
Pelestarian Lingkungan Hidup dan Stabilitas Nasional
الحمد لله الذي ارسل رسوله رحمة للعالمين. أشهد أن لاإله الا الله وحده لاشريك له الملك الحق المبين. وأشهد أن سيدنا ونبينا محمدا عبده ورسوله الضادق الامين. اللهم صل وسلم وبارك على من ارسله رحمة للعالمين، سيد نا محمد وعلى آله و أصحابه اجمعين.
أما بعد: فيا عبا الله، اوصيكم ونفسى بتقوى الله فقد فاز المتقون.
فقد قال الله سبحانه وتعالى فى القرآن الكريم: وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًاۗ قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِۚ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ (٦١)
Alhamdulillah, kita persembahkan puji dan syukur kehadirat Allah swt., atas rahmat, hidayah dan taufiq serta nikmat kesehatan dan kekuatan yang diberikan kepada kita sehingga kita bisa hadir di tempat yang mubarakah ini untuk melaksanakan kewajiban kita kepada Allah swt. sekaligus memenuhi kebutuhan rohani kita. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Rasulullah Muhammad saw., Nabi dan Rasul, yang diutus oleh Allah swt. ke permukaan bumi ini untuk menuntun manusia kepada jalan yang diridhai Allah swt. sekaligus pembawa rahmat bagi semesta alam.
Manusia adalah ciptaan Allah di muka bumi yang paling sempurna penciptaannya dibandingkan makhluk lain, Kelebihan dan kesempurnaan penciptaan manusia dari kahluk lainnya, diikuti dengan pemberian tugas dan tanggung jawab untuk membangun dan memakmurkan bumi serta melestarikan lingkungan hidup sesuastu dengan petunjuk Allah swt.
Hal itu ditegaskan dalam al-Qur’an Surah Hu>d/11: 61:
وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًاۗ قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِۚ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ (٦١)
Terjemahnya:
Dan kepada kaum S|amu>d (Kami utus) saudara mereka Saleh. Saleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)”.
Agar manusia dapat melaksanakan tanggung jawab yang dibebakan kepada mereka, Allah swt. memberikan manusia potensi akal serta petunuk wahyu untuk mengelola dan mengambil manfaat dari kekayaan alam sebaik-baiknya, sambil tetap beriman dan taat pada ketentuan Allah. Manusia diberikan kesempatan untuk menikmati dan memanfaatkan kekayaan alam serta menjaganya dari kerusakaan, karena bumi tempat manusia hidup dan beribadah dan membangun peradaban, bukan hanya untuk generasi tertentu, melainkan juga untuk generasi-generasi seterusnya. Karena itu, Allah swt. memerintashksn untuk menjaga dasn melsdtasrikan lingkungan hidup serta melarang berbuat kerusakan di bumi. Dalam al-Qur’an Surah al-Qas}as}/28: 77, Allah swt. berfirman:
وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡيَاۖ وَأَحۡسِن كَمَآ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ وَلَا تَبۡغِ ٱلۡفَسَادَ فِي ٱلۡأَرۡضِۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ (٧٧)
Terjemahnya:
Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.
Semua yang ada di langit dan bumi, lautan dan daratan, sungai-sungai, matahari dan bulan, malam dan siang, tanaman dan buah-buahan, binatang melata dan binatang ternak, merupakan ciptaan Allah yang memang ditundukkan bagi kemudahan manusia dalam mengelola kebutuhan hidupnya. Hal tersebut juga membuktikan bahwasanya Allah memberikan kenikmatan, keberkahan dan manfaat yang begitu besar kepada manusia. Sehingga terlihatlah kekuasaan dan segala pemberian dari-Nya. Sebagaimana firman Allah swt. dalam QS. al-Ja>s\iyah/45: 13.
وَسَخَّرَ لَكُم مَّا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعًا مِّنۡهُۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٍ لِّقَوۡمٍ يَتَفَكَّرُونَ (١٣)
Terjemahnya:
Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berحikirز
Dewasa ini, bumi yang menjadi tempat tinggal bagi manusia, perlu mendapatkan perhatian yang serius agar tidask terjadi kerusakan lingkungan. Berbagai fakta menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan atau biasanya disebut dengan krisis ekologi sedang mengalami peningkatan. Jika kondisi yang seperti ini tidak segera diatasi secara serius, maka keberlangsungan alam dan manusia berada dalam ancaman yang sangat serius, dan yang tidak kalah pentingnya adalah terganggunya stabilitas nasional yang juga oleh seluruh komponen anak bangsa.
Berbagai bencana muncul silih berganti akibat kerusakan yang disebabkan oleh ulah manusia. Keseimbangan lingkungan hidup menjadi terganggu, di antarnya disebabkan oleh perbuatan manusia yang tidak menghargai lingkungan dengan mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan tanpa mempertimbangkan kelestarian dan keseimbangannya. Misalnya kebarakan hutan berskala besar atau alih fungsi hutan untuk kepentingan membuka lahan, mendirikan bangunan di tempat-tempat serapan air yang berpotensi menyebabkan banjir dan juga tanah longsor, pertambangan ilegal untuk mengeruk sumber daya alam yang dapat menyebabkan pencemaran (udara, air dan tanah), dan kerusakan lainnya yang berdampak buruk pada ekosistem.
Tindakan ekploitasi berlebihan tersebut pada dasarnya disebabkan oleh sikap mental manusia yang cenderung berlebih-lebihan (isra>f) bersifat boros (tabz{i>r) dan bermewah-mewahan (itra>f) yang merupakan sikap buruk yang diproduksi oleh hawa nafsu. Artinya, ketika seseorang tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya, maka ia cenderung melampaui batas-batas kebenaran dan kewajaran, yang dicirikan antara lain; bersifat serakah, tidak puas, ingin lebih dari orang lain (dalam makna negatif), seperti halnya manusia cenderung menggunakan harta diluar batas kewajaran. Hal ini sebagaimana tercantum dalam QS. al-Ru>m/30:41.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (٤١)
Terjemahnya:
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Ayat tersebut telah membuktikan bahwa al-Qur’an menaruh perhatian yang besar terhadap alam lingkungan. Bahwa kerusakan yang terjadi di bumi ini disebabkan oleh sifat tamak manusia, yang terutama telah mengalami krisis spiritual keimanan kepada Allah, sebab alam ini pada mulanya diciptakan dalam keadaan seimbang.
Kerusakan lingkungan tanpa pelestarian secara serius aakan mengganggu stabilitas nasional, karena itu kesadaran seluruh komponen anak bangsa dalam pelestarian dan pemuliaan lingkungan hidup merupakan sebuah keniscayaan
Menghadapi berbagai masalah yang dihadapi bangsa ini dengan umat Islam sebagai penduduk mayoritas, harus tampil sebagai khaira ummah melaksanakan amar makruf, nahi mungkar serta memperkokoh iman dan takwa sebagai bangunan kehidupan yang melahirkan amal saleh serta kerahmatan bagi semesta alam, baik pada manusia, maupun pada dunia flora dan fauna. Dan yang yang tidak kalah pentingnya adalah memahami dan mengamalkan tuntunan Allah swt. dalam al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw.
Semoga Allah swt. senantiasa memberikan hidayah dan rahmat-Nya dalam memelihara, melestarikan dan memuliakan lingkungan hidup demi mencapai rudha Allah swt. aamiin ya Rabbal aalamiin.
*) Khutbah Jumat Masjid Al-Markaz Al-Islami, 09 Juni 2023
American Jewish Commitee Kagumi Masjid Al-Markaz Al-Islami
MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR – Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf Makassar, Sulawesi Selatan, mendapat kunjungan dari American Jewish Commitee (AJC), Selasa (9/5/2023). AJC atau Komite Yahudi Amerika merupakan organisasi advokasi internasional yang berfokus untuk mempromosikan hak-hak agama dan sipil bagi orang Yahudi dan lainnya.
Kunjungan tersebut dipimpin langsung Direktur Hubungan Muslim-Yahudi AJC Ari Gordon didampingi Wendrik dari Institute Leimena Jakarta. Rombongan ini tampak menyaksikan lebih dekat suasana di lantai dua Masjid Al-Markaz Al-Islami dan juga Perpustakaan Masjid Al-Markaz Al-Islami.
Leimena sendiri adalah lembaga non profit dengan misi mengembangkan peradaban Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, dan peradaban dunia yang menjunjung tinggi harkat manusia, melalui kerjasama dalam masyarakat yang majemuk.
Kunjungan Ari Gordon dan Wendrik ke Masjid Al-Markaz diantar oleh Sekretaris Umum DPP IMMIM, Dr. M. Ishaq Shamad, yang disambut sejumlah pengurus. Di Perpustakaan Al-Markaz, mereka diterima oleh Kepala Perpustakaan Al-Markaz, H. Syarifuddin Penta.

Direktur Hubungan Muslim-Yahudi AJC Ari Gordon merasa sangat kagum dan terhormat dengan sambutan dan keramahtamahan pimpinan Masjid Al Markaz Al-Islami Makassar. Ia mengaku senang, bisa sharing informasi mengenai penganut agama non Islam, misalnya Yahudi.
Ia mengatakan, manusia berasal dari satu keluarga yakni Adam dan Hawa. Semua ajaran agama mengajarkan kedamaian.
“Bahkan dalam Islam ada ayat menyatakan siapa yang menghidupkan satu nyawa sama dengan menghidupkan seluruh manusia di dunia, demikian pula sebaliknya, siapa membunuh satu nyawa, sama dengan membunuh seluruh dunia,” jelas Gordon.
Di perpustakaan, Ari Gordon dan rombongan diterima dan berdiskusi dengan Kepala Perpustakaan Masjid Al-Al-Markaz, H. Syarifuddin Penta. Sekum DPP IMMIM M.Ishaq Samad mengenalkan Ari Gordon adalah salah satu tokoh agama Yahudi yang berdomisili di Amerika Serikat yang banyak mengembangkan jejaring dengan Muslim Yahudi di berbagai wilayah di dunia.
Sementara Institute Leimena sendiri yang berfokus pada pengembangan peradaban Indonesia dan dunia yang menjunjung tinggi harkat manusia, melalui kerjasama dalam masyarakat yang majemuk, salah satu pembinanya adalah Prof.Alwi Shihab.
Di Sulawesi Selatan, kegiatan Institute Leimena telah bekerjasama dengan Universitas Muslim Indonesia (UMI) untuk melakukan Pelatihan Literasi Keagamaan Lintas Agama kepada guru-guru madrasah.(*)
Sekum MUI Sulsel Khatib Salat Idul Fitri di Al-Markaz
MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR – Pelaksanaan Salat Idul Fitri di Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf Makassar, Sulawesi Selatan, akan mengikuti penetapan resmi pemerintah tentang masuknya 1 Syawal 1444 H. Salat akan dipimpin imam tetap Masjid Al-Markaz, KH. Hasan Basri Ahmad. Adapun yang bertindak sebagai khatib adalah Sekretaris Majelis Ulama Indonesia Sulsel, Prof. Dr. KH. Muammar M. Bakry, Lc M.Ag.
KH. Hasan Basri adalah qori terbaik internasional di Mekkah tahun 1982. Sedangkan Prof Muammar Bakry adalah pakar hukum Islam kontemporer, saat ini juga menjadi Rais Takmir dan Imam Besar Masjid Al-Markaz Al-Islami, serta memimpin sejumlah lembaga pendidikan Islam..
Prof Muammar Bakry yang masih menjabat Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar, akan membawakan khutbah bertema madrasah Ramadhan membina kesalehan sosial dan spiritual.

“Sebelum ramadhan jauh meninggalkan kita, mari kita kenang kembali hari-hari yang indah dalam bulan ramadhan sebagai madrasah yang telah membina kepribadian kita baik secara vertikal hubungan kita dengan Allah SWT maupun secara horizontal hubungan kita sesama manusia dan alam semesta,” demikian KH Muammar memberi sedikit bocoran tentang materi khutbahnya.
Menurutnya, ada tiga kurikulum yang amat berharga dalam bulan ramadhan. Kurikulum yang bertama adalah rahmah, kedua adalah magfirah dan kurikulum ketiga adalah ‘itqun minannar (pembebasan dari api neraka)
Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M. Jusuf merupakan pilihan tepat bagi Anda warga Makassar dan sekitarnya untuk melaksanakan Salat Idu Fitri. Masjid ini berada di lokasi strategis dan mudah dijangkau yakni di bilangan Jalan Masjid Raya No.57 Makassar, Sulawesi Selatan.
Pada setiap pelaksanaan Salat Idul Fitri maupun Idul Adha, Jamaah masjid Al-Markaz meluber hingga memenuhi seluruh area halaman masjid ke Jalan Masjid Raya dan Jalan Sunu Makassar. Puluhan ribu warga memadati masjid untuk menuaikan ibadah salat.
Masjid Al-Markaz Al-Islami merupakan salah satu masjid termegah di Asia Tenggara. Pembangunan masjid ini diprakrsai almarhum Jenderal M.Jusuf, mantan Menhankam/ Pangab. Pembangunan masjid megah ini hanya berlangsung dalam dua tahun, yaitu 1994 hingga 1996. Masjid Al-Markaz AL-Islami resmi digunakan sejak 12 Januari 1996.
Bangunan utama Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar terdiri dari tiga lantai. Pada lantai satu merupakan kantor sekretariat pengurus yayasan dan pengurus masjid. Selain itu, juga terdapat perpustakaan, Taman Kanak-kanak (TK), Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), pesantren hafidz quran, Unit Pengumpul Zakat (UPZ), hingga aula yang bisa dipakai masyarakat umum untuk menggelar kegiatan seperti pernikahan, seminar dan lain-lain.
Pada lantai dua dan tiga diperuntukkan sebagai ruang pelaksanaan salat. Kapasitas daya tampung lantai dua dan tiga masjid bisa mencapai 10 ribu jamaah. Dalam kondisi jamaah membludak, maka tempat pelaksanaan salat juga dibuka di lantai satu, bahkan di halaman masjid, sehingga mampu menampung lebih 20 ribu jamaah. (*)
Khusyuk Salat Gerhana di Masjid Al-Markaz Makassar
MAKASSAR – Sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (20/4/2023) mengalami gerhana matahari hibrida. Gerhana matahari hibrida adalah gerhana matahari yang dalam jalurnya mengalami dua fase sekaligus, yaitu fase cincin dan fase total.
Melayat, JK Ungkap Kedekatan Mendiang Ayahnya dengan Alm. KH Ali Yafie
MASJIDALMARKAZ.OR.ID, Jakarta – Wapres RI ke 10 dan 12, Jusuf Kalla (JK) melayat ke kediaman almarhum KH Ali Yafie di Jalan Menteng V FC 5/12 Perumahan Menteng Residence, Bintaro sektor 7, Tangerang Selatan, Ahad 26 Februari 2023.
JK mengungkapkan dirinya telah mengenal ulama kharismatik tersebut sejak masih berusia muda karena berteman akrab dengan mendiang ayahnya, Haji Kalla.
<?php echo do_shortcode(“[post-marguee]”); ?>
Menurut JK, ayahnya dan KH Ali Yafie selalu bersama dalam kepengurusan masjid dan Nahdatul Ulama (NU) Sulawesi Selatan.
“Mereka sama sama mengurus masjid dan NU. Jadi sangat dekat sekali bapak saya dengan almarhum. Bapak saya selalu mendampingi” ungkap JK.
JK mengenang sosok almarhum KH Ali Yafie sebagai sosok yang lemah lembut dan tawadhu, sehingga dapat dijadikan panutan bagi masyarakat.
“Beliau memang ulama yang betul-betul mendalam, tenang dan juga tawadhu. Beliau dapat dijadikan panutan terutaman dari sisi ilmunya. Sikapnya yang lembut dan caranya ia menghadapi muridnya dan masyarakt” ujar JK.
KH. Ali Yafie meninggal dunia pada hari sabtu 25 Februari 2023 jam 22.13 di RS Premier Bintaro, Tangerang Selatan Banten. KH Ali Yafie meninggal dunia pada usia 96 tahun setelah sempat dirawat selama beberapa saat. (#)
Khutbah Jum’at : Membangun Kehidupan Umat dengan Ibadah Sosial
Prof. Dr. Darussalam Syamsuddin, M.Ag
ALLAH senantiasa menggandengkan kata iman dan amal saleh, memberi isyarat bahwa iman dan amal saleh merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Manifestasi dari keimanan seseorang adalah gemar mengerjakan amal saleh.
Amal saleh adalah sesuatu yang dilandasi dengan iman yang benar. Bahkan amal saleh dapat dijadikan barometer keimanan seseorang. Jika seseorang beriman pastilah gemar melakukan amal saleh, jika tidak beramal saleh tentu tidaklah beriman yang benar.

Setiap agama memiliki ajaran yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan alam. Hubungan dalam bentuk ibadah ritual inilah yang disebut ibadah mahdhah, sedang selainnya disebut dengan ghairu mahdhah.
Untuk membedakan mana ibadah ritual dan mana ibadah sosial. Biasanya disebutkan bahwa ibadah ritual adalah ibadah yang dilakukan dalam bentuk upacara-upacara. Sedang ibadah sosial adalah selain dari yang dilaksanakan dalam bentuk formal seperti itu.
Memang agak sulit membedakan mana yang ritual dan mana yang sosial, karena hampir semua ibadah ritual dalam Islam mengandung aspek sosial.
Misalnya salat kenapa diakhiri dengan salam ke kanan dan ke kiri, puasa kenapa diakhiri dengan zakat, haji kenapa diakhiri dengan qurban. Semuanya dimaksudkan bahwa ibadah ritual yang dilaksanakan mengandung aspek sosial dan dimaksudkan membawa manfaat sosial.
Alquran dengan tegas menyatakan bahwa pendusta-pendusta agama adalah mereka yang tidak peduli terhadap kehidupan sosial. Misalnya dalam QS. Al-Ma’un/107 : 1-7. Demikian pula pesan Nabi:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya”.
Dari dua acuan (Alquran dan Hadis nabi) tersebut dapat memberi inspirasi kepada manusia bahwa untuk membangun kehidupan umat melalui ibadah sosial dengan melaksanakan ajaran agama tidak hanya yang berkaitan dengan ibadah ritual melainkan berujung dengan kesalehan sosial.
Ibadah ritual misalnya berzikir itu bagus bahkan Alquran memerintahkan bahwa zikr itu memang harus banyak (zikran katsira), tapi memberi bea-siswa kepada anak yang cerdas namun tidak mampu secara ekonomi, memberi honor kepada guru mengaji, memberi tip kepada cleaning service, jauh lebih utama dari pada zikir semalam suntuk.
Karena zikir itu hanya untuk diri kita, sedang memberi bea-siswa, memberi honor kepada guru mengaji, memberi tip kepada petugas kebersihan untuk dirinya dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Semakin banyak orang yang mengambil manfaat dari kebajikan yang kita kerjakan semakin tinggi kualitas amal saleh itu.
Karena itu jangan pernah berpikir untuk masuk surga sendiri, berpikirlah untuk masuk surga bersama-sama. Bagaimana caranya? Mereka yang diberi rezki beramal saleh dengan rezkinya, mereka yang diberi ilmu beramal saleh dengan ilmunya, mereka yang diberi tenaga beramal saleh dengan tenaganya.
Ada yang mengatakan rezki sudah terbatas, ilmu juga terbatas, tenaga apa lagi. Allah masih memberikan kesempatan kepada kita. Dari rumah kita menuju ke masjid ini insya Allah amal saleh, dari ruang kerja kita menuju ke masjid ini insya Allah amal saleh, lewat di jalan mampir di masjid ini insya Allah amal saleh. Islam mengajarkan bahwa apa pun yang kita kerjakan kalau dilandasi dengan dua hal maka akan berujung menjadi amal saleh.
Kedua hal itu adalah : ikhlas dan tidak bertentangan dengan syariat Islam, maka apa saja yang kita kerjakan akan menjadi amal saleh.
Amal saleh tidak terbatas jumlahnya, tidak terhitung jenisnya, berbeda dengan ibadah ritual dapat dihitung jari: salat, puasa, zakat, haji, kurban, aqiqah, zikir, doa.
Sedangkan amal saleh tidak terhitung jenis dan macamnya. Seperti ungkapan : “kalau tidak bisa memuji, jangan mencaci”, kalau tidak bisa menjaga ketertiban, jangan buat keributan, kalau tidak bisa membersihkan, jangan mengotori”.
Artinya dengan tidak melakukan keburukan yang kecil, kita sudah bisa bermanfaat sangat besar bagi yang lain. Apalagi jika kita senantiasa termotivasi dan melakukan kerja-kerja yang membawa manfaat kepada sesama. (*).











