Senin, Mei 25, 2026
Google search engine
Beranda blog Halaman 5

Islam dan Pemberdayaan Duafa’

0

Oleh : Dr. H. Andi Muhammad Akmal, S.Ag. M.H.I.

SEBAGAI konsekuensi dari kehadiran manusia di dunia, setiap orang ingin selalu memperoleh kecukupan materi. Namun, pada kenyataannya, tidak semua orang dapat memenuhi kecukupan materi secara layak. Bahkan banyak di antara mereka adalah fakir dan miskin  Memang, jika harus memilih, tidak seorangpun yang bercita-cita ingin hidup miskin. Oleh karena itu, mereka dari segi ekonomi yang secara umum dikenal dengan kaum miskin atau kemiskinan ditengarai umurnya sudah sangat tua sejalan dengan sejarah manusia di muka bumi ini. Dalam struktur manusia manapun, kelompok fakir miskin akan selalu ada.

Oleh karenanya, mereka harus mendapatkan perhatian, baik oleh mereka yang kaya, lembaga sosial masyarakat atau pemerintah, bukan malah dijadikan sebagai komoditas atau dieksploitasi untuk kepentingan pribadi atau golongan. Seorang ilmuan besar Prof. Muhammad Farid Wajdi, sebagaimana dikutip oleh Al-Qaradhawi, mengatakan pada bangsa manapun jika diteliti hanya ada dua golongan manusia dan tidak ada ketiganya, yakni golongan yang berkecukupan yang dan golongan yang melarat bahkan lebih dari itu, golongan yang berkecukupan akan semakin makmur tak terbatas, sedangkan golongan yang miskin akan semakin melarat, sehingga seakan-akan tercampak ke tanah.

Islam datang untuk memberikan pencerahan serta penjelasan menyangkut kedua golongan tersebut. Kaya dan miskin, bahkan  keberpihakan kepada kaum lemah bukan hanya monopoli agama Islam, akan tetapi juga menjadi perhatian seluruh penganut agama, sebab jika kehadiran sebuah agama tidak bisa memberi manfaat bagi kehidupan manusia, maka agama seperti ini tidak dibutuhkan oleh manusia.

Sebagai umat Islam, tentu sering mendengar istilah dhuafa. Secara bahasa, dhuafa memiliki arti lemah atau tidak berdaya. Menurut istilah, dhuafa juga memiliki arti sebagai orang yang hidup dalam kesengsaraan, kelemahan, ketidakberdayaan dan kemiskinan sehingga membutuhkan pertolongan orang lain untuk tetap bisa hidup. Mereka adalah orang-orang yang lemah dari aspek fisik, harta, ataupun psikis.

Term Dhuafa dalam Al-Quran

Dalam Al-Quran, kata dhuafa juga berasal dari dha’ufa yang merupakan bentuk plural dari kata dha’if. Makna kata lemah ini menyangkut lemah dalam aspek kesejahteraan atau finansial. Kata ini seperti yang terdapat dalam ayat berikut, 

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا

Terjemahnya :

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah (dhi’afan) , yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.”(QS An-Nisaa’: 9)

Dalam ayat lainnya, kata dhuafa juga terdapat dalam QS Al-Qasas ayat 4.

اِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِى الْاَرْضِ وَجَعَلَ اَهْلَهَا شِيَعًا يَّسْتَضْعِفُ طَاۤىِٕفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ اَبْنَاۤءَهُمْ وَيَسْتَحْيٖ نِسَاۤءَهُمْ ۗاِنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ

Terjemahnya :

“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak lakilaki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Dalam ayat tersebut, dapat dipahami bahwa dhuafa juga bisa berarti sebagai kaum yang lemah karena terlahir akibat penindasan atau kesewenang-wenangan adanya penguasa atau sistem yang tidak adil. Akibatnya, masyarakat yang lemah tersebut menjadi miskin secara struktural. Muncul banyaknya anak yatim, kaum miskin, gelandangan, atau pengemis di jalanan.

Perintah menyantuni kaum dhuafa secara tegas diungkap dalam ayat Al Quran, seperti surah Al Isra ayat 26-27,  surat Al Baqarah ayat 177, surah at Taubah ayat 71 :

Surat Al Isra ayat 26-27

وَاٰتِ ذَا الْقُرْبٰى حَقَّهٗ وَالْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِ ۗوَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا

Terjemahnya :

“Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu itu sangat inkar kepada Tuhannya.”

Surat Al Baqarah ayat 177

۞ لَيْسَ الْبِرَّاَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ ۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْا ۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ

Terjemahnya :

“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”

Surat At Taubah ayat 71,

وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاُولٰۤىِٕكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

Terjemahnya :

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana,”

Dengan memulai kebaikan, tolong menolong yang diberikan pada orang lain dapat menularkan kebaikan tersebut bagi masyarakat sekitar. Selain itu, dengan menolong sesama muslim juga dapat memperkuat persaudaraan dan menciptakan kerukunan satu sama lainnya.

Untuk orang yang sudah menerapkan perintah menyantuni kaum dhuafa, dimungkinkan dapat menjadi pribadi yang lebih bersyukur atas nikmat yang diberikan kepada Allah swt. sekaligus meningkatkan rasa kepedulian sosial bagi dirinya.

Term Duafa dalam hadis Rasulullah saw

Definisi dhuafa telah dinyatakan dalam salah satu sabda Rasulullah saw. Dari Abu Darda, Rasulullah saw bersabda,

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَبْغُوْنِي الضُّعَفَاءَ، فَإِنَّمَا تُرْزَقُوْنَ وَتُنْصَرُوْنَ بِضُعَفَائِكُمْ (رواه أبو داود)

Artinya: “Carilah keridhaanku dengan berbuat baik kepada orang-orang lemah, karena kalian diberi rezeki dan ditolong disebabkan orang-orang lemah di antara kalian,” (HR Abu Dawud).

Konteks lemah bagi kaum dhuafa ini bukan berarti mereka enggan berusaha atau pun malas. Sebaliknya, lemah ini diakibatkan dari kesulitan yang dihadapinya hingga membuat mereka tidak punya pilihan lain selain bergantung pada bantuan orang lain.

Islam juga mengajarkan umatnya untuk saling membantu sesama muslim. Umat Islam sudah sepatutnya senantiasa bermanfaat untuk orang lain dengan menolong mereka yang membutuhkan.

Siapa yang Termasuk Golongan Dhuafa?

Di dalam Al-Quran terdapat beberapa orang yang disebutkan dan termasuk ke dalam golongan kaum dhuafa. Golongan ini perlu umat Islam ketahui agar tidak khilaf memahami tentang siapa sebenarnya yang dimaksud dengan dhuafa. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.

Orang-orang miskin

Orang-orang miskin adalah mereka yang jelas-jelas kekurangan secara harta atau finansial untuk memenuhi kebutuhan pokok dalam hidupnya. Mereka lemah karena ketidakmampuan mereka mendapatkan harta. Orang-orang ini berhak dibantu dan mendapatkan zakat atau sedekah. Orang miskin juga termasuk ke dalam 8 golongan yang berhak untuk menerima zakat. dan orang-orang yang berhak mendapatkan fidyah 

Hamba sahaya atau orang dalam tahanan atau tawanan

Di masa kini, hamba sahaya memang sudah jarang terdengar. Namun hamba sahaya ini bisa berarti sebagai budak yang tidak memiliki kebebasan, orang yang dalam tahanan atau tawanan bukan karena kesalahan namun karena kezaliman orang lain. Mereka ini bisa tergolong sebagai dhuafa, yang lemah dan tidak berdaya secara fisik, finansial atau psikisnya.

Kaum difabel atau cacat fisik

Kaum difabel atau yang mengalami cacat fisik, biasanya mengalami kendala atau keterbatasan untuk mendapatkan penghasilan, apalagi jika tidak didukung oleh keluarganya juga. Untuk itu, mereka yang lemah dalam aspek fisik ini termasuk ke dalam golongan dhuafa yang wajib dibantu.

Orang lanjut usia

Orang lanjut usia, biasanya sudah mengalami kelemahaan secara fisik dan psikis. Mereka sudah tidak mampu lagi bekerja dan wajib dibantu secara finansial dan kebutuhan pokoknya. Untuk itu, sedekah untuk dhuafa lanjut usia juga sangat baik, terlebih kita memperlakukan memereka selayaknya orang tua sendiri.

Janda miskin

Janda adalah perempuan yang sudah ditinggal wafat oleh suaminya. Dalam kondisi tertentu, janda yang lemah biasanya tidak memiliki sumber penghasilan, memiliki tanggungan anak-anak, sedangkan pemberi nafkah sudah tidak ada lagi untuk membantu kehidupannya. Perempuan seperti ini masuk ke dalam golongan dhuafa yang bisa dibantu melalui sedekah.

Orang dengan penyakit tertentu

Orang yang memiliki penyakit tertentu termasuk dalam dhuafa yang lemah secara fisik dan tentu membutuhkan bantuan untuk bisa sembuh dari penyakitnya. Apalagi jika termasuk ke dalam golongan keluarga miskin yang kesulitan dari aspek ekonomi.

Buruh atau pekerja kasar

Buruh atau pekerja kasar biasanya adalah mereka yang bekerja dengan kekuatan fisik dan dalam waktu yang lama, namun secara penghasilan masih kurang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Mereka yang seperti ini bisa tergolong kaum dhuafa dan membutuhkan bantuan agar lebih berdaya.

Rakyat kecil yang termarginalkan

Rakyat kecil yang termarginalkan ini misalnya seperti saudara-saudara kita yang ada di Palestina. Mereka sebagai masyarakat yang negaranya terjajah, tidak memiliki kemerdekaan, dan membutuhkan bantuan untuk bisa terbebas. Untuk itu, rakyat kecil yang tertindas bisa termasuk pada kaum dhuafa.

Korban Bencana

Korban bencana bisa masuk dalam kaum dhuafa. Mereka adalah orang-orang yang kehilangan banyak harta benda, kehilangan tempat tinggal bahkan segala hal yang dimiliki. Untuk itu, para korban bencana bisa termasuk ke dalam kaum dhuafa karena lemah secara finansial. Bahkan ada juga korban bencana yang terancam nyama dan memiliki trauma, sehingga mereka lemah dalam aspek fisik dan psikis juga.

Rasulullah membersamai orang yang peduli kaum lemah di akhirat. Orang-orang lemah adalah mereka yang tidak memiliki daya atau kekuatan yang memadai untuk menghadapi kesulitan-kesulitan hidupnya. Kesulitan-kesulitan itu pada umumnya berupa kondisi sosial-ekonomi atau kesehatan yang lemah seperti yang dialami para fakir miskin, anak-anak terlantar, orang-orang sakit yang tak kunjung sembuh hingga sangat lemah keadaannya, mereka yang tak mampu bekerja karena keterbatasan fisik atau mental (kaum difabel), atau para korban bencana yang kehilangan harta benda, pekerjaan, dan mengalami gangguan fisik atau mental, serta mereka yang menjadi korban kekerasan oleh perseorangan, kelompok ataupun sistem politik atau budaya yang menyengsarakan.  Mereka hidup menderita dan memerlukan kepedulian dari masyarakat berupa bantuan apa saja untuk meringankan beban hidupnya. Islam memperhatikan nasib mereka dengan menganjurkan umatnya untuk berpihak kepada mereka dengan membantu mengatasi kesulitan-kesulitan mereka.

Kita tidak sepatutnya tinggal diam terhadap mereka yang hidupnya sengsara seperti orang-orang yang hidup sebatang kara termasuk para janda miskin dan anak-anak terlantar. Upaya menghapus kesengsaraan mereka hendaknya dilakukan dengan memberinya bantuan berupa uang, makanan, barang, tenaga, pikiran atau perlindungan berupa tempat tinggal misalnya, hingga kesengsaraan mereka dapat berkurang atau terhapus sama sekali. Anak-anak terlantar yang masih usia sekolah perlu mendapat bantuan berupa kesempatan mengenyam pendidikan secara gratis atau dengan mendapatkan beasiswa.  Jika kita tidak bisa melaksanakan hal tersebut secara langsung, kita dapat menyampaikan bantuan melalui lembaga-lembaga kredibel yang memiliki concern terhadap persoalan-persoalan ini seperti Baznas,, Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sedekah, yang terakreditasi. Lembaga-lembaga seperti itu memang didirikan untuk mengatasi persoalan-persoalan di atas dengan melibatkan partisipasi masyarakat dalam bentuk penyaluran zakat, infaq dan sedekah. 

Kita tidak sepatutnya menambah penderitaan orang-orang lemah dan fakir miskin yang dalam kehidupan sehari-harinya sudah sangat menderita. Caranya adalah dengan tidak mem-bully, tidak menyakiti, tidak menzalimi, tidak mengeksploitasi, apalagi menindas mereka. Hal ini sangat dilarang di dalam agama sebagaimana pesan Allah di dalam Al-Qur’an QS Ad-Duha  ayat 9-10 sebagai berikut:  

فَاَمَّا الْيَتِيْمَ فَلَا تَقْهَرْۗ وَاَمَّا السَّاۤىِٕلَ فَلَا تَنْهَرْ

Terjemahnya : Terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.” (QS ad-Duha 9-10).

Kedua ayat tersebut merupakan landasan teologis yang sangat kuat tentang larangan mem-bully, menzalimi, mengeksploitasi, apalagi menindas mereka yang dalam kehidupan sehari-harinya sangat menderita baik secara fisik, psikis maupun sosial-ekonomi.

Rasululullah shallahhu ‘alaihi wa sallam menjanjikan penghargaan yang tinggi kepada siapa saja yang membela, melindungi, menyantuni dan memelihara orang-orang lemah seperti fakir miskin terutama yatim piatu sebagai berikut:

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً

Artinya:“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, Rasulullah saw. menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah serta agak merenggangkan keduanya.”(berdekatan dan tidak dipisahkan) Jadi Rasulullah telah menegaskan barang siapa berpihak kepada orang-orang lemah sebagaimana yang telah disebu, mereka akan berkumpul bersama Rasulullah kelak di akhirat di dalam surga. Hubungan mereka sangat dekat dan hampir tak berjarak karena diibaratkan bagaikan jari telunjuk dan dari jari tengah yang tak terhalang oleh apapun. 

Setelah mengetahui pengertian dan beberapa kelompok yang termasuk dalam golongan kaum dhuafa, maka saatnya kita pun ikut membantu dan menolong mereka agar hidupnya lebih berdaya lewat sedekah. Ada banyak sekali keutamaan sedekah menurut Al-Quran. Hal ini seperti yang ada dalam ayat berikut,

يَسْـَٔلُوْنَكَ مَاذَا يُنْفِقُوْنَ ۗ قُلْ مَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِ ۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ

Terjemahnya :

“Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan”. Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (QS : Al-Baqarah: 215).

Membangun keberpihakan kepada kaum dhuafa dan mustadh’afin  akan selalu menjadi concern (perhatian) bagi Islam semata-mata untuk menciptakan kehidupan kemanusiaan yang damai dan aman, sebagai kelanjutan agama Islam pembawa rahmatal lil’alamin. Oleh karena itu, dakwah para nabi dan rasul diarahkan kepada dua tujuan, yakni penguatan tauhid dan membangun keberpihakan kepada kaum dhuafa. Tauhid sebagai landasan moral dan spiritual, sedangkan keberpihakan kepada dhuafa merupakan aplikasi dari ketauhidan tersebut. Intinya, tauhid yang tidak menumbuhkan sikap keberpihakan kepada kaum dhuafa adalah tidak optimal keimanannya di mata Allah Swt.

Kesungguhan Islam dalam membangun keberpihakan kepada kaum dhuafa (lemah fisik) dan mustadh’afin (terlemahklan oleh struktur), bisa dilihat dari beberapa ayat di dalam Al-Qur’an. Bahkan Islam telah menumbuhkan rasa kepedulian sosial sejak awal kehadirannya atau pada periode Mekah awal, padahal syariat zakat diturunkan pada periode Madinah. Hal tersebut bisa dilihat, salah satunya di dalam QS Al-Mudatsir ayat 38-44 :

كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا كَسَبَتْ رَهِيْنَةٌۙ اِلَّآ اَصْحٰبَ الْيَمِيْنِ ۛ فِيْ جَنّٰتٍ ۛ يَتَسَاۤءَلُوْنَۙ عَنِ الْمُجْرِمِيْنَۙ مَا سَلَكَكُمْ فِيْ سَقَرَ قَالُوْا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّيْنَۙ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِيْنَۙ

Terjemahnya :

“Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang dilakukan, kecuali golongan kanan, berada di dalam syurga, mereka saling menanyakan, tentang orang-orang yang berdosa “apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam neraka saqor? Mereka menjawab, dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan sholat dan kami tidak juga memberikan makanan orang miskin.” (QS Al-Mudatsir 38-44).

Semoga kita senantiasa diberikan kemudahan dan keberkahan rezeki, sehingga apa yang kita miliki dapat menjadi sedekah untuk kaum dhuafa. Bersedekahlah sekarang, agar menjadi magnet rezeki bagi kehidupan di dunia sekaligus bekal untuk akhirat kelak. (*)

Puasa dan Pembentukan Karakter Islami

0

Oleh : Prof. Dr. H. Arifuddin Ahmad, M.Ag.

Muqaddimah

Setiap manusia lahir dalam keadaan fitrah,

كل مولود يولد على الفطرة; 

memiiki potensi dan sifat keilahian; bahkan tercipta dari fithrah Allah (qs ar Rum/30:30). Bukankah setiap orang lahir setelah ia bersaksi, tatkala Allah bertanya:

“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (qs Al A’raf/7:172).

Seiring dengan pertumbuhannya, manusia membutuhkan cara untuk menjaga kefithrahannya. Namun faktanya, hanya sedikit yang mampu atau mengetahui cara menjaga kefitrahan tersebut.

Bahkan yang terjadi justru sebaliknya,  kebanyakan manusia mengabaikan kehadiran  Allah dalam hidupnya. Misalnya, masih merajalelanya kebiasaan mencolok untuk  menduduki  suatu jabatan atau memperlancar urusan padahal kebiasaan ini hakekatnya  adalah bentuk penghinaan atau mengadakan tandingan Allah sebagai Rabb. Itulah sebabnya “penyogok dan penerima sorotan tempat di neraka. Bukankah sifat riya bagian dari syirik yang hanya butuh pujian apalagi klu lebih dari itu.

Dalam pada itu, Allah swt mewajibkan kita beribadah kepadaNya, hakekatnya  adalah untuk mentazkiyah diri kita, memelihara kefithrahannya. Beberapa sifat fitrawi atau karakter Islam yang dapat diraih dari ibadah puasa, antara lain adalah beriman dan bertaqwa; ikhlash beramal; jujur dan disiplin serta peduli dan empati

Landasan Teologis

1. QS. Ar-Rum/30: 30, berbunyi:

فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّینِ حَنِیفࣰاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِی فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَیۡهَاۚ لَا تَبۡدِیلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَ ٰ⁠لِكَ ٱلدِّینُ ٱلۡقَیِّمُ وَلَـٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا یَعۡلَمُونَ

2. QS. Al Baqarah/2: 183, berbunyi:

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَیۡكُمُ ٱلصِّیَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

3. QS al Zumar/39:10, berbunyi:

قُلۡ یَـٰعِبَادِ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمۡۚ لِلَّذِینَ أَحۡسَنُوا۟ فِی هَـٰذِهِ ٱلدُّنۡیَا حَسَنَةࣱۗ وَأَرۡضُ ٱللَّهِ وَ ٰ⁠سِعَةٌۗ إِنَّمَا یُوَفَّى ٱلصَّـٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَیۡرِ حِسَابࣲ

4. QS. Ali Imran/3:164, berbunyi:

لَقَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِینَ إِذۡ بَعَثَ فِیهِمۡ رَسُولࣰا مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ یَتۡلُوا۟ عَلَیۡهِمۡ ءَایَـٰتِهِۦ وَیُزَكِّیهِمۡ وَیُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبۡلُ لَفِی ضَلَـٰلࣲ مُّبِینٍ

4. Hadis Nabi saw. Riwayat Imam Bukhari dari Abu Huraerah, berbunyi:

كلُّ مولودٍ يولَدُ على الفطرةِ فأبواه يُهوِّدانِه أو يُنصِّرانِه أو يُمجِّسانِه

5. Hadis Nabi saw Riwayat  Imam Bukhari dari Abu Huraerah, berbunyi:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ

Pembahasan

1.Beriman

Berdasarkan  qs al Baqarah:183, perintah  puasa diserukan kepada  org beriman. Hal ini mengisyaratkan bahwa  puasa yang benar hanya dapat dilakukan oleh orang beriman. Keimanan kepada Allah swt sehati sejatinya menjadi kontrol  setiap amal yang dilakukan.

Puasa yang dilandasi oleh keimanan akan nendatangkan ampunan dari Allah swt.

2. Bertaqwa

Hakekat ketaqwaan adalah kepatuhan atas perintah Allah dan RasulNya, baik perintah untuk melakukan sesuatu maupun untuk meninggalkan sesuatu.

Puasa melatih diri kita untuk menahan dan mengendalikan kebutuhan fa’ali (makan, minum,  seksual), yakni melatih diri untuk mengendalikan pemenuhan keinginan kita mengkonsumsi sesuatu yang asalnya halal, milik sendiri dalam beberapa jam setiap hari selama sebulan agar memudahkan pengendalian diri dari memenuhi keinginan dari sesuatu yang diharamkan atau dilarang.

Dengan meningkatkan ketaqwan atas puasa juga akan meningkatkan kepatuhan dan ketaatan dalam melaksanakan ketentuan yang berlaku.

3. Ikhlash

Sebagai Salah Satu ibadah mahdah, kewajiban puasa harus dilaksanakan secara ikhlash (QS AL bayyinah/98:5). Bahkan setiap amal atau pekerjaan yang kita kerjakan akan bernilai ibadah jika dilandasi dengan keikhlasan.

Di sisi lain, beramal atau bekerja secara ikhlash akan meningkatkan kualitas pekerjaan bahkan mengurangi biaya pengawasan.

4. Jujur

Puasa mendidik orang berpuasa menjadi sosok yang jujur. Bukankah ibadah puasa membutuhkan kejujuran. Seseorang boleh saja mengaku berpuasa meskipun sesungguhnya tidak berpuasa karena sulit terdeteksi; berpuasa merupakan rahasia hamba dengan TuhanNya. Dengan demikian,  seseorang  yang benar-benar berpuasa sesungguhnya  ia telah bersikap jujur, baik terhadap dirinya maupun terhadap orang lain.

5. Displin

Ibadah puasa juga melatih diri untuk bersikap disiplin, yakni disiplin dalam melaksanakan perintah atau menjauhi larangan Allah dan rasulNya; disiplin waktu, terutama dalam sahur dan berbuka; disiplin dalam  mengendalikan diri, baik dalam berbicara maupun  dalam bersikap  dan bertindak.

6. Sabar

Salah satu makna puasa selain menahan adalah sabar. Orang sabar atau berpuasa akan disempurnakan pahalanya tanpa batas (QS Al Zumar/39:10). Puasa mendidik kita memiliki pengendalian diri menahan kebutuhan faali, mulai terbit fajar hingga terbenam matahari serta mengendalikan  ucapan yang tidak senonoh (rafats) dan tindakan bodoh dan merusak (jahl dan fisq) selama bulan Ramadhan. Hal dimaksudkan agar seseorang terlatih dan bersabar untuk meninggalkan segala bentuk kejahatan, baik berupa ucapan maupun  berupa tindakan.

7. Kepedulian

Ibadah puasa melatih diri menahan makan dan minum.  Hal ini dimaksudkan agar seseorang yang berpuasa dan merasa lapar menyadarkan akan orang-orang yang lapar di sekitarnya perlu disantuni atau dibantu. Bahkan, dalam bulan ramadhan sangat dianjurkan untuk memberi buka puasa sebagai wujud kepedulian terhadap sesama sekaligus wujud kesyukuran atas rezeki yang  Allah anugerahkan kepada kita.

Khatimah

Semoga ibadah Ramadhan, khususnya ibadah puasa tahun ini dapat kita tunaikan dengan dasar iman dan ihtisab (TSM: Terstruktur, Sistematis, dan Masif), tidak hanya menggugurkan dosa-dosa dan melipatgandakan pahala kita. Namun di sisi lain, juga dapat mengembalikan kefitrahan diri kita menjadi manusia yang berkarakter Islami, antara lain memiliki iman yang semakin kokoh, taqwa semakin meningkat, ikhlash beramal, jujur dan disiplin serta sabar dan peduli atau pandai bersyukur. AMIN

Meningkatkan Kepedulian Sesama Muslim

0

Oleh : H.M.ASHAR TAMANGGONG, S.Ag., M.Pd (Ketua BAZNAS) Kota Makassar

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah

Pada hari yang mulia ini, khatib menyeru kepada jamaah sekalian untuk senantiasa menjaga serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt. Takwa sebagaimana yang dirumuskan para ulama, yaitu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Semoga dengan ketakwaan, setiap problema hidup yang kita hadapi menemukan solusinya, dan kita dilimpahi rezeki yang datangnya tanpa disangka-sangka. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Quran surah At-Talaq Ayat 2 dan 3:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ

Artinya: “Siapa pun yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS At-Talaq: 2-3).

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah

Ketika masyarakat sudah semakin modern dan peradaban semakin maju, tidak menutup kemungkinan tingkat individualisme semakin tinggi. Sehingga, tingginya sikap individualis yang mementingkan diri sendiri dan mengingkari manusia sebagai makhluk sosial berakibat pada ketidakpedulian satu individu terhadap individu lainnya.

Sikap individualis dan tidak peduli terhadap orang lain bisa terjadi pada umat Islam. Padahal, Islam sendiri melalui Al-Quran memerintahkan satu Muslim dengan Muslim lainnya untuk merekatkan tali persaudaraan, menolong satu sama lain, peduli ketika mendapat kesulitan dan ditimpa kezaliman, saling memperingati dan menasihati dan lain sebagainya.

Mengenai tali persaudaraan antar muslim, Allah berfirman dalam Al-Quran surat ‘Ali ‘Imran ayat 103:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Artinya, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS ‘Ali Imran: 103).

Ayat ini turun pada suku Aus dan Khazraj yang mana mereka saling bermusuhan dan berperang sebelum datangnya Islam. Dalam ayat ini, terdapat perintah untuk berpegang teguh pada Al-Quran dan larangan berpecah belah antara satu Muslim dengan Muslim lainnya. Pada ayat ini juga terdapat perintah untuk senantiasa akrab dan bersatu pada pada ketaatan pada Rasulullah saw. (Syekh Wahbah al-Zuhaili, al-Tafsir al-Munir, [Beirut: Dar al-Fikr], jilid IV, hal. 28).

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah

Dari ayat ini setidaknya kita mendapatkan peringatan untuk muhasabah dan merenung apakah selama ini kita hanya mementingkan diri sendiri saja, sehingga tidak peduli kepada urusan umat Islam, bahkan ketika mereka dizalimi dan dirampas haknya.

Ayat ini juga dapat kita jadikan bahan renungan, apakah hasrat duniawi yang menyibukkan kita, telah menghalangi diri kita dari mengikuti aktivitas-aktivitas keagamaan dalam Islam untuk mempererat tali persaudaraan antar Muslim. Sebagaimana yang kita ketahui, banyak aktivitas dalam Islam yang dapat memperat tali silaturahmi, salah satunya shalat jamaah di masjid dan juga shalat Jumat.

Meskipun bercerai berai dilarang dalam Islam, perbedaan tetaplah menjadi hal yang niscaya terjadi. Tentunya, perbedaan pendapat, baik dalam dunia keilmuan atau dalam menghadapi peristiwa yang terjadi, tetap dibolehkan. Yang tidak boleh adalah bermusuhan karena beda pendapat, bahkan menzalimi dan menyakiti satu sama lain.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah

Selain diperintahkan untuk mempererat tali persaudaraan antar sesama Muslim dan juga larangan berpecah belah yang ada dalam Al-Qur’an, kita juga dilarang untuk menzalimi sesama Muslim. Menzalimi Muslim banyak bentuknya, dari mulai berkata buruk, menipu, memusuhi, merampas harta dan kepemilikan hingga ketentraman hidup mereka.

Larangan berbuat zalim terhadap sesama Muslim sangatlah tegas dalam Islam. Rasulullah saw pernah bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Artinya, “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti. Siapa pun yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya. Siapa pun yang menghilangkan satu kesusahan seorang Muslim, maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Siapa pun yang menutupi (aib) seorang Muslim maka Allah akan menutupi (aibnya) pada hari kiamat.” (HR. Muslim).

Dalam hadits ini, bahkan bukan hanya perbuatan zalim yang dilarang untuk kita lakukan kepada Muslim lainnya. Membiarkan orang Muslim tersakiti pun tidak dibiarkan oleh Islam. Selain itu, dalam hadits ini pula terdapat keutamaan dan pahala bagi Muslim yang menolong Muslim lainnya dan menutupi aibnya.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah

Dalam hadits lain bahkan disebutkan bahwa seorang Muslim memiliki masalah di hatinya jika ia menghina saudaranya sesama Muslim. Rasulullah saw pernah bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَخُونُهُ وَلَا يَكْذِبُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ عِرْضُهُ وَمَالُهُ وَدَمُهُ التَّقْوَى هَا هُنَا بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْتَقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ

Artinya, “Seorang Muslim itu saudara bagi seorang Muslim, dia tidak mengkhianatinya, tidak berdusta kepadanya juga tidak menelantarkannya. Seorang Muslim itu haram atas Muslim lainnya untuk mengganggu kehormatannya, hartanya dan tidak pula menumpahkan darahnya. Takwa itu berada di sini, cukuplah dalam hati seseorang itu ada keburukan apabila dia menghina saudaranya yang Muslim.” (HR. al-Tirmidzi).

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah

Dalam hadits lain juga disebutkan, bentuk tolong-menolong antar Muslim tidak hanya ketika saudara Muslimnya dizalimi. Akan tetapi mencegah mereka dari berbuat zalim pun merupakan bentuk tolong menolong yang diperintahkan oleh Islam. Rasulullah bersabda:

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ قَالَ تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنْ الظُّلْمِ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ

Artinya, “’Tolonglah saudaramu baik ia zalim atau dizalimi.” Ada seorang laki-laki bertanya; ‘ya Rasulullah, saya mengerti jika ia dizalimi, namun bagaimana saya menolong padahal ia zalim? ‘Nabi menjawab, ‘Engkau mencegahnya atau menahannya dari berbuat zalim, itulah cara menolongnya’.” (HR. Al-Bukhari).

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah

Semoga dengan penjelasan ini, sebagai Muslim, kita dapat merekatkan kembali tali persaudaraan kita dengan Muslim lainnya. Jangan sampai kita terpecah belah karena hal-hal duniawi atau bahkan saling bermusuhan karena suatu perbedaan, salah satunya adalah perbedaan politik. Mari kita jadikan perbedaan sebagai suatu kekayaan yang harus dikelola dengan baik.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Meneladani Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW

0

Oleh : Prof. Dr. H. Firdaus Muhammad, MA

BANGSA Indonesia baru saja melakukan pesta demokrasi melalui Pemilu 2024. Pemilu merupakan jalan konstitusional dalam memilih pemimpin bangsa, setiap masyarakat yang memiliki hak memilih tetah menentukan pilihannya, siapapun kelak ditetapkan sebagai pemenang yang mendapat legitimasi rakyat memimpin negeri ini, pemimpin yang memilki tanggung jawab untuk memimpin seluruh rakyat Indonesia tanpa mengenal pedukung atau bukan. Setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Setiap memimpin menjadi teladan.

Dalam konteks ini, kita sebagai umat Islam, warga beragama senatiasa menjadikan sosok Rasulullah SAW sebagai teladanan dalam kehidupan kita, baik individual, keluarga maupun bernegara. Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin yang memberi contoh teladanan. Kepemimpinan nabi berpijak baik pada landasan agama juga menjadikan jalan politik sebagai strategi kepimpinannya sehingga Islam jaya. Politik dijadikan jalan untuk kepentingan agama dan negara, bukan sebaliknya, agama dijadikan sebagai alat politik untuk mendapatkan kekuasaan secara pragmatis.

Keteladanan kepemimpinan Rasulullah SAW berpijak pada 4 pondasi yang patut dicontoh pemimpin saat ini.

  1. Pemimpin Amanah
  2. Pemimpin Siddiq
  3. Pemimpin Fatahanah
  4. Pemimpin Tabliqh

Pertama, pemimpin yang amanah adalah pemimpin dengan kepercayaan tinggi, bertanggung jawab. Memiliki kepedulian pada umat, berbuat semata tujuannya agar masyarakatnya sejahtera, terjamin keamanannya sehingga mendapatkan kehidupan yang tenang dalam beribadah dan bekerja untuk keluarganya. Pemimpin yang amanah sebagaimana diteladankan nabi, mendahulukan kebutuhan masyarakat terpenuhi daripada dirinya. Kadang nabi, setelah rapat bersama para sahabat ihwal kehidupan masyarakat, sementara nabi sendiri kala kembali ke rumah lalu bertanya pada istrinya, wahai aisyah, apakaha ada makanan hari ini. Sang istri menjawab tidak ada yang rasulullah. Kemudian Nabi menimpalinya, kalau begitu saya akan puasa. Berpuasa karena tidak ada makanan. Seorang pemimpin, seorang nabi kelaparan. Mementingkan umatnya dibanding dirinya.   

Kedua, pemimpin yang siddiq adalah pemimpin yang jujur. Nabi sejak kecil dikenal jujur sehingga diberi gelar al-amin. Modal kepemimpinan nabi adalah kepercayaan. Demikianhalnya, seorang pemimpin harus jujur. Kehormatan seorang pemimpin bukan pada jabatan dan kekuasaannya, tapi pada prosesnya, bagaimana cara yang ditempuhnya untuk meraih jabatan itu, benar atau tidak, diridhai Allah atau sebaliknya. Apabila seorang pemimpin terpilih dengan kecurangan maka rakyatnya yang lebih awal mengalami penderitaan. Kepercayaan masyarakat menjadi modal utama seorang pemimpin.

Ketiga, pemimpin yang fatanah. Cerdas secara spiritual, emosional dan intekektual. Nabi merupakan sosok yang cerdas. Kala meyakini dirinya menjadi target pembunuhan kafir quraisy, nabi mengambil strategi cukup cerdas dan menjadi penentu masa depan umat Islam. Nabi hijrah hanya didampingi Abu Akar Assiddiq, tidak bergabung dengah dengan rombongan umat Islam lainnya yang dalam perjalanan hijrah ke Madinah sebab Nabi menyadari, jika ikut rombongan sementara dirinya menjadi target pembunuhan, maka dipastikan kafir Quraish mengepungnya lalu menghabisi rombongan tersebut, jika itu terjadi Islam berakhir riwayatnya saat tu juga. Tapi dengan kecerdasan Nabi, perjalanan hijrahnya Nabi dan para sahabat berjalan lancar sekalipun penuh tantangan.

Keempat, pemimpin yang memiliki kemampuan bericara, bukan hanya retoris, tetapi memiliki pola komunikasi yang dicontohkan al-Qur’an. Misal, qaul kariman, qaul layyinan, qaulan maysura, qaul balighan hingga ahsanul qaul.

Rasulullah merupakan teladan yang paripurna, kepemimpinannya senantiasa dalam bimbingan wahyu. Selebihnya atas inisiatifnya serta hasil musyawarah dengan para sahabat. Nabi memiliki karakter kepemimpinan yang senantiasa relevan dan kondisi apapun, termasuk di Indonesia.

Karakter kepemimpinan nabi diantaranya:

  1. Musyawarah
  2. Kpentingan bersama
  3. Bijaksana
  4. Tawadhu, rendah hati
  5. Akhlaqul karimah

Hal tertinggi bagi seoramng pemimpin adalah memiliki etika, akhlaqul karimah. Nabi menjadi pemimpin tujuannya untuk menyempurnakan akhlak. Satunya perkataan dan perbuatan. Seorang pemimpin harus memiliki karakter. Mendahulukan musyawarah agar tidak menjadi pemimpin otoriter dan diktator. Musyawarah daah ikhtiar membangun konsensus, kesepakatan untuk kemalasahatan bersama. Sedikitpun nabi tidak mencontohkan kepemimpinan otoriter, nepotis.

Seoramg pemimpin seperti dicontohkan nabi, mendahulukan kepentingan bersama. Pikirannya semata bagaimana umatnya sejahtera, diperlakukan secara adil, tidak diskriminatif, senantiasa mendahulukan kepentingan bersama. Karenanya ia senantiasa menjadi bijak. Tidak pernah membedakan status sosial siapapun, memimpin dengan mengedepankan keseteraan, semua manusia diperlakukan sama sebab nilai satu manusia sama denga manusia keseluruhannya.

Terakhir, nabi adalah sosok pemimpin yang tawadhu. Sekalipun memiliki posisi dengan pemimpin tertinggi, seorang nabi dan pemimpin negara, namun nabi selalu bersikap tawadhu. Menghormati orang lain bukanlah tindakan merendahkan martabat kita melainkan justru mencerminkan etika dan akhlaqul karimah. Demikianlah cerminan kepemimpinan nabi yang patut kita teladani di tngah ikhtiar kita memilih pemimpin yang diharapkan memberikan kebaikan untuk negeri ini. Semoga pemimpin pilihan rakyat menjaga amanah mewujudkan negeri baldatun warabbun ghafur. Insya Allah.   

Prof. Dr. H. Firdaus Muhammad, MA, Pembina Pesantren An Nahdlah Makassar dan Guru Besar Komunikasi Politik Islam pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar

Sekum MUI : Sayang Sekali Kalau Libur Isra Mi’raj Hanya ke Tempat Wisata

0

MASJIDALMARKAZ,OR.ID, MAKASSAR – Bulan Rajab adalah bulan istimewa. Tanggal 27 pada bulan rajab adalah tanggal istimewa. Karena pada 27 Rajab ada peristiwa Isra Mi’raj, dimana yang diperjalankan dalam peristiwa itu adalah manusia istimewa.

Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan, Prof Dr. KH. Muammar Bakry, Lc, M. Ag, menegaskan hal itu saat membawakan ceramah hikmah Isra Mi’raj di Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf, Senin, 12 Februari 2024.

Tampak hadir dalam peringatan Isra Mi’raj di Masjid Al-Markaz Al-Islami, antara lain Sekretaris Umum Yayasan Islami Center (YIC) Al-Markaz Al-Islami Ir. Najamuddin Madjid, S.IP, Sekum MUI Makassar Dr. KH. Maskur Yusuf, M.Ag dan jamaah Masjid Al-Markaz Al-Islami.

Prof. Muammar yang tak lain juga adalah Imam Besar Masjid Al-Markaz Al-Islami mengingatkan, bahwa pemerintah sengaja meliburkan aktifitas perkantoran pada setiap 27  Rajab, itu bukan tanpa alasan yang substansial.

“Kenapa pemerintah menetapkan tanggal 27 Rajab sebagai hari libur. Pemerintah ingin mengatakan bahwa pada 27 Rajab jangan pergi kerja, jangan masuk kantor. Tapi coba kenang, coba peringati apa yang terjadi pada diri Nabi SAW Muhammad pada 27 Rajab itu, yang tidak dialami nabi dan rasul yang lain,” kata Prof. Muammar yang juga Rektor Universiras Islam Makassar (UIM).

Sayangnya, katanya, banyak orang justru menggunakan hari libur 27 Rajab untuk melakukan rekreasi ke tempat wisata atau ke mal. Padahal seharusnya, momentum itu digunakan untuk merenungi dan mengenang peristiwa-istimewa yang dialami Rasulullah Muhammad SAW.

Dikatakan Prof Muammar, Allah telah memilih 27 Rajab sebagai tanggal dan bulan istimewa, serta memanggil manusia yang paling istimewa. Maka seunggunya, orang yang memperingati Isra Mi’raj adalah tergolong orang-orang yang istimewa pula.

Prof Muammar menjelaskan bahwa ada tiga hikmah peristiwa Isra Mi’raj yaitu :

  1. Peristiwa Isra Mi’raj menantang manusia yang sepintar apapun bahwa tidak ada lagi mukjizat yang bisa menandingi Isra Mi’raj. Secanggih apapun alatnya, tidak akan mungkin sampai ke Sidrathil Muntaha. Bahkan malaikat Jibril pun yang diciptakan dari cahaya, hanya mampu menemani rasulullah hingga langit ketujuh
  2. Kenapa nabi mengendarai alat transportasi buraq untuk ber-Isra dan Mi’raj? Hikmahnya, adalah nabi menggunakan alat transportasi buraq karena akan menerima alat transportasi yang akan digunakan untuk umatnya, yaitu salat. Kata salat itu seakar kata dengan “silat”, biasa disebut “silaturrahim” yang berarti hubungan kekerabatan. Kalau demikian, hubungan antara manusia dengan Allah SWT yang menghubungkan manusia untuk sampai ke tujuan yaitu akherat, masuk ke dalam surga.
  3. Isra Mi’raj adalah hiburan manusia untuk ketemu dengan Allah. Sebelum peristiwa Isra Mi’raj, nabi merasakan keguncangan batin yang luar, yaitu meninggal istrinya, meninggal pamannya, juga senantiasa diejek oleh kafir Mekkah. Di tengah kegalutan luar biasa, nabi mengadu kepada Allah, sehingga itulah dihibur oleh Allah melalui Isra Mi’raj.

“Jadi kalau ada masalah, mengadulah kepada Allah melalui  salat. Jangan mengadu kepada dukun,” tandas Prof Muammar.  

Selengkapnya, ceramah Isra Mi’raj Prof Dr. KH. Muammar Bakry, Lc, M.Ag. dapat Anda saksikan di kanal https://www.youtube.com/watch?v=IPEwvA14V5w (*)

Ramai Pendaftar Bazar Al-Markaz , Jangan Sampai Anda Ketinggalan

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR – Bulan Ramadan sisa menghitung hari. Untuk menyambut bulan berkah itu, panitia Ramadhan Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf Makassar Kembali membuka pendaftaran Bazar Ramadhan 2024.

Kesibukan panitia bagian pendaftaran bazar tampak meningkat, Selasa 6 Februari 2024. Para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang ingin ikut dalam Bazar Ramadan Al-Markaz tampak mulai berdatangan.

Mereka diri untuk menempati tenant-tenant yang akan disiapkan panitia di halaman masjid sisi timur. Pada tahap awal, panitia tetap memberi prioritas peserta yang sudah langganan sebagai peserta Bazar Ramadan Al-Markaz.

Ketua Bazar Ramadan Al-Markaz, Satriya Madjid, menjelaskan bahwa panitia akan menyiapkan sekitar 400  tenant bazar. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tenant-tenant itu dikelompokkan ke dalam beberapa blok, seperti blok pakaian, blok kuliner dan blok permainan anak.

Satriya berharap, para peserta bazar bisa mematuhi ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan panitia. Hal tersebut, katanya, agar pelaksanaan bazar berjalan sukses dan memberi manfaat untuk semua. (*)

Al-Markaz Siapkan Kejutan Umrah di Pengajian Aisah Dahlan

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR – Puncak peringatan milad Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf ke-28 bertepatan Jumat 12 Januari 2024. Selain digelar diskusi publik, pada kegiatan puncak tersebut lan. akan digelar zikir dan Pengajian Akbar yang menghadirkan ustadzah kondang, dr. Aisah Dahlan.

Pengajian Akbar ini dijadwalkan diawali dengan Salat Ashar berjamaah dan zikir. Lokasi kegiatan dipusatkan di lantai 2 Masjid Al-Markaz Al-Islami. Panitia menyiapkan sebuah Videotrone LED berukuran 5 x 3 meter, sehingga jamaah bisa menyaksikan dengan jelas paparan materi yang diisajikan Ustadzah Aisah Dahlan.

Ketua Panitia, Satriya Madjid, mengatakan, pada kegiatan pengajian akbar tersebut, panitia juga menyiapkan kejutan hadiah berupa paket umrah bagi jamaah yang beruntung. “Jadi jangan sampai ada yang ketinggalan ikut Pengajian Akbar Aisah Dahlan. Siapa itu  aja terpilih memenangkan kejutan umrah,” katanya.

Aisah sendiri, dalam ceramah-ceramahnya, banyak memberi inspirasi di bidang agama dan kesehatan. Topik-topik yang sering disajikan yakni neuparenting, psikologi orang tua dan anak, rumah tangga, keluarga, dan bahkan persoalan narkoba.

Selain pengajian akbar, peringatan milad Masjid Al-Markaz Al-Islami ke-28 tersebut juga digelar pameran travel umrah & haji, perumahan dan UMKM. Pameran ini sendiri dimulai Kamis 11 Januari 2024 dan akan berakhir 14 Januari 2024.

Kegiatan lainnya adalah Pelatihan Muadzin, Pameran Kaligrafi, Lomba Mewarnai Masjid Al-Markaz, Lomba Foto Masjid Al-Markaz, Bazar UMKM, serta Diskusi Publik bertajuk Masjid sebagai Lokomotif Peradaban. (*)

Walikota Danny Pomanto : Siri’ na Pacceta ri Masjid Al Markaz

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR – Pameran Travel Umrah dan Haji, Perumahan, serta Bazar UMKM dalam rangka Milad ke-28 Masjid Al-Markaz Al-Islami, resmi digelar di teras Masjid Al-Markaz Kamis (11/01/2024). Pameran itu dibuka Walikota Makassar Moch. Ramdhan Pomanto bersama Ketua YIC Al-Markaz Al-Islami, Prof. Dr. Basri Hasanuddin, MA.

Menurut Danny, Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf bisa dikatakan mewakili sebagian besar wajah umat Kota Makassar. Oleh karena itu, keberadaan masjid yang diprakarsai Jend. M. Jusuf itu harus dijaga Bersama.

“Semua legend-legend kita ada di sini. Sehigga wajah umat Islam Kota Makassar itu, saya keterwakilan terbesarnya di Masjid Al-Markaz ini. Sehingga baik buruknya wajah umat Islam itu, saya tergantung baik buruknya penampilan Al-Markaz,” tandasnya

Danny menegaskan, apa yang menjadi cita-cita pemraksa Masjid Al-Markaz harus dilanjutkan. “Saya kira siri’ na paccena kita di sini (Al-Markaz). Kita harus Bersatu padu untuk memakmurkan Masjid Al-Markaz,” ujarnya.

Saat ini, berbagai kegiatan digelar di Masjid Al-Markaz sebagai rangkaian peringatan miladnya yang ke-28.

Selain Pameran Travel Haji dan Umrah, Bazar UMKM, juga ada Pameran Kaligrafi, Pelatihan Adzan, Lomba Mewarnai, Lomba Foto dan Diskusi Publik serta Pengajian Akbar yang akan diisi Ustadzah dr. Aisah Dahlan. Juga ada pembagian paket sembako bagi warga yang tidak mampu di sekitar Masjid Al-Markaz

Rangkaian berbagai kegiatan itu berlangsung hingga Ahad 14 Januari mendatang. (*)

Ustadzah Aisah Dahlan Pengajian Akbar di Al-Markaz, Begini Caranya Ikut

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR – Peringati miladnya yang ke-28, Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf Makassar, datangkan Ustazah Aisah Dahlan, seorang penceramah yang kini banyak digandrungi. Sang dokter akan tampil membawakan Pengajian Akbar, Jumat sore 12 Januari 2024.

Aisah dikenal banyak memberi inspirasi di bidang agama dan kesehatan. Materi ceramahnya banyak membahas topik neuparenting, psikologi orang tua dan anak, rumah tangga, keluarga, dan bahkan persoalan narkoba. 

Selain tatap muka, ceramah-ceramah Aisah juga banyak dibagikan di media sosial seperti Facebook, TikTok, Twitter, YouTube, dan Instagram. “Banyak sekali pertanyaan ke kami, apakah pengajian akbar itu perlu registrasi. Jadi tidak ada registrasi, dan terbuka untuk umum,” kata Satriya Madjid, Ketua Panitia Milad.

Satriya mengatakan, jamaah yang ingin mendengarkan langsung ceramah Ustadzah Aisah, dipersilakan datang lebih awal. Pengajian akbar akan dimulai dengan salah Ashar secara berjamaah.

Selain pengajian akbar, peringatan milad Masjid Al-Markaz Al-Islami ke-28 tersebut juga digelar pameran travel umrah & haji, perumahan dan UMKM. Pameran ini sendiri dimulai Kamis 11 Januari 2024 dan akan berakhir 14 Januari 2024.

Kegiatan lainnya adalah Pelatihan Muadzin, Pameran Kaligrafi, Lomba Mewarnai Masjid Al-Markaz, Lomba Foto Masjid Al-Markaz, Bazar UMKM, serta Diskusi Publik bertajuk Masjid sebagai Lokomotif Peradaban. (*)

Milad ke-28, Masjid Al-Markaz Gelar Pameran Travel Umrah dan Perumahan

0

MASJIDALMARKAZ.OR.ID, MAKASSAR – Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf Makassar dikenal sebagai salah satu masjid termegah di Kawasan Asia Tenggara. Tahukah Anda, masjid yang pembangunanannya diprakarsai mantan Menhankam/ Pangab, Jend. M. Jusuf, ini menginjak usia 28 tahun pada 12 Januari 2024 mendatang.

Untuk menyambut miladnya, Masjid Al-Markaz Al-Islami menggelar berbagai kegiatan. Salah satunya, pameran travel haji-umrah dan pengembang perumahan. Hal ini, bisa dimanfaatkan jamaah dan warga Makassar dengan mengunjungi booth atau stand pameran yang tersedia.

Ketua Panitia Milad ke-28 Masjid Al-Markaz Al-Islami, Satriya Madjid, mengungkapkan bahwa seyogyanya masjid memang tidak hanya dijadikan sebagai sarana ibadah ritual seperti shalat,  membaca Al-Qur’an dan dakwah saja.

Namun penting untuk memakmurkan masjid melalui kegiatan keumatan lainnya, seperti, pendidikan, kegiatan sosial, ekonomi, dan masalah kemaslahatan umat lainnya.

Satriya mengatakan, pentingnya memakmurkan masjid dengan berbagai kegiatan tersebut menjadi dasar dilakukannya kegiatan pameran dan bazar di masjid. Kegiatan tersebut diharapkan memberikan dampak ganda bagi kemakmuran masjid dan jamaahnya.

“Kita mau masjid dijadikan sebagai tempat bertemunya rejeki di antara jamaah maupun warga lainnya. Jadi antara yang mau beribadah umroh dan haji dengan penyelenggara umroh dan haji bertemunya di masjid. Antara warga yang cari rumah dan penyedia rumah bertemu di masjid. Itu harapan kita,” ujar Satriya di depan para peserta pameran dalam sesi technical meeting di d’Markaz Cafe, Kamis sore 4 Januari 2024.

Pameran travel haji-umrah dan pengembang perumahan akan digelar di teras Lantai 1 Masjid Al-Markaz Al-Islami. Kegiatan tersebut akan berlangsung selama 4 hari yaitu 11 Januari – 14 Januari 2024.

“Kami berharap warga tidak melewatkan kesempatan yang baik ini. Siapa tahu di masjid kebanggaan masyarakat Sulsel ini, ketemu jodohnya untuk memiliki rumah atau berangkat umrah dan haji,” katanya.

Bukan hanya pameran travel umrah-haji dan pengembang perumahan yang digelar sebagai rangkaian peringatan Milad ke-28 Masjid Al-Markaz Al-Islami. Namun ada sejumlah kegiatan lainnya antara lain, bazar UMKM, Lomba Mewarnai Masjid-Al-Markaz, Pelatihan Muadzin, Lomba Foto Masjid Al-Markaz, Diskusi Publik, dan Pengajian Akbar. (*)

Follow us

0FansSuka
3,910PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest news