู„ุขุฎุฑูŠู† ูˆููŠ ุงู„ู…ู„ุงุก ุงู„ุฃุนู„ู‰ ุงู„ู‰ ูŠูˆู… ุงู„ุฏูŠู†.

ุงู„ู„ู‡ู… ุงุฑุถ ุนู† ุงู„ุฎู„ูุงุก ุงู„ุฑุงุดุฏูŠู† : ุฃุจูŠ ุจูƒุฑ ูˆุนู…ุฑ ูˆุนุซู…ุงู† ูˆุนู„ูŠ , ูˆุงุฑุถ ุงู„ู„ู‡ู… ุนู† ุณูŠุฏู†ุง ุงู„ุญุณู† ูˆุณูŠุฏู†ุง ุงู„ุญุณูŠู† ูˆุนู† ุงู…ู‡ู…ุง ูุงุทู…ุฉ ุงู„ุฒู‡ุฑุงุก ูˆุนู† ุฌุฏุชู‡ู…ุง ุฎุฏูŠุฌุฉ ุงู„ูƒุจุฑู‰ ูˆุนู† ุจู‚ูŠุฉ ุงู„ุตุญุงุจุฉ ูˆุงู„ู‚ุฑุงุจุฉ ูˆุงู„ุชุงุจุนูŠู† ู„ู‡ู… ุจุฅุญุณุงู† ุงู„ู‰ ูŠูˆู… ุงู„ุฏูŠู† . ูˆุงุฑุถ ุนู†ุง ู…ุนู‡ู… ูŠุง ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู† .

ุงู„ู„ู‡ู… ุงู†ุตุฑ ุงู„ุฅุณู„ุงู… ูˆุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ูˆุฏู…ุฑ ุฃุนุฏุงุฆูƒ ุฃุนุฏุงุก ุงู„ุฏูŠู† . ุงู„ู„ู‡ู… ุขู…ู†ุง ููŠ ุฏูˆุฑู†ุง ูˆุงุตู„ุญ ูˆู„ุงุฉ ุฃู…ูˆุฑู†ุง ูˆูˆูู‚ ุญูƒุงู…ู†ุง ูˆุฒุนู…ุงุฆู†ุง ุงู„ู‰ ู…ุง ููŠู‡ ุตู„ุงุญ ุงู„ุนุจุงุฏ ูˆุงู„ุจู„ุงุฏ

ุงู„ู„ู‡ู… ุงู„ู ุจูŠู† ู‚ู„ูˆุจู‡ู… ูˆุงุตู„ุญ ุฐุงุช ุจูŠู†ู‡ู… ูˆุงู‡ุฏู†ุง ูˆุฅูŠุงู‡ู… ุงู„ู‰ ุณุจูŠู„ ุงู„ุฑุดุงุฏ . ุงู„ู„ู‡ู… ุญุจุจ ุงู„ูŠู†ุง ุงู„ุฅูŠู…ุงู† ูˆุฒูŠู†ู‡ ููŠ ู‚ู„ูˆุจู†ุง ูˆูƒุฑู‡ ุงู„ูŠู†ุง ุงู„ูƒูุฑ ูˆุงู„ูุณูˆู‚ ูˆุงู„ุนุตูŠุงู† , ูˆุงุฌุนู„ู†ุง ู…ู† ุงู„ุฑุงุดุฏูŠู†.

ุงู„ู„ู‡ู… ุงู†ุง ู†ุณุฃู„ูƒ ู…ูˆุฌุจุงุช ุฑุญู…ุชูƒ ูˆุนุฒุงุฆู… ู…ุบูุฑุชูƒ ูˆุงู„ุณู„ุงู…ุฉ ู…ู† ูƒู„ ุฅุซู… ูˆุงู„ุบู†ูŠู…ุฉ ู…ู† ูƒู„ ุจุฑ ูˆุงู„ููˆุฒ ุจุงู„ุฌู†ุฉ ูˆุงู„ู†ุฌุงุฉ ู…ู† ุงู„ู†ุงุฑ . ุงู„ู„ู‡ู… ุงุฎุฑุฌู†ุง ู…ู† ุงู„ุธู„ู…ุงุช ุงู„ู‰ ุงู„ู†ูˆุฑ ูˆุงุฑุฒู‚ู†ุง ุนู…ู„ุง ุตุงู„ุญุง ูˆุชุฌุงุฑุฉ ู„ู† ุชุจูˆุฑ , ูŠุง ุนุงู„ู… ู…ุง ููŠ ุงู„ุตุฏูˆุฑ

ุงู„ู„ู‡ู… ุงุบูุฑ ู„ู„ู…ุคู…ู†ูŠู† ูˆุงู„ู…ุคู…ู†ุงุช ูˆุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ูˆุงู„ู…ุณู„ู…ุงุช ุงู„ุฃุญูŠุงุก ู…ู†ู‡ู… ูˆุงู„ุฃู…ูˆุงุช ุงู†ูƒ ุณู…ูŠุน ู‚ุฑูŠุจ ู…ุฌูŠุจ ุงู„ุฏุนูˆุงุช ูˆูŠุง ู‚ุงุถูŠ ุงู„ุญุงุฌุงุช ุจุฑุญู…ุชูƒ ูŠุง ุงุฑุญู… ุงู„ุฑุงุญู…ูŠู†

ุฑุจู†ุง ุขุชู†ุง ููŠ ุงู„ุฏู†ูŠุง ุญุณู†ุฉ ูˆููŠ ุงู„ุขุฎุฑุฉ ุญุณู†ุฉ ูˆู‚ู†ุง ุนุฐุงุจ ุงู„ู†ุงุฑ , ุขู…ูŠู† ูŠุง ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู†

ุนุจุงุฏ ุงู„ู„ู‡ุŒ ุงู† ุงู„ู„ู‡ ูŠุฃู…ุฑูƒู… ุจุงู„ุนุฏู„ ูˆุงู„ุฅุญุณุงู† ูˆุฅูŠุชุงุก ุฐู‰ ุงู„ู‚ุฑุจู‰ ูˆูŠู†ู‡ู‰ ุนู† ุงู„ูุญุดุงุก ูˆุงู„ู…ู†ูƒุฑ ูˆุงู„ุจุบูŠ ูŠุนุธูƒู… ู„ุนู„ูƒู… ุชุฐูƒุฑูˆู† . ูุงุฐูƒุฑูˆุง ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุนุธูŠู… ูŠุฐูƒุฑูƒู… ูˆุงุดูƒุฑูˆู‡ ุนู„ู‰ ู†ุนู…ู‡ ูŠุฒุฏูƒู… ูˆุงุณุฃู„ูˆู‡ ู…ู† ูุถู„ู‡ ูŠุนุทูƒู… ูˆู„ุฐูƒุฑ ุงู„ู„ู‡ ุงูƒุจุฑ ูˆุงู„ู„ู‡ ูŠุนู„ู… ู…ุง ุชุตู†ุนูˆู†.

ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡


[1] Disampaikan pada pelakasanaan Hari Raya Idul Fitri di Masjid al-Markaz al-Islamy Jend. M. Jusuf Makassar, 1 Syawal 1447 H.

Kolaborasi Bank Mega Syariah, Masjid Al Markaz Makassar Gelar Festival Bedug

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, Makassar โ€” Masjid Al Markaz Al Islami Makassar kembali menghadirkan kemeriahan Ramadhan melalui Festival Bedug yang berlangsung pada 18โ€“19 Maret 2026 di panggung utama Plaza Al Markaz Al Islami. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian โ€œKemilau Ramadhanโ€ yang memadukan nuansa religius dengan kekayaan seni budaya Islam, sekaligus menjadi ajang silaturahmi masyarakat dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan.

Tak hanya Festival Bedug, panitia juga menggelar lomba Senandung Asmaul Husna antar Majelis Taklim. Kedua agenda ini menjadi sorotan utama karena menggabungkan kreativitas seni dengan penguatan nilai-nilai spiritual melalui lantunan dzikir dan irama bedug yang menggugah.

Festival Bedug diikuti oleh enam peserta yang berasal dari sejumlah wilayah, seperti Kabupaten Maros, Kabupaten Gowa, dan Kota Makassar. Sementara itu, lomba Senandung Asmaul Husna diikuti oleh delapan Majelis Taklim dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan, mencerminkan tingginya antusiasme masyarakat dalam menyambut dan memeriahkan bulan suci Ramadhan.

Koordinator Pelaksana Lomba, Darul Aqsa, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk menghidupkan syiar Islam dengan pendekatan yang kreatif dan menyenangkan. โ€œKami ingin menghadirkan kegiatan yang tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga mempererat ukhuwah Islamiyah serta menjadi wadah ekspresi seni religi masyarakat,โ€ ungkapnya.

Dukungan penuh dari Bank Mega Syariah sebagai sponsor utama turut menyukseskan acara ini. Bentuk dukungan tersebut antara lain melalui penyediaan hadiah uang tunai dengan total puluhan juta rupiah bagi para pemenang. โ€œKolaborasi ini sejalan dengan komitmen kami dalam mendukung kegiatan positif berbasis syariah dan pemberdayaan umat,โ€ ujar Taufan, dari Bank Mega Syariah.

Sinergi antara Masjid Al Markaz Al Islami dan Bank Mega Syariah menunjukkan kesamaan visi dalam mengembangkan syiar Islam melalui pendekatan seni dan budaya. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya mendorong pertumbuhan industri kreatif di Sulawesi Selatan dengan tetap mengedepankan inovasi digital serta pelibatan komunitas lokal.

Melalui Festival Bedug dan lomba Senandung Asmaul Husna ini, diharapkan nilai-nilai kebersamaan dan kecintaan terhadap ajaran Islam semakin mengakar di tengah masyarakat. Panitia pun berharap kegiatan serupa dapat terus digelar di masa mendatang dengan skala yang lebih besar dan partisipasi yang semakin luas. (*)

Follow us

0FansSuka
3,910PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest news