Jumat, Oktober 23, 2026
Google search engine
Beranda blog Halaman 11

American Jewish Commitee Kagumi Masjid Al-Markaz Al-Islami

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR – Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf Makassar, Sulawesi Selatan, mendapat kunjungan dari American Jewish Commitee (AJC), Selasa (9/5/2023). AJC atau Komite Yahudi Amerika merupakan organisasi advokasi internasional yang berfokus untuk mempromosikan hak-hak agama dan sipil bagi orang Yahudi dan lainnya.

Kunjungan tersebut dipimpin langsung Direktur Hubungan Muslim-Yahudi AJC Ari Gordon didampingi Wendrik dari Institute Leimena Jakarta. Rombongan ini tampak menyaksikan lebih dekat suasana di lantai dua Masjid Al-Markaz Al-Islami dan juga Perpustakaan Masjid Al-Markaz Al-Islami.

Leimena sendiri adalah lembaga non profit dengan misi mengembangkan peradaban Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, dan peradaban dunia yang menjunjung tinggi harkat manusia, melalui kerjasama dalam masyarakat yang majemuk.

Kunjungan Ari Gordon dan Wendrik ke Masjid Al-Markaz diantar oleh Sekretaris Umum DPP IMMIM, Dr. M. Ishaq Shamad, yang disambut sejumlah pengurus. Di Perpustakaan Al-Markaz, mereka diterima oleh Kepala Perpustakaan Al-Markaz, H. Syarifuddin Penta.

Direktur Hubungan Muslim-Yahudi AJC Ari Gordon merasa sangat kagum dan terhormat dengan sambutan dan keramahtamahan pimpinan Masjid Al Markaz Al-Islami Makassar. Ia mengaku senang, bisa sharing informasi mengenai penganut agama non Islam, misalnya Yahudi.

Ia mengatakan, manusia berasal dari satu keluarga yakni Adam dan Hawa. Semua ajaran agama mengajarkan kedamaian.

“Bahkan dalam Islam ada ayat menyatakan siapa yang menghidupkan satu nyawa sama dengan menghidupkan seluruh manusia di dunia, demikian pula sebaliknya, siapa membunuh satu nyawa, sama dengan membunuh seluruh dunia,” jelas Gordon.

Di perpustakaan, Ari Gordon dan rombongan diterima dan berdiskusi dengan Kepala Perpustakaan Masjid Al-Al-Markaz, H. Syarifuddin Penta. Sekum DPP IMMIM M.Ishaq Samad mengenalkan Ari Gordon adalah salah satu tokoh agama Yahudi yang berdomisili di Amerika Serikat yang banyak mengembangkan jejaring dengan Muslim Yahudi di berbagai wilayah di dunia.

Sementara Institute Leimena sendiri yang berfokus pada pengembangan peradaban Indonesia dan dunia yang menjunjung tinggi harkat manusia, melalui kerjasama dalam masyarakat yang majemuk, salah satu pembinanya adalah Prof.Alwi Shihab.

Di Sulawesi Selatan, kegiatan Institute Leimena telah bekerjasama dengan Universitas Muslim Indonesia (UMI) untuk melakukan Pelatihan Literasi Keagamaan Lintas Agama kepada guru-guru madrasah.(*)

Sekum MUI Sulsel Khatib Salat Idul Fitri di Al-Markaz  

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR – Pelaksanaan Salat Idul Fitri di Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf Makassar, Sulawesi Selatan, akan mengikuti penetapan resmi pemerintah tentang masuknya 1 Syawal 1444 H. Salat akan dipimpin imam  tetap Masjid Al-Markaz, KH. Hasan Basri Ahmad. Adapun yang bertindak sebagai khatib adalah Sekretaris Majelis Ulama Indonesia Sulsel, Prof. Dr. KH. Muammar M. Bakry, Lc M.Ag.

KH. Hasan Basri adalah qori terbaik internasional di Mekkah tahun 1982. Sedangkan Prof Muammar Bakry adalah pakar hukum Islam kontemporer, saat ini juga menjadi Rais Takmir dan Imam Besar Masjid Al-Markaz Al-Islami, serta memimpin sejumlah lembaga pendidikan Islam..

Prof Muammar Bakry yang masih menjabat Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar, akan membawakan khutbah bertema madrasah Ramadhan membina kesalehan sosial dan spiritual. 

“Sebelum ramadhan jauh meninggalkan kita, mari kita kenang kembali hari-hari yang indah dalam bulan ramadhan sebagai madrasah yang telah membina kepribadian kita baik secara vertikal hubungan kita dengan Allah SWT maupun secara horizontal hubungan kita sesama manusia dan alam semesta,” demikian KH Muammar memberi sedikit bocoran tentang materi khutbahnya.

Menurutnya, ada tiga kurikulum yang amat berharga dalam bulan ramadhan. Kurikulum yang bertama adalah rahmah, kedua adalah magfirah dan kurikulum ketiga adalah ‘itqun minannar  (pembebasan dari api neraka)

Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M. Jusuf merupakan pilihan tepat bagi Anda warga Makassar dan sekitarnya untuk melaksanakan Salat Idu Fitri. Masjid ini berada di lokasi strategis dan mudah dijangkau yakni di bilangan Jalan Masjid Raya No.57 Makassar, Sulawesi Selatan.

Pada setiap pelaksanaan Salat Idul Fitri maupun Idul Adha, Jamaah masjid Al-Markaz meluber hingga memenuhi seluruh area halaman masjid ke Jalan Masjid Raya dan Jalan Sunu Makassar. Puluhan ribu warga memadati masjid untuk menuaikan ibadah salat.

Masjid Al-Markaz Al-Islami merupakan salah satu masjid termegah di Asia Tenggara. Pembangunan masjid ini diprakrsai almarhum Jenderal M.Jusuf, mantan Menhankam/ Pangab. Pembangunan masjid megah ini hanya berlangsung dalam dua tahun, yaitu 1994 hingga 1996. Masjid Al-Markaz AL-Islami resmi digunakan sejak 12 Januari 1996.

Bangunan utama Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar terdiri dari tiga lantai. Pada lantai satu merupakan kantor sekretariat pengurus yayasan dan pengurus masjid. Selain itu, juga terdapat perpustakaan, Taman Kanak-kanak (TK), Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), pesantren hafidz quran, Unit  Pengumpul Zakat (UPZ), hingga aula yang bisa dipakai masyarakat umum untuk menggelar kegiatan seperti pernikahan, seminar dan lain-lain.

Pada lantai dua dan tiga diperuntukkan sebagai ruang pelaksanaan salat. Kapasitas daya tampung lantai dua dan tiga masjid bisa mencapai 10 ribu jamaah. Dalam kondisi jamaah membludak, maka tempat pelaksanaan salat juga dibuka di lantai satu, bahkan di halaman masjid, sehingga mampu menampung lebih 20 ribu jamaah. (*)

Khusyuk Salat Gerhana di Masjid Al-Markaz Makassar

0

MAKASSAR – Sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (20/4/2023) mengalami gerhana matahari hibrida. Gerhana matahari hibrida adalah gerhana matahari yang dalam jalurnya mengalami dua fase sekaligus, yaitu fase cincin dan fase total.

Melayat, JK Ungkap Kedekatan Mendiang Ayahnya dengan Alm. KH Ali Yafie

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, Jakarta – Wapres RI ke 10 dan 12, Jusuf Kalla (JK) melayat ke kediaman almarhum KH Ali Yafie di Jalan Menteng V FC 5/12 Perumahan Menteng Residence, Bintaro sektor 7, Tangerang Selatan, Ahad 26 Februari 2023.

JK mengungkapkan dirinya telah mengenal ulama kharismatik tersebut sejak masih berusia muda karena berteman akrab dengan mendiang ayahnya, Haji Kalla.

<?php echo do_shortcode(“[post-marguee]”); ?>

Menurut JK, ayahnya dan KH Ali Yafie selalu bersama dalam kepengurusan masjid dan Nahdatul Ulama (NU) Sulawesi Selatan.

“Mereka sama sama mengurus masjid dan NU. Jadi sangat dekat sekali bapak saya dengan almarhum. Bapak saya selalu mendampingi” ungkap JK.

JK mengenang sosok almarhum KH Ali Yafie sebagai sosok yang lemah lembut dan tawadhu, sehingga dapat dijadikan panutan bagi masyarakat.

“Beliau memang ulama yang betul-betul mendalam, tenang dan juga tawadhu. Beliau dapat dijadikan panutan terutaman dari sisi ilmunya. Sikapnya yang lembut dan caranya ia menghadapi muridnya dan masyarakt” ujar JK.

KH. Ali Yafie meninggal dunia pada hari sabtu 25 Februari 2023 jam 22.13 di RS Premier Bintaro, Tangerang Selatan Banten. KH Ali Yafie meninggal dunia pada usia 96 tahun setelah sempat dirawat selama beberapa saat. (#)

Khutbah Jum’at : Membangun Kehidupan Umat dengan Ibadah Sosial

0

Prof. Dr. Darussalam Syamsuddin, M.Ag

ALLAH senantiasa menggandengkan kata iman dan amal saleh, memberi isyarat bahwa iman dan amal saleh merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Manifestasi dari keimanan seseorang adalah gemar mengerjakan amal saleh.

Amal saleh adalah sesuatu yang dilandasi dengan iman yang benar. Bahkan amal saleh dapat dijadikan barometer keimanan seseorang. Jika seseorang beriman pastilah gemar melakukan amal saleh, jika tidak beramal saleh tentu tidaklah beriman yang benar.

Setiap agama memiliki ajaran yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan alam. Hubungan dalam bentuk ibadah ritual inilah yang disebut ibadah mahdhah, sedang selainnya disebut dengan ghairu mahdhah.

Untuk membedakan mana ibadah ritual dan mana ibadah sosial. Biasanya disebutkan bahwa ibadah ritual adalah ibadah yang dilakukan dalam bentuk upacara-upacara. Sedang ibadah sosial adalah selain dari yang dilaksanakan dalam bentuk formal seperti itu.

Memang agak sulit membedakan mana yang ritual dan mana yang sosial, karena hampir semua ibadah ritual dalam Islam mengandung aspek sosial.

Misalnya salat kenapa diakhiri dengan salam ke kanan dan ke kiri, puasa kenapa diakhiri dengan zakat, haji kenapa diakhiri dengan qurban. Semuanya dimaksudkan bahwa ibadah ritual yang dilaksanakan mengandung aspek sosial dan dimaksudkan membawa manfaat sosial.

Alquran dengan tegas menyatakan bahwa pendusta-pendusta agama adalah mereka yang tidak peduli terhadap kehidupan sosial. Misalnya dalam QS. Al-Ma’un/107 : 1-7. Demikian pula pesan Nabi:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya”.

Dari dua acuan (Alquran dan Hadis nabi) tersebut dapat memberi inspirasi kepada manusia bahwa untuk membangun kehidupan umat melalui ibadah sosial dengan melaksanakan ajaran agama tidak hanya yang berkaitan dengan ibadah ritual melainkan berujung dengan kesalehan sosial.

Ibadah ritual misalnya berzikir itu bagus bahkan Alquran memerintahkan bahwa zikr itu memang harus banyak (zikran katsira), tapi memberi bea-siswa kepada anak yang cerdas namun tidak mampu secara ekonomi, memberi honor kepada guru mengaji, memberi tip kepada cleaning service, jauh lebih utama dari pada zikir semalam suntuk.

Karena zikir itu hanya untuk diri kita, sedang memberi bea-siswa, memberi honor kepada guru mengaji, memberi tip kepada petugas kebersihan untuk dirinya dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Semakin banyak orang yang mengambil manfaat dari kebajikan yang kita kerjakan semakin tinggi kualitas amal saleh itu.

Karena itu jangan pernah berpikir untuk masuk surga sendiri, berpikirlah untuk masuk surga bersama-sama. Bagaimana caranya? Mereka yang diberi rezki beramal saleh dengan rezkinya, mereka yang diberi ilmu beramal saleh dengan ilmunya, mereka yang diberi tenaga beramal saleh dengan tenaganya.

Ada yang mengatakan rezki sudah terbatas, ilmu juga terbatas, tenaga apa lagi. Allah masih memberikan kesempatan kepada kita. Dari rumah kita menuju ke masjid ini insya Allah amal saleh, dari ruang kerja kita menuju ke masjid ini insya Allah amal saleh, lewat di jalan mampir di masjid ini insya Allah amal saleh. Islam mengajarkan bahwa apa pun yang kita kerjakan kalau dilandasi dengan dua hal maka akan berujung menjadi amal saleh.

Kedua hal itu adalah : ikhlas dan tidak bertentangan dengan syariat Islam, maka apa saja yang kita kerjakan akan menjadi amal saleh.

Amal saleh tidak terbatas jumlahnya, tidak terhitung jenisnya, berbeda dengan ibadah ritual dapat dihitung jari: salat, puasa, zakat, haji, kurban, aqiqah, zikir, doa.

Sedangkan amal saleh tidak terhitung jenis dan macamnya. Seperti ungkapan : “kalau tidak bisa memuji, jangan mencaci”, kalau tidak bisa menjaga ketertiban, jangan buat keributan, kalau tidak bisa membersihkan, jangan mengotori”.

Artinya dengan tidak melakukan keburukan yang kecil, kita sudah bisa bermanfaat sangat besar bagi yang lain. Apalagi jika kita senantiasa termotivasi dan melakukan kerja-kerja yang membawa manfaat kepada sesama. (*).

Follow us

0FansSuka
3,910PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest news