Senin, Mei 25, 2026
Google search engine
Beranda blog Halaman 7

Ustadz Abdul Somad akan Beri Tausiyah di Masjid Al-Markaz Makassar, Catat Tanggalnya !

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR – Dai kondang, Prof. H. Abdul Somad, Lc., D.E.S.A, Ph.D, akrab disapa Ustadz Abdul Somad atau UAS, akan hadir di Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf Makassar, Sulawesi Selatan. UAS dijadwalkan mengisi tausiyah ba’da Ashar, Jumat 3 Nopember 2023.

Pengurus Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf menyatakan siap menyambut kedatangan UAS di masjid kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan itu.  Setelah memastikan jadwal kedatangan UAS, pengurus menggelar rapat koordinasi, Selasa (31/10/2023).  

“Kami dan tentu saja jamaah siap menyambut kehadiran Ustad Abdul Somad di Masjid Al-Markaz Al-Islami,” kata Ketua Panitia, H. Ismun Muhdar.

Ia berharap, jamaah dapat meramaikan dan menghadiri kegiatan tausyiah yang akan diisi oleh UAS tersebut. “Kalau selama ini banyak jamaah mengikuti ceramah-ceramah UAS melalui media sosial, maka ini adalah kesempatan yang baik untuk melihat lebih dekat dan mendengarkan langsung UAS menyampaikan tausiyah,” sambungnya.

Masjid Al-Markaz sendiri dapat menampung hingga sekitar 10 ribu jamaah pada lantai dua dan tiga, serta mampu menampung lebih dari 20 ribu jamaah jika juga digunakan lantai satu dan halaman masjid.

Masjid Al-Markaz AL-Islami juga memiliki area parkir yang  sangat luas, sehingga tak perlu khawatir tidak kebagian slot parkir. Masjid ini dapat diakses dari Jl. Masjid Raya, Jl Sunu, Jl. Kandea dan Jl. Masjid Al-Markaz.

Rencananya, UAS akan melakukan salat Ashar bersama di Masjid Al-Markaz, kemudian dilanjutkan dengan memberikan tausyiah. Kunjungan UAS merupakan rangkaian kunjungannya ke sejumlah daerah di Sulawesi Selatan.

UAS juga dijadwalkankan akan mengisi tausyiah di Masjid Agung Baburrazaq Villa Mutiara Sumarecon Makassar dan Lapangan Gasis Watasoppeng, Kabupaten Soppeng. (*)

KHUTBAH JUMAT : Peduli kepada Bangsa Palestina yang Sudah 75 Tahun Berjuang Merdeka

0

Oleh : Prof. Dr. H. Jalaludin Rahman, M.Ag.

لسلام عليكم ورحمة الله ولركاته

DALAM dua pekan ini, kita disibukkan dengan berita perang Palestina dan Israel.
Malah akhir-akhir ini kita menyaksikan saudara semuslim dan saudara semanusia diluluhlantakan kampungnya dan warganya dibantai secara membabi buta, tidak hanya tentara, tapi anak, wanita, orang tua ikut menjadi kurban. Sudah 2000an Orang meninggal. Pemukiman mereka dibombardir hingga rata dengan tanah.

Serangan kejam Israel ini merupakan balasan mereka terhadap serangan Hamas Palestina kepada Israel yg telah membunuh lebih 600 dan menawan tidak sedikitpun tentara dan warga Israel.

Setiap ada serangan Hamas, maka Israel membalasnya berlipat kali, apalagi baru kali ini serangan Hamas sangat mematikan.
Bahkan, ada yg mengumpamakan serangan Hamas kali ini laksana serangan 1 Oktober yg dipimpin oleh Soeharto yang berhasil menyadarkan penjajah Belanda bahwa NKRI masih ada yang pertahankannya.

Palestina, negara yang pertama mengakui kemerdekaan Indonesia 1945. Namun sejak tahun 1948, sejak berdirinya Negara Zionis Israel, Palestina boleh disebut sebagai awal era pencaplokan dan penjajahan Israel kepada Palestina yg pada mulanya diberi tempat menumpang di Palestina. Tapi berkat dukungan negara-negara Barat, lalu Israel berdiri jadi negara merdeka.

Sejak saat itulah terjadi sengketa dan perang. Yang selalu dimenangkan Israel. Dengan kemenangan itu, Israel mencaplok dan menduduki wilayah Palestina serta mengusir warga untuk ditempatkan warga Israel.

Perjuangan kemerdekaan Palestina terbelah kini menjadi dua bentuk, dengan dialog damai dan perlawanan senjata. Kelompok pertama, Fatah mendiami Tepi Barat Sungai Yordan dan kelompok kedua, Hamas mendiami Jalur Gaza. Yang bertempur sekarang ini adalah kelompok Hamas di jalur Gaza. Mereka ini kini mengalami kehancuran, penderitaan, pembantaian luar biasa.

Jamaah yang Mulia
Bagaimana sikap kita sebagai saudara sesama muslim dan sesama manusia?
Sikap bangsa Indonesia kepada perjuangan kemerdekaan Palestina tidak pernah luntur sehingga Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Malah Palestina memiliki hubungan diplomatik dengan Jakarta.

Jamaah yang terhormat
Kita tidak perlu mendukung atau menyesali pilihan yang berbeda itu dengan konsekuensinya masing-masing.
Yang terpenting bahwa kita sebagai saudara harus memberi bantuan konkrit kepada saudara kita yang sedang berjuang merdeka lalu alami penderitaan.
Allah SWT mengingatkan bahwa umat Islam ini dan manusia ini bersaudara dan satu:
انما المؤمنين أخوة فاصلحوا بين اخويكم…
كان الناس أمة واحدة …

Bahkan Nabi menggambarkan bahwa orang muslim dan manusia seperti satu tubuh, كالجسد الواحد. Kalau satu anggota badannya yang sakit, maka anggota badan lain ikut sakit.
Gambaran lain disebutkan ia laksana sebuah bangunan كالبنيان، setiap komponen menguatkan yang lainnya.

Jamaah yang Terhormat
Itulah sebabnya, Allah memerintahkan agar kalian manusia ini tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan, bukan sebaliknya kerja sama dalam korupsi berjamaah seperti banyak terjadi di negeri tercinta ini.


Allah berfirman:
وتعاونوا على البر والتقوى ولاتعاونوا على الاثم والعدوان ..

Bahkan Nabi juga mengajarkan agar sesama saling memudahkan dan membantu kesulitan yang dihadapi oleh sesamanya.

Nabi bersabda:
من يسر مسلما يسره الله فى الدنيا والأخيرة.

Bahkan, Allahpun mengajarkan bahwa setiap ada kesulitan, perjuangan, penderitaan seperti yang dialami saudara kita di Gaza Palestina meski cukup jauh, maka saudaranya di mana saja termasuk jamaah Jumat ini ikut mencari solusi, bantuan, dan dukungan.


Allah berfirman:
ان مع التغير يسار.

Kalau ada masalah, maka harus dicari solusi, jalan keluar at penyelesaian.

Majelis Ulama Indonesia Pusat telah mengedarkan seruan yang berisi beberapa hal. Untuk kesempatan ini, khathib hanya mengambil dua hal saja, yakni 1. Mendoakan baik sendiri-sendiri maupun berjamaah agar mereka diberi kesabaran, kekuatan, bantuan, dan kemenangan dalam perjuangan kemerdekaannya, 2. Mengumpulkan dana untuk membantu mereka secara finansial sebab mereka kini pasti alami ujian berat, kekurangan makanan, uang, listrik, pemondokan, dll.

Jamaah yang Terhormat
Inilah saatnya kita ikut berjihad, berjuang, ikut berperang bersama Hamas.
Hanya soal jarak yang sangat jauh sangat tidak memungkinkan menerjunkan diri kita ikut bersama Palestina melawan Israel. Itulah sebabnya MUI menyeru kita agar berdoa, qunut nazilah karena ada bencana kemanusiaan.
Kalau doa sudah dilakukan, apa sudah cukup?
Allah mengajarkan bahwa berjihad itu bisa dilakukan dengan harta, uang, dan jiwa.

Jamaah yang Mulia
Jihad dengan harta dan uang inilah yang bisa dilakukan. Melalui mimbar ini saya mengajak kepada segenap jamaah yang hadir agar merogoh kantongnya dalam-dalam untuk memberikan tanda turut kita berjihad bersama Hamas Palestina. Saya ajak mari kita kumpulkan dana sesudah kita tunaikan shalat Jumat. Kita usahakan maksimalkan bantuan kita. Kalau untuk kotak amal, biasa pilih uang kecil, maka untuk jihad kiranya dipertimbangkan uang besar-besar, tapi kalau yang ada uang tidak terbesar itu juga sudah mulai.


Malah yang kebetulan tidak atau kurang bawa uang, maka khathib minta kiranya bisa kembali menyusulkan dan stor di pengurus mesjid sore atau besok-besoknya.
Kalau ada yang masih ketemu usaha pengumpulan dana oleh organisasi atau grup watsup, diusahakan tidak ketinggalan. Uang yang diinfakkan di jalan Allah tidak akan hilang dan tidak mengurangi uang kita, malah tetap milik kita dan pergi cari. teman uang agar semakin murah rezeki kita. Yakinilah iman ini.

KESIMPULAN

  1. Alquran dan Nabi mengajarkan agar kita saling tolong menolong, saling mengurangi penderitaan sesama muslim dan sesama manusia.
  2. MUI Pusat telah menyerukan banyak hal, tapi ada dua yang utama, yakni mendoakan dan membantu dana.
  3. Kita yang jauh dari negeri Palestina yang lagi berperang dan tidak memungkinkan jihad jiwa, maka masih ada jihad lain yang bisa dilakukan dengan mengumpulkan uang guna disumbangkan kepada mereka. Berapapun jumlahnya pasti bermakna, tapi sebaiknya kita rogoh kantong kita dalam-dalam seraya mengambil uang besar, bukan uang receh

بارك الله لى ولكم فى القرآن العظيم ونفعنى واياكم بما فيه من الاياات الكريمة والاحاديث الشريفة ولذكر الله أكبر والله خبير بما تصنعون

Riuh, Lomba Fashion Show 150 Anak di Masjid Al-Markaz

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR – Berbeda biasanya, suasana riang gembira menggaung di aula Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu 18 Okober 2023. Riuh rendah suara para orangtua dan guru terus bersahutan.

Suasana itu tercipta lantaran di lantai satu masjid kebanggaan masyarakat Sulsel itu sedang berlangsung lomba fashion show anak- anak Taman Kanak-kanak (TK) se-Kecamatan Bontoala. Tingkah pola anak-anak itu mengundang keriuhan orang tua dan juga guru-guru mereka.

Mereka terlihat mengenakan berbagai pakaian profesi. Anak yang mengenakan seragam polisi, tentara, dokter, pilot dan beragam pakaian profesi lainnya. Kadang-kadang anak-anak itu melakukan hal-hal yang tidak diduga oleh mentor atau guru mereka.

Kepala TK Islam Al-Markaz Al-Islami, ST. Multazam Mukminin, S.Pd, mengatakan sebanyak 150 anak TK sederajat memeriahkan lomba fashion show pakaian profesi tersebut. Para peserta berasal dari TK-TK yang tersebar dalam wilayah Kecamatan Bontoala.

“Lomba fashion show ini merupakan salah satu perlombaan favorit karena menghadirkan keseruan melihat tingkah pola anak-anak kita,” kata Multazam.

Selain merupakan bentuk penghargaan terhadap busana yang dikenakan, tambah Multazam, lomba juga bertujuan meningkatkan kepercayaan diri anak dan menjadikannya bermental juara.

Lomba dalam rangka Gebyar Anak ini diadakan TK Islam Al-Markaz Al-Islami. Kategori lomba terbagi tiga yaitu kategori putra, kategori putri dan kategori peserta terbanyak. Bagi para pemenang lomba, panitia menyiapkan piala dan berbagai hadiah menarik.

Adapun para pemenang lomba fashion show pakaian profesi tersebut yakni :

Kategori Putra

Juara I : TK Aisyiah Mimbar

Juara II : TK Aisyiah Selatan

Juara III : TK Aisyiah Selatan

Juara Harapan I : TK Aisyiah Adnin

Juara Harapan II : TK Aiko

Juara Harapan III : TK Aisyiah Mimbar

Juara Tunas I : TK Al-Markaz

Juara Tunas II : TK Aisyiah Adnin

Juara Tunas III : TK Aisyiah Mimbar

Kategori Putri

Juara I : TK Aisyiah Selatan

Juara II : TK Aisyiah P. Layag

Juara III : TK Al-Markaz

Juara Harapan I : TK Al-Markaz

Juara Harapan II : TK 11 Desember

Juara Harapan III : TK Al-Markaz

Juara Tunas I : TK Aisyiah Nurut Taqwa

Juara Tunas II : TK Al-Markaz

Juara Tunas III : TK Aisyiah L. Utara

Kategori Peserta Terbanyak

Juara I : TK Al-Markaz

Juara II : TK Aisyiah Adnin

Juara III : TK Aisyiah L. Utara

Digelar TK Al-Markaz , Ibu dan Anak Antusias Ikut Lomba Mewarnai

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR – Taman Kanak-kanak (TK) Islam Al-Markaz Al-Islami menggelar lombar mewarnai dengan peserta ibu dan anak, Selasa 17 Oktober 2023. Lomba ini berlangsung meriah dan disambut penuh antusias oleh peserta.

Kepala TK Islam Al-Markaz Al-Islami, ST. Multazam A. Mukminin, S.Pd menjelaskan, lomba mewarnai tersebut diikuti levh dari 200 peserta ibu dan anak. Para peserta berasal dari taman kanak-kanak dari Kecamatan Bontoala.

“Peserta mewarnai kali ini bèrjumlah lebih 200 orang ibu dan anak. Peserta kali ini khusus Kecamatan Bontoala,” jelasnya.

Tampak peserta memenuhi aula dan area koridor selatan Masjid Al-Markaz Al-Islami. Ibu anak anaknya terlihat riang dan antusias dalam menyelesaikan warna gambar yang dikerjakannya.

Ditambahkan Multazam, lomba tersebut sengaja melibatkan ibu dan anaknya. Lomba bertujuan untuk meningkatkan kreatifitas dan kerjasama serta  komunikasi ibu dan anak. Lomba mewarnai akan mengembangkan motorik halus anak-anak, melalui koordinasi mata dan tangan, serta membantu membangun konsentrasi.

Tk Islam Al-Markaz Al-Islami menggelar lomba ini dalam rangka gebyar anak dan realisasi program tahunan. Selain lomba mewarnao, juga akan diadakan lomba lomba fashion show busana profesi, Rabu 18 Oktober 2023. (*)

Meneladani Akhlak Rasulullah

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR – Puji syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah SWT, sebab atas rahmat dan ridha-Nya kita semua berada dalam keadaan sehat wal-afiat. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan berkah, karunia dan nikmat yang tiada pernah putus kepada kita semua. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas junjungan kita Rasulullah Muhammad SAW, dan semoga kita semua akan mendapatkan syafaat darinya di alam akhirat kelak nanti.

Mengawali khutbah Jumat hari ini perkenankanlah dengan segala kerendahan hati kami mengajak, mari kita senantiasa terus meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, yakni dengan berusaha sekuat tenaga menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.

يا معاشر المسلمين وزمرة المؤمنين رحمكم الله

Seandainya boleh memilih, barangkali di antara kita ada yang ingin sekali dilahirkan dan hidup di masa Nabi Muhammad SAW. Dengan begitu kita bisa melihat dan merasakan langsung akhlak mulia, sifat kasih sayang, welas asih, dan kelembutan dakwah sang penghulu rasul itu.

Namun Allah SWT berkehendak lain. Kita hidup lebih dari 14 abad setelah putra Abdulah bin Abdul Muthalib itu wafat. Namun kita patut bersyukut sebab umat yang lahir jauh setelah Nabi Muhammad wafat juga termasuk orang yang beruntung.

Rasulullah SAW bersabda, “Bahagialah bagi siapa yang melihat aku dan beriman kepadaku. Dan bahagia (pulalah) bagi siapa yang beriman kepadaku, padahal dia tidak melihat aku (tujuh kali).”

Beruntung juga meski tak hidup di masa Rasulullah, semua hal tentang Nabi Muhammad SAW, termasuk soal akhlak mulianya, sifat kasih sayang hingga kelembutan hatinya dalam berdakwah bisa kita temukan dalam Al-Qur’an, sejumlah hadits dan juga Sirah Nabawiyah.

Banyak ulama, ustaz, dan para kiai juga berbagi kisah tentang keluhuran akhlak dan budi pekerti Rasulullah SAW. Allah SWT menggambarkan akhlak Rasulullah SAW di dalam surat Al-Qalam ayat 4:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Artinya: Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

Allah SWT juga berfirman dalam Surat At Taubah ayat 128 sebagaimana khatib bacakan di awal:

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Artinya: Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.

Disebutkan dalam hadits riwayat Imam Muslim, suatu ketika Hisyam bin Amir bertanya kepada Aisyah RA tentang akhlak Kanjeng Nabi Muhammad SAW. “Akhlak Nabi SAW adalah Al Quran.” Begitu jawab Aisyah.

Hindun bin Abu Halah yang merupakan anak Khadijah Ummul Mukminin sebagaimana ditulis dalam Sirah Nabawiyah karya Abdul Hasan ‘Ali al-Hasani an-Nadwi menyebut, Rasulullah SAW adalah seorang yang penyayang.

Oleh : AG.Syekh Dr. H. Baharuddin, HS, M.A.

Nabi Muhammad SAW tidak suka berkata kasar dan tidak suka menghina. Ali bin Abu Thalib menggambarkan, Rasulullah adalah orang yang berakhlak baik, mudah iba dan penuh kasih sayang dan tidak keras hati.

Menurut Ali, siapa pun yang melihat Rasulullah SAW, tanpa pikir panjang dia akan menghormatinya. “Beliau (Rasulullah SAW) paling baik hatinya, paling benar lisannya, paling lembut perangainya dan paling memuliakan keluarganya.” Begitu kata Ali sebagaimana disebutkan dalam Kitab asy-Syama-il karya Turmudzi.

Nabi Muhammad SAW tak punya sifat pendendam, tidak pernah membalas kejelekan dengan kejelekan, melainkan memaafkan dan menyalaminya. Perasaannya sangat halus. Salah satu buktinya adalah ketika pada suatu ketika saat Makkah sudah kembali ditaklukkan oleh umat Islam, ada seseorang bernama Wahsyi menghadap Rasulullah SAW.

Wahsyi adalah orang yang dengan licik dan keji membunuh paman Nabi Muhammad SAW, Hamzah bin Abdul Muthalib saat Perang Uhud. Setelah Makkah dikuasai umat Islam, Wahsyi tak tahu harus ke mana melarikan diri. Jalan satu-satunya adalah menghadap Rasulullah SAW dan menyatakan masuk Islam.

Di depan Rasulullah SAW, Wahsyi menyatakan masuk Islam dan mengakui sebagai orang yang telah dengan keji membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib. Marahkah Rasulullah? Tidak.

“Sembunyikanlah wajahmu dariku sehingga aku tidak melihatmu.” Begitu kata Rasulullah kepada Wahsyi.

Pernah suatu ketika ada seorang pengemis Yahudi tua dan buta di pinggir pasar Kota Madinah. Tak ada satu pun orang lewat yang mau memberinya makan atau uang, kecuali Nabi Muhammad SAW.

Tak hanya memberi makan, setiap pagi Nabi Muhammad juga dengan lembut menyuapi si pengemis buta. Namun bukan ucapan terima kasih yang didapat Muhammad, melainkan hinaan dan cacian.

Pengemis itu mengajak orang yang menyuapinya untuk tidak mengikuti ajaran Muhammad SAW. Sebab menurut dia, Muhammad adalah tukang sihir dan pembohong. Rasulullah, yang sejak kecil memiliki akhlak mulia, tak marah, apalagi dendam kepada si pengemis.

Hingga akhirnya pada suatu pagi si pengemis merasakan adanya perbedaan suapan dari orang yang menyuapi. Dia sudah merasakan perbedaan dari langkah kaki, cara menyuapkan makanan hingga nada bicaranya.

Pagi itu memang bukan Nabi Muhammad SAW yang menyuapi si pengemis buta, melainkan Abu Bakar Ash Shiddiq. Nabi Muhammad SAW telah wafat, sehingga Abu Bakar yang kemudian menjadi khalifah ganti menyuapi si pengemis buta.

Begitu pengemis itu tahu bahwa selama ini yang menyuapinya adalah Muhammad, orang yang sering dia hina, dia pun menangis dan menyesal. Penyesalannya pun bertambah manakala tahu bahwa lelaki berakhlak mulia yang lembut itu telah berpulang ke Rahmatullah. Pada akhirnya si pengemis itu masuk Islam dengan kemuliaan akhlak Rasulullah SAW.

Sekarang setelah Rasulullah SAW tak ada, umat ini butuh tauladan. Kepada para da’i, ustaz, ulama, kiai dan para tokoh agama kita berharap, “Tolong ‘hadirkan’ kembali akhlak mulia Rasulullah SAW”. (*)

Doakan Palestina, Masjid Diimbau Qunut Nazilah

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, Jakarta,- Pengurus Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI) mengimbau umat Islam untuk melaksanakan qunut nazilah di selurh masjid-masjid di Indonesia. Pelaksanaan qunut nazilah tersebut dilakukan dalam upaya membantu masyarakat Palestina

“Kita imbau agar seluruh masjid di Indonesia melakukan qunut nazilah untuk mendoakan perdamaian dan keselamatan rakyat Palestina,” kata Ketua Umum DMI, Jusuf kalla (JK) usai menerima Head Delegation IFRC Asean, Mr Elkan Rahimov dan Head Of Regional Delegation for Indonesia and Timor Leste (ICRC), Mr Vincent Ochilet, di Markas Pusat PMI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Senin, 10 Oktober 2023.

JK menambahkan, doa Qunut Nazilah dimaksudkan untuk meminta pertolongan dari Allah SWT agar konflik di Jalur Gaza segera berakhir. Apalagi dalam beberapa hari terakhir, konflik tersebut memanas pasca serangan Hamas ke Israel.

JK berharap, agar Allah SWT mengabulkan seluruh doa dan juga ikhtiar umat Islam agar konflik di jalur Gaza tersebut tidak berbuntut panjang. “Ini doa demi perdamaian,” tegas JK lagi.

Untuk diketahui, jalur Gaza kembali memanas berawal dari serangan kelompok Hamas yang melancarkan Operasi Banjir Al-Aqsa Jamas terhadap Israel Sabtu, (7/10/2023), pekan lalu.

Serangan mendadak itu dikatakan sebagai respons terhadap penyerbuan Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki dan meningkatnya kekerasan pemukim ilegal.

Tak tinggal diam, Israel melakukan pembalasan dengan melancarkan Operasi Pedang Besi terhadap Hamas di Jalur Gaza. Operasi ini menewaskan sedikitnya 508 warga Palestina dan melukai 2.800 lainnya. Sedangkan dari sisi Israel, sebanyak 800 warga tewas dan lebih dari 2.300 lainnya terluka dalam pertempuran tersebut.(*)

Tiga Kunci Kesuksesan Dunia Akhirat

0

Oleh : Dr. Muhammad Agus, S.Th.I., M.Th.I.

SETIAP  manusia pasti menginginkan kesuksesan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Hanya saja, yang menjadi tanda tanya adalah apa kunci kesuksesan itu? Pertanyaan yang cukup singkat namun jawabannya sangat dibutuhkan dalam upaya meraih harapan tersebut.

Terkait dengan hal ini, setidaknya ada 3 kunci kesuksesan yang mesti dimiliki oleh setiap orang, yaitu :

Pertama, niat yang suci.

Hal ini di dasari oleh firman Allah SWT dalam QS. al-Anfal : 70

اِنْ يَّعْلَمِ اللّٰهُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ خَيْرًا يُّؤْتِكُمْ خَيْرًا مِّمَّآ اُخِذَ مِنْكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ࣖ

“Bila Allah mengetahui bahwa dalam hatimu ada kebaikan niscaya Dia akan memberikan kebaikan kepadamu lebih baik dari apa yang telah diambil darimu dan Dia akan mengampuni dosamu. –Sesungguhnya- Allah maha Pengampun lagi maha Penyayang”.

Karena itulah, kebahagiaan dan kesuksesan itu mesti dijemput dengan hati yang bersih dan niat yang suci. Terlebih lagi niat yang baik itu sudah bernilai di sisi Allah SWT. Sebagai contoh, penanggalan Islam dikenal dengan istilah Hijriah, karena yang menjadi patokan adalah hijrahnya nabi dari Mekah ke Madinah.

Hanya saja, ada yang unik dalam penanggalan tersebut, sebab patokannya adalah hijrah, sementara fakta sejarah menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW berhijrah dari Mekah ke Madinah dilakukan di dalam bulan Rabiul Awal, sedangkan tahun Hijriah dimulai dari bulan Muharram.

Sehingga ini memunculkan pertanyaan, “apa hikmahnya bulan Muharram dijadikan sebagai bulan pertama sementara hijrahnya nabi dilakukan di dalam bulan Rabiul Awal?” Salah satu jawaban ulama adalah karena niatnya nabi ingin berhijrah itu muncul di dalam bulan Muharram sekalipun pelaksanaannya nanti dilakukan di bulan Rabiul Awal.

Hal ini sesuai dengan sabda Nabi yang mengatakan :  “Niatnya orang beriman lebih baik daripada amalnya” Sebab, niat sudah bernilai sekalipun amal belum ada. Akan tetapi amal nanti bernilai apabila ada niat. Ini berarti, berupayalah untuk terus melakukan kebaikan, namun bila kita belum mampu melakukan kebaikan paling tidak tetaplah berniat kebaikan. Semoga dengan niat kebaikan tersebut, Allah memudahkan kita mendapatkan kebaikan.

Dr. Muhammad Agus, S.Th.I., M.Th.I.

Kedua, doa yang tulus.

Setiap keinginan dan harapan yang ingin dicapai semestinya ditopang dengan doa kepada Allah yang Maha Kuasa. Sebab mengandalkan kemampuan pribadi dalam mewujudkan segala yang diinginkan itu adalah sebuah kemustahilan. Karena itulah, Imam al-Qusyairi di dalam kitabnya ar-Risalah al-Qusyairiyah mengatakan bahwa hakikat doa ada dua, yaitu pertama, mengakui kemahabesaran dan kemahakuasaan Allah serta yang kedua, menyadari kelemahan dan keterbatasan kita sebagai manusia.

Itu jugalah sebabnya, Rasulullah SAW di dalam salah satu hadisnya berpesan :  “Siapa yang tidak mau berdoa kepada Allah, niscaya Allah akan murka kepadanya” Mengapa? Karena orang yang tidak mau berdoa disebabkan oleh salah satu dari dua kemungkinan. Yaitu bisa jadi karena berputus asa dari rahmat Allah dan bisa jadi karena sombong di depan Tuhan. Sementara kedua sikap tersebut (sombong dan berputus asa) merupakan dua sikap yang sangat dimurkai oleh Allah.

Dengan demikian, berusahalah meraih kesuksesan dengan cara memperbanyak doa kepada Allah. Sebab tidak ada kata mustahil bagi Allah. Bisa jadi bagi manusia itu mustahil, tapi bila Allah berkehendak maka semuanya bisa terjadi. “Apa yang diinginkan oleh Allah pasti terjadi dan yang tidak diinginkan oleh Allah tidak akan mungkin terjadi”.

Kunci kesuksesan yang ketiga adalah usaha maksimal.

Sebagai seorang hamba, di samping meyakini kemahabesaran Allah, ia tetap dituntut untuk memaksimalkan usahanya dan kerja kerasnya. Sebab doa tanpa usaha itu tidak sempurna, dan usaha tanpa doa itu tidak berkah. Dengan demikian, memperbanyak doa itu perlu namun memaksimalkan usaha dan kerja keras itu jauh lebih perlu.

Salah satu contoh konkrit yang bisa dijadikan pelajaran terkait perlunya usaha dan kerja keras adalah kisahnya Maryam as. di saat beliau akan melahirkan. Disebutkan di dalam alQur’an bahwa di saat Maryam sudah merasakan kesakitan akan melahirkan, ia pun bersandar di bawah pohon kurma. Dan di dalam kesendiriannya itu tiba-tiba Allah menyuruh Maryam menggoyang-goyangkan pohon kurma agar buahnya yang masak berguguran kepadanya.

Sesuai firman Allah dalam QS. Maryam ayat 25 ّ :  

وَهُزِّىٓ إِلَيْكِ بِجِذْعِ ٱلنَّخْلَةِ تُسَٰقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا

“Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu”. Di sini memunculkan tanda tanya, bila memang Allah ingin memberikan buah kurma yang masak kepada Maryam mengapa Dia tidak langsung memberikannya dengan kalimat kun fayakun tapi mengapa Dia menyuruh Maryam terlebih dahulu menggoyang pohon kurma itu?

Tentu ini merupakan isyarat dari Allah bahwa bila kalian ingin mendapatkan bagian dan hasil maksimal maka maksimalkan terlebih dahulu usaha dan kerja kerasmu. Goyanggoyangkan tanganmu terlebih dahulu untuk bekerja. Karena itulah, bisa dipahami bahwa kesuksesan bukanlah hasil kun fayakun semata, namun ia merupakan hasil dari sebuh proses dari seorang manusia yang dilandasi dengan niat suci, doa yang tulus serta usaha maksimal. (*)

Nabi Muhammad SAW sebagai Rahmat yang Bersifat Universal

0

Oleh: Prof. Dr. H. Arifuddin Ahmad, M.Ag

BERAGAM cara yang dilakukan dalam menyikapi  bulan Rabi’ul Awwal sebagai bulan kelahiran Rasulullah saw. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan, bulan Rabi’ul Awwal merupakan momentum untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad saw. Menurut catatan sejarah, beliau dilahirkan pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun Gajah bertepatan dengan 20 April 571 M.

Namun, perayaan maulid Nabi Muhammad saw masih menimbulkan polemik di kalangan umat Islam sendiri. Sebagian derpandangan bahwa perayaan Maulid tersebut menunjukkan kecintaan kepada beliau dan sebagai momentum untuk mengulang dan mengenang perjalanan hidup beliau dalam mendakwahkan Islam dan sebagian berpandangan sebagai suatu yang diada-adakan dan termasuk bid’ah.

Apa hikmah atas kelahiran Nabi Muhammad saw???

Landasan

Rasulullah saw. sebagai rahmat yang bersifat universal, Allah swt. berfirman:

وَمَآ أَرْسَلْنَـٰكَ إِلَّا رَحْمَةًۭ لِّلْعَـٰلَمِينَ

“Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS al-Anbiya’ [21]: 107).

Rasulullah saw. memiliki sifat rahim, QS al-Taubah/9:128, berbunyi:

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌۭ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌۭ رَّحِيمٌۭ

Al-Qur’an yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw adalah rahmat, QS Yunus/10:57, berbunyi:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌۭ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌۭ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ وَهُدًۭى وَرَحْمَةٌۭ لِّلْمُؤْمِنِينَ

Pembahasan

Ibnu Faris dalam Kitab Mu’jam Maqatis al-Lugha menulis bahwa kata rahmat berakar dari huruf-huruf ra, ha, dan mim, pada dasarnya mengandung arti kelembutan (al-raqqah), simpati (al-‘athf), dan belas kasih (al-ra’fah).

Pakar tafsir M Quraish Shihab membedakan makna rahmat pada makhluk dan rahmat pada Allah. Rahmat pada makhluk berarti rasa pedih melihat ketidakberdayaan pihak lain sehingga mendorongnya untuk membantu mengatasi ketidakberdayaan itu. Sementara rahmat Allah adalah limpahan karunia atau anugerah positif.

Salah satu bentuk rahmat Allah SWT adalah mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi semesta alam. Satu-satunya nabi yang disebut rahmat (Rahim) adalah Nabi Muhammad SAW (QS at-Taubah [9]: 128). Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir menulis, Rasulullah sebagai rahmat karena ia membawa syariat Alquran, petunjuk, dan hukum-hukumnya.

Seluruh totalitas Nabi SAW adalah rahmat, baik sikap, ucapan, dan perbuatannya. Ajaran beliau juga rahmat. Hal ini relevan dengan pernyataan ‘Aisyah RA, “Wa kana khuluquhul quran” (akhlak Nabi SAW adalah Alquran). Artinya, seluruh perilaku Rasulullah saw adalah contoh implementasi kandungan Al-Qur’an yang menjadi sumber kerahmatan yang bersifat universal. Hanya saja, apa yang telah dilakukan oleh beliau ada yang bersifat “permanen” dan ada pula yang berkembang sehingga membutuhkan kajian untuk menemukan “maqashid al-hadis”nya sebagai dasar menentukan bentuk implementasinya.

Sementara Alquran merupakan rahmat bagi setiap mukmin (QS Yunus [10]: 57). Ibn Katsir menulis, “Siapa saja yang menerima rahmat ini, dan mensyukuri nikmat ini, maka ia akan berbahagia di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, siapa saja menolaknya dan mengingkarinya, maka ia akan merugi di dunia dan di akhirat.” Maka bersyukurlah sebagai umat Nabi Muhammad SAW dengan meneladannya menyebar rahmat dalam berbagai aspek kehidupan, seperti yang diajarkan dan dicontohkannya.

Prof. Dr. H. Arifuddin Ahmad, M.Ag

Dalam berkeluarga, misalnya, rahmat atau kasih sayang menjadi modal penting untuk mewujudkan keluarga Sakinah (QS ar-Rum [30]: 21). Rahmat dalam keluarga menjadi perisai dari kasus KDRT yang merusak keharmonisan suami istri dan berdampak buruk pada mentalitas anak-anaknya. Mendidik anak saleh mesti berbasis rahmat. Mendidik anak dengan kekerasan, hanya akan mengeraskan hati mereka. Dengan demikian, rahmat atau kasih sayang menjadi modal penting untuk mewujudkan keluarga Sakinah.

 Dalam menjalin hubungan sosial, harus mempererat silatuahim. Sabdanya: “Tidak akan masuk surga orang yang memutus (silaturahim).” (HR. Bukhari). Jangan merusak persaudaraan dengan ghibah, namimah, dan menyebar fitnah. Jika ada saudaranya bersalah, beri nasihat atau kritik berbasis kasih sayang, bukan dengan rasa kebencian dan penghinaan. Demikian juga pada aspek yang lain. Taufiq Ismail dalam gubahannya menyatakan:

Rasul menyuruh kita mencintai yatim piatu; Rasul sendiri waktu kecil tanpa ayah, tiada ibunda; Mencintai anak yatim piatu adalah mencintai Rasul kita.

Rasul menyuruh kita mencintai orang miskin; Rasul sendiri tanpa harta, dia lelaki yang sungguh miskin; Mencintai orang miskin adalah mencintai Rasul kita.

Rasul menyuruh kita mencintai orang lapar; Rasul sendiri ketat ikat pinggangnya, tak pernah longgar; Mencintai orang lapar adalah mencintai Rasul kita

Rasul menyuruh kita santun dalam beda pendapat; Rasul sendiri tidak marah bila beliau di debat; Santun dalam beda pendapat adalah …. bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.

Namun, mengapa masih sering kita dengarkan penolakan terhadap apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw, baik berupa Al-Qur’an maupun Sunnahnya. Buya Syafii Ma’arif (Al-Marhum) pernah menyatakan “Islam menjadi sesuatu yang tersandera karena ditelikung (diikat kaki dan tangan-Jawa) oleh kelompok elite umatnya sendiri yang telah berhenti berfikir kreatif. Akibatnya, agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw ini telah berubah menjadi fosil, membeku, tidak lagi menawarkan solusi bagi penyelesaian masalah-masalah sosial kemanusiaan.

Adapun diktum al-Qur’an tentang misi kenabian sebagai “rahmat bagi alam semesta” (QS. al-Anbiyâ’: 107) telah menjadi hampa di tangan elite Muslim yang tuna kejujuran, tuna kreativitas, dan tuna inisiatif. Meskipun diktum ini masih dikutip berulang-ulang oleh berbagai kalangan, tetapi tanpa pemahaman yang benar dan dalam. Diktum ini telah kehilangan dinamika pemahaman yang segar akibat telikungan yang demikian dahsyat dalam baju teologis, faham politik, sukuisme, dan sektarianisme.

Oleh karena itu, perlu melakukan tadabbur terhadap ajaran yang dibawa oleh beliau (Al-Qur’an dan Hadis Nabi) secara terbuka, integratif, interkoneksi serta komporehensif, sehingga hal-hal yang bersifat ultra fundamental maupun ultra liberal dan tampak bertentangan dengan misi kerasulannya sebagai “rahmat yang universal” dapat terselesaikan dengan benar, baik, dan bagus.

Khatimah

Untuk membuktikan kerahmatan Nabi Muhammad saw dalam kehidupan kita, mari berkomitmen mengenal dan memahami dengan benar, baik, dan bagus diri dan ajaran Nabi Muhammad SAW, baik Al-Qur’an maupun Sunnahnya lalu meneladani akhlaknya dalam berbagai aspek kehidupan serta mencintainya. Nashrun min Allah wa Fath al-Qarib wa Basysyiril Mu’minin.

Kemarau Ekstrim, DMI Minta Masjid Gelar Shalat Istisqa

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR – Kemarau ekstrim yang melanda sebagian  besar Indonesia telah membawa membawa dampak yang serius bagi warga. Dewan Masjid Indonesia (DMI) meminta masjid-masjid di seluruh Indonesia agar menggelar Shalat Istisqa atau shalat meminta hujan. 

Rilis  Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI) diterima redaksi, Rabu (20/09/2023). DMI memberi catatan bahwa saat ini setidaknya 63 persen wilayah Indonesia dibekap kekeringan dan krisis air. 

Bahkan,  kemarau ekstrim  ini telah menimbulkan korban jiwa 6 warga di Distrik Agandugume dan Distrik Lambewi di Kabupaten Puncak, Papua Tengah, akhir Juli silam. 

Selain itu kemarau super panjang  ini juga menyebabkan  terjadinya gagal panen di berbagai daera, hingga ancaman kelaparan.

Karena itu, DMI mengeluarkan surat edaran yang menyeru seluruh masjid di Indonesia menggelar shalat istisqa atau shalat minta hujan. Dalam surat edaran dengan nomor 157.D/SEM/PP-DMI/IX/2023 tertanggal 3 Rabbiul Awal 1445 H, atau 18 September 2023, dan ditandatangani oleh ketua DMI, H.M. Jusuf Kalla dan Sekjen DMI H. Imam Addarquni, 

Ada dua poin utama dalam surat edaran DMI, yaitu :. 

Pertama: meminta pengurus DMI di semua tingkatan bersama DKM/Takmir masjid untuk melaksanakan sholat minta hujan yang digelar di lapangan maupun di halaman masjid yang luas pada bulan September 2023. 

Kedua: meminta khatib sholat Istisqa’ mengajak umat islam untuk bertaubat dan memperbanyak istigfar dan berdoa semoga Allah segera menurunkan hujan yang menjadi kebutuhan warga di seluruh negeri. 

Berikut Kutipan Surat edaran DMI:

Assalamu alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,

Berkenaan dengan periode musim kemarau berkepanjangan yang mengakibatkan kekeringan dan krisis air di 63% wilayah Indonesia bahkan menyebabkan korban jiwa, maka Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (PP DMI) menyerukan serta mengajak:

1. Pimpinan DMI di tingkat wilayah, Daerah, Cabang dan Ranting bersama-sama DKM/Takmir Masjid seluruh Indonesia kiranya dapat melaksanakan sholat Istisqa’ pada bulan September 2023 baik di laksanakan di lapangan maupun di halaman-halaman masjid yang luas. 

2. Agar khatib shoilat Istisqa’ mengajak umat islam bertaubat (meminta ampunan atas segala dosa) memperbanyak istigfar dan berdoa sungguh-sungguh semoga Allah SWT mengabulkan apa yang menjadi kebutuhan umat Islam dan seluruh bangsa ini.

Demikian edaran ini disampaikan untuk dilaksanakan bersama sama. Semoga dengan Rahmat Allah SWT berupa hujan serta rizki lainnya akan menguatkan kesejahteraan, persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, Wallahul Mustain

wassalamu alaikum warrahmatullahi wabarakatuh. (*)

Hubungan Ibadah Maghdah dengan Ibadah Sosial

0

Oleh: Dr.H.Muhammad Ishaq Samad, M.A
(Wakil Rektor IV UMI/Komisioner BAZNAS Sulsel)

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْه ُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اما بعـد
قال الله تعالى: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. 
Shadaqallaahul aliyyul azhiym washadaqa Rasuululuhunnabiyyul kariym wanahnu alaa zaalika minas syaahidiyna wasy syaakiriyn. Walhamdulillaahi Rabbil Aalamiyn.

Hadirin Jamaah Jumat yang insya Allah selalu berada dalam Naungan Rahmat dan Hidayah Allah SWT.

Tak henti-hentinya kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman dan Islam; Karunia yang teramat besar yang Allah karuniakan kepada hamba-hamba-Nya. Teristimewa Jumat hari ini kita bisa melaksanakan ibadah Jumat, di Masjid kebanggaan umat Islam yang Mubaraqah ini, Masjid Jendral M.Yusuf Al Markaz Al Islami.

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mendapatkan derajat taqwa-dan kita doakan semuanya yang hadir diberikan keberkahan, rejeki yang luas, umur panjang, terutama nikmat kesehatan, karena kesehatan adalah mahkota yang bersemayam di atas kepala orang-orang yang sehat, dan hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang sakit. Oleh karena itu, banyaklah kita bersyukur atas kesehatan yang kita miliki, dan kita doakan saudara-saudara kita yang diberi ujian kurang sehat, agar mendapatkan keberkahan dan kesembuhan yang cepat, syifaan aajilan, aamien YRA.

Hadirin Sidang Jumat yang Dimuliakan Allah Swt.
Ibadah kepada Allah, adalah penegasan bahwa Allah Yang Maha Mutlak adalah Tuhan yang dekat dengan kita sebagai hamba-Nya. Salah satu bentuk Ibadah tersebut dalam Islam diatur dalam bentuk ibadah maghdah, seperti shalat, puasa, dan haji.

Pada dasarnya, sistem ritual dalam Islam menggambarkan segi statisnya yang tidak dapat dipengaruhi oleh kecenderungan umum atau majunya keadaan masyarakat dalam kehidupan manusia (Shadr, 2013:9). Namun di sisi lain, tidak sedikit orang yang “terjerumus” dengan menjadikan ibadah (khususnya shalat, puasa, dan haji) hanya sebagai sebuah ibadah keagamaan yang kosong makna. Semua ritual ibadah maghdah tersebut seolah hanya merupakan hubungan transenden antara dirinya dengan Allah Swt.

Fenomena akan adanya dikotomi antara ibadah-ibadah tersebut sebagai sarana manusia berhubungan dengan Tuhannya tanpa adanya spirit sosial yang dikandungnya menjadikan ritual ibadah maghdah, tersebut hanya sekedar pemenuhan kewajiban semata di satu sisi, dan seolah ibadah-ibadah tersebut tidak ada sama sekali berhubungan dengan kehidupan sosial manusia dimana ia hidup di sisi lainnya.

Bias dari fenomena seperti ini sebenarnya sudah ada semenjak masa Rasululullah Saw. Hal ini misalnya seperti yang tergambar dari kisah seorang sahabat Nabi yang bernama al-Qomah. Dalam riwayatnya, konon ia merupakan seorang yang rajin beribadah, jujur, namun ia mengalami kesulitan dalam menghadapi sakratul maut karena ia pernah membuat Ibunya tersinggung oleh sikapnya.

Fenomena yang serupa dalam konteks sekarang juga tidak jarang dijumpai dalam kehidupan bermasyarakat, yakni banyaknya individu-individu dalam masyarakat yang terlihat rajin dalam ritual ibadah maghdah, namun justru seakan acuh terhadap lingkungan sosialnya. Fenomena ini bahkan juga terjadi dalam bentuk kolektif.

Dari sini bisa dilihat “bahaya” pengamalan-pengamalan pemahaman ayat-ayat yang bersifat transenden dengan Tuhan jika tidak dibarengi dengan paradigma akan adanya integritas ayat-ayat tersebut dengan nilai-nilai sosial.

Sebagaimana yang diuraikan oleh Fazlur Rahman dalam bukunya, Major Themes of the Qur’an, bahwa memang benar adanya al-Qur’an (begitu juga dengan ibadah-ibadah yang diperintahkan yang terkandung di dalamnya) seharusnya menjadikan manusia dekat dengan Tuhannya. Namun demikian, konsekuensi dari hubungan normatif ini sudah sewajarnya menjadikan manusia dekat dengan sesasamanya sebagai individu dan di dalam eksistensi kolektif atau sosialnya.

Hal ini menurut Fazlur Rahman, karena yang dituju oleh ibadah yang diperintahkan dalam al-Qur’an adalah manusia dan tingkah lakunya. Hal ini juga tersirat dalam sebuah hadis Nabi Muhammad Saw, ketika mengingatkan akan kemarahan Allah terhadap orang-orang yang “pakaiannya” tidak mencerminkan perilaku sosialnya.

“Hamba yang paling dibenci Allah adalah seseorang yang pakaiannya lebih baik dibanding amal perbuatannya.Yakni, seseorang yang‘pakaiannya’ seperti pakaian para Nabi, namun perbuatanya seperti perbuatan para ‘diktator’.” (HR. Dailamy)

Kata “pakaian” dalam hadis tersebut dapat mencakup dalam arti sebenarnya (hakiki) maupun kiasan (majazi). Pertama, kritik terhadap orang-orang yang berpenampilan dan/atau berprofesi sebagaimana penampilan dan/atau profesi para Nabi, namun perilakunya justru bertolak belakang dengan pakaian dan/atau profesinya tersebut.

Kedua, kritik terhadap orang-orang yang melakukan ritual ibadah maghdah yang dilakukan para Nabi untuk mendekatkan dirinya kepada Allah, namun ibadahnya tersebut tidak berbanding lurus dengan perilaku sosialnya. Apapun makna yang digunakan, kedua arti yang dikandung Hadis tersebut, yang jelas merupakan sebuah kritik sosial.

Hadirin Sidang Jumat yang Dimuliakan Allah Swt.
Adanya keharusan akan kesesuaian ibadah- ibadah mahdhah dengan perilaku sosial juga tergambar dengan banyaknya ayat-ayat al-Qur’an yang bersifat “doktrin teologis mengenai hubungan manusia dengan Tuhannya” yang berdampingan dengan ayat-ayat sosial mengenai hubungan manusia dengan sesamanya.

Contoh yang populer misalnya adalah penyebutan perintah shalat dalam al-Qur’an (yang diartikan sebagai manifestasi dari hubungan dengan Tuhan) yang berdampingan dengan perintah zakat (yang merupakan perwujudan dari hubungan dengan sesama manusia). Sedikitnya ada 24 kali al-Qur’an penggandengan dua perintah ini  dalam ayat yang berbeda (aqiymus shalaat waatuz zakaat) dirikan shalat dan tunaikan zakat.

Banyak ulama yang berpendapat bahwa bergandengannya kewajiban salat dan perintah zakat dalam al-Quran memberikat isyarat bahwa semestinya Allah swt tidak akan menerima salah satu, dari salat atau zakat, tanpa kehadiran yang lain. Misalnya seperti perkataan Abdullah bin mas’ud, “Kalian diperingatkan mendirikan shalat dan membayar zakat, siapa yang tidak berzakat berarti tidak ada arti shalatnya baginya”

Bahkan secara lebih tegas dikatakan oleh Yusuf Qardhawi sangat ekstrim bahwa zakat dapat berfungsi sebagai pembeda antara keislaman dan kekafiran, antara keimanan dan kemunafikan, serta antara ketaqwaan dan kedurhakaan. Artinya, representasi keberimanan seseorang tidak hanya diukur dari ibadah mahdhah yang dilakukannya, namun juga tergambar dari perilaku sosialnya.

Hal ini selajan dengan apa yang dinyatakan dalam al-Qur’an bahwa seorang mukmin yang tidak mengeluarkan zakat tidak ada bedanya dengan orang musyrik.

الَّذِيۡنَ لَا يُؤۡتُوۡنَ الزَّكٰوةَ وَهُمۡ بِالۡاٰخِرَةِ هُمۡ كٰفِرُوۡنَ‏  ٧
“..dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya,* (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.” (QS. Fushshilat: 6-7)

Contoh lainnya adalah ketika al-Qur’an berbicara tentang kelompok yang disebutkan sebagai orang-orang yang mendustakan agama dalam QS. al-Ma’un.
Al-Ma’un artinya adalah bantuan penting. Kandungan dalam surat Al-Ma’un, kita diharuskan untuk tidak mendustakan agama, tidak menghardik anak yatim, dan perlu memberi makan anak yatim.

  1. اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِۗ
    Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
  2. فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَۙ –
    maka itulah orang yang menghardik anak yatim
  3. عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۗ –
    dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.

Kelompok tersebut bukan saja mereka yang shalatnya atau hubungan dengan Tuhannya lalai, namun juga termasuk dalam kelompok ini adalah mereka yang hubungan sosialnya tidak baik (seperti mengabaikan anak yatim).

Demikianlah khutbah yang singkat ini. Semoga kita semua dapat memperbaiki ibadah maghdah kita, sekaligus rajin melaksanakan ibadah sosial dengan membantu sesama, khususnya saudara kita para Mustahik. Semoga insyaa Allah kita semua diberikan umur panjang, keberkahan dan keluasan rejeki, kesuksesan, dan keselamatan di dunia dan akhirat, aamien YRA.
Terima kasih atas segala perhatian, dan mohon maaf atas segala kekurangan.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فيِ القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلْ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ َإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. 
أَقُوْلُ قَوْليِ هذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ ليِ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ  فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

‐————–
Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْخَيْرَاتُ وَالْبَرَكَاتُ، وَبِتَوْفِيْقِهِ تَتَحَقَّقُ الْمَقَاصِدُ وَالْغَايَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَّ بَعْدَهُ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.
 أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم. إنَّ اللهَ وملائكتَهُ يصلُّونَ على النبِيِّ يَا أيُّهَا الذينَ ءامَنوا صَلُّوا عليهِ وسَلّموا تَسْليمًا
اللّـهُمَّ صَلّ على سيّدِنا محمَّدٍ وعلى ءالِ سيّدِنا محمَّدٍ كمَا صلّيتَ على سيّدِنا إبراهيمَ وعلى ءالِ سيّدِنا إبراهيم وبارِكْ على سيّدِنا محمَّدٍ وعلى ءالِ سيّدِنا محمَّدٍ كمَا بارَكْتَ على سيّدِنا إبراهيمَ وعلى ءالِ سيّدِنا إبراهيمَ إنّكَ حميدٌ مجيدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ .
عباد الله، ان الله يأمر بالعدل والاحسان وايتاء ذي القربي وينهي عن الفحشاء والمنكر والبغي لعلكم تذكرون فاذكروا الله العظيم يذكركم واسألوه من فضله يعطكم ولذكر الله اكبر
Wassalamu Alaikum Wr.Wb.

Follow us

0FansSuka
3,910PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest news