Jumat, Oktober 23, 2026
Google search engine
Beranda blog Halaman 6

Meningkatkan Kepedulian Sesama Muslim

0

Oleh : H.M.ASHAR TAMANGGONG, S.Ag., M.Pd (Ketua BAZNAS) Kota Makassar

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah

Pada hari yang mulia ini, khatib menyeru kepada jamaah sekalian untuk senantiasa menjaga serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt. Takwa sebagaimana yang dirumuskan para ulama, yaitu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Semoga dengan ketakwaan, setiap problema hidup yang kita hadapi menemukan solusinya, dan kita dilimpahi rezeki yang datangnya tanpa disangka-sangka. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Quran surah At-Talaq Ayat 2 dan 3:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ

Artinya: “Siapa pun yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS At-Talaq: 2-3).

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah

Ketika masyarakat sudah semakin modern dan peradaban semakin maju, tidak menutup kemungkinan tingkat individualisme semakin tinggi. Sehingga, tingginya sikap individualis yang mementingkan diri sendiri dan mengingkari manusia sebagai makhluk sosial berakibat pada ketidakpedulian satu individu terhadap individu lainnya.

Sikap individualis dan tidak peduli terhadap orang lain bisa terjadi pada umat Islam. Padahal, Islam sendiri melalui Al-Quran memerintahkan satu Muslim dengan Muslim lainnya untuk merekatkan tali persaudaraan, menolong satu sama lain, peduli ketika mendapat kesulitan dan ditimpa kezaliman, saling memperingati dan menasihati dan lain sebagainya.

Mengenai tali persaudaraan antar muslim, Allah berfirman dalam Al-Quran surat ‘Ali ‘Imran ayat 103:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Artinya, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS ‘Ali Imran: 103).

Ayat ini turun pada suku Aus dan Khazraj yang mana mereka saling bermusuhan dan berperang sebelum datangnya Islam. Dalam ayat ini, terdapat perintah untuk berpegang teguh pada Al-Quran dan larangan berpecah belah antara satu Muslim dengan Muslim lainnya. Pada ayat ini juga terdapat perintah untuk senantiasa akrab dan bersatu pada pada ketaatan pada Rasulullah saw. (Syekh Wahbah al-Zuhaili, al-Tafsir al-Munir, [Beirut: Dar al-Fikr], jilid IV, hal. 28).

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah

Dari ayat ini setidaknya kita mendapatkan peringatan untuk muhasabah dan merenung apakah selama ini kita hanya mementingkan diri sendiri saja, sehingga tidak peduli kepada urusan umat Islam, bahkan ketika mereka dizalimi dan dirampas haknya.

Ayat ini juga dapat kita jadikan bahan renungan, apakah hasrat duniawi yang menyibukkan kita, telah menghalangi diri kita dari mengikuti aktivitas-aktivitas keagamaan dalam Islam untuk mempererat tali persaudaraan antar Muslim. Sebagaimana yang kita ketahui, banyak aktivitas dalam Islam yang dapat memperat tali silaturahmi, salah satunya shalat jamaah di masjid dan juga shalat Jumat.

Meskipun bercerai berai dilarang dalam Islam, perbedaan tetaplah menjadi hal yang niscaya terjadi. Tentunya, perbedaan pendapat, baik dalam dunia keilmuan atau dalam menghadapi peristiwa yang terjadi, tetap dibolehkan. Yang tidak boleh adalah bermusuhan karena beda pendapat, bahkan menzalimi dan menyakiti satu sama lain.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah

Selain diperintahkan untuk mempererat tali persaudaraan antar sesama Muslim dan juga larangan berpecah belah yang ada dalam Al-Qur’an, kita juga dilarang untuk menzalimi sesama Muslim. Menzalimi Muslim banyak bentuknya, dari mulai berkata buruk, menipu, memusuhi, merampas harta dan kepemilikan hingga ketentraman hidup mereka.

Larangan berbuat zalim terhadap sesama Muslim sangatlah tegas dalam Islam. Rasulullah saw pernah bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Artinya, “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti. Siapa pun yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya. Siapa pun yang menghilangkan satu kesusahan seorang Muslim, maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Siapa pun yang menutupi (aib) seorang Muslim maka Allah akan menutupi (aibnya) pada hari kiamat.” (HR. Muslim).

Dalam hadits ini, bahkan bukan hanya perbuatan zalim yang dilarang untuk kita lakukan kepada Muslim lainnya. Membiarkan orang Muslim tersakiti pun tidak dibiarkan oleh Islam. Selain itu, dalam hadits ini pula terdapat keutamaan dan pahala bagi Muslim yang menolong Muslim lainnya dan menutupi aibnya.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah

Dalam hadits lain bahkan disebutkan bahwa seorang Muslim memiliki masalah di hatinya jika ia menghina saudaranya sesama Muslim. Rasulullah saw pernah bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَخُونُهُ وَلَا يَكْذِبُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ عِرْضُهُ وَمَالُهُ وَدَمُهُ التَّقْوَى هَا هُنَا بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْتَقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ

Artinya, “Seorang Muslim itu saudara bagi seorang Muslim, dia tidak mengkhianatinya, tidak berdusta kepadanya juga tidak menelantarkannya. Seorang Muslim itu haram atas Muslim lainnya untuk mengganggu kehormatannya, hartanya dan tidak pula menumpahkan darahnya. Takwa itu berada di sini, cukuplah dalam hati seseorang itu ada keburukan apabila dia menghina saudaranya yang Muslim.” (HR. al-Tirmidzi).

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah

Dalam hadits lain juga disebutkan, bentuk tolong-menolong antar Muslim tidak hanya ketika saudara Muslimnya dizalimi. Akan tetapi mencegah mereka dari berbuat zalim pun merupakan bentuk tolong menolong yang diperintahkan oleh Islam. Rasulullah bersabda:

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ قَالَ تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنْ الظُّلْمِ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ

Artinya, “’Tolonglah saudaramu baik ia zalim atau dizalimi.” Ada seorang laki-laki bertanya; ‘ya Rasulullah, saya mengerti jika ia dizalimi, namun bagaimana saya menolong padahal ia zalim? ‘Nabi menjawab, ‘Engkau mencegahnya atau menahannya dari berbuat zalim, itulah cara menolongnya’.” (HR. Al-Bukhari).

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah

Semoga dengan penjelasan ini, sebagai Muslim, kita dapat merekatkan kembali tali persaudaraan kita dengan Muslim lainnya. Jangan sampai kita terpecah belah karena hal-hal duniawi atau bahkan saling bermusuhan karena suatu perbedaan, salah satunya adalah perbedaan politik. Mari kita jadikan perbedaan sebagai suatu kekayaan yang harus dikelola dengan baik.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Meneladani Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW

0

Oleh : Prof. Dr. H. Firdaus Muhammad, MA

BANGSA Indonesia baru saja melakukan pesta demokrasi melalui Pemilu 2024. Pemilu merupakan jalan konstitusional dalam memilih pemimpin bangsa, setiap masyarakat yang memiliki hak memilih tetah menentukan pilihannya, siapapun kelak ditetapkan sebagai pemenang yang mendapat legitimasi rakyat memimpin negeri ini, pemimpin yang memilki tanggung jawab untuk memimpin seluruh rakyat Indonesia tanpa mengenal pedukung atau bukan. Setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Setiap memimpin menjadi teladan.

Dalam konteks ini, kita sebagai umat Islam, warga beragama senatiasa menjadikan sosok Rasulullah SAW sebagai teladanan dalam kehidupan kita, baik individual, keluarga maupun bernegara. Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin yang memberi contoh teladanan. Kepemimpinan nabi berpijak baik pada landasan agama juga menjadikan jalan politik sebagai strategi kepimpinannya sehingga Islam jaya. Politik dijadikan jalan untuk kepentingan agama dan negara, bukan sebaliknya, agama dijadikan sebagai alat politik untuk mendapatkan kekuasaan secara pragmatis.

Keteladanan kepemimpinan Rasulullah SAW berpijak pada 4 pondasi yang patut dicontoh pemimpin saat ini.

  1. Pemimpin Amanah
  2. Pemimpin Siddiq
  3. Pemimpin Fatahanah
  4. Pemimpin Tabliqh

Pertama, pemimpin yang amanah adalah pemimpin dengan kepercayaan tinggi, bertanggung jawab. Memiliki kepedulian pada umat, berbuat semata tujuannya agar masyarakatnya sejahtera, terjamin keamanannya sehingga mendapatkan kehidupan yang tenang dalam beribadah dan bekerja untuk keluarganya. Pemimpin yang amanah sebagaimana diteladankan nabi, mendahulukan kebutuhan masyarakat terpenuhi daripada dirinya. Kadang nabi, setelah rapat bersama para sahabat ihwal kehidupan masyarakat, sementara nabi sendiri kala kembali ke rumah lalu bertanya pada istrinya, wahai aisyah, apakaha ada makanan hari ini. Sang istri menjawab tidak ada yang rasulullah. Kemudian Nabi menimpalinya, kalau begitu saya akan puasa. Berpuasa karena tidak ada makanan. Seorang pemimpin, seorang nabi kelaparan. Mementingkan umatnya dibanding dirinya.   

Kedua, pemimpin yang siddiq adalah pemimpin yang jujur. Nabi sejak kecil dikenal jujur sehingga diberi gelar al-amin. Modal kepemimpinan nabi adalah kepercayaan. Demikianhalnya, seorang pemimpin harus jujur. Kehormatan seorang pemimpin bukan pada jabatan dan kekuasaannya, tapi pada prosesnya, bagaimana cara yang ditempuhnya untuk meraih jabatan itu, benar atau tidak, diridhai Allah atau sebaliknya. Apabila seorang pemimpin terpilih dengan kecurangan maka rakyatnya yang lebih awal mengalami penderitaan. Kepercayaan masyarakat menjadi modal utama seorang pemimpin.

Ketiga, pemimpin yang fatanah. Cerdas secara spiritual, emosional dan intekektual. Nabi merupakan sosok yang cerdas. Kala meyakini dirinya menjadi target pembunuhan kafir quraisy, nabi mengambil strategi cukup cerdas dan menjadi penentu masa depan umat Islam. Nabi hijrah hanya didampingi Abu Akar Assiddiq, tidak bergabung dengah dengan rombongan umat Islam lainnya yang dalam perjalanan hijrah ke Madinah sebab Nabi menyadari, jika ikut rombongan sementara dirinya menjadi target pembunuhan, maka dipastikan kafir Quraish mengepungnya lalu menghabisi rombongan tersebut, jika itu terjadi Islam berakhir riwayatnya saat tu juga. Tapi dengan kecerdasan Nabi, perjalanan hijrahnya Nabi dan para sahabat berjalan lancar sekalipun penuh tantangan.

Keempat, pemimpin yang memiliki kemampuan bericara, bukan hanya retoris, tetapi memiliki pola komunikasi yang dicontohkan al-Qur’an. Misal, qaul kariman, qaul layyinan, qaulan maysura, qaul balighan hingga ahsanul qaul.

Rasulullah merupakan teladan yang paripurna, kepemimpinannya senantiasa dalam bimbingan wahyu. Selebihnya atas inisiatifnya serta hasil musyawarah dengan para sahabat. Nabi memiliki karakter kepemimpinan yang senantiasa relevan dan kondisi apapun, termasuk di Indonesia.

Karakter kepemimpinan nabi diantaranya:

  1. Musyawarah
  2. Kpentingan bersama
  3. Bijaksana
  4. Tawadhu, rendah hati
  5. Akhlaqul karimah

Hal tertinggi bagi seoramng pemimpin adalah memiliki etika, akhlaqul karimah. Nabi menjadi pemimpin tujuannya untuk menyempurnakan akhlak. Satunya perkataan dan perbuatan. Seorang pemimpin harus memiliki karakter. Mendahulukan musyawarah agar tidak menjadi pemimpin otoriter dan diktator. Musyawarah daah ikhtiar membangun konsensus, kesepakatan untuk kemalasahatan bersama. Sedikitpun nabi tidak mencontohkan kepemimpinan otoriter, nepotis.

Seoramg pemimpin seperti dicontohkan nabi, mendahulukan kepentingan bersama. Pikirannya semata bagaimana umatnya sejahtera, diperlakukan secara adil, tidak diskriminatif, senantiasa mendahulukan kepentingan bersama. Karenanya ia senantiasa menjadi bijak. Tidak pernah membedakan status sosial siapapun, memimpin dengan mengedepankan keseteraan, semua manusia diperlakukan sama sebab nilai satu manusia sama denga manusia keseluruhannya.

Terakhir, nabi adalah sosok pemimpin yang tawadhu. Sekalipun memiliki posisi dengan pemimpin tertinggi, seorang nabi dan pemimpin negara, namun nabi selalu bersikap tawadhu. Menghormati orang lain bukanlah tindakan merendahkan martabat kita melainkan justru mencerminkan etika dan akhlaqul karimah. Demikianlah cerminan kepemimpinan nabi yang patut kita teladani di tngah ikhtiar kita memilih pemimpin yang diharapkan memberikan kebaikan untuk negeri ini. Semoga pemimpin pilihan rakyat menjaga amanah mewujudkan negeri baldatun warabbun ghafur. Insya Allah.   

Prof. Dr. H. Firdaus Muhammad, MA, Pembina Pesantren An Nahdlah Makassar dan Guru Besar Komunikasi Politik Islam pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar

Sekum MUI : Sayang Sekali Kalau Libur Isra Mi’raj Hanya ke Tempat Wisata

0

MASJIDALMARKAZ,OR.ID, MAKASSAR – Bulan Rajab adalah bulan istimewa. Tanggal 27 pada bulan rajab adalah tanggal istimewa. Karena pada 27 Rajab ada peristiwa Isra Mi’raj, dimana yang diperjalankan dalam peristiwa itu adalah manusia istimewa.

Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan, Prof Dr. KH. Muammar Bakry, Lc, M. Ag, menegaskan hal itu saat membawakan ceramah hikmah Isra Mi’raj di Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf, Senin, 12 Februari 2024.

Tampak hadir dalam peringatan Isra Mi’raj di Masjid Al-Markaz Al-Islami, antara lain Sekretaris Umum Yayasan Islami Center (YIC) Al-Markaz Al-Islami Ir. Najamuddin Madjid, S.IP, Sekum MUI Makassar Dr. KH. Maskur Yusuf, M.Ag dan jamaah Masjid Al-Markaz Al-Islami.

Prof. Muammar yang tak lain juga adalah Imam Besar Masjid Al-Markaz Al-Islami mengingatkan, bahwa pemerintah sengaja meliburkan aktifitas perkantoran pada setiap 27  Rajab, itu bukan tanpa alasan yang substansial.

“Kenapa pemerintah menetapkan tanggal 27 Rajab sebagai hari libur. Pemerintah ingin mengatakan bahwa pada 27 Rajab jangan pergi kerja, jangan masuk kantor. Tapi coba kenang, coba peringati apa yang terjadi pada diri Nabi SAW Muhammad pada 27 Rajab itu, yang tidak dialami nabi dan rasul yang lain,” kata Prof. Muammar yang juga Rektor Universiras Islam Makassar (UIM).

Sayangnya, katanya, banyak orang justru menggunakan hari libur 27 Rajab untuk melakukan rekreasi ke tempat wisata atau ke mal. Padahal seharusnya, momentum itu digunakan untuk merenungi dan mengenang peristiwa-istimewa yang dialami Rasulullah Muhammad SAW.

Dikatakan Prof Muammar, Allah telah memilih 27 Rajab sebagai tanggal dan bulan istimewa, serta memanggil manusia yang paling istimewa. Maka seunggunya, orang yang memperingati Isra Mi’raj adalah tergolong orang-orang yang istimewa pula.

Prof Muammar menjelaskan bahwa ada tiga hikmah peristiwa Isra Mi’raj yaitu :

  1. Peristiwa Isra Mi’raj menantang manusia yang sepintar apapun bahwa tidak ada lagi mukjizat yang bisa menandingi Isra Mi’raj. Secanggih apapun alatnya, tidak akan mungkin sampai ke Sidrathil Muntaha. Bahkan malaikat Jibril pun yang diciptakan dari cahaya, hanya mampu menemani rasulullah hingga langit ketujuh
  2. Kenapa nabi mengendarai alat transportasi buraq untuk ber-Isra dan Mi’raj? Hikmahnya, adalah nabi menggunakan alat transportasi buraq karena akan menerima alat transportasi yang akan digunakan untuk umatnya, yaitu salat. Kata salat itu seakar kata dengan “silat”, biasa disebut “silaturrahim” yang berarti hubungan kekerabatan. Kalau demikian, hubungan antara manusia dengan Allah SWT yang menghubungkan manusia untuk sampai ke tujuan yaitu akherat, masuk ke dalam surga.
  3. Isra Mi’raj adalah hiburan manusia untuk ketemu dengan Allah. Sebelum peristiwa Isra Mi’raj, nabi merasakan keguncangan batin yang luar, yaitu meninggal istrinya, meninggal pamannya, juga senantiasa diejek oleh kafir Mekkah. Di tengah kegalutan luar biasa, nabi mengadu kepada Allah, sehingga itulah dihibur oleh Allah melalui Isra Mi’raj.

“Jadi kalau ada masalah, mengadulah kepada Allah melalui  salat. Jangan mengadu kepada dukun,” tandas Prof Muammar.  

Selengkapnya, ceramah Isra Mi’raj Prof Dr. KH. Muammar Bakry, Lc, M.Ag. dapat Anda saksikan di kanal https://www.youtube.com/watch?v=IPEwvA14V5w (*)

Ramai Pendaftar Bazar Al-Markaz , Jangan Sampai Anda Ketinggalan

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR – Bulan Ramadan sisa menghitung hari. Untuk menyambut bulan berkah itu, panitia Ramadhan Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf Makassar Kembali membuka pendaftaran Bazar Ramadhan 2024.

Kesibukan panitia bagian pendaftaran bazar tampak meningkat, Selasa 6 Februari 2024. Para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang ingin ikut dalam Bazar Ramadan Al-Markaz tampak mulai berdatangan.

Mereka diri untuk menempati tenant-tenant yang akan disiapkan panitia di halaman masjid sisi timur. Pada tahap awal, panitia tetap memberi prioritas peserta yang sudah langganan sebagai peserta Bazar Ramadan Al-Markaz.

Ketua Bazar Ramadan Al-Markaz, Satriya Madjid, menjelaskan bahwa panitia akan menyiapkan sekitar 400  tenant bazar. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tenant-tenant itu dikelompokkan ke dalam beberapa blok, seperti blok pakaian, blok kuliner dan blok permainan anak.

Satriya berharap, para peserta bazar bisa mematuhi ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan panitia. Hal tersebut, katanya, agar pelaksanaan bazar berjalan sukses dan memberi manfaat untuk semua. (*)

Al-Markaz Siapkan Kejutan Umrah di Pengajian Aisah Dahlan

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR – Puncak peringatan milad Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf ke-28 bertepatan Jumat 12 Januari 2024. Selain digelar diskusi publik, pada kegiatan puncak tersebut lan. akan digelar zikir dan Pengajian Akbar yang menghadirkan ustadzah kondang, dr. Aisah Dahlan.

Pengajian Akbar ini dijadwalkan diawali dengan Salat Ashar berjamaah dan zikir. Lokasi kegiatan dipusatkan di lantai 2 Masjid Al-Markaz Al-Islami. Panitia menyiapkan sebuah Videotrone LED berukuran 5 x 3 meter, sehingga jamaah bisa menyaksikan dengan jelas paparan materi yang diisajikan Ustadzah Aisah Dahlan.

Ketua Panitia, Satriya Madjid, mengatakan, pada kegiatan pengajian akbar tersebut, panitia juga menyiapkan kejutan hadiah berupa paket umrah bagi jamaah yang beruntung. “Jadi jangan sampai ada yang ketinggalan ikut Pengajian Akbar Aisah Dahlan. Siapa itu  aja terpilih memenangkan kejutan umrah,” katanya.

Aisah sendiri, dalam ceramah-ceramahnya, banyak memberi inspirasi di bidang agama dan kesehatan. Topik-topik yang sering disajikan yakni neuparenting, psikologi orang tua dan anak, rumah tangga, keluarga, dan bahkan persoalan narkoba.

Selain pengajian akbar, peringatan milad Masjid Al-Markaz Al-Islami ke-28 tersebut juga digelar pameran travel umrah & haji, perumahan dan UMKM. Pameran ini sendiri dimulai Kamis 11 Januari 2024 dan akan berakhir 14 Januari 2024.

Kegiatan lainnya adalah Pelatihan Muadzin, Pameran Kaligrafi, Lomba Mewarnai Masjid Al-Markaz, Lomba Foto Masjid Al-Markaz, Bazar UMKM, serta Diskusi Publik bertajuk Masjid sebagai Lokomotif Peradaban. (*)

Walikota Danny Pomanto : Siri’ na Pacceta ri Masjid Al Markaz

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR – Pameran Travel Umrah dan Haji, Perumahan, serta Bazar UMKM dalam rangka Milad ke-28 Masjid Al-Markaz Al-Islami, resmi digelar di teras Masjid Al-Markaz Kamis (11/01/2024). Pameran itu dibuka Walikota Makassar Moch. Ramdhan Pomanto bersama Ketua YIC Al-Markaz Al-Islami, Prof. Dr. Basri Hasanuddin, MA.

Menurut Danny, Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf bisa dikatakan mewakili sebagian besar wajah umat Kota Makassar. Oleh karena itu, keberadaan masjid yang diprakarsai Jend. M. Jusuf itu harus dijaga Bersama.

“Semua legend-legend kita ada di sini. Sehigga wajah umat Islam Kota Makassar itu, saya keterwakilan terbesarnya di Masjid Al-Markaz ini. Sehingga baik buruknya wajah umat Islam itu, saya tergantung baik buruknya penampilan Al-Markaz,” tandasnya

Danny menegaskan, apa yang menjadi cita-cita pemraksa Masjid Al-Markaz harus dilanjutkan. “Saya kira siri’ na paccena kita di sini (Al-Markaz). Kita harus Bersatu padu untuk memakmurkan Masjid Al-Markaz,” ujarnya.

Saat ini, berbagai kegiatan digelar di Masjid Al-Markaz sebagai rangkaian peringatan miladnya yang ke-28.

Selain Pameran Travel Haji dan Umrah, Bazar UMKM, juga ada Pameran Kaligrafi, Pelatihan Adzan, Lomba Mewarnai, Lomba Foto dan Diskusi Publik serta Pengajian Akbar yang akan diisi Ustadzah dr. Aisah Dahlan. Juga ada pembagian paket sembako bagi warga yang tidak mampu di sekitar Masjid Al-Markaz

Rangkaian berbagai kegiatan itu berlangsung hingga Ahad 14 Januari mendatang. (*)

Ustadzah Aisah Dahlan Pengajian Akbar di Al-Markaz, Begini Caranya Ikut

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR – Peringati miladnya yang ke-28, Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf Makassar, datangkan Ustazah Aisah Dahlan, seorang penceramah yang kini banyak digandrungi. Sang dokter akan tampil membawakan Pengajian Akbar, Jumat sore 12 Januari 2024.

Aisah dikenal banyak memberi inspirasi di bidang agama dan kesehatan. Materi ceramahnya banyak membahas topik neuparenting, psikologi orang tua dan anak, rumah tangga, keluarga, dan bahkan persoalan narkoba. 

Selain tatap muka, ceramah-ceramah Aisah juga banyak dibagikan di media sosial seperti Facebook, TikTok, Twitter, YouTube, dan Instagram. “Banyak sekali pertanyaan ke kami, apakah pengajian akbar itu perlu registrasi. Jadi tidak ada registrasi, dan terbuka untuk umum,” kata Satriya Madjid, Ketua Panitia Milad.

Satriya mengatakan, jamaah yang ingin mendengarkan langsung ceramah Ustadzah Aisah, dipersilakan datang lebih awal. Pengajian akbar akan dimulai dengan salah Ashar secara berjamaah.

Selain pengajian akbar, peringatan milad Masjid Al-Markaz Al-Islami ke-28 tersebut juga digelar pameran travel umrah & haji, perumahan dan UMKM. Pameran ini sendiri dimulai Kamis 11 Januari 2024 dan akan berakhir 14 Januari 2024.

Kegiatan lainnya adalah Pelatihan Muadzin, Pameran Kaligrafi, Lomba Mewarnai Masjid Al-Markaz, Lomba Foto Masjid Al-Markaz, Bazar UMKM, serta Diskusi Publik bertajuk Masjid sebagai Lokomotif Peradaban. (*)

Milad ke-28, Masjid Al-Markaz Gelar Pameran Travel Umrah dan Perumahan

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR – Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf Makassar dikenal sebagai salah satu masjid termegah di Kawasan Asia Tenggara. Tahukah Anda, masjid yang pembangunanannya diprakarsai mantan Menhankam/ Pangab, Jend. M. Jusuf, ini menginjak usia 28 tahun pada 12 Januari 2024 mendatang.

Untuk menyambut miladnya, Masjid Al-Markaz Al-Islami menggelar berbagai kegiatan. Salah satunya, pameran travel haji-umrah dan pengembang perumahan. Hal ini, bisa dimanfaatkan jamaah dan warga Makassar dengan mengunjungi booth atau stand pameran yang tersedia.

Ketua Panitia Milad ke-28 Masjid Al-Markaz Al-Islami, Satriya Madjid, mengungkapkan bahwa seyogyanya masjid memang tidak hanya dijadikan sebagai sarana ibadah ritual seperti shalat,  membaca Al-Qur’an dan dakwah saja.

Namun penting untuk memakmurkan masjid melalui kegiatan keumatan lainnya, seperti, pendidikan, kegiatan sosial, ekonomi, dan masalah kemaslahatan umat lainnya.

Satriya mengatakan, pentingnya memakmurkan masjid dengan berbagai kegiatan tersebut menjadi dasar dilakukannya kegiatan pameran dan bazar di masjid. Kegiatan tersebut diharapkan memberikan dampak ganda bagi kemakmuran masjid dan jamaahnya.

“Kita mau masjid dijadikan sebagai tempat bertemunya rejeki di antara jamaah maupun warga lainnya. Jadi antara yang mau beribadah umroh dan haji dengan penyelenggara umroh dan haji bertemunya di masjid. Antara warga yang cari rumah dan penyedia rumah bertemu di masjid. Itu harapan kita,” ujar Satriya di depan para peserta pameran dalam sesi technical meeting di d’Markaz Cafe, Kamis sore 4 Januari 2024.

Pameran travel haji-umrah dan pengembang perumahan akan digelar di teras Lantai 1 Masjid Al-Markaz Al-Islami. Kegiatan tersebut akan berlangsung selama 4 hari yaitu 11 Januari – 14 Januari 2024.

“Kami berharap warga tidak melewatkan kesempatan yang baik ini. Siapa tahu di masjid kebanggaan masyarakat Sulsel ini, ketemu jodohnya untuk memiliki rumah atau berangkat umrah dan haji,” katanya.

Bukan hanya pameran travel umrah-haji dan pengembang perumahan yang digelar sebagai rangkaian peringatan Milad ke-28 Masjid Al-Markaz Al-Islami. Namun ada sejumlah kegiatan lainnya antara lain, bazar UMKM, Lomba Mewarnai Masjid-Al-Markaz, Pelatihan Muadzin, Lomba Foto Masjid Al-Markaz, Diskusi Publik, dan Pengajian Akbar. (*)

Muhasabah Akhir dan Tahun Hijriah Syamsiah: Dampak Negatif serta Positifnya

0

Khutbah Jumat 5 Januari 2024

TAHUN Baru I dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.(1)

Perayaan tahun baru dimulai dari orang-orang kafir dan sama sekali bukan dari Islam. Perayaan tahun baru ini terjadi pada pergantian tahun kalender Gregorian yang sejak dulu telah dirayakan oleh orang-orang kafir.

Berikut adalah beberapa kerusakan akibat seorang muslim merayakan tahun baru.

Kerusakan I: Merayakan Tahun Baru Berarti Merayakan ‘Ied (Perayaan) yang Haram

Perlu diketahui bahwa perayaan (’ied) kaum muslimin ada dua yaitu ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha. Anas bin Malik mengatakan,

كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى

“Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.(2)

Namun setelah itu muncul berbagai perayaan (’ied) di tengah kaum muslimin. Ada perayaan yang dimaksudkan untuk ibadah atau sekedar meniru-niru orang kafir. Di antara perayaan yang kami maksudkan di sini adalah perayaan tahun baru Masehi. Perayaan semacam ini berarti di luar perayaan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maksudkan sebagai perayaan yang lebih baik yang Allah ganti. Karena perayaan kaum muslimin hanyalah dua yang dikatakan baik yaitu Idul Fithri dan Idul adha.

Perhatikan penjelasan Al Lajnah Adaa-imah lil buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta’, komisi fatwa di Saudi Arabia berikut ini:

Al Lajnah Adda-imah mengatakan, “Yang disebut ‘ied atau hari perayaan secara istilah adalah semua bentuk perkumpulan yang berulang secara periodik boleh jadi tahunan, bulanan, mingguan atau semisalnya. Jadi dalam ied terkumpul beberapa hal:

Hari yang berulang semisal idul fitri dan hari Jumat.

Berkumpulnya banyak orang pada hari tersebut.

Berbagai aktivitas yang dilakukan pada hari itu baik berupa ritual ibadah ataupun non ibadah. Hukum ied (perayaan) terbagi menjadi dua:

Ied yang tujuannya adalah beribadah, mendekatkan diri kepada Allah dan mengagungkan hari tersebut dalam rangka mendapat pahala, atau

Ied yang mengandung unsur menyerupai orang-orang jahiliah atau golongan-golongan orang kafir yang lain maka hukumnya adalah bid’ah yang terlarang karena tercakup dalam sabda Nabi saw. ,من أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang mengada-adakan amal dalam agama kami ini padahal bukanlah bagian dari agama maka amal tersebut tertolak. (R. Bukhari dan Muslim)

Misalnya adalah peringatan maulid Nabisaw., hari ibu dan hari kemerdekaan. Peringatan maulid nabi itu terlarang karena hal itu termasuk mengada-adakan ritual yang tidak pernah Allah izinkan di samping menyerupai orang-orang Nasrani dan golongan orang kafir yang lain. Sedangkan hari ibu dan hari kemerdekaan terlarang karena menyerupai orang kafir.”(3) -Demikian penjelasan Lajnah-

Begitu pula perayaan tahun baru termasuk perayaan yang terlarang karena menyerupai perayaan orang kafir.

Kerusakan II : Merayakan Tahun Baru Berarti Tasyabbuh (Meniru-niru) Orang Kafir

Merayakan tahun baru termasuk meniru-niru orang kafir. Dan sejak dulu Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mewanti-wanti bahwa umat ini memang akan mengikuti jejak orang Persia, Romawi, Yahudi dan Nashrani. Kaum muslimin mengikuti mereka baik dalam berpakaian atau pun berhari raya.

Dari Abu Hurairah, Nabi saw. bersabda,

« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ » . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ « وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ »

Artinya :

“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah saw. “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi? (4)

Dari Abu Sa’id Alkhudri, ia berkata bahwa Rasulullah saw.  bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ . قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

Artinya :

Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang penuh lika-liku, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (5)

An Nawawi  rahimahullah– ketika menjelaskan hadits tersebut menjelaskan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziro’ (hasta) serta lubang dhob (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashroni. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal kekufuran. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini.”(6)

Apa yang dikatakan oleh Nabi saw. Apa yang beliau katakan memang benar-benar terjadi saat ini. Berbagai model pakaian orang barat diikuti oleh kaum muslimin, sampai pun yang setengah telanjang. Begitu pula berbagai perayaan pun diikuti, termasuk pula perayaan tahun baru ini.

Ingatlah, Nabi saw. secara tegas telah melarang kita meniru-niru orang kafir (tasyabbuh). Beliau bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Artinya :

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (7)

Menyerupai orang kafir (tasyabbuh) ini terjadi dalam hal pakaian, penampilan dan kebiasaan. Tasyabbuh di sini diharamkan berdasarkan dalil Alquran, As Sunnah dan kesepakatan para ulama (ijma’).(8)

Kerusakan III : Merekayasa amalan yang tanpa tuntunan di malam tahun baru

Perayaan tahun baru ini berasal dari orang kafir dan merupakan tradisi mereka. Namun sayangnya di antara orang-orang jahil ada yang mensyari’atkan amalan-amalan tertentu pada malam pergantian tahun. “Daripada waktu kaum muslimin sia-sia, mending malam tahun baru kita isi dengan dzikir berjama’ah di masjid. Itu tentu lebih manfaat daripada menunggu pergantian tahun tanpa ada manfaatnya”, demikian ungkapan sebagian orang. Ini sungguh aneh.

Pensyariatan semacam ini berarti melakukan suatu amalan yang tanpa tuntunan. Perayaan tahun baru sendiri adalah bukan perayaan atau ritual kaum muslimin, lantas kenapa harus disyari’atkan amalan tertentu ketika itu? Apalagi menunggu pergantian tahun pun akan mengakibatkan meninggalkan berbagai kewajiban sebagaimana nanti akan kami utarakan.

Jika ada yang mengatakan, “Daripada menunggu tahun baru diisi dengan hal yang tidak bermanfaat, mending diisi dengan dzikir. Yang penting kan niat kita baik.”

Maka cukup kami sanggah niat baik semacam ini dengan perkataan Ibnu Mas’ud ketika dia melihat orang-orang yang berdzikir, namun tidak sesuai tuntunan Nabi saw. Orang yang melakukan dzikir yang tidak ada tuntunannya ini mengatakan pada Ibnu Mas’ud,

وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ.

Artinya :

Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan. Ibnu Mas’ud lantas berkata :

وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

Artinya :

Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun mereka tidak mendapatkannya. (9)

Jadi dalam melakukan suatu amalan, niat baik semata tidaklah cukup. umat harus juga mengikuti contoh dari Nabi saw., baru amalan tersebut bisa diterima di sisi Allah.

Kerusakan IV :Terjerumus dalam keharaman dengan mengucapkan selamat tahun baru

Tahun baru adalah syiar orang kafir dan bukanlah syiar kaum muslimin. Jadi, tidak pantas seorang muslim memberi selamat dalam syiar orang kafir seperti ini. Bahkan hal ini tidak dibolehkan berdasarkan kesepakatan para ulama (ijma’).

Ibnul Qoyyim dalam Ahkam Ahli dzimmah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya. Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.

Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.(10)

Kerusakan V : Meninggalkan perkara wajib yaitu shalat lima waktu

Betapa banyak disaksikan, karena begadang semalam suntuk untuk menunggu detik-detik pergantian tahun, bahkan begadang seperti ini diteruskan lagi hingga jam 1, jam 2 malam atau bahkan hingga pagi hari, kebanyakan orang yang begadang seperti ini luput dari shalat Shubuh yang kita sudah sepakat tentang wajibnya. Di antara mereka ada yang tidak mengerjakan shalat Shubuh sama sekali karena sudah kelelahan di pagi hari. Akhirnya, mereka tidur hingga pertengahan siang dan berlalulah kewajiban tadi tanpa ditunaikan sama sekali. Na’udzu billahi min dzalik.

Ketahuilah bahwa meninggalkan satu saja dari shalat lima waktu bukanlah perkara sepele. Bahkan meningalkannya para ulama sepakat bahwa itu termasuk dosa besar.

Ibnul Qoyyim  rahimahullah– mengatakan, “Kaum muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja termasuk dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.(11)

Adz dzahabi  rahimahullah juga mengatakan, “Orang yang mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya termasuk pelaku dosa besar. Dan yang meninggalkan shalat -yaitu satu shalat saja- dianggap seperti orang yang berzina dan mencuri. Karena meninggalkan shalat atau luput darinya termasuk dosa besar. Oleh karena itu, orang yang meninggalkannya sampai berkali-kali termasuk pelaku dosa besar sampai dia bertaubat. Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat termasuk orang yang merugi, celaka dan termasuk orang mujrim (yang berbuat dosa (12)

Nabi saw. pun mengancam dengan kekafiran bagi orang yang sengaja meninggalkan shalat lima waktu. Buraidah bin Al Hushoib Al Aslamiy berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda,

الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

Artinya :

Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir. (13) Oleh karenanya, seorang muslim tidak sepantasnya merayakan tahun baru sehingga membuat dirinya terjerumus dalam dosa besar.

Merayakan tahun baru, seseorang dapat pula terluput dari amalan yang utama yaitu shalat malam. Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda:

أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

Artinya :

Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.(14) Shalat malam adalah sebaik-baik shalat dan shalat yang biasa digemari oleh orang-orang sholih. Seseorang pun bisa mendapatkan keutamaan karena bertemu dengan waktu yang mustajab untuk berdo’a yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Sungguh sia-sia jika seseorang mendapati malam tersebut namun ia menyia-nyiakannya. Melalaikan shalat malam disebabkan mengikuti budaya orang barat, sungguh adalah kerugian yang sangat besar.

Kerusakan VI : Begadang Tanpa Ada Hajat

Begadang tanpa ada kepentingan yang syar’i dibenci oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk di sini adalah menunggu detik-detik pergantian tahun yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

Artinya :

Rasulullah saw. membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.(15)

Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi saw. tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottab sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!”[16] Apalagi dengan begadang, ini sampai melalaikan dari sesuatu yang lebih wajib (yaitu shalat Shubuh)

Kerusakan VII : Terjerumus dalam Zina

Jika kita lihat pada tingkah laku muda-mudi saat ini, perayaan tahun baru pada mereka tidaklah lepas dari ikhtilath (campur baur antara pria dan wanita) dan berkholwat (berdua-duan), bahkan mungkin lebih parah dari itu yaitu sampai terjerumus dalam zina dengan kemaluan. Inilah yang sering terjadi di malam tersebut dengan menerjang berbagai larangan Allah dalam bergaul dengan lawan jenis. Inilah yang terjadi di malam pergantian tahun dan ini riil terjadi di kalangan muda-mudi. Padahal dengan melakukan seperti pandangan, tangan dan bahkan kemaluan telah berzina. Ini berarti melakukan suatu yang haram.

Abu Hurairah ra. Rasulullah saw.  bersabda:

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

Artinya :

Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.(17)

KerusakanVIII : Mengganggu Kaum Muslimin

Merayakan tahun baru banyak diramaikan dengan suara mercon, petasan, terompet atau suara bising lainnya. Ketahuilah ini semua adalah suatu kemungkaran karena mengganggu muslim lainnya, bahkan sangat mengganggu orang-orang yang butuh istirahat seperti orang yang lagi sakit. Padahal mengganggu muslim lainnya adalah terlarang sebagaimana sabda Nabi saw:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Artinya :

Seorang muslim adalah seseorang yang lisan dan tangannya tidak mengganggu orang lain. (18)

Ibnu Baththol mengatakan, “Yang dimaksud dengan hadits ini adalah dorongan agar seorang muslim tidak menyakiti kaum muslimin lainnya dengan lisan, tangan dan seluruh bentuk menyakiti lainnya. Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Orang yang baik adalah orang yang tidak menyakiti walaupun itu hanya menyakiti seekor semut. (19)         Perhatikanlah perkataan yang sangat bagus dari Al Hasan Al Basri. Seekor semut yang kecil saja dilarang disakiti, lantas bagaimana dengan manusia yang punya akal dan perasaan disakiti dengan suara bising atau mungkin lebih dari itu.

Kerusakan IX : Meniru Perbuatan Setan dengan Melakukan Pemborosan

Perayaan malam tahun baru adalah pemborosan besar-besaran hanya dalam waktu satu malam. Jika kita perkirakan setiap orang menghabiskan uang pada malam tahun baru sebesar Rp.1000 untuk membeli mercon dan segala hal yang memeriahkan perayaan tersebut, lalu yang merayakan tahun baru sekitar 10 juta penduduk Indonesia, maka hitunglah berapa jumlah uang yang dihambur-hamburkan dalam waktu semalam? Itu baru perkiraan setiap orang menghabiskan Rp. 1000, bagaimana jika lebih dari itu?! Masya Allah sangat banyak sekali jumlah uang yang dibuang sia-sia. Itulah harta yang dihamburkan sia-sia dalam waktu semalam untuk membeli petasan, kembang api, mercon, atau untuk menyelenggarakan pentas musik, dsb. Padahal Allah Ta’ala telah berfirman:

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

Artinya :

Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (Qs. Al Isro’: 26-27)

Ibnu Katsir mengatakan, “Allah ingin membuat manusia menjauh sikap boros dengan mengatakan: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” Dikatakan demikian karena orang yang bersikap boros menyerupai setan dalam hal ini.

Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar.” Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Namun jika seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).” Qotadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.(20)

Kerusakan X : Menyia-nyiakan Waktu yang Begitu Berharga

Merayakan tahun baru termasuk membuang-buang waktu. Padahal waktu sangatlah kita butuhkan untuk hal yang bermanfaat dan bukan untuk hal yang sia-sia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi nasehat mengenai tanda kebaikan Islam seseorang:

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

Artinya :

Tanda – tanda  kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya. (21)

Ingatlah bahwa membuang-buang waktu itu hampir sama dengan kematian yaitu sama-sama memiliki sesuatu yang hilang. Namun sebenarnya membuang-buang waktu masih lebih jelek dari kematian.

Mari merenungkan perkataan Ibnul Qoyyim, “(Ketahuilah bahwa) menyia-nyiakan waktu lebih jelek dari kematian. Menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu (membuatmu lalai) dari Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.(22)

Seharusnya seseorang bersyukur kepada Allah dengan nikmat waktu yang telah Dia berikan. Mensyukuri nikmat waktu bukanlah dengan merayakan tahun baru. Namun mensyukuri nikmat waktu adalah dengan melakukan ketaatan dan ibadah kepada Allah. Itulah hakekat syukur yang sebenarnya. Orang-orang yang menyia-nyiakan nikmat waktu seperti inilah yang Allah cela. Allah Ta’ala berfirman,

أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءكُمُ النَّذِيرُ

Artinya :

Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?” ( Fathir: 37). Qotadah mengatakan, “Beramallah karena umur yang panjang itu akan sebagai dalil yang bisa menjatuhkanmu. Marilah kita berlindung kepada Allah dari menyia-nyiakan umur yang panjang untuk hal yang sia-sia.(23)

Beberapa kerusakan dalam perayaan tahun baru. Sebenarnya masih banyak kerusakan lainnya yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu dalam tulisan ini karena saking banyaknya. Seorang muslim tentu akan berpikir seribu kali sebelum melangkah karena sia-sianya merayakan tahun baru. Jika ingin menjadi baik di tahun mendatang bukanlah dengan merayakannya.

Seseorang menjadi baik tentulah dengan banyak bersyukur atas nikmat waktu yang Allah berikan. Bersyukur yang sebenarnya adalah dengan melakukan ketaatan kepada Allah, bukan dengan berbuat maksiat dan bukan dengan membuang-buang waktu dengan sia-sia. Lalu yang harus kita pikirkan lagi adalah apakah hari ini kita lebih baik dari hari kemarin? Pikirkanlah apakah hari ini iman kita sudah semakin meningkat ataukah semakin anjlok! Itulah yang harus direnungkan seorang muslim setiap kali bergulirnya waktu.

Ya Allah, perbaikilah keadaan umat Islam saat ini. Perbaikilah keadaan saudara-saudara kami yang jauh dari aqidah Islam. Berilah petunjuk pada mereka agar mengenal agama Islam ini dengan benar.

Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (Qs. Hud: 88)

بارك الله لي ولكم في كتا به العظيم ونفنعنا بما فيه من الايات وذكر الحكيم ولذكر الله العظيم والله يعلم ما تصنعون

Relasi Iman dan Cinta Tanah Air

0

Khatib : H. Muhaemin Badaruddin

CINTA tanah air adalah bahagian dari iman, seperti itulah yang difahami dalam ajaran Islam. Kecintaan tersebut diwujudkan dengan mengisi kemerdekaan  dngan pembangunan dan mempertahankan kedaulatan wilayah, mensejahterakan masyarakat.  Umat Islam wajib menjaga persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu memupuk persaudaraan dan persatuan di kalangan Muhajirin, antara kalangan Muhajirin dan Ansor. Mencintai tanah air merupakan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah mencintai Makkah dan Madinah karena dua tempat mulia tersebut merupakan tanah air beliau. Mencintai tanah air adalah bagian dari iman karena tanah air merupakan sarana primer untuk melaksanakan perintah agama. Tanpa tanah air, seseorang akan menjadi tunawisma. Tanpa tanah air, agama seseorang kurang sempurna, dan tanpa tanah air, seseorang akan menjadi terhina. Syekh Muhammad Ali dalam kitab Dalilul Falihin mengatakan:

 حُبُّ الوَطَنِ مِنَ الإِيْماَنِ  

H. Muhaemin Badaruddin (handover)

“Cinta tanah air bagian dari iman.” Terkait anjuran untuk mencintai tanah air, Nabi memberikan sebuah contoh teladan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari juz 3 halaman 23:

 حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ، عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ، فَنَظَرَ إِلَى جُدُرَاتِ المَدِينَةِ، أَوْضَعَ رَاحِلَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا»

“Ketika Rasulullah hendak datang dari bepergian, beliau mempercepat jalannya kendaraan yang ditunggangi setelah melihat dinding kota Madinah. Bahkan beliau sampai menggerak-gerakan binatang yang dikendarainya tersebut. Semua itu dilakukan sebagai bentuk kecintaan beliau terhadap tanah airnya. ” (HR Bukhari).

Jika agama diartikan sebagai jalan hidup, sudah semestinya agama berperan dalam realitas kehidupan. Dalam konteks tersebut, realitas bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa majemuk menuntut seluruh elemen bangsa menjaga dan merawat persatuan dan kesatuan. Di sinilah prinsip cinta tanah air harus diteguhkan. Perjuangan membela tanah air sebagai kewajiban agama atas seluruh rakyat Indonesia sebagai kaum beragama yang berdampak lebih luas yakni kemaslahatan sebuah bangsa yang akan mengantarkan pada kemakmuran dan keadilan sosial.

Mengapa hubbul wathan minal îmân? Karena hanya dengan kondisi bangsa dan negara yang aman dan stabil, umat Muslim bisa beribadah dengan nyaman, beramal dengan baik, dan dapat beristirahat dengan nyenyak. Pertengkaran hanya akan menyebabkan kemunduran keruntuhan. Atsar Khalifah Umar bin Khatab menyatakan:

ﻟَﻮْلَا ﺣُﺐُّ ﺍﻟْﻮَﻃَﻦِ ﻟَﺨَﺮُﺏَ ﺑَﻠَﺪُ ﺍﻟﺴُّﻮْﺀ ﻓَﺒِﺤُﺐِّ ﺍﻟْﺎَﻭْﻃَﺎﻥِ ﻋُﻤِﺮَﺕِ ﺍْﻟﺒُﻠْﺪَﺍﻥُ

Sayyidina Umar berkata: “Seandainya tidak ada cinta tanah air, hancurlah negara yang terpuruk. Dengan cinta tanah air, negara akan Berjaya.” Dengan kecintaan terhadap tanah air, setiap orang memiliki keinginan untuk menjadikan tanah airnya maju, aman, dan damai. Dengan cinta tanah air, seseorang tidak menginginkan bangsanya hancur, terpecah belah, penuh konflik, dan saling bermusuhan.    

Ulama mencetuskan prinsip hubbul wathani minal iman (cinta tanah air adalah bagian dari iman). Konteksnya saat itu untuk membangkitkan nasionalisme rakyat Indonesia untuk mengusir para penjajah. Ulama yang mampu membuktikan bahwa agama dan nasionalisme bisa saling memperkuat dalam membangun bangsa dan negara. Dua unsur ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Agama Islam memerlukan tanah air sebagai lahan dakwah dan menyebarkan agama, sedangkan tanah air memerlukan siraman-siraman nilai-nilai agama agar tidak tandus dan kering. 

Doa cinta tanah air yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim as yang difirmankan Allah SWT dalam Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 126:

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّارْزُقْ اَهْلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنْ اٰمَنَ مِنْهُمْ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَاُمَتِّعُهٗ قَلِيْلًا ثُمَّ اَضْطَرُّهٗٓ اِلٰى عَذَابِ النَّارِۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ ۝١٢٦ (Ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Makkah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan (hasil tanaman, tumbuhan yang bisa dimakan) kepada penduduknya, yaitu orang yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari Akhir.” Dia (Allah) berfirman, “Siapa yang kufur akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka. Itulah seburuk-buruk tempat kembali.”

Follow us

0FansSuka
3,910PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest news