MASJIDALMARKAZ.OR.ID, Makassar – Sarasehan dalam rangka Peringatan Haul ke-19 Jend M Jusuf yang berlangsung di Masjid Al-Markaz Al-Islami, Jumat 8 September 2023, disambut antusias warga. Ratusan warga dan jamaah langsung memenuhi ruangan aula Al-Markaz, usai melaksanakan salat Jumat.
Kegiatan sarasehan tersebut menghadirkan sejumlah tokoh nasional sebagai narasumber. Wakil Presiden Ri 10 dan 12, Dr (HC) HM Jusuf Kalla, dan Letjen (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin, menyampaikan video testimoni dari Jakarta. Sambutan diawali Ketua YIC Al-Markaz Al-Islami Prof Dr H Basri Hasanuddin, kemudian pihak keluarga Jend. M. Jusuf, Ir H Andi Herry Iskandar.
Sedangkan Pj Gubernur Sulsel, Dr. Bahtiar Baharuddin, yang dijadwalkan hadir, diwakilkan kepada Asisten II Pemprov Sulsel. Terlihat berderet tokoh-tokoh Sulsel turut hadir, antara lain mantan Wakil Gubernur Susel Agus Arifin Nu’mang, dan sejumah tokoh masyarakat lainnya.
Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen TNI Dr Totok Imam Santoso, hadir langsung menyampaikan sambutan serta membuka sarasehan secara resmi. Para pembicara lainnya yakni mantan Menkum HAM Prof Hamid Awaludin Ph.D, Ketua ICMI Sulsel Prof Dr H Arismunandar, Pengasuh Ponpes Matahari Prof Dr HM Qasim Mathar.
Sarasehan mengusung tema Jejak Ketokohan Jend M Jusuf untuk Generasi Bangsa. Moderator sarasehan dipandu anggota Komisi Informasi Sulsel, Andi Mangara.
Dalam sambutannya, Pangdam Totok menyampaikan rasa hormatnya terhadap pencapaian-pencapaian yang telah diraih oleh Jend M Jusuf khususnya dalam dunia militer. “Beliau sangat mencerminkan seorang TNI yang lahir dari rakyat dan untuk rakyat”ucapnya.
Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa sosok Jend M Jusuf sangat menunjukkan integritasnya sebagai seorang prajurit sejati. Menurut Totok, Jend Jsuuf tidak pernah memamerkan kemewahannya. Padahal kalau dilihat dari segi jabatan, sudah begitu hebatnya namun tetap sederhana dan tidak ada kata sombong. Di dalam benak Jend. M. Jusuf hanya ada NKRI.
Ia pun berharap agar sikap-sikap serta nilai-nilai juang Jend M Jusuf dapat menjadi contoh juga teladan bagi siapapun.
“Mulai dari sini mulai dari Masjid Al-Markaz Jend M, Jusuf untuk Indonesia dan untuk dunia, kita contoh segala yang baik dari beliau dan itu menjadi tugas kita masing-masing,” tandas Totok.
Oleh : Dr. H. Firdaus Muhammad, MA (Pembina Pesantren An-Nahdlah dan Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar)
Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah
PANCASILA bagi Masyarakat Indonesia merupakan dasar negara, ideologi dalam konteks bernegara. Pembangunan bangsa senantiasa selaras dengan nilai-nilai Pancasila. Pancasila sebagai jati diri bangsa yang membedakan dengan negara lain. Pendiri bangsa ini sangat bijak dalam merancang bangunan bangsa sebagai kalimatun sawa, perekat anak bangsa yang memiliki latar budaya yang berbeda-beda tetap menyatu sebagai bangsa Indonesia.
Pancasila sebagai kalimatun sawa dimaknai, titik temu seluruh keberagaman di Indonesia menjadi satu menuju kejayaan bangsa dan negeri. Menjaga Pancasila adalah dalam rangka membangun peradaban. Pancasila sebagai kalimatun sawa’ (common platform) yang menyatukan keragaman etnis, ras, budaya dan agama. Meskipun pada awal Indonesia merdeka terjadi perdebatan panjang tentang ideologi negara, namun founding fathers menemukan titik temu pada sebuah terminologi bernama Pancasila.
Pancasila selaras dengan ajaran Islam. Tidak ada hal yang bertentangan. Jika ada yang mempertentangkan antara Pancasila dan Islam, maka dipastikan salah dalam memahaminya dalam konteks ideologi bangsa yang dibenturkan dengan ajaran Islam. Para ulama dan cendekiawan muslim meletakkan Pancasila sebagai kalimatun sawa, menjadi titik temu yang menyatukan pelbagai keragaman dan perbedaan. Bhinneka Tunggal Ika seperti dicita-citakan para pendiri bangsa.
Istilah “kalimatun sawa” bagi umat Islam, merupakan istilah baku yang secara tegas disebutkan Al-Quran. Yakni, dalam surat Ali Imran ayat 64. Allah berfirman:
Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah.
Syekh Nawawi al-Bantani, dalam tafsirnya, menjelaskan bahwa konteks ayat itu diturunkan kepada kaum Nasrani Najran dan Yahudi Madinah yang menolak ajakan Rasulullah Saw memeluk Islam. Mereka terus berdalih dengan menyampaikan segala dalil, juga tak mau membayar jizyah atau pajak, mereka membangkang. Maka Rasulullah sebagai kepala negara menangani perselisihan itu untuk mencari jalan keluarnya. Maka turunlah perintah Allah agar meninggalkan perdebatan dan mencari titik temu sebagai jalan tengah. Titik temu inilah yang kemudian disebut kalimatun sawa atau atau kesepakatan bersama.
Artinya, Pancasila merupakan kesepakatan bersama seluruh komponen bangsa. Dengan latar belakang agama, suku, dan budaya yang berbeda, kesepakatan itu dibangun oleh para pendiri bangsa demi keutuhan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pandangan-pandangan yang demikian menjadi spirit membangun bangsa.
Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah
Di kalangan umat Islam, pada dekade 1980-an, mengalami dilema ideologis ketika pemerintahan Orde Baru dibawah kendali Presiden Suharto memberlakukan kebijakan penerapan asas tunggal bagi seluruh ormas dan partai politik. Pancasila harus menjadi satu-satunya ideologi. Tak ada pilihan lain, Pancasila sebagai azas Tunggal.
Konstitusi itu telah ditetapkan melalui UU Nomor 8 Tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Nahdlatul Ulama (NU) justru telah terlebih dahulu menerima Pancasila sebagai asas sebelum UU itu diterapkan. Keputusan fundamental tersebut ditetapkan pada Muktamar NU di Situbondo (1984), setelah tahun sebelumnya melalui Munas Alim Ulama di tempat yang sama dirumuskan Deklarasi Hubungan Pancasila dan Islam. Muhammadiyah pada tahun 1986 juga menerima Pancasila sebagai ideologi negara.
Ketetapan dua ormas terbesar itu menjadi tonggak penting dalam kerangka mengokohkan Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara. Juga demi keutuhan bangsa. Bagi NU, negara berdasarkan Pancasila merupakan perwujudan dari Mu’hadah Wathniyah (perjanjian kebangsaan). Muhammadiyah menyebutnya sebagai Drul ‘Ahdi was-Syahdah yaitu negara perjanjian dan kesaksian.
Kepeloporan NU dan Muhammadiyah itu menjadi contoh terbaik, menempatkan Pancasila sejalan prinsip dan landasan keagamaan. Tentunya keteladanan NU dan Muhammadiyah di dalam mengokohkan Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara, keduanya merupakan ormas besar yang sangat berpengaruh, sejatinya diteladani ormas-ormas lainnya. NU dan Muhammadiyah membentangkan hubungan antara agama dan negara yang harus saling menopang (komplementer).
Kontribusi besar di balik keputusan fundamental NU misalnya, melahirkan perubahan mendasar pun dilakukan, khususnya berkaitan dengan orientasi politik kebangsaan dan komitmen kerakyatan.
Dalam konteks pembangunan bangsa ke depan, Pancasila senantiasa menjadi dasar dalam bernegara selaras dengan masyarakatnya yang relegius sehingga terwujud baldatun warabbun ghafur.
Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah
Negara ini dapat diibaratkan perahu besar yang dipenuhi penumpang. Maka keselamatan penumpang merupakan tanggung jawab Bersama, jika ada penumpang yang makar, selalu berniat membocorkan perahu, maka dia merupakan ancaman. Mengancam keselamatan seluruh penumpang. Demikianhalnya, negara yang besar ini hadir warganya yang antipancasila, maka keutuhan NKRI terancam, Pancasila sebagai kalimatun sawa tidak berarti lagi.
Sesungguhnya posisi Pancasila sebagai dasar negara sudah final, namun sejak Reformasi bergulir kembali dipertentangkan posisi Pancasila dan konteks relasi agama dan negara. Saat yang sama, Pendidikan terkait Pancasila sebagai ideologi makin tergerus, termasuk di Lembaga Pendidikan.
Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah
Ancaman ke depan jika generasi muda yang terpelajar tidak memiliki jiwa pancasilais akibat minimnya literasi kebangsaan, terutama Pancasila. Saat bersamaan, akses informasi yang demikian terbuka memberi peluang mereka mengadopsi ideologi-ideologi kiri atau ideologi kanan dari negara-negara tertentu yang tidak selaras dengan ideologi Pancasila. Tentu ini ancaman yang meniscayakan kita semua turut berperan.
Selain generasi muda, para elite politikpun tidak sepenuhnya digaransi sebagai tokoh yang Pancasilais. Tampak dari cara mereka memutuskan kebijakan dengan segenap kewenangan yang dimiliki tapi sera substasi tidak mencerminkan jiwa Pancasilais. Seorang koruptor jelas
MASJIDALMARKAZ.OR.OD, Makassar – Pengurus Yayasan Islamic Center (YIC) Al-Markaz Al-Islami Makassar melakukan ziarah bersama ke makam almarhum Jenderal M Jusuf di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Islam Panaikang Makassar, Kamis 8 September pagi.
Ziarah makam tersebut merupakan rangkaian kegiatan peringatan Haul ke-19 Jenderal M Jusuf, yang dikenal sebagai jenderalnya para prajurit. Tak hanya diikuti para pengurus yayasan, ziarah makam juga hadir keluarga dari almarhum
Ziarah makam Jenderal M. Jusuf dipimpin langsun Ketua Umum YIC Al-Markaz Al-Islami Prof. Dr.Basri Hasanuddin MA. Hadiri lengkap pengurus inti yakni Sekretaris Umum Ir. H. Nadjamuddin Madjid, S.IP dan Bendahara Umum Arman Arfah, SE.
Doa dipimpin Imam Besar Masjid Al-Markaz Al-Islami, Prof. Dr. KH. Muammar Bakry, Lc, M.Ag, yang juga adalah Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan
Dalam sambutannya di sisi makam Jend. M. Jusuf, Prof Dr. H. Basri Hasanuddin mengatakan, haul ke-19 Jenderal M Jusuf sebagai momentum untuk mengenang dan mendoakan jenderal pendiri Masjid Al-Markaz Al-Islami tersebut bersama mendiang istrinya Elly Jusuf, dan putra tunggalnya Muhammad Jaury Thaufiek Jusuf.
” Pagi hari ini tepat 19 tahun yang lalu beliau yang kita hormati ini wafat. Begitu banyak legasi yang beliau tinggalkan. Sehingga pada hari ini, kita hadir, kita doakan semoga arwah almarhum dan almarhumah mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah, ” kata Basri Hasanuddin.
Ia mengatakan, sudah sepantasnya para generasi muda, memberikan penghormatan dan penghargaan yang setinggi-tingginya untuk jenderal mantan Menhankan dan Panglima ABRI tersebut, atas segala perjuangan dan pengorbanan yang ia kerahkan selama hidupnya.
Rangkaian Peringatan Haul ke-19 Jenderal M Jusuf sendiri akan diadakan beberapa agenda kegiatan. Selain ziarah makam, juga pada Jumat siang pukul 13.00 WITA akan dilangsungkan sarasehan bertema Jejak Ketokohan Jenderal M Jusuf untuk Generasi Bangsa. Pembicara yang akan dihadirkan adalah Wakil Presiden 10 dan 12 RI, Dr (HC) HM Jusuf Kalla sebagai keynote speaker.
Pembicara lainnya yakni Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen TNI Totok Imam Santoso, Letjen (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin, Prof Dr H Arismunandar M Pd, dan Prof Dr Qashim Mathar.
Pada malam hari usai Salat Magrib, juga akan digelar zikir dan doa bersama jamaah Masjid Al-Markaz Al-Islami. (*)
MASJIDALMARKAZ.OR.ID, Makassar – Yayasan Islamic Center Al-Markaz Al-Islami akan menggelar peringatan haul ke-19 Jenderal M. Jusuf, Jumat 8 September 2023. Jenderal M. Jusuf adalah Pendiri Masjid Al-Markaz Al-Islami, salah satu masjid termegah di Asia Tenggara.
Jenderal M. Jusuf wafat pada 8 September 2004 dalam usia 76 tahun. Selama hidupnya, M. Jusuf pernah berkarir di pemerintahan dengan berbagai jabatan antaa lain sebagai Menhankam/ Pangab, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan, dan Menteri Perindustrian.
Koordinator Kegiatan Haul ke-19 Jend. M. Jusuf, Pahir Halim, menegaskan bahwa M Jusuf adalah salah satu sosok ideal sesuai filosofis Makassar “macca dan nawarani, malempu namagetteng“, artinya pintar dan pemberani serta jujur dan konsisten.
“Salah satu tujuan dari kehiatan haul Jend M Jusul ialah adanya wawasan, gagasan, integritas bisa diwariskan kepada generasi muda,: tandas Pahir Halim.
Pelaksanaan haul Jend. M. Jusuf akan berlangsung Jumat 8 September 2023, dari pagi hingga malam hari. Adapun rangkain haul tersebut adalah :
Pukul 08.00 WITA ziarah ke Makam Alm. Jend. M..Jusuf di Taman Pemakaman Umum (TPU) Islam Panaikang.
Pukul 13.00 WITA, Sarasehan ” Jejak Ketokohan Jend.M. Jusuf untuk Generasi Bangsa di Aula Masjid Al Markaz Al Islami Jend.M. Jusuf.
Pukul 18.30 WITA, Zikir dan Doa bertempat di Lantai 2 Masjid Al Markaz Al Islami Jend.M. Jusuf (didahului Shalat Magrib berjamaah).
Khusus acara sarasehan digelar secara hybrid (memadukan kegiatan luring dan daring), yang menghadirkan para pembicara nasional. Mantan Wakil Presiden Ri ke-10 dan 12 dijadwalkan menjadi keynote speaker dalam acara sarasehan. Adapun pembicara lainnya yakni :
Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen TNI Totok Imam Santoso
Prof. Dr. Taslim Arifin, MA
Prof. Dr. HM. Qasim Mathar, MA
Prof. Dr. H. Arismunandar, M.Pd.
Jenderal TNI (Purn.) Sjafrie Sjamsoeddin
Khusus acara sarasehan digelar secara hybrid (memadukan kegiatan luring dan daring), yang menghadirkan para pembicara nasional. Mantan Wakil Presiden Ri ke-10 dan 12 dijadwalkan menjadi keynote speaker dalam acara sarasehan. Adapun pembicara lainnya yakni :
Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen TNI Totok Imam Santoso
Prof. Dr. Taslim Arifin, MA
Prof. Dr. HM. Qasim Mathar, MA
Prof. Dr. H. Arismunandar, M.Pd.
Jenderal TNI (Purn.) Sjafrie Sjamsoeddin
Seluruh rangkaian peringatan Haul Jend. M. Jusuf terbuka dan diharapkan dapat diikuti oleh masyarakat umum. Sehingga diharapkan adanya transfer nilai-nilai ketokohan dan wawasan, gagasan, integritas Jend. M. Jusuf yang bisa diteladani generasi muda. (*)
MASJIDALMARKAZ.OR.ID, Makassar – Innalillahi wa innaa Ilaihi rajiun. Sulawesi Selatan berduka. Salah seorang putra terbaiknya, HM Amin Syam, berpulang ke Rahmatullah, Jumat malam 1 September 2023.
Sebelum diberangkatkan ke tempat peristirahatan terakhirnya di di Taman Makam Pahlawan (TMP) Panaikang, Kota Makassar, jenazah Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Sulawesi Selatan itu disalatkan di Masjid Al-Markaz Al-Islami Jenderal M. Jusuf.
Tampak seribuan pelayat mengantar dan menyalatkan suami Apiaty Kamaluddin itu. Salat jenazah dilakukan usai pelaksanaan salat Ashar, Sabtu 2 September 2023 dipimpin Imam Masjid Al-Markaz, Ust Musryiidin Hamid. Puluhan pejabat terlihat dalam rombongan pelayat. Mereka antara lain Wakil Presiden RI ke 10 dan 12 HM Jusuf Kalla, Ketua Yayasan Islamic Center Prof Dr Basri Hasanuddin, Bupati Bupati Andi Fashar Padjalangi, mantan Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin dan mantan Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen (Purn) Andi Muhammad serta sejumlah pejabat lainnya.
Setelah disalatkan jenazah Amin Syam langsung dibawa ke tempat pemakamannya. Ketua DMI Pusat, HM Jusuf Kalla, melepas jenazah untuk dibawa ke pemakaman. Dalam sambutannya, JK– begitu sapaannya menyampaikan bahwa pengabdian almarhum Amin Syam sangat panjang dan penting.
“Almarhum mengakhiri amal ibadahnya dengan mengirus masjid (sebagai Ketua DMI Sulsel). Itulah amalan yang sangat baik. Almarhum walaupun dalam keadaan kesehatan yang kurang baik tetap memberikan perhatiannya kepada kemajuan masjid,: kata JK
JK menilai, jejak karir almarhum Amin SYam di pemerintahan telah memberikan cntoh yang baik. Begitupun halnya selama menjadi TNI dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal juga memberikan contoh yang baik. Jk juga mengharapkan kepada seluruh keluarga, agar mendoakan almarhum dan diberi kekuatan.
Amin Syam adalah purnawirawan jenderal militer bintang dua yang cemerlang menapaki karir politik dan pemerintahan. Ia adalah mantan Ketua Golkar Sulsel yang kemudian menjadi Ketua DPRD Sulsel (1999 – 2003). Kemudian menjadi Gubernur Sulsel periode 2003 – 2008.
Sebelum itu, ia juga pernah menjadi Bupati Enrekang (1988 – 1993). Amin Syam memang lahir di Enrekang 12 Desember 1945. Politikus senior itu meninggal dunia pada usia 77 tahun pada 1 September 2023. Perkawinannya dengan Apiaty Kamaluddin dikaruniai tiga putra dan putri yakni Irma Awalia, Imran Tenritatta dan Sri Angela Mulian.
Hingga akhir hayatnya, Amin Syam mengabdikan dirinya sebagai Ketua DMI SUlsel. Bahkan jabatan tersebut diembannya sudah tiga periode yaitu sejak tahun 2011.
Selamat jalan Pak Amin Syam! Semoga Allah SWT segenap pengabdian dan amal ibadahmu diterima. (*)
MASJIDALMARKAZ.OR.ID, Makassar – Ribuan jamaah hadir memenuhi lantai 2 Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M. Jusuf Makassar, Ahad 27 Agustus 2023. Mereka datang untuk mengikuti pengajian akbar yang digelar dalam rangkaian Festival Al-Markaz 2023.
Pengajian akbar tersebut diselenggarakan masih dalam suasana semarak kemerdekaan bekerjasama dengan Pemerintah Kota Makassar. Tema yang diusung adalah “Pemuda Inspirasi Membangun Negeri” dan “Dari Masjid Anak Muda Bangun Peradaban Maju”.
Pembicara yang dihadirkan dalam kegiatan tersebut yakni Ketua Takmir Masjid Raya Al Falah Sragen Ki Kusnadi Ikhwani, Dai Koh Dennis Lim, Marbot Real Masjid Ust. Rifqi Agung TP dan aktivis sosial dr. Udhin Shaputra M. Acara berlangsung full day (seharian penuh). Acara dibuka Asisten I Pemkot Makassar H. Andi Muh. Yasir, M.Si mewakili Walikota Makassar.
Ketua Yayasan Islamic Center (YIC) Al-Markaz Al-Islami, Prof. Dr. Basri Hasanuddin, MA, saat menyampaikan sambutannya menyatakan sangat mengapresiasi kegiatan pengajian akbar tersebut. Menurutnya, masjid memang seharusnya dijadikan sebagai pusat peradaban umat Islam untuk mencapai kemaslahatannya. Masjid harus dimakmurkan dan masjid hendaknya pula memakmurkan masjid.
Prof Basri menyerukan kepada jamaah untuk kembali kepada Al-Qur’an sebagai sumber dari pada sumber ilmu. Al-quran, katanya, bukan saja hanya dibaca melainkan harus digali makna yang dikandungnya, baik yang tersurat maupun yang tersurat.
“Alam seperti tidak lagi bersahabat. Misalnya, banyak sekali kebakaran di dunia saat ini dan tidak bisa dipadamkan. Itu tanda-tanda apa? Umat manusia perlu introspeksi. Kembalilah ke Al-quran karena Al-qur’an adalah petunjuk,” tandas mantan Menko Kesra itu.
Sementara itu, Asisten I Pemkot Makassar H. Andi Muh. Yasir, usai membacakan sambutan Walikota Makassar, mengatakan berbagai tanda-tanda alam yang terjadi memang patut menjadi renungan. Ia menceritakan baru-baru ini, bencana alam yang terjadi baik Amerika maupun Tanah Arab sendiri.
Namun, kata Yasir, tidak hanya di luar negeri bencana melanda. Di sekitar kita juga banyak sekali kejadian-kejadian yang perlu diwaspadai seperti fenomena LGBT di Sulsel jumhanya sudah mencapai ribuan.
“Di Sulsel fenomena LGBT jumhanya sudah ribuan. Ketika malam, ada ancaman balapan liar, narkotika perkelahian kelompok. Kita sangat miris sebab itu semua mayoritas ber-KTP Islam,” kata dia.
Oleh karena itu, Yasir mewanti-wanti setiap rumah tangga untuk memperhatikan keluarganya. Ia minta, ada perhatian serius terhadap siapa-siapa teman-teman anak kita. Sebab rumusnya kalau tidak satu frekuensi tidak mungkin bersama. “Jagai anakta. Rumah tangga adalah madrasah yang pertama,” harap Yasir.
Dalam rangkaian acara tersebut, juga digelar pemberian hadiah-hadiah pemenang lomba dalam rangka Semarak Hari Kemerdekaan 17 Agustus yang ke-78 yang digelar di Masjid Al-Markaz Al_islami. Penyerahan hadiah dipimpin langsung Sekretaris Umum YIC Al-Markaz, Ir. Nadjamuddin Madjid, S.IP.
Hadiah-hadiah yang diserahkan masing-masing 3 pemenang untuk kategori lomba memasak nasi goreng, lomba tarik tambang dan lomba sepakbola jalanan (street football). (*)
MASJIDALMARKAZ.OR.ID, Makassar – Senandung zikir mengagungkan asma Allah mengalun syahdu di Lantai 2 Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu malam (19/7/2023). Kegiatan tersebut dilakukan untuk menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1 Muharram 1445 H.
Para pengurus Yayasan Islamic Center (YIC) Al-Markaz Al-Islami bersamaah jamaah tampak larut dalam zikir membesarkan nama Allah serta memohon ampunan dan kebaikan dalam memasuki tahun baru.
Tidak hanya jamaah laki-laki, jamaah perempuan juga antusias mengikuti zikir dan doa tahun baru itu. Tak ketinggalan para santri Pesantren Al-Markaz hadir dan berzikir Bersama. Terlihat beberapa jamaah menitikkan air mata, saat membaca doa istigfar.
Ketua Umum YIC Al-Markaz Al-Islami, Prof. Dr. Basri Hasanuddin, MA, yang mengantar pelaksanaan zikir dan doa, mengajak para jamaah untuk bertekad lebih baik di tahun baru. “Harus ada perbaikan yang signifikan di semua aspek kehidupan pada tahun baru 1445 Hijriyah ini,” tandasnya.
Menurut Prof Basri, perputaran waktu berlangsung demikian cepat. Tidak terasa, tahun hiriyah sudah berganti menjadi 1445. Oleh karenanya, ia meminta perjalanan waktu itu yang singkat tersebut, hendaknya diisi dengan amalan yang sebaik-baiknya.
Zikir menyambut 1 Muharram 1445 Hiriyah itu dipimpin Imam Masjid Al-Markaz Al-Islami, H. Mursidin Hamid. Sedang doa bersama dipimpin Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel Prof Dr KH Muhammad Ghalib MA, yang juga menjabat sebagai Ketua Pascasarjana UIN Alauddin Makassar. (*)
MASJIDALMARKAZ.OR.ID, Makassar – Sekitar seribu orang mengikuti jalan santai yang digelar Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf, untuk menyambut Tahun Baru Hijriah 1 Muharram 1445, Rabu (19/07/23). Peserta jalan santai berasal dari berbagai lapisan masyararakat, mulai anak-anak sampai dewasa.
Ketua Panitia Jalan Santai Semarak Taun Baru Islam, Sitti Multazam, menyampaikan bahwa sengaja melibatkan anak-anak mulai dari Taman Kanak-kanak (TK) dan Taman Pendidikan AL-Quran (TPA) hingga sejumlah siswa dari sekolah menengah pertama dan atas, untuk memperkenalkan kepada mereka bahwa umat Islam memiliki tahun baru.
“Tahun baru Islam ini harus dijadikan sebagai momentum untuk melakukan hijrah, perbaikan dari tahun-tahun sebelumnya,” katanya.
Pelaksanaan jalan santai semarak Tahun Baru Islam itu disambut antusias warga Makassar. Para peserta tampak mulai berdatangan sejak pukul 06.00 WITA. Mereka berkumpul di halaman timur Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf.
Selain para pengurus dan karyawan Masjid Al-Markaz, para peserta berasal dari beberapa elemen masyarakat lainnya, di antaranya yakni PD.Perwati Provinsi Sulawesi Selatanl, utusan dari kelurahan-keluarahan se-Kecamatan Bontoala, murid-murid TK se-Kota Makassar, dan juag siswa Madrasah Aliyah Al-Fakhriyah Makassar.
Peserta jalan santai dilepas sekitar pukul 07.00 wita oleh Anggota Badan Pengawas Yayasan Islamic Center Al-Markaz Al-Islami, Prof. Dr. Rahman Getteng. Rute yang dilalui mulai dari halaman Masjid Al-Markaz lalu ke Jalan Masjid Raya, berbelok menyusuri Jalan G.Bawakaraeng, Jalan Veteran Utara lalu kembali lagi di Jalan Masjid Raya dan berakhir di halaman timur Masjid Al Markaz.
“Sebenarnya kegiatan ini juga untuk menjalin silaturahmi dan pentingnya kita mengenalkan kepada masyarakat dan anak anak bahwa ada Tahun Baru Islam. Jadi ini juga merupakan bentuk syiar Islam,” kata Multazam.
Jalan santai Masjid Al-Markaz Al-Islami berakhir dengan lancar. Di lokasi finish, panitia juga menyediakan berbagai doorprize dengan ragam hadiah menarik yang dibagikan kepada para peserta. (*)
Ketua YIC Al-Markaz Al-Islami, Prof.Dr.H.Basri Hasanuddin, MA, menyerahkan Al-Quran kepada Bernadus (kiri)
MASJIDALMARKAZ.OR.ID, Makassar – Hidayah Allah tidak datang sendiri, tetapi harus dijemput. Itulah yang dialami seorang pastor yang kemudian menyatakan memeluk Islam.
Di depan ribuan jamaah salat Jumat, Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf, Bernadus Payong Olla (51), berdiri mantap. Dituntun Imam Dr. KH. Maskur Yusuf, M.Ag, ia berikrar menyatakan menjadi seorang Muslim.
Ketua Umum Yayasan Islamic Center, Prof. Dr. H. Basri Hasanuddin, MA kemudian tampil menyelamatinya dan menyerahkan kitab suci Al-Qur’an dan Buku Tuntunan Salat. Pada buku register Masjid Al-Markaz, Bernadus tercatat sebagai muallaf ke-4.590.
Setelah memeluk Islam, nama Bernadus yang selama 21 tahun menjadi pastor, kemudian berganti menjadi Muhammad Iqbal. Pria kelahiran Kupang 31 Desember 1972 itu, tak seperti muallaf kebanyakan yang baru belajar Islam dan membaca Al-Quran.
Ia sudah pandai membaca Al-Quran. Bahkan, banyak ayat-ayat Al-Quran yang sudah dihafalnya. Kisah Iqbal dalam menemukan hidayah cukup panjang. Tak kurang 13 tahun, ia mempelajari Al-Quran, lantas dibandingkan dengan keyakinannya selama ini.
Muhammad Iqbal (kiri, pakai songkok putih), sebelumnya bernama Bernadus Payong Olla, saat berikrar menjadi Muslim bersama 3 muallaf lainnya, dipimpin Imam Dr. KH. Maskur Yusuf, di Masjid Al-Markaz Al-Islami, baru-baru ini
Iqbal lantas mengutip Injil bahwa itu bermuara pada Al-Quran. “Injil berkata, Yohannes 17 ayat 3, engkaulah satu-satunya hidup yang kekal. Dan mereka tahu engkaulah tempat mereka menyembah. Dan Yesus adalah yang kau utus,.” paparnya.
Iqbal mengatakan, menemukan dalam Al-Quran, bahwa seseorang yang diutus tidak mungkin menyembah dirinya.
Bahkan Iqbal membacakan ayat tersebut yaitu Surah Ali Imran ayat 79, yang artinya
Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, “Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah,” tetapi (dia berkata), “Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya!”
Itulah yang membuatnya mantap memeluk Islam. Usai pelaksanaan salat Jumat, para jamaah kemudian memberi selamat dan menyatakan bahwa di antara sesame muslim itu bersaudara. (*)
Dr. Muhammad Sabiq(Sosiolog Universitas Hasanuddin)
Masyarakat muslim saat ini masih banyak yang tengah mengalami krisis multidimensi. Banyak faktor yang menyebabkan, diantaranya adalah mentalitas dan karakter pribadi yang kurang mementingkan hubungan transendentalnya dengan Tuhan, sehingga perilaku buruk merajalela dan seakan-akan sudah menjadi budaya yang sulit untuk dihilangkan. Buruknya hubungan dengan Tuhan juga berimplikasi pada ketidak salehan sosial, yaitu memunculkan penyimpangan-penyimpangan sosial. Allah Swt. berfirman:
“Janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah sehingga Dia menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.”
Kondisi demikian tidak terlepas dari pengaruh globalisasi yang semakin menggurita, menggerus kearifan lokal bangsa Indonesia. Globalisasi ini ditandai dengan terjadinya ledakan informasi di berbagai penjuru dunia. Perkembangan ini telah mendorong umat manusia untuk selalu bersiap diri dengan berbagai kemungkinan yang diakibatkan kuatnya gelombang informasi tersebut. Proses informasi yang cepat semakin membuat horizon kehidupan di dunia semakin meluas dan sekaligus dunia ini semakin mengerut. Hal ini berarti berbagai permasalahan kehidupan manusia menjadi masalah global atau setidak-tidaknya tidak dapat dilepaskan dari pengaruh kejadian di belahan bumi yang lain, baik masalah politik, ekonomi, maupun sosial.
Globalisasi menjadikan kebudayaan Barat sebagai trend kebudayaan dunia. Kebudayaan Barat yang didominasi budaya Amerika yang sarat dengan konsumerisme, hedonisme dan materialisme menjadi kebudayaan global dan kiblat bagi kebudayaan-kebudayaan di negara-negara berkembang. Budaya global ini melanda dunia ditandai dengan hegemonisasi gaya hidup (life style). Padahal tersebut adalah sesuatu yang dilarang dalam agama ini karena hal tersebut termasuk dalam kategori tabzir, sebagaimana Firman Allah Swt.:
“Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”
Bersamaan dengan itu, era modern telah melahirkan banyak kreasi berbagai fasilitas untuk mempermudah memenuhi kebutuhan manusia. Fasilitas dan peralatan yang canggih hasil kreasi manusia itu mengalirkan nilai-nilai baru dari luar, yaitu peredaran dan pertukaran kebudayaan. Firman Allah Swt.:
… Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).” Sungguh, jika engkau mengikuti hawa nafsu mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak ada bagimu pelindung dan penolong dari (azab) Allah.
Derasnya globalisasi ini sangat dikhawatirkan dapat mengakibatkan terkikisnya kecintaan generasi muda pada bangsa dan negara yang kian hari kian memudar dan menjadikan mereka tidak lagi bangga dengan kearifan lokalnya. Oleh karena itu penguatan budaya Islam sangat penting diberikan kepada masyarakat untuk membangun local wisdom (kearifan lokal), karena budaya Islam di Indonesia sejadinya kearifan lokal itu sendiri. Karena nilai-nilai Islam telah terintegrasi sejak lama dengan kehidupan masyarakat setempat dan dipraktekkan serta diturunkan secara turun-temurun. Firman Allah Swt
Jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada yang ma’ruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh.
Dari ayat diatas makna urf dalam hal ini bermakna pada kewajiban menjadikan adat manusia sebagai sandaran, dan apa-apa yang menjadi kebiasaan dalam muamalat mereka, maka ini secara eksplisit melegitimasi penggunaan urf sebagai landasan. Kemudian Ibnu Faras dalam kitabnya ahkamul qur’an berkata: maksud dari firman Allah “wa’mur bil urf” yakni ma’ruf menurut sebagian banyak orang, yang tidak bertentangan dengan syara’.
Maka tak heran, jika globalisasi dianggap sebagai dewa penolong ketika kearifan lokal (local wisdom) tak mampu mengubah mindset dan horizon harapan bangsa ini. Sehingga ketika memasuki millenium kedua ini, bangsa kita masih saja pada posisi euphoria globalisasi. Dimana segalanya ingin diperoleh secara praktis dan instan, sehingga menafikan nilai kejujuran, amanah, kerjasama hingga hubungan sosial. Siapa lagi yang bisa menolong kita dari perangkap globalisasi? Kalau bukan agama dan kearifan lokal?
Suasana jamaah Shalat Jumat
Pendidikan Islam yang berakar pada budaya tidak meninggalkan akar-akar sejarah, baik sejarah kemanusiaan pada umumnya maupun sejarah kebudayaan suatu bangsa, kelompok etnis atau suatu masyarakat tertentu.
Konsep yang memperkuat relasi yang kuat antara agama dengan budaya bahkan tidak dapat dipisahkan yaitu, pola agama mentranformasikan pengetahuan dengan budaya bahasa yang dipergunakan oleh Nabi, misal: Ibrahim diutus tentu dakwa agama sesuai dengan bahasa Ibrahim saat itu yang kemungkinan kita tahu bahwa bahasa ibrani. Begitupula muhammad saw. bahasa yang dipergunakan adalah budaya bahasa arab maka al-Quran berbentuk bahasa Arab. Ini sesuai dengan ayat al-Quran:
Bahkan para kalangan ulama Ketika melihat teks al-Quran dan berupaya memahami dan mengimplementasikannya pada budaya tertentu, maka selama tidak bertentangan dengan agama maka hal itu boleh-boleh saja dipraktekkan.
Maka dari itu kearifan lokal yang berakar pada budaya Islam, diharapkan dapat membentuk manusia yang mempunyai kepribadian, harga diri, percaya diri dan membangun peradaban yang akan menjadi warisan monumental. Akan tetapi dalam hal ini bukan berarti kita menjadi orang-orang yang anti kemodernan, perubahan, reformasi dan menolak begitu saja arus transformasi budaya dari luar tanpa melakukan seleksi dan alasan yang kuat.
Karifan lokal dari budaya Islam berpotensi untuk membentuk karakter jati diri bangsa dalam penguatan kebangsaan dan nasionalisme. Mengingat bahwa budaya islam di Indonesia berangkat dari ikhtiar para pendahulu untuk mengejawantahkan nilai-nilai agama yang disesuaikan dengan karakter masyarakat Indonesia namun tidak melanggar syariat. Sehingga terbentuk sistem nilai, sistem ekspresi dan sistem produksi yang menjadi kearifan lokal dan tercermin dalam kebudayaan nasional.
Demikian juga halnya dengan daerah Sulawesi Selatan telah melahirkan kearifan lokal tentang tata nilai dan norma-norma yang terwujud dalam tingkah laku dan interaksi antar sesama manusia dan juga dengan alam lingkungannya berdasarkan nilai-nilai Islam. Melemahnya budaya Islam dan kearifan lokal berimplilasi pada meningkatnya kasus kriminalitas di masyarakat terutama, pencurian, begal, pembunuhan, pemerkosaan dan sebagainya. Kriminalitas bukan sebab, namun salah satunya disebabkan oleh lunturnya kearifan lokal yang selama ini menjaga masyarakat untuk hidup rukun dan damai. Budaya Islam yang terdapat dalam kearifan lokal seperti menjaga persaudaraan, hidup bermasyarakat dan tolong menolong sudah menjadi sesuatu yang sangat langka.
Sebagai kesimpulan, kearifan lokal yang terbangun dari budaya Islam dan begitupun kearifan lokal yang terbangun dari luar islam namun tidak bertentangan dengan syariat islam dapat diterima dan diaplikasikan oleh ummat islam sehingga dapat membentuk kehidupan masyarakat yang rukun dan damai. Dengan menguatnya kearifan lokal, akan dengan sendirinya dapat menyaring bahkan membendung penetrasi budaya luar yang berdampak buruk bagi bangsa.