Senin, Mei 25, 2026
Google search engine
Beranda blog Halaman 9

Setelah 13 Tahun Teliti Al-Quran, Pastor Ini Masuk Islam di Masjid Al-Markaz

0
Ketua YIC Al-Markaz Al-Islami, Prof.Dr.H.Basri Hasanuddin, MA, menyerahkan Al-Quran kepada Bernadus (kiri)

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, Makassar – Hidayah Allah tidak datang sendiri, tetapi harus dijemput. Itulah yang dialami seorang pastor yang kemudian menyatakan memeluk Islam.

Di depan ribuan jamaah salat Jumat, Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf, Bernadus Payong Olla (51), berdiri mantap. Dituntun Imam Dr. KH. Maskur Yusuf, M.Ag, ia berikrar menyatakan menjadi seorang Muslim.  

Ketua Umum Yayasan Islamic Center, Prof. Dr. H. Basri Hasanuddin, MA kemudian tampil menyelamatinya dan menyerahkan kitab suci Al-Qur’an dan Buku Tuntunan Salat. Pada buku register Masjid Al-Markaz, Bernadus tercatat sebagai muallaf ke-4.590.

Setelah memeluk Islam, nama Bernadus yang selama 21 tahun menjadi pastor, kemudian berganti menjadi Muhammad Iqbal. Pria kelahiran Kupang 31 Desember 1972 itu, tak seperti muallaf kebanyakan yang baru belajar Islam dan membaca Al-Quran.

Ia sudah pandai membaca Al-Quran. Bahkan, banyak ayat-ayat Al-Quran yang sudah dihafalnya. Kisah Iqbal dalam menemukan hidayah cukup panjang. Tak kurang 13 tahun, ia mempelajari Al-Quran, lantas dibandingkan dengan keyakinannya selama ini.

Muhammad Iqbal (kiri, pakai songkok putih), sebelumnya bernama Bernadus Payong Olla, saat berikrar menjadi Muslim bersama 3 muallaf lainnya, dipimpin Imam Dr. KH. Maskur Yusuf, di Masjid Al-Markaz Al-Islami, baru-baru ini

Iqbal lantas mengutip Injil bahwa itu bermuara pada Al-Quran. “Injil berkata, Yohannes 17 ayat 3, engkaulah satu-satunya hidup yang kekal. Dan mereka tahu engkaulah tempat mereka menyembah. Dan Yesus adalah yang kau utus,.” paparnya.

Iqbal mengatakan, menemukan dalam Al-Quran, bahwa seseorang yang diutus tidak mungkin menyembah dirinya.

Bahkan Iqbal membacakan ayat tersebut yaitu Surah Ali Imran ayat 79, yang artinya

Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, “Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah,” tetapi (dia berkata), “Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya!”

Itulah yang membuatnya mantap memeluk Islam. Usai pelaksanaan salat Jumat, para jamaah kemudian memberi selamat dan menyatakan bahwa di antara sesame muslim itu bersaudara. (*)

Penguatan Budaya Islam dalam Membangun Local Wisdom

0

Dr. Muhammad Sabiq (Sosiolog Universitas Hasanuddin)

Masyarakat muslim saat ini masih banyak yang tengah mengalami krisis multidimensi. Banyak faktor yang menyebabkan, diantaranya adalah mentalitas dan karakter pribadi yang kurang mementingkan hubungan transendentalnya dengan Tuhan, sehingga perilaku buruk merajalela dan seakan-akan sudah menjadi budaya yang sulit untuk dihilangkan. Buruknya hubungan dengan Tuhan juga berimplikasi pada ketidak salehan sosial, yaitu memunculkan penyimpangan-penyimpangan sosial. Allah Swt. berfirman:

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنْسٰىهُمْ اَنْفُسَهُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ

“Janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah sehingga Dia menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.”

Kondisi demikian tidak terlepas dari pengaruh globalisasi yang semakin menggurita, menggerus kearifan lokal bangsa Indonesia. Globalisasi ini ditandai dengan terjadinya ledakan informasi di berbagai penjuru dunia. Perkembangan ini telah mendorong umat manusia untuk selalu bersiap diri dengan berbagai kemungkinan yang diakibatkan kuatnya gelombang informasi tersebut. Proses informasi yang cepat semakin membuat horizon kehidupan di dunia semakin meluas dan sekaligus dunia ini semakin mengerut. Hal ini berarti berbagai permasalahan kehidupan manusia menjadi masalah global atau setidak-tidaknya tidak dapat dilepaskan dari pengaruh kejadian di belahan bumi yang lain, baik masalah politik, ekonomi, maupun sosial.

Globalisasi menjadikan kebudayaan Barat sebagai trend kebudayaan dunia. Kebudayaan Barat yang didominasi budaya Amerika yang sarat dengan konsumerisme, hedonisme dan materialisme menjadi kebudayaan global dan kiblat bagi kebudayaan-kebudayaan di negara-negara berkembang. Budaya global ini melanda dunia ditandai dengan hegemonisasi gaya hidup (life style). Padahal tersebut adalah sesuatu yang dilarang dalam agama ini karena hal tersebut termasuk dalam kategori tabzir, sebagaimana Firman Allah Swt.:

۞ يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ

“Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”

Bersamaan dengan itu, era modern telah melahirkan banyak kreasi berbagai fasilitas untuk mempermudah memenuhi kebutuhan manusia. Fasilitas dan peralatan yang canggih hasil kreasi manusia itu mengalirkan nilai-nilai baru dari luar, yaitu peredaran dan pertukaran kebudayaan. Firman Allah Swt.:

… ۗ قُلْ اِنَّ هُدَى اللّٰهِ هُوَ الْهُدٰى ۗ وَلَىِٕنِ اتَّبَعْتَ اَهْوَاۤءَهُمْ بَعْدَ الَّذِيْ جَاۤءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا نَصِيْرٍ

… Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).” Sungguh, jika engkau mengikuti hawa nafsu mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak ada bagimu pelindung dan penolong dari (azab) Allah.

Derasnya globalisasi ini sangat dikhawatirkan dapat mengakibatkan terkikisnya kecintaan generasi muda pada bangsa dan negara yang kian hari kian memudar dan menjadikan mereka tidak lagi bangga dengan kearifan lokalnya. Oleh karena itu penguatan budaya Islam sangat penting diberikan kepada masyarakat untuk membangun local wisdom (kearifan lokal), karena budaya Islam di Indonesia sejadinya kearifan lokal itu sendiri. Karena nilai-nilai Islam telah terintegrasi sejak lama dengan kehidupan masyarakat setempat dan dipraktekkan serta diturunkan secara turun-temurun. Firman Allah Swt

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ

Jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada yang ma’ruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh.

Dari ayat diatas makna urf dalam hal ini bermakna pada kewajiban menjadikan adat manusia sebagai sandaran, dan apa-apa yang menjadi kebiasaan dalam muamalat mereka, maka ini secara eksplisit melegitimasi penggunaan urf sebagai landasan. Kemudian Ibnu Faras dalam kitabnya ahkamul qur’an berkata: maksud dari firman Allah “wa’mur bil urf” yakni ma’ruf menurut sebagian banyak orang, yang tidak bertentangan dengan syara’.

Maka tak heran, jika globalisasi dianggap sebagai dewa penolong ketika kearifan lokal (local wisdom) tak mampu mengubah mindset dan horizon harapan bangsa ini. Sehingga ketika memasuki millenium kedua ini, bangsa kita masih saja pada posisi euphoria globalisasi. Dimana segalanya ingin diperoleh secara praktis dan instan, sehingga menafikan nilai kejujuran, amanah, kerjasama hingga hubungan sosial. Siapa lagi yang bisa menolong kita dari perangkap globalisasi? Kalau bukan agama dan kearifan lokal?

Suasana jamaah Shalat Jumat

Pendidikan Islam yang berakar pada budaya tidak meninggalkan akar-akar sejarah, baik sejarah kemanusiaan pada umumnya maupun sejarah kebudayaan suatu bangsa, kelompok etnis atau suatu masyarakat tertentu.

Konsep yang memperkuat relasi yang kuat antara agama dengan budaya bahkan tidak dapat dipisahkan yaitu, pola agama mentranformasikan pengetahuan dengan budaya bahasa yang dipergunakan oleh Nabi, misal: Ibrahim diutus tentu dakwa agama sesuai dengan bahasa Ibrahim saat itu yang kemungkinan kita tahu bahwa bahasa ibrani. Begitupula muhammad saw. bahasa yang dipergunakan adalah budaya bahasa arab maka al-Quran berbentuk bahasa Arab. Ini sesuai dengan ayat al-Quran:

نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195)الشعاراء أيضا وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (4) إبراهيم

Bahkan para kalangan ulama Ketika melihat teks al-Quran dan berupaya memahami dan mengimplementasikannya pada budaya tertentu, maka selama tidak bertentangan dengan agama maka hal itu boleh-boleh saja dipraktekkan.

Maka dari itu kearifan lokal yang berakar pada budaya Islam, diharapkan dapat membentuk manusia yang mempunyai kepribadian, harga diri, percaya diri dan membangun peradaban yang akan menjadi warisan monumental. Akan tetapi dalam hal ini bukan berarti kita menjadi orang-orang yang anti kemodernan, perubahan, reformasi dan menolak begitu saja arus transformasi budaya dari luar tanpa melakukan seleksi dan alasan yang kuat.

Karifan lokal dari budaya Islam berpotensi untuk membentuk karakter jati diri bangsa dalam penguatan kebangsaan dan nasionalisme. Mengingat bahwa budaya islam di Indonesia berangkat dari ikhtiar para pendahulu untuk mengejawantahkan nilai-nilai agama yang disesuaikan dengan karakter masyarakat Indonesia namun tidak melanggar syariat. Sehingga terbentuk sistem nilai, sistem ekspresi dan sistem produksi yang menjadi kearifan lokal dan tercermin dalam kebudayaan nasional.

Demikian juga halnya dengan daerah Sulawesi Selatan telah melahirkan kearifan lokal tentang tata nilai dan norma-norma yang terwujud dalam tingkah laku dan interaksi antar sesama manusia dan juga dengan alam lingkungannya berdasarkan nilai-nilai Islam. Melemahnya budaya Islam dan kearifan lokal berimplilasi pada meningkatnya kasus kriminalitas di masyarakat terutama, pencurian, begal, pembunuhan, pemerkosaan dan sebagainya. Kriminalitas bukan sebab, namun salah satunya disebabkan oleh lunturnya kearifan lokal yang selama ini menjaga masyarakat untuk hidup rukun dan damai. Budaya Islam yang terdapat dalam kearifan lokal seperti menjaga persaudaraan, hidup bermasyarakat dan tolong menolong sudah menjadi sesuatu yang sangat langka.

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (2) المائدة

Sebagai kesimpulan, kearifan lokal yang terbangun dari budaya Islam dan begitupun kearifan lokal yang terbangun dari luar islam namun tidak bertentangan dengan syariat islam dapat diterima dan diaplikasikan oleh ummat islam sehingga dapat membentuk kehidupan masyarakat yang rukun dan damai. Dengan menguatnya kearifan lokal, akan dengan sendirinya dapat menyaring bahkan membendung penetrasi budaya luar yang berdampak buruk bagi bangsa.

Tokko sipakalebbi mali sipakainge

Barakallahu …li walakum filqurani karim…….

Hadiri Mihrab Summit di Makassar, JK Bagi Tips Sukses Jadi Pengusaha

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, Makassar,- Wakil Presiden RI ke 10 dan 12, Jusuf Kalla memaparkan kunci menjadi enterpreneur dalam Makassar Internasional Halal and Business (Mihrab) Summit dan Expo 2023 di Hotel Claro Makassar, Rabu, 05 Juli 2023.

Dalam kesempatan itu, JK yang juga Ketua Dewan Pembina Masjid Al-Markaz Al-Islami mengatakan, bahwa bisnis tidak mengenal agama.

“Dalam prinsip bisnis, ia tidak mengenal agama. Bisnis itu hanya mengenal tiga hal, yaitu lebih cepat, lebih murah dan lebih baik,” kata JK di hadapan ratusan peserta “Mihrab Summit dan Expo 2023” di Makassar.

Pernyataan tersebut mengemuka terkait maraknya fenomena tentang bisnis syariah serta industri halal dalam beberapa dekade terakhir. Bagi JK, prinsip tersebut adalah mempersempit kesempatan untuk maju ketika melakukan usaha.

“Jangan memperkungkung dan mempersempit diri sendiri. Bagi saya, prinsipnya sederhana, jangan batasi industri halal. Karena dalam muamalah, semua halal, terkecuali yang dilarang. Yang dilarang juga tidak banyak,” ungkap JK.

“Jadi saya usulkan, buat saja daftar yang haram. Kalau tidak ada di dalam berarti halal dan itu langsung laksanakan,” sambungnya.

Ketua Umum Dewan Mesjid Indonesia (DMI) itu juga menyinggung tentang urgensi seminar dalam kesuksesan menjadi pengusaha.

Ia menilai, bahwa tidak ada relevensi antara rajin mengadakana seminar dengan kesuksesan. Walau itu adalah bagian dari mendapatkan ilmu.

“Masalah kita bukan seminar dan konferensi, terima sertifkat dan lain-lain. Tapi masalah kita adalah kurang semangat dan kurang kerja keras. Seminar itu bisa untuk menambah relasi,” papar JK

Ia juga membandingkan kondisi pengusaha di Sulawesi Selatan tahun 1960 hingga 1970an. Saat itu, banyak pengusaha-pengusaha yang tidak pendidikannya hanya sampai SMA. Sebagian bahkan tidak lulus SD. Mereka juga tidak pernah ikut-ikut seminar seperti sekarang.

“Makanya saya juga kurang sreg dengan seminar, sebab makin banyak dibicarakan, makin banyak ongkosnya, makin tidak dilaksanakan. Dan perlu saya tegaskan, tidak ada negara maju dari seminar,” ujar JK lagi.

Olehnya itu, JK kembali menegaskan, kunci menjadi pengusaha adalah kerja keras, semangat, pengetahuan dan mengetahui produknya. “Jika itu dipadukan maka saya yakin akan maju dan berkembang,” ungkap Mantan Ketua Umum Golkar tersebut.

PIC : jUSUF KALLA “Mihrab Summit dan Expo 2023”

JK kemudian menasehati, bahwa Islam memiliki kelebihan dibanding yang lainnya. Pasalnya agama telah mengajarkan untuk mengikuti sunnah Rasulullah Muhammad SAW.

Bagi JK, Nabi Muhammad berletarbelakang seorang pedagang. Sehingga tidak ada alasan bagi ummatnya untuk tidak mengikuti Rasulullah tersebut. Menjadi pengusaha

Selain itu, lanjut JK, Islam juga memiliki pedoman yang dikenal rukun Islam. Dalam rukun itu pencapaian tertinggi adalah rukun Islam ke empat dan kelima, yaitu membayar zakat dan melaksanakan haji.

Ironisnya, mayoritas umat Islam di Indonesia tidak mampu menyempurnakan lima rukun itu

“Itu berarti umat Islam dituntut untuk kaya sebab anda tidak akan bisa bayar zakat dan naik haji jika tidak kaya. Sekarang silahkan berniat untuk berusaha dan kaya dengan catatan untuk beribadah,” pungkasnya. (*)

Patuh Seorang Anak

0

By Khatib : Hamid Awaludin

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.
الحَمْدُ للهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاه. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَانَبِيّ بعدَهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ

أَمَّا بَعْدُ

فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Hadirin wal Hadirat Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Kautsar ayat 1-3:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).”

Hari ini, umat Islam sejagat mengumandangkan lafaz “Allah Maha Besar,” membahana dan menggetarkan. Sebuah maklumat bathin yang mengakui betapa kecilnya arti manusia dibanding kebesaran Ilahi. Ini sebuah deklarasi sikap: manusia menyerahkan segalanya kepada Sang Pencipta, Allah Yang Maha Besar itu.

Hari ini kita memperingati Idul Adha yang secara semantik, berakar dari kata “qurb” berarti dekat. Sementara imbuhan “an” berarti sempurna. Hari ini, tiap Muslim diwajibkan untuk berqurban, yang berarti, mendekatkan diri pada Tuhan. Hanyalah orang yang dekat pada Tuhan yang bisa menjalankan perintah qurban. Lantaran itulah, berqurban berarti mengagungkan, membaktikan diri dan menunjukkan kesetiaan pada Allah SWT. Itulah kedekatan yang hakiki dari seorang hamba pada Tuhan.

Suasana bathin seperti itu, diekspresikan oleh Chrisye dalam senandung religinya:

Bila kujauh dari-Mu
Akan kutempuh semua perjalanan
Agar selalu ada dekat-Mu
Biar kurasakan lembutnya kasih-Mu

Dalam sejarah keberadaan manusia di muka bumi ini, ritual qurban atau sesembahan, sesajian, telah berlangsung ribuan tahun ke belakang. Masyarakat kuno sudah mulai mempraktekkan sesembahan tersebut. Namun, qurban mereka adalah manusia. Mereka mempercayai bahwa berqurban dengan menggunakan manusia, itu adalah cara menyenangkan Tuhan dan menghindari pelbagai malapetaka.

Kita lihat misalnya, bangsa Mesir kuno telah mempraktekkan sesembahan berupa gadis cantik yang dibuang ke sungai Nil, sebagai simbol kepatuhan kepada dewa. Bangsa Maya dan Meksiko yang disebut sebagai Mesoamerica, juga mengurbankan manusia sebagai sesembahan kepada dewa matahari. Bila tidak, maka matahari enggan mengeluarkan cahayanya, dan dunia pun berahir.

Bangsa Yunani juga memiliki kepercayaan yang sama. Bangsa Jepang di era kuno, mempersembahkan manusia dengan cara mengubur hidup-hidup dalam bangunan, untuk menjaga agar bangunan tersebut tidak runtuh. Bangsa Peru dan Kolumbia kuno, mengurbankan gadis perawan dan anak-anak sebagai sesembahan kepada dewa.

Bangsa-bangsa Viking di Skandinavia sana di masa silam, mengorbankan justeru pemuka agama demi agama yang diyakininya. Pemuka agama diikat di pohon, lalu dilempari lembing.

Kesimpulannya, sesembahan dengan mengurbankan manusia di masa kuno, dilakukan dengan motif: menyembah para dewa, menolak bencana alam, memenangkan perang, dan loyalitas pada penguasa.

Motif terahir ini acapkali dikategorikan sebagai retainer sacrifice di mana para pembantu atau loyalis, dibunuh dan dikebumikan bersama raja atau pemimpin, sebagai tanda loyalitas.

Kaum Muslimin Yang Berbahagia

Praktek menjadikan manusia sebagai instrumen qurban, berahir setelah Nabi Ibrahim A.S muncul.

Tuhan memerintahkan Nabi Ibrahim melalui mimpi agar ia menyembelih putra kesayangannya, Ismail. Ibrahim patuh pada Tuhan. Ismail juga pasrah dan patuh. Kepatuhan mereka telah terbukti, lalu Tuhan mengganti Ismail dengan seekor kibas.

Makna terdalam dari peristiwa ini, ialah, Ibrahim berhasil mendidik anak untuk memiliki tingkat ketaqwaan atau akidah, sama dengan dirinya: patuh pada perintah Ilahi. Dalam kehidupan kita sehari-hari, tak jarang orang tua sukses buat diri mereka, tetapi anak-anak mereka gagal.

Orang tua acapkali cemerlang dan surplus dalam kisah sukses, tetapi defisit sukses bagi anak-anak mereka. Ibrahim sukses menurunkan nilai-nilai yang ia miliki. Kita patut mencontoh ini.

Kisah berikut patut kita renungi, bagaimana seorang anak patuh dan mengagumi ayahnya. Putri Ariani, remaja negeri yang menggegerkan dunia karena talentanya: bernyanyi dan membuat lagu. Kendati ia menyandang difabel netra, tapi hati dan bathinnya terang benderang, menyinari dunia.

Ia menyihir dan mempesona. Ia menggambarkan kuatnya rasa sandaran dirinya pada orang tuanya, terutama ayahnya, dan mengekspresikan cintanya lewat lirik lagu yang dinyanyikannya:

Engkau tak pernah terlihat lelah
Meski kutahu berat bebanmu
Semua kau lakukan untuk aku
Semua kau lakukan untuk kita

Izinkanlah aku menyanyikan lagu ini
Meski tak sebanding dengan
Kasih dan sayangmu

Teringat jelas masa kecilku
Apa pun itu kau di sampingku
Membuat aku merasa kuat
Membuat aku merasa hebat

Namun betapa aku menyayangimu
Seumur hidupku
Selama-lamanya
Untuk ayahku
Untuk ayahku

Hadirin dan Hadirat Yang Berbahagia

Pesan moral berikutnya dari aktivitas berqurban, adalah, Tuhan sangat menyayangi ciptaan-Nya yang bernama manusia. Tuhan tidak menghendaki manusia dijadikan tumbal atau sesembahan ritual keagamaan, sama dengan bangsa-bangsa kuno sebelumnya. Tuhan tidak menghendaki manusia dikorbankan atas nama diri-Nya. Karena itu, Tuhan mengganti Ismail menjadi seekor domba.

Rasa kepenyayangan Tuhan terhadap manusia dilukiskan oleh para ulama bahwa “Kemanusiaan harus mendahului keberagamaan” (Humanity goes beyond religiousity). Tuhan berkeinginan agar hamba-Nya selalu menyembah diri-Nya, tetapi jangan pernah mengurbankan ciptaan-Nya yang bernama manusia, untuk diri-Nya.

Tuhan dalam firman-Nya pada Surah ke 17 Al Isra ayat 70 mengatakan:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا

“Dan sesungguhnya kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”

Beginilah penegasan sikap Tuhan tentang manusia yang diberi-Nya kemuliaan. Jangan korbankan manusia lagi.

Hadirin dan Hadirat Yang Berbahagia

Pelajaran berikutnya, penyembelihan seekor domba adalah sebuah tamzil yang menegaskan agar manusia menyembelih sifat-sfat kebinatangan yang tamak, mau menang sendiri, tidak peduli dengan yang lain, ganas, licik, memiliki kepura-puraan untuk menipu dan menelikung, dan sebagainya. Sifat-sifat kebinatangan tersebut itulah yang kita simpulkan sebagai perilaku tak berahlak. Bukankah misi utama Nabi Muhammad SAW diutus Tuhan untuk memperbaiki ahlak manusia?

Agenda ini ini sengaja saya angkat, mengingat, kita kini memasuki bulan-bulan politik di mana kita acapkali menyaksikan perilaku tak berahlak, mewarnai lanskap politik kita. Ada-ada saja orang yang menyingkirkan lawan politiknya dengan cara mencekik lawan dengan kecambah fitnah, menyikut tanpa ampun, mengkriminalisasi, menutup peluang agar calon lawan tidak masuk dalam gelanggang pertandingan, memakai tangan orang lain untuk membungkam lalu berpura-pura tidak tahu soal.

Partai politik sebagai institusi sakral untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan, dipaksa untuk dijadikan bazar pelelangan calon pemimpin, yang tunduk dengan mekanisme pasar, supply and demand. Penawar tertinggi yang bisa sontak jadi kader, kendati tiada jejak ke belakang. Idealisme, moral, etika, ideologi dan visi, harus ditaklukkan dengan kuasa uang serta kuasa kekuasaan yang rakus.

Pendek kata, hamparan fakta yang kita saksikan sekarang, ada-ada saja orang yang menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan. Semua perilaku yang tidak dilandasi dengan ahlakul karimah, akan berahir dengan ketidakadilan. Tuhan sendiri sedari awal sudah menegaskan: “Janganlah kebencianmu pada sebuah kaum, membuat kamu berlaku tidak adil.”

Hadirin dan Hadirat Yang Berbahagia

Pesan terahir dari penyelenggaaraan qurban, adalah membangun rasa solidaritas sesama manusia, sesama hamba Allah. Dimensi sosial sangat mengental dalam hal ini. Distribusi daging kepada sesama, adalah ihtiar untuk membagi rasa bahagia dan membagi beban.

Qurban adalah instrumen kohesi sosial untuk kehidupan yang teduh, kehidupan yang nyaman bagi semua. Qurban adalah semen perekat, jangkar penahan ombak agar kapal kohesi tidak oleng. Qurban adalah gundukan tanah yang menimbun jurang sosial yang menganga lebar. Qurban adalah pemecah gelombang air yang setiap saat datang menghempas dan menggulung. Qurban adalah sebuah jembatan sosial yang menghubungkan silaturrahim yang mungkin mulai retak, silaturrahim yang menunjukkan gelagat rapuh.

Dari perspektif ini, Tuhan tidak mau mengorbankan manusia, tetapi berkorbanlah untuk manusia. Dengan qurban, kita semua bisa menunjukkan betapa hormat kita pada manusia, betapa kasihan kita kepada manusia, dan karena itulah kita membantu. Kita tidak boleh mengorbankan hak-hak manusia.

Memberi qurban sama sekali tidak membuat Anda jatuh miskin, malah membuat Anda kian kaya karena banyak teman. Anda memberi qurban kepada orang lain, yang sesungguhnya terjadi, Anda jugalah yang menikmati qurban itu.

Bila hujan deras datang mengguyur, drainase tak kuasa lagi menampung derasnya air, malah sudah membobol dan meluap, membuat seluruh rumah kebanjiran. Perkaranya hanya sederhana, telah terjadi tumpukan sampah yang menyumbat kanal.

Lalu, secara ikhlas Anda meluangkan waktu sedikit untuk berkorban, berbasah kuyup sejenak untuk menyingkirkan sampah-sampah yang menyumbat itu. Hasilnya fantastis. Dalam waktu sekejap, air mengalir lancar, rumah-rumah penduduk pun terhindar dari petaka banjir. Termasuk rumah Anda. Anda berkorban waktu dan basah kuyup sejenak, tetapi Anda membantu puluhan ribu penduduk yang sudah gelisah tak menentu, kapan dan mengapa air datang menghancurkan mereka. Anda juga sudah terhindar dari amukan air. Qurban untuk orang lain, juga untuk diri sendiri.

Hadirin-Hadirat Yang Berbahagia

Berqurban, singkat kata, adalah ikhtiar serius untuk mendekatkan diri pada Allaw SWT. Berqurban berarti mematuhi perintah-Nya, mengakui kebesaran-Nya, tempat kita semua bersandar. Jalaluddin Rumi, sang Sufi dan penyair itu melantunkan syair religinya yang menggambarkan betapa dalam rasa keterikatan dan ketergantungannya pada Sang Pencipta:

Hidup tanpa Engkau adalah sebuah pelanggaran
Tanpa Engkau, kehidupan macam apa kujalani
Wahai cahaya hidupku, setiap kehidupan berlalu
Tanpa Engkau, berarti kematian
Itulah makna hidupku

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ َأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

KHUTBAH KEDUA:

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ
.

أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وأشهدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَانَبِيّ بعدَهُ .

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ.

أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ . اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.

Ya Allah, Ya Rabbi, ampunilah segala dosa orang tua kami. Masukkanlah mereka ke dalam surgamu. Tanpa mereka, siapa dan apalah kami ini?

Ya Allah, Ya Rabbi, ampunilah segala dosa dan kesalahan kami dan saudara-saudari kami, kaum Muslimin dan Muslimat semua. Dan tolong kami dijasdikan hamba yang pandai bersyukur. Tanpa pengampunan-Mu, ya Allah, entah kami jadi apa?

Ya Allah, Ya Tuhan kami. Hanya kepada Engkaulah kami meminta, bukan kepada yang lain-lain. Jauhkanlah kami dari segala musibah, ancaman dan marah bahaya.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Tuntunan dan Tata Cara Salat Idul Adha

0

Salat Idul Adha adalah salat sunnah yang dikerjakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Untuk memantapkan pelaksanaan salat Idul Adha, berikut ini tata cara pelaksanaannya :

Pertama, diawali dengan niat kemudian takbiratul Ihram. Niat shalat Idul Adha (makmum/ imam) sebagai berikut:

اُصَلِّى سُنُّةً عِيْدِ الْاَضْحَى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ (مَأْمُوْمًا\إِمَامًا) للهِ تَعَالَى

 (Ushalli sunnatan li Idil Adha rak‘atayni mustaqbilal qiblati adā’an (ma’mūman/ imaman) lillāhi ta‘ālā)

Kedua, disunnahkan membaca doa iftitah, kemudian membaca tasbih, tahmid dan tahlil sebagai berikut:

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَر

 (Subhanallahi wal hamdu lillahi walaa ilaha illallah, wallahu akbar)

PERHATIKAN : 

  • Bacaan  tasbih, tahmid dan tahlil ini diulangi sebanyak 7 kali pada rakaat pertama dan diulangi 5 kali pada rakaat kedua setelah intiqal (peralihan) bangkit dari sujud, masing-masing disusul melakukan takbir dengan mengangkat kedua tangan
  • Hitungan takbir 7 kali setelah bacaan  tasbih, tahmid dan tahlil pada rakaat pertama, tidak termasuk hitungan takbiratul ihram
  • Pada saat melakukan 7 takbir pada rakaat pertama dan 5 takbir pada rakaat kedua disunnahkan membesarkan suara bagi laki-laki sebagai bentuk syiar berlebaran.

Ketiga, membaca Surah Al-Fatihah setelah Imam, dan selanjutnya sama seperti pada saat melakukan shalat 5 waktu.

KHUTBAH

Khutbah merupakan rukun dalam pelaksanaan Shalat Idul Adha. Oleh karena itu, jamaah diharapkan tidak meninggalkan tempat dan mendengarkan khutbah Idul Adha secara seksama hingga selesai.

Demikian tuntunan Shalat Idul Adha

Jadi Khatib di Masjid Al-Markaz, Ini Profil Prof Hamid Awaludin

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, Makassar – Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf Makassar akan menggelar salat Idul Adha 1444 H pada Kamis 29 Juni 2023. Salat akan dipimpin oleh imam Drs. H. Mursyidin Hamid. Adapun khutbah akan dibawakan Prof. Hamid Awaluddin, Ph.D.

Hamid Awaludin adalah putra daerah Sulawesi Selatan yang mengorbit ke jagat nasional hingga dunia internasional. Kota kelahirannya sama dengan Presiden ke-3 RI, B.J. Habibie, yaitu di Pare Pare, 5 Oktober 1960. 

Setelah mengantongi gelar sarjana hukum di Universitas Hasanuddin, Hamid terbang ke negeri Paman Sam Amerika Serikat, untuk melanjutkan pendidikannya tahun 1986. Ia mengambil program non gelar bidang jurnalistik. Kemudian Hamid mengambil dua program magister di American University, yaitu bidang hukum internasional, HAM dan politik internasional.  Gelar doktornya, ia juga raih di American University.

Belasan tahun berkelana di negeri orang, Hamid akhir melabuhkan pengadiannya ke Indonesia. Pada 20 Oktober 2004, ia diangkat menjadi Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia pada Kabinet Indonesia Bersatu. Sebelum itu, Hamid adalah anggota Komisi Pemilihan Umum RI (2001 – 2004).

Pada 7 Mei 2007, jabatannya sebagai Menkum HAM diserahkan ke Andi Mattalata, menyusul perombakan kabinet yang dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Selepas menteri, Hamid ditugaskan sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia (2008 – 2011).

Di tengah bertumpuk aktifitasnya, Hamid selalu memberi perhatian besar bagi terwujudnya perdamaian dunia, bersama Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 HM Jusuf Kalla. Ia pernah menjadi wakil Indonesia dalam penandatanganan MoU perdamaian dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Saat ini, ia juga menjadi Ketua Badan Pengawas Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf. (*)

Menkum HAM  Era SBY Khatib Idul Adha di Al-Markaz, Putri Ariani akan Ikut Dibahas

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR – Dimana Anda hendak menunaikan Salat Idul Adha 1444 H/ 2023 M? Salah satu pilihan tepat adalah Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf.

Pelaksanaan Salat Idul Adha di masjid termegah di kawasan Asia Tenggara itu mengikuti penetapan pemerintah yaitu Kamis 29 Juni 2023. Masjid Al-Markaz berada di jantung Kota Makassar, dengan daya tampung hingga 20 ribu jamaah.

Tak hanya mudah diakses, Masjid Al-Markaz kini telah bersolek dengan penampilan yang tertata rapih. Pelaksanaan Salat Idul Adha di masjid yang pembangunannya diinisiasi mantan Menhankam/ Pangab Jenderal M. Jusuf ini akan dipimpin Imam Masjid Al-Markaz Al-Islami, Drs.H. Mursyidin Abd.Hamid. Sedangkan khutbah akan disampaikan oleh Ketua Badan Pengawas Masjid Al-Markaz Al-slami, Prof. Hamid Awaludin, Ph.D.

Sebelumnya, Hamid Awaludin adalah Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia pada Kabinet Indonesia Bersatu (2004 – 2007). Selepas jadi menteri, ia ditugaskan negara sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia (2008 – 2011).  Jabatan lainnya di lembaga negara yang pernah dijabat Hamid adalah sebagai anggota Komisi Pemilihan Umum RI (2001 – 2004).

Hamid juga dikenal sebagai tokoh yang aktif berperan dalam mendorong perdamaian dunia, mendampingi Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, H.M Jusuf Kalla. Ia akan tampil menyampaikan khutbah Idul Adha berjudul Patuh Seorang Anak.

Tema khutbah tersebut akan menyajikan perenungan-perenungan tentang makna qurban bertalian dengan peran orangtua mendidik anak untuk memiliki tingkat ketaqwaan, seperti yang diteladankan Nabi Ibrahim kepada anaknya Nabi Ismail.  Sebab, tak jarang orang tua meraih puncak sukses tapi justru tidak diwariskan nilai-nilai suksesnya kepada anak-anaknya.

Dalam era kekinian, Putri Ariani, seorang anak milenial telah membuka mata bahwa orangtua berperan sangat vital dalam mendidik dan membentuk jati diri seorang anak. Pasalnya, Ariani menyandang difabel netra, namun sukses memesona dunia lewat bernyanyi dan mencipta lagu.

Dalam khutbahnya, fenomena tersebut dijelaskan sebagai gambaran betapa kuatnya rasa sandaran diri Putri Ariani kepada orang tuanya, terutama ayahnya, dan mengekspresikan cintanya lewat lirik lagu yang dinyanyikannya.

SELENGKAPNYA, silakan ikuti khutbah Hamid Awaludin usai Salat Idul Adha di Masjid Al-Markaz Al-Islami pada Kamis 29 Juni 2023.(*)

Narkotika Musuh Negara

0

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kepada kita sekalian, nikmat Iman, Islam dan kesehatan. Shalawat dan salam kita sanjungkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, Nabi agung, Sayyidur Rusul, wa khotamun nabiyyin wal mursalin.

Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah SWT, Mari kita tingkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benar taqwa. Jangan ada diantara kita meninggal dunia kecuali dalam keadaan Islam dalam arti kata menjalankan semua perintah Allah dan meninggalkan semua larangan-Nya.

Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah SWT, Negara diresahkan dengan merebaknya narkotika yang seolah tidak terkendali. Narkotika merupakan zat yang sangat berbahaya yang memberikan efek halusinasi, menurunnya kesadaran dan menyebabkan kecanduan.

Hari demi hari pengguna narkotika meningkat, dan korbannya pun semakin banyak. Jumlah penduduk Indonesia dari usia 15-64 tahun berjumlah 187.513.456 jiwa. Prediksi jumlah penduduk terpapar narkotika tahun 2021 yang pernah pakai 4.827.616 jiwa dan pengguna setahun pakai 3.662.646 jiwa. (sumber BNN).

Lebih menyedihkan lagi kelompok sekolah (pelajar/mahasiswa) selama periode 2019- 2021 dari 1,10% meningkat menjadi 1,38%. Tahun 2022 sudah ada 91 jenis narkotika baru yang sudah masuk di Indonesia dari 1.150 jenis yang tersebar diseluruh dunia, ini merupakan ancaman luar biasa bagi generasi bangsa. (sumber: UNODC 2022).

Pada hari ulang tahun BNN Tahun 2022 Presiden RI memberikan amanat “terus bekerja penuh semangat memerangi penyalahgunaan narkotika di berbagai kalangan seluruh pelosok Indonesia untuk mewujudkan Indonesia yang bebas dan bersih dari narkoba”.

Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah SWT, Fenomena penyalahgunaan narkotika tersebut sangat mengerikan. Hari demi hari pengguna dan korban bertambah. Kerusakan yang diakibatkan narkotika sangat serius dapat merusak fisik dan psikis yang tidak ada jaminan sembuh bahkan menyebabkan kematian. Kerugian material mencapai triliunan rupiah, maka sudah sangat pantas penyalahgunaan narkotika dinyatakan sebagai musuh negara.

Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah SWT Benteng utama kita selaku ummat beragama adalah memperkokoh keimanan dan ketaqwaan kita beserta keluarga agar tidak menjadi korban dari keganasan penyalahgunaan narkotika. Diantara strategi yang dapat digunakan untuk membangun kesadaran dengan saling mengingatkan bahwa ancaman penyalahgunaan narkotika yang dapat menghancurkan seluruh sendi kehidupan.

Ingatlah Allah SWT telah berfirman, yang artinya, “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orangorang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar”. (QS. Annisa:9).

Jama’ah Shalat Jum’at Yang Dicintai Allah SWT. Mengingat bahaya narkotika yang begitu besar, para ulama sudah menyepakati jika narkotika merupakan barang haram. Dan semua aktivitas yang berkaitan dengannya, mulai dari memproduksi, mengedarkan dan mengkonsumsi narkotika, juga hukumnya haram.

Dalilnya sudah sangat jelas. Allah SWT berfirman yang artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung”. (QS. Al Maidah: 90).

Ayat di atas tidak menyebutkan Narkotika atau obat-obatan terlarang, tetapi Allah menyebutkannya dengan kata-kata “khamr”. Hal ini bukan berarti keharaman narkotika tidak ada dasar hukumnya, tetapi justru sangat jelas dalam kandungan makna ayat di atas yang menjelaskan haramnya khamr. Karena dampak negatif narkotika lebih merusak daripada khamr.

Dalam konteks ushul fiqh landasan hukum seperti ini disebut qiyas. Dalam ayat lain juga ditegaskan “Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (QS. Al A’raf : 157).

Penyalahgunaan narkotika berarti sadar akan merusak dirinya dengan narkotika. Namun perbuatan seperti itu tetap dilakukan, padahal Allah SWT sudah melarang, sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya : “…Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan” (QS. Al Baqarah: 195).

Rasulullah SAW bersabda: “Jangan membahayakan diri sendiri maupun orang lain” (HR. Ibnu Majah no. 2340, Ad Daruquthni 3: 77, Al Baihaqi 6: 69, Al Hakim 2: 66) Narkotika adalah neraka dunia, dan pemakainya ibarat penghuni neraka. Apa yang diharapkan tidak pernah sesuai dengan keinginanya.

Mengkonsumsi narkotika mengharap kesenangan, tapi yang didapat hanyalah kesengsaraan. Begitu juga dengan penghuni neraka, ketika meraka meminta air tetapi yang diberikan adalah air seperti tembaga yang dilelehkan, yang membakar wajah-wajah mereka.

Allah SWT berfirman yang artinya “Dan jika penghuni neraka minta minuman, mereka diberi minuman dengan air seperti tembaga yg dilelehkan yg membakar wajahwajah. Itulah sejelek-jelek minuman”. (QS. Al-Kahfi 29)

Sangat penting juga untuk kembali diingatkan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Al Bukhori dan Muslim tentang adzab bagi seseorang yang sengaja menjatuhkan dirinya dalam kebinasaan. Seseorang tersebut akan mengalami hal serupa ketika diakhirat nanti. Bila ia menghembuskan napas terakhirnya sedang meneguk racun, maka racun tersebut tetap berada ditangannya, ia akan minum racun di neraka kekal selamalamanya.  Maka bila ia mati dalam kondisi mengkonsumsi narkotika, maka seperti itu pulalah ia akan berada dalam neraka. َ

“Barangsiapa yang sengaja menjatuhkan dirinya dari gunung hingga mati, maka dia di neraka Jahannam dalam keadaan menjatuhkan diri di (gunung dalam) neraka itu, kekal selama lamanya. Barangsiapa yang sengaja menenggak racun hingga mati maka racun itu tetap ditangannya dan dia menenggaknya di dalam neraka Jahannam dalam keadaan kekal selama lamanya. Dan barangsiapa yang membunuh dirinya dengan besi, maka besi itu akan ada ditangannya dan dia tusukkan ke perutnya di neraka Jahannam dalam keadaan kekal selama lamanya” (Al Bukhari no. 5778 dan Muslim no. 109).

Semoga Allah SWT selalu menjaga kita, keluarga dan saudara-saudara kita dari kejamnya bahaya narkotika. Jama’ah Shalat Jum’at yang dicintai Allah SWT Haram hukumnya kita menyakiti diri sendiri dan menyakiti orang lain. Alasan terbesar yang pernah dicatat BNN mengenai penyalahgunaan narkotika berawal dari masalah keluarga dan juga ajakan temanteman dekat.

Lingkungan keluarga yang harmonis berperan penting dalam pencegahan penyalahgunaan narkotika dan pondasi awal dalam pembinaan pendidikan nilai-nilai agama. Keluarga menjadi benteng paling tangguh untuk menjaga diri dari kemudharatan.

Untuk membentengi dari bahaya narkotika, maka buatlah keluarga seperti taman surga. Naungilah dengan keimanan, bangunlah dengan pondasi nilai agama, siramilah dengan lantunan ayat-ayat suci Al Quran lalu pupuklah dengan dzikir-dzikir mengingat Allah SWT. Semua itu adalah kesenangan dan kebahagiaan sejati.

Allah berfirman yang artinya; “…(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”. (QS. Ar-Ra’d: 28)

Selain membangun keluarga dengan nilainilai agama, bangunlah juga lingkungan dan pertemanan berdasarkan akhlak mulia yang selalu membimbing ke arah yang benar. Hadirlah di majelis-majelis dzikir dan bergaulah dengan majelis-majelis ilmu.

Dekatilah para Kyai, Ustadz dan Habaib. Karena bersama orang-orang yang dekat dengan Allah, hidup bakal penuh berkah. Hati dan perasaan akan selalu terjaga dari godaan-godaan maksiat termasuk godaan mengkonsumsi narkotika.

Semoga Allah SWT selalu membimbing kita ke jalan yang lurus, yaitu jalan yang pernah Allah SWT beri nikmat, bukan jalan yang pernah diberi laknat. (#)

Kyai Jazir Jogokariyan : Ini Penyebab Umat Islam Belum Diperhitungkan

0

MASJIDALMARKAZ.OR-ID, Makassar – Umat Islam di Indonesa belum begitu diperhitungkan dalam berbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara. Padahal umat Islam memiliki jumlah yang mayoritas. Kenapa?

Pernyataan menggelitik itu dikemukakan Ketua Dewan Syuro Takmir Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, K.H.Muhammad Jazir, ASP, saat membawakan pengajian magrib di Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf Makassar, Sulawesi Selatan, Ahad, 18 Juni 2023. Masjid Jogokariyan adalah masjid yang tenar dijadikan sebagai masih percontohan manajemen masjid.

Kyai Jazir menyatakan, jumlah umat Islam yang banyak belum signifikan untuk membangun kesejahteraan dan kekuatan muslim. Terlihat banyak sekali masjid, tapi di sekitar lingkungan masjid masih banyak juga orang miskin. Dana masjid hanya habis untuk biaya bangunan.

Apalagi kalau melihat dalam bidang politik, tambah Yasir, sama sekali tidak ada hitungannya. “Orang Islam tidak pernah dihitung dalam politik, kecuali hanya menyumbang suara. Akhirnya, umat Islam hanya menjadi barang dagangan setiap lima tahun,” tegas Kyai Yazir.

Menurutnya, berdasarkan data Kementerian Agama, terdapat 290.000 masjid di Indonesia. Jumlah itu lebih banyak dari pada jumlah kantor partai politik. Masjid kita sepertinya kalah dengan satu kantor di Lenteng Agung. Meski memiliki jumlah jamaah yang besar, tapi seolah-olah umat Islam tak memiliki kekuatan sedikitpun.

“Coba beliau yang di Lenteng Agung bisa mengatakan, saya itu bingung orang kok pengajian pengajian ya. Masjid dengan jumlah jamaahnya tetapi begitu kuatnya seakan-akan umat Islam yang jumlahnya banyak ini tidak ada sedikitpun kekuatan,” tandas Kyai Jazir.

Akhirnya, kata dia, Islam itu seperti tidak ada wakilnya sama sekali. Banyak kebijakan yang tidak selaras dengan harapan umat Islam.

Begitu pun di sektor ekonomi, jumlah umat Islam yang besar belum berdampak pada kesejahteraan umat. “Dalam ekonomi kita nggak ada berjamaah sama sekali, sehingga jumlah muslim yang banyak ini tidak berdampak pada kesejahteraan kaum muslimin secara ekonomi,” katanya.

Situasi tersebut terjadi, menurut Kyai Jazir, lantaran umat Islam belum berjamaah dalam arti sesungguhnya. Jamaah yang hadir di masjid hanya benar-benar sebagai jamaah salat, belum menjadi jamaah masjid. Urusan salat dan urusan kemaslahatan umat masih dipandang terpisah.

“Karena kita di dalam hidup itu tidak berjamaah. Ada jamaah kita ini jualan nasi. tetapi kita tidak berpikir bagaimana membesarkan usaha jamaah kita itu. Ya itu urusan salat sama urusan ditu kita terpisah,” tuturnya.

Ketua YIC Al-Markaz Al-Islami, Prof. Dr. Basri Hasanuddin, MA, memberikan cinderamata kepada Ketua Takmir Masjid Jogokariyan, K.H.Muhammad Yazir di Kantor YIC Al-Markaz Al-Islami, Ahad (18/6)

Jika yang dibangun adalah jamaah masjid bukan sekadar jamaah salat, kata dia, maka di situlah kunci kemaslahatan umat. Coba lihat,  jamaah yang hadir salat berasal dari beragam potensi seperti orang perbankan, pengusaha, arsitek, dokter, pedagang dan sebagainya. Jika berbagai potensi yang dimiliki jamaah salat disatukan dan menjadi jamaah masjid, maka betapa besar kekuatan umat Islam.

“Ini luar biasa, kalau kemudian ada seorang imam masjid yang menyatukan mereka di dalam menyelesaikan persoalan jamaah itu. Namun orang-orang hebat yang berjamaah itu tidak ada gunanya dalam konteks lingkungannya kurang sekali bermanfaat dan karena tidak ada imamnya, hanya imam salat saja,” tandas Kyai Jazir (#)

Ketua Masjid Jogokariyan Ajak Bangun Jamaah Masjid, Bukan Sekadar Jamaah Salat

0

MASJIDALMARKAZ.OR-ID, Makassar – Ketua Dewan Syuro Takmir Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, K.H.Muhammad Jazir, ASP, menyatakan bahwa tugas pokok pengurus masjid bukan mengurusi bangunan masjid, melainkan membangun jamaah masjid.

Pernyataan itu ia sampaikan saat membawakan pengajian magrib di Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf Makassar, Sulawesi Selatan, Ahad, 18 Juni 2023. Kedatangan Kyai Jazir di Masjid Al-Markaz disambut antuasias jamaah. Masjid Jogokariyan Yogyakarta sendiri sangat populer sebagai masjid percontohan manajemen masjid.

Tampak hadir mengikuti pengajian tersebut, antara lain Ketua Umum YIC Al-Markaz Al-Islami Prof.Dr. Basri Hasanuddin, Imam Besar Masjid Al-Markaz Prof.Dr.Muammar Bakry, sejumlah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Makassar dan Sulawesi Selatan dan pengurus Dewan Masjid Indonesia (DMI) Sulawesi Selatan.

Pengurus YIC Al-Markaz Al-Islami menerima kunjungan Ketua Dewan Syuro Takmir Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, K.H.Muhammad Jazir, ASP di kantornya, Ahad (18/6).

“Mengurus masjid itu, urusannya bukan bangunannya. Kalau hanya bangunan, Itu paradigma orang musyrik. Tapi yang diurus yaitu  bagaimana pengurus masjid itu bisa memobilisasi rakyat untuk berbondong-bondong berjamaah ketika waktu salat. Bukan soal bangunan, soal bagaimana menjadikan jamaah itu selalu penuh ketika adzan dikumandangkan. Itu yang harus dipikir oleh para pengurus masjid,” katanya.

Kyai Jazir menuturkan, di dalam mengurus jamaah, yang harus diciptakan adalah jamaah masjid, bukan sekedar jamaah salat. Jamaah salat, paparnya, ketika hanya datang melaksanakan salat jamaah. Di antara jamaah yang satu dengan jamaah lainnya tidak saling mengenal.

Semestinya, kata dia, yang dibangun adalah jamaah masjid, dimana seorang imam mengenal seluruh jamaahnya. Di antara jamaah juga saling mengenal dengan baik, bukan sekadar nama belaka.

“Seperti halnya Rasulullah, setiap selesai memimpin salat, ketika bacaan wiridnya sampai Allahumma antassalam waminkassalam, Rasulullah itu melihat ke jamaah. Rasulullah itu melihat siapa yang hadir dan yang tidak hadir. Kemudian yang tidak hadir salat itu akan dikunjungi rasulullah kalau tidak memberi kabar,”.

Kyai jazir yang juga Ketua KMP Nasional itu menegaskan bahwa masjid itu tempat mengurus umat. Artinya, pengurus masjid hendaknya berkontribusi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dialami oleh jamaah masjid. Oleh karenanya, pengurus harus mengenali siapa jamaahnya.

“Sekarang di masjid-masjid kita ini baru ada jamaah salat, imamnya adalah imam salat, bukan imam masjid. Maksudnya apa kita salat ini, satu sama lain saling kenal apa enggak. Enggak kan? Itu namanya jamaah salat, belum jamaah masjid,” katanya.

Padahal, tambahnya, jika yang dibangun adalah jamaah masjid bukan sekadar jamaah salat, maka di situlah kunci kemaslahatan umat. Jamaah salat saja tidak bisa menyelesaikan problem-program jamaah.

Jamaah yang hadir salat, katanya berasal dari beragam potensi seperti orang perbankan, pengusaha, arsitek, dokter, pedagang dan sebagainya. Ia menegaskan, betapa besar potensi umat Islam jika berbagai potensi yang dimiliki jamaah salat disatukan dan menjadi jamaah masjid.

“Ini luar biasa, kalau kemudian ada seorang imam masjid yang menyatukan mereka di dalam menyelesaikan persoalan jamaah itu. Namun orang-orang hebat yang berjamaah itu tidak ada gunanya dalam konteks lingkungannya kurang sekali bermanfaat dan karena tidak ada imamnya, hanya imam salat saja,” tandas Kyai Jazir. (#)

Follow us

0FansSuka
3,910PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest news